Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 90


Seluruh mahasiswa yang ada dalam gedung tersebut saling memnadang satu sama lainnya karena kepo, kepala mereka celingak-celinguk untuk melihat siapa mahasiswi yang akan mengangkat tangannya.


"Gila tuh om-om, mau mempermalukan Fira apa gimana?" lirih Roni kesal, yang langsung mendapat tatapan tajam dari Mia dan Shinta.


Sementara Syafira langsung melotot ke arah sang suami. Ia tak menyangka jika Bara akan mengenalkannya kepada semuanya. Ia pikir, suaminya itu akan malu karena memiliki istri yang bisa di bilang masih Abg. Tapi tunggu! Syafira berpikir keras, kenapa ucapan Bara tadi bukan seperti sedang memperkenalkan istrinya tapi justru seperti Syafira di tantang untuk menunjukkan diri, memperkenalkan dirinya sendiri kepada mahasiswa lain sebagai istri dari mantan duda dua anak dua itu? Serasa de javu ketika seolah Syafira yang menyatakan cintanya untuk Bara.


Syafira mendesah pelan, Bara benar-benar selau berhasil membuatnya mati gaya. Mau angkat tangan malu, nggak angkat tangan takut dosa karena berarti nggak ngaku, tidak mau jadinistri durhaka dan sudah di pastikan akan membuat malu suaminya.


Tapi, kalau Bara asti akan beda lagi ceritanya kalau Syafira tidak mau angkat tangan. Bisa-bisa pria itu menggunakan cara anti mainstream untuk menunjukkan siapa istrinya. Dari pada lebih malu lagi karena membayangkan hal gila yang bisa saja suaminya lakukan, Syafira memilih untuk mengangkat tangannya. Perlahan ia menggerakkan tangan kanannya yang dari tadi bertumpu pada pahanya.


Tidak! Ini tidak benar! Syafira menghentikan gerakan tangannya sebelum benar-benar terangkat. Ia justru bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke podium dimana sang suami sedang berdiri menunggu aksinya angkat tangan. Begitu sampai di depan Bara, Syafira langsung berjinjit dan mencium pipi Bara. Soal bagaimana malunya nanti, itu urusan belakangan, yang penting ia bisa membalas suaminya jadi satu sama. Jangan dikira Syafira tidak bisa melakukan hal konyol juga, tentu saja bisa, pikir Syafira. Sontak suasanan gedung pun semakin ricuh karena ulah Syafira barusan.


Bara tersenyum sambil memegangi pipinya, sementara Syafira masih menghadapnya sedikit menunduk. Jujur, ia tak berani memutar badannya dan menghadapi seluruh audience yang ada di sana.


Dalam hati, Bara terkekeh melihat wajah istrinya yang memerah. Ia tahu betul Syafira memang suka jahil, iseng dan bar-bar, tapi sebenarnya gadis itu sangat pemalu untuk hal-hal seperti itu yang masih tabu untuknya.


Bara memegang tangan Syafira menuntunnya supaya berdiri tepat di sampingnya, tangan kitinya memeluk pinggang Syafira dengan posesif.


"Inilah perempuan yang saya maksud, dialah yang sekarang menjadi istri dan ibu dari anak-anak saya," ucap Bara, ia memperkenalkan Syafira dengan bangga yang membuat para mahasiswa merasa iri dan ingin sekali berada di posisi Syafira. Pun dengan Syafira, ternyata banyak para mahasiswa laki-laki yang patah hati mengetahui dirinya sudah menikah.


Setelah mendengar ucapan suaminya, Syafira langsung berani menatap semuanya. Ini baru benar, suaminya yang dengan ikhlas dan ridho memeperkenalkannya pada semua dengan bangga. Bukan dia yang unjuk diri sendiri.


Teriakan-teriakan patah hati dan iri dari teman-temannya membuat Syafira merasa beruntung memiliki Bara sebagai suaminya yang mana dulu membayangkan memiliki seorang suami saja tak berani ia lakukan, yang ada dalam pikirannya hanya bekerja keras dan bisa melunasi semua hutang-hutangnya. Apalagi membayangkan punya suami seorang duda kaya dan tampan, sunggih tak pernah singgah dalam pikirannya dulu.


Entah atas ide siapa, kini acara tersebut malah berakhir dengan pemberian ucapan selamat kepada Bara dan Syafira, persisi seperti sedang berada di atas pelaminan menerima ucapan selamat dari para tamu undangan.


Berkali-kali Bara harus mengembuskan napasnya dalam meladeni tingkah konyol para mahasiswa tersebut.


๐ŸŒผ ๐ŸŒผ ๐ŸŒผ


Sore harinya, Syafira mengajak Bara untuk menjemput si kembar di rumah bu Lidya. Namun Bara tidak mau, "Biarkan anak-anak tidur di rumah mama malam ini," ucapnya.


"Tapi mas, tadi kita udah janji untuk jemput mereka. Nala pasti nangis kalau nggak di jemput , tadi kan dia udah bilang nggak mau nginep di sana,"kekeh Syafira. Tangannya mengguncang paha Bara


"Sayang, ayolah. Mas butuh me time sama kamu malam ini, udah seminggu ini nganggur. Nanti lupa jalan ke sarangnya bagiamana?" ujar Bara melihat benda menonjolnyang sejak tadi sudah menyesakkan celananya tersebut akibat ulah tangan Syafira.


"Nanti aku share loc. biar nggak nyasar. Kita udah janji buat jemput mereka, janji harus di tepati, jangan ngajari anak-anak buat ingkar janji," sahut Syafira.


"Tapi kamu juga janji kan tadi mau..." Bara tidak menyelesaikan ucapannya, bibirnya sudah sibuk membungkam bibir Syafira yang sudah siap berdebat denagnnya soal menjemput si kembar. Tangannya juga tak tinggal diam, sudah menelusup saja ke balik baju yang di kenakan oleh Syafira.


" Astaga!" gumam Syafira tertahan, matanya membulat. Suaminya benar-benar tidak tahu tempat, ini mereka sekarang masih berada di ruang tamu sehabis pulang dari kampus.


"Sayang kok gitu? Sekarang udah nggak mau ya melayani mas? Bosan? Iya?" tanya Bara, raut wajahnya tampak kecewa.


"Tidak, bukan begitu mas. Tapi..."


"Tapi apa?" Bara mengangkat kedua alisnya.


Tanpa berkata-kata, Syafira menunjuk pelayan yang kini berdiri mematung tak jau dari keduanya yang sedang duduk di sofa menggunakan dagunya.


"Astaga!" gumam bara terkejut.


"Ehem!" deheman keras dan tatapan tajam dari Bara menyadarkan bibi dari lamunannya.


"Bibi mendadak buta, bibi tidak lihat apa-apa tadi," si Bibi langsung berjalan dengan mata melebar, tidak berkedip dan meraba-raba, seolah dia mendadak menjadi tuna netra.


"Mereka yang begitu , kok bibi yang malu ya. Untung bibi yang lihat, kalau nona atau tuan muda kecil, berabe urusan," gumam bibi saat sudah melewati sepasang suami istri yang kini bengong menahan malu tersebut.


Bara memejamkan kedua matanya sekejap mendengar gumaman pembantunya barusan. Ingin marah, tapi ini bukan salah bibi, dan itu hanya akan memperburuk rasa malunya.


"Mas bara sih, nggak lihat-lihat dulu. Main gas aja," Syafira menabok lengan Bara. Ia langsung berdiri dan berjalan menuju kamarnya.


"Kamu nggak tahu sih, gimana rasanya jadi mas, Punya istri tapi kayak nggak punya, si piton nganggur seminggu terbengkalai tak tersentuh," Bara meraih tangan Syafira dan meletakkannya di atas ular pitonnya.


"Nganggur ya sayang, nanti aku kasih kerjaan deh!" Syafira meremat si piton dari luar, yang membuat Bara semakin belingsatan.


" Sekarang aja gimana. Boleh dong nawar sedikit,"


"Nanti malam, sekarang mandi terus jemput anak-anak dulu. Nih pemanasan dulu," Syafira meremat si piton dua kali lalu berdiri dan berjalan menuju tangga.


"Kan mancing-mancing kamunya," Bara menyusul Syafira.


"Katanya piton. Kok mancing-mancing, udah berubah jadi ikan sekarang mas burungnya?" tanya Syafira.


"Iya kali, jadi ikan teri. Kalau ikan teri kisut karena di jemur terus. Kalau ini kisut karena nggak ada yang bangunin," jawab Bara yang membuat Syafira memutar bola matanya malas.


๐ŸŒผ ๐ŸŒผ ๐ŸŒผ


๐Ÿ’ ๐Ÿ’ Jangan kuoa tinggalkan jejak berupa like, komen dan hadiahnya, votenya juga jangan lupa jika masih ada.. Terima kasih


Hangat author โค๏ธโค๏ธ๐Ÿค—๐Ÿ’ ๐Ÿ’