
Hingga sore hari menjelang maghrib, mereka bertiga masih berada di rumah sakit, bahkan si kembar sempat tidur siang di sofa ruang rawat VVIP tersebut.
Dokter Rendra yang baru saja tiba setelah selesai melakukan seminar. Ia bermaksud mengecek kondisi Adel yang akhir-akhir ini semakin memburuk keadaannya.
"Om dokter!" seru Nala ketika melihat dokter Rendra masuk ke ruang rawat inap Adel.
"Waaahh ponakan syantik dan jagoannya om di sini ternyata," ucap dokter Rendra yang langsung mengajak tos Nathan lalu mengusap pipi Nala dengan sayang.
"Dokter Rendra," sapa Syafira yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah selesai dengan ritual memandikan si kembar beberaa saat lalu.
Dokter Rendra meninggalkan si kembar yang kembali asyik dengan mainannya dan mendekati Syafira, "Fir... Tadi habis dari acara seminar langsung ke sini, soalnya seharian belum ke sini," ucap dokter Rendra. Setiap hari ia memang selalu memantau kondisi Adel.
"Oh begitu, terus bagaimana keadaan Adel dok, kira-kira kapan dia akan bangun dari tidur panjangnya?" tanya Syafira penuh harap.
"Soal itu... saya ingin bicara sama kamu Fir," dari nadanya saja, Syafira sudah tahu pasti ada yang tidak beres. Namun ia tetap menyimak dan memasang telinga untuk mendengarkan dokter Rendra berbicara lebih lanjut.
"Kondisi Adel semakin hari semakin memburuk. Semua alat dan tim medis yang di datangkan dari luar negeri juga sudah berusaha semampu mereka, namun belum ada hasilnya. Dan ini harus saya sampaikan, untuk kemungkinan terburuknya..." Syafira langsung merasa lemas seketika, ia tahu kemana arah pembicaraan dokter Rendra.
"Kondisi Adel yang semakin memburuk, bisa di bilang tak ada lagi harapan untuk bertahan, dengan berat hati saya harus mengatakannya Fir, saya juga tiak bisa membiarkan kamu terus berharap. Kamu harus berusaha siap untuk kemungkinan terburuk yang akan terjadi kepada Adel," dengan pelan dokter Rendra mencoba memberi tahu Syafira. Ia juga sangat berat mengatakannya, namun Syafira harus tahu yang sebenarnya.
" Mak.. Sud... Dokter, Adel bakalan ninggalin saya juga?" Syafira tak kuasa menahan bobot tubuhnya yang lemas hingga hampir jatuh, namun ia segera berpegangan pada tepi ranjang. Matanya menerawang dan di susul jatuhnya buliran kristal dari mata indahnya.
Dokter Rendea mengangguk," Adel tak ada harapan lagi kecuali ada mukjizat dari Tuhan," dengan menyesal dokter Rendra mengatakannya. Ia sendiri juga sudah menganggap Adel seperti adinya sendiri, sewrti yang akan ia terapkan kepada Syafira yang kini sudah menjadi istri sahabatnya.
"Tidak dokter, Adel pasti aka bangun, dia tidak akan tega ninggalin saya. Dek, kamu pasti akan bangun kan dek kalau udah bosan tidur? Kamu pasti bakal sembuh kan dek. Kakak tahu kamu nggak akan ninggalin kakak kayak ayah sama ibu kan dek?" Syafira menggoyang-goyang tubuh Adelia seraya menangis, meratapi nasibnya yang mungkin akan kehilangan satu-satunya anggota keluarga yang ia punya.
Dokter Rendra ikut merasakan sedih dan sakit melihat Syafira menangsi seperti itu. Ia ingin menarik tubuh syafira ke dalam pelukannya namun ia tahu batasannya. Apalagi mengingat Bara yang kadar kecemburuannya tak bisa di tolelir.
" Fir, kamu harus tenang. Berdoa dan berusaha menerima kenyataan jika..."
"Tidak! Adel pasti bangun, aku yakin itu," ucap Syafira dengan cepat sebelum dokter Rendra menuntaskan kalimatnya.
Si kembar yang melihat bundanya menangis langsung mencampakkan mainan mereka dan mendekati Syafira.
"Bunda, bunda kenapa menangis?" tanya Nala, matanya sudah berkaca-kaca akan ikut menangis karena melihat Syafira menangis.
"Om dokter, bunda kenapa? Om dokter apain bunda, kenapa bunda menangis?" tanya Nathan, ia menarik-narik ujung jas yang di kenakan dokter Rendra.
Dokter Rendra berjongkok, "Bunda sedih karena aunty Adel nggak mau bangun-bangun," ucap dokter Rendra pelan.
"Kenapa nggak mau bangun? Aunty akan meninggal seperti mommy?" tanya Nala polos.
"Kita berdoa ya, semoga aunty mau bangun dan sembuh, berdoa kepada Tuhan, karena yang memiliki hidup atau mati manusia hanya Tuhan," ucap dokter Rendra.
Nathan dan Nala langsung menoleh dan lebih mendekat ke ranjang, "Aunty, aunty harus bangun. Kasihan bunda, jangan buat bunda menangis aunty, aunty harus bangun. Kalau onty bangun, nanti Nala kasih boneka kesayangan Nala, atau uncle kesayang Naka juga boleh. Asal aunty bangun ya. Nala nggak mau bunda sedih dan nangis terus, aunty sayang kan sama bunda? Bangun ya aunty. Jangan bobok terus aunty," tangis Nala pun pecah. Ia dan Nathan memeluk Syafira yang masih berusaha menahan gemuruh di dadanya setelah mendengar penjelasn dokter Rendra.
" Kamu harus bangun dek, kakak nggak sanggup kalau kamunjuga pergi ninggalin kakak," ucapnya lirih.
๐ผ ๐ผ ๐ผ
Setelah bisa menenangkan diri sendiri dan juga si kembar yang ikut menangis karena melihatnya menangis, Syafira memutuskan untuk pulang. Ia ingin segera bertemu Bara, dan mencurahkan segala kesedihan hatinya hari ini ada suaminya tersebut.
Syafira ingin mengeluh dan menngis dalam pelukan hangat suaminya. Yang ia butuhkan adalah suaminya saat ini.
Ketika masuk ke kamar, Syafira tak mendapati suaminya berada di sana, ia hanya meletakkan tasnya lalu kembali ke dapur, "Mas Bara belum pulang bi?" tanya Syafira seraya mengambil minum.
"Sudah non, sore tadi. Mungkin Tuan muda ada di ruang kerjanya. Nona kenapa? Mukanya pucat sekali, apa nona sakit?" tanya bibi khawatir.
"Tidak, saya tidak apa-apa. Bi tolong potong kue yang saya bawa tadi, mau saya bawa ke ruang kerja mas Bara," ujar Syafira. Benar ia sedih, tapi ia juga sadar, saat ini tak hanya dia yang sedang galau, suaminya juga sedang ada masalah. Mereka harus saling menguatkan satu sama lain. Ia akan menemuinya dengan mengantar kue dan secangkir teh, pikirnya.
Syafira menyeduh teh seraya melamun sementara bibi menyiapkan kuenya.
"Aarrgh!" pekik Syafira ketika jarinya menyentuh air mendidih tanpa sengaja. Syafira lanhsung mengibas-ngibaskan tangannya sambil meniup-niupnya.
" Aduh hati-hati, biar bibi saja yang membuatnya, nona duduk saja. Bibi ambilin obat oles ya buat lukanya," ucap bibi panik.
"Tidak usah bi, nggak apa-apa kok, bibi lanjutin motong kuenya aja, keburu mau saya antar buat Mas Bara," sakit di jarinya tak ada apa-apanya di bandingkan dengan kesedihannya saat ini. Bertemu Bara secepatnya dan menagis dalam pelukannya mungkin akan membuatnya sedikit lega, pikirnya. Selama ini berusaha tegar sendiri, namun kini ia punya sandaran untuk sekedar berbagi kesedihannya.
๐ผ ๐ผ ๐ผ
Bara tampak sedang menjambak rambutnya frustrasi. Pasalnya ia baru saja menerima pesan audio dari nomor yang tak di kenal. Pesan kembali masuk ke ponselnya.
"Bagaimana kalau kira-kira rekaman ini sampai kepada istrimu tercinta, kakak sepupuku tersayang?" isi pesan dari nomor tersebut yang Bara yakini itu adalah ulah Brandon atas perintah pamannya.
"Sial, berani sekali dia mengancamku!" umpatnya. Audio tersebut berisi percakapannya dengan Varel waktu itu di kantor. Tak di sangka diam-diam ada yang merekam pembicaraan mereka soal penabrakan ayah Syafira waktu itu.
Dan dugaan Bara memang benar, itu ulah Brandon yang sakit hati karena sekian tahun bekerja kepadanya tidak mendapat jabatan yang berarti di kantor, kemudian ia memutuskan untuk balik arah dan mendukung ayahnya untuk menghancurkan Bara. Ia akan menggunakan rekaman itu untuk menghancurkan Bara di waktu yang tepat. Saat perusahaan sedang dalam masalah dan rumah tangganya juga, konsentrasi Bara tentu akan terbagi atau bahkan Bara yang sedang bucin akan lebih fokus mengurusi masalah rumah tangganya dan lengah akan perusahaannya, itu yang diharapkan paman dan sepupunya itu. Memanfaatkan kondisi Bara yang sedang di mabuk asmara tentu adalah momen yang pas untuk melakukannya.
Sekali lagi Bara memutar rekaman tersebut. Matanya terpejam penuh penyesalan.
"Aku pembunuh Rel, aku yang menyebabkan dia kehilangan ayahnya,"
"Maksud kakak? Si~siapa yang kakak bunuh? Ayah siapa? Kakak jangan asal bicara, tidak mungkin kakak seperti itu, jangan mengada-ada kak, ini tidak lucu,"
"Saat Nala masuk rumah sakit waktu itu, aku menabrak orang Rel, dan orang itu ayahnya Syafira Rel. Om Jhon bilang mereka selamat tapi ternyata orang itu meninggal dan anaknya koma sampi sekarang. Aku telah membunuh ayah mertuaku sendiri,"
Suara percakapan antara Bara dan Varel begitu jelas.
PRANK!!!!
Belum selesai rekaman itu di putar, Bara di kejutkan suara cangkir terjatuh, ia langsung mematikan ponselnya dan memutar kursi yang ia duduki.
" Sa-sayang... "Bara terkejut melihat Syafira yang sudah berdiri di depannya dengan tatapan nanar.
๐ผ ๐ผ ๐ผ
๐ ๐ Meskioun Bab sebelumnya belum ada 100 komen, tapi aku tetap up lagi.. Karena aku syang mas Bara, eh sayang kalian maksudnya ๐คญ๐คญ
Jangan kupa tombol like dan komennya di pencet dengan sayang,,, mawar, teh bahkan silet juga boleh banget ๐๐
Jangan lupa jaga kesehatan dan ptuhi protokol kesehatan..
Salam hangat author ๐คโค๏ธโค๏ธ๐ ๐