
Saat Bara tengah memotong rumput, Sebuah motor gede masuk ke halaman rumah.
"Kakak ngapain?" tanya Varel yang baru saja turun dari motor gede milik Bara. Ia menahan tawa, tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Diam kamu!"
"Hahaha ternyata peri manis berhasil juga merobohkan kokohnya gunungan es batu. Astaga, orang kalau sudah bucin gini amat ya, harus di abadikan ini," Varel mengeluarkan ponselnya untuk memotret kakak iparnya.
"Berani ambil photo, tanggung akibatnya! Dan jangan panggil istriku seperti itu lagi, atau aku sumpahin lidah kamu keseleo," kesal Bara, keringat sudah bercucuran karena sinar matahari yang benar-benar tak bersahabat pagi itu di tambah lagi di ledek Varel, semakin terbakar rasanya.
"Eits, calm down kak, santuy kaya di pantai, jangan marah-marah terus. Yang nyuruh aku ke sini buat antar moge kakak siapa? Bukannya terima kasih,"
"Ya udah sana pergi!" usir Bara.
"Yarlah main usir aja, nggak kasih minum dulu gitu? Kakak ipar mana?" celingukan mencari.
"Lagi pergi, cepat sana pergi sebelum.Fira kembali," ucap Bara.
"Ck, takut amat ketikung istrinya. Ya udah aku pergi,"
"Hem," sahut Bara.
Begitu Varel pergi, Bara yang kegerahan melepas kaos yang ia kenakan dan menyisakan kaos dalamnya saja. ia kembali melanjutkan memotong rumput.
๐ผ๐ผ๐ผ
Selesai dengan urusan toko, Syafira segera kembali ke rumah peninggalan ayahnya. Dari kejauhan ia melihat beberapa gadis yang tengah memperhatikan Bara yang sedang sibuk membersihkan halaman rumah. Para gadis itu tampak histeris melihat Bara yang hanya mengenakan kaos daleman sport berwarna putih. Keringat yang bercucuran membasahi tubuh Bara membuat para gadis itu menelan saliva mereka dengan kasar dan rasanya ingin menjerit.
"Ehem! Kalian sedang apa ya?" tanya Syafira ketus. Ia melihat ke arah suaminya yang tampak tidak mempedulikan keadaan sekitar.
"Eh Syafira. Ini kita lagi joging, kebetulan lewat rumah kamu. Itu siapa Fir? Tumben ada laki-laki tampan di rumah kamu," ucap salah satu dari mereka.
"Dia suamiku, kalian ketinggalan berita ya," jawab Syafira.
Para gadis itu saling berbisik, sambil melirik ke arah Syafira, tak percaya jika tetangga mereka itu bisa memiliki suami setampan dan sematang itu. Syafira memutar bola matanya malas mendengar bisikan mereka. Emang kenapa, apa ada masalah jika suaminya memang tampan dan...hot. Apa dia tidak pantas mendapatkan yang seperti itu, tidak pantas dari mananya coba, Syafira tidak habis pikir.
"Maaf permisi ya, aku mau lewat," ucapan Syafira menyadarkan mereka jika kini mereka sedang berdiri menutupi jalan masuk ke halaman rumah Syafira.
Dengan sewot, Syafira menerobos gerombolan para gadis itu.
"Mas Bara masuk!" ucap Syafira kesal.
"Eh udah pulang Fir, bentar lagi, nanggung tinggal sedikit lagi bersih," Bara berdiri tepat di depan Syafira.
Syafira menelan salivanya kasar, pantas saja para gadis itu sangat mupeng melihat suaminya, pikir Syafira.
Bara menoleh ke arah para gadis itu, ia baru sadar ternyata ada mereka.
"Hai om, keringatnya mau di bantuin lap nggak om," celetuk salah satu dari mereka, sementara yang lain senyum-senyum tidak jelas.
"Teman kamu Fir?" tanya Bara.
"Bukan, ayo masuk. Di sini nggak baik, ada calon-calon bibit pelakor kayaknya!" Syafira melirik tidak suka kepada mereka. Ia menarik posesif tangan suaminya. Bara hanya menurut, mengikuti langkah Syafira masuk ke dalam.
"Mas Bara kenapa mesti lepas baju sih tadi, sengaja ya buat pamer kepada meraka yang lewat, iya?"
"Tadi gerah banget, mulai panas juga. Jadi aku lepas bajunya. Emang kenapa sih?"
"Nggak sadar tadi di lihatin sampai segitunya sama mereka?" ternyata kadar kepekaan suaminya masih rendah.
" Kan kamu yang nyuruh nyapu sama motong rumput, kok kamu yang marah?"
"Ya tapi nggak pakai buka baju juga kali mas, atau emang sengaja mancing?"
"Mancing apa sih sayang? Tadi tuh gerah beneran, tahu sendiri kan panas banget di luar,"
"Kamu cemburu?" Bara menarik pinggang Syafira hingga menempel pada tubuh berkeringatnya.
"Cemburu hanya untuk orang yang tidak percaya diri," ucap Syafira meniru ucapan suaminya waktu itu.
"Iya iya. Aku yang salah lagi, maaf,"
"Ya udah, mandi sana bau keringat," Syafira menutup hidungnya.
"Tapi nggak ada baju ganti," ucap Bara.
"Pakai baju ayah mau?"
"Ada yang muat sama aku?"
"Nanti aku cariin,"
๐ผ๐ผ๐ผ
"Jangan di ketawain, ini baju kamu yang pilih," ucap Bara. Ia merasa tidak percaya diri dengan penampilannya yang memakai kaos dan celana pendek almarhum mertuanya yang sedikit kebesaran.
"Siapa yang ketawa sih, orang aku diam dari tadi," ucap Syafira menahan tawanya, bukan karena bajunya yang kebesaran, pasalnya mau pakai baju seperti apa juga suaminya tetap terlihat tampan, no kaleng-kaleng memang ketampanan laki-laki satu itu, tapi ekspresi suaminya yang bikin ia ingin tertawa.
"Gantian aku yang mandi," ucap Syafira melewati Bara yang masih dengan wajah tidak percaya dirinya.
"Kenapa tadi tidak minta Varel bawain baju sekalian, bodoh!" gumam Bara.
Lima belas menit kemudian, terdengar teriakan Syafira dari kamar mandi yang letaknya dekat dapur.
Mendengar Syafira memanggilnya, Bara langsung bergegas mendekat. Di lihatnya kepala Syafira sudah menyembul keluar sementara badannya bersembunyi di balik pintu kamar mandi.
"Kenapa?"
"Handuk yang mana?"
"Yang tadi mas Bara gunakan,"
"Oh sebentar aku ambilkan," Bara langsung balik arah menuju kamar untuk mengambil handuk Syafira.
"Handuk satu, buat rame-rame? Not bad," gumamnya sambil berlari kecil kembali ke kamar mandi.
"Ini!" Bara menyodorkan handuk yang ia pegang.
"Makasih," ucap Syafira.
Bara tampak sedang memainkan ponselnya saat Syafira masuk ke kamar dengan hanya melilitkan handuk di tubuhnya. Membuat Bara langsung mengalihkan pandangannya kepada Syafira.
"Jangan lihatin begitu, tadi aku lupa nggak bawa baju ganti sekalian," ucap Syafira malu-malu.
"Nggak apa-apa, kamu udah keramas? Udah selesai halangannya?" tanya Bara, ia ingat sebelum ia pergi ke luar kota dan Syafira pergi dari rumah, Syafira sedang menstruasi.
"Udah," jawab Syafira mengangguk. Entah kenapa di tanya seperti itu oleh suaminya, membuat Syafira traveling. Jangan-jangan...
Bara menyeringai mendengar jawaban Syafira.
"Tidak usah di pakai sekarang bajunya,"Nah kan benar, pikiran Syafira tidak salah. Pasti Bara menginginkan sesuatu.
"Kenapa?" Syafira tetap mengambil baju ganti dari lemari. Namun, Bara langsung bergerak cepat, di ambilnya baju yang baru saja Syafira ambil.
"Nanti saja pakainya. Sekarang aku mau meminta apa yang mejadi milikku, apa yang menjadi hakku," ucap Bara lembut sambil mengelus lengan Syafira pelan.
Syafira terdiam, cepat atau lambat saat itu pasti akan tiba.
"Belum siap?" tanya Bara yang melihat kebimbangan di wajah Syafira.
"Bukan begitu, tapi aku takut. Bagaimana kalau aku hamil?" tanya Syafira dengan polosnya.
"Kenapa takut? Kan ada suami, yang hamilin juga suami,"
"Sakit nggak mas? Menurut novel-novel yang pernah aku baca, sampai pada nggak bisa jalan,"
Bara tersenyum tipis mendengarnya. Istrinya korban novel online sepertinya.
"Tidak seperti itu. Kalaupun nggak bisa jalan nanti aku gendong, di novel-novel seperti itu kan?" Bara merapikan rambut Syafira yang masih setengah basah itu. Syafira terdiam lagi, seperti masih kepikiran sesuatu.
"Kita coba saja, kalau sakit kamu bisa minta berhenti nanti. Bagaimana?" ucap Bara, perasaannya mulai gusar, ia sudah tidak tahan lagi. Pelan pelan ia memajukan bibirnya dan mencium bibir istrinya itu dengan lembut. Ia akan melakukan semuanya pelan-pelan supaya Syafira nyaman dan ketagihan.
Bara membimbing Syafira menuju ke tempat tidur. Direbahkannya pelan tubu istrinya tanpa melepas pagutannya.
Bara melepas lilitan handuk yang menempel di tubuh Syafira.
"Jangan mas," cegah Syafira berusaha menutup tubuhnya kembali dengan handuk itu.
"Lepas saja, tidak enak kalau ada penghalangnya," Bara menarik handuk itu dan melemparnya sembarang. Ia memulai aksinya untuk membuat Syafira kenikmatan. Melakukan pemanasan dengan sebaik mungkin mengandalkan sisa-sisa ingatan pengalamannya soal begituan. Mengingat sudah cukup lama ia tidak melakukannya.
Syafira benar-benar di buat mabuk kepayang, sentuhan-sentuhan lembut suaminya membuatnya kehilangan akal.
"Mas udah," ucapnya parau, tak tahan ketika Bara memainkan bagian sensitifnya.
"Belum juga mulai, masa udahan," sahut Bara langsung mengecup bibir ranum Syafira.
Dan acara pembobolan gawang pun siap di lakukan.
"Jangan mundur-mundur terus sayang, nggak bisa masuk kalau kamu mundur terus. Jangan bergerak," ucap Bara.
"Aaarrrhgh om pelan-pelan sakit!" rancau Syafira.
Kening Bara seketika mengkerut, di saat seperti itu malah istrinya memanggilnya Om.
"Belum mulai Fira sayang, kenapa sudah berteriak?"
"Eh belum ya?" Syafira hanya nyengir.
"Kala begitu mulailah!" ucap Syafira semangat.
Bara mulai melakukan aksinya untuk menerobos pertahanan Syafira.
"Pelan om!" Syafira sudah mencengkeram kedua lengan Bara. Raut wajahnya sudah sangat tegang.
Lagi-lagi Bara mengerutkan keningnya dan menjeda aksinya.
"Kok berhenti? Udah ya? Apa belum sih?"
Mendengar ocehan Syafira Bara langsung membungkam bibir Syafira dengan bibirnya.
"Jangan panggil om lagi, aku merasa jadi seperti om-om yang lagi merawanin cabe-cabean Fir," ucap Bara frustrasi.
"Hehe maaf mas, kelepasan,"
Bara mencoba lagi, wajah Syafira kali ini lebih serius dan tegang, tangannya mencengkeram sprei kuat-kuat.
๐ผ๐ผ๐ผ
๐ ๐ Segitu saja dulu ya, baru pembukaan..lanjut nanti malam sebelum kalian buka puasa, mas Bara duluan pokoknya yang buka puasa ๐คญ๐คญ. Semoga nanti malam lolos review dengan cepat...๐ ๐