
Hari demi hari berlalu dengan cepat, dua minggu sudah terlewati begitu saja. Namun ada peningkatan hubungan antara Bara dan Syafira yang kini semakin intim. Meski belum ada acara pernyataan cinta maupun bobol gawang.
Sifat posesif Bara juga semakin bertambah semenjak penampilan Syafira berubah. Ia merasa tidak tenang jika Syafira keluar rumah, ia selalu mewanti-wanti istrinya itu untuk menjaga jarak dengan laki-laki yang bukan mahramnya dengan menggunakan kata keramatnya yaitu Syafira sudah menikah, harus bisa menjaga nama baik keluarga.
Seperti saat ini, dimana Syafira mengajak si kembar untuk berbelanja bulanan di sebuah mall setelah mereka pulang sekolah.
Awalnya Syafira tak mau minta ijin Bara karena sifat posesif Bara yang akhir-akhir ini meningkat. Namun, pada akhirnya ia meminta ijin juga karena biar bagaimanapun ia membawa anak-anak dan harus ijin bapaknya terlebih dahulu.
Bara selalu menghubunginya dan menanyakan mereka sedang apa, dan alasannya selalu anak-anak. Bara tidak bisa ikut, karena ia masih berada di luar kota sejak dua hari lalu.
"Iya mas, mas Bara tenang aja, aku jagain mereka kok. Mas kerja aja yang bener, kalau capek istirahat jangan dipaksain. Nanti malah sakit lagi, kan nggak lucu, bekerja keras cuma berobat aja kalau pada akhirnya sakit," ucap Syafira tangannya melambai-lambai ke arah si kembar yang sedang bermain di time zone.
"Iya, waaalaikumsalam," Akhirnya Syafira mengembuskan napas leganya setelah melewati acara kuliah lima menit yang di berikan oleh suaminya. Kadang ia berpikir jika Bara mulai posesif, ia menjadi seperti bapak-bapak yang menasehati anaknya.
Merasa lelah bermain, si kembar menghampiri Syafira.
"Udah capek?" tanya Syafira. Di balas anggukan oleh keduanya.
"Ayo cari makan dulu, baru lanjutin buat belanja. Masih ada beberapa yang harus di beli," ucap Syafira. Kemudian, ia mengajak si kembar untuk mengisi perut mereka yang sudah pasti kelaparan karena tenaga mereka terkuras habis untuk bermain.
Selesai makan, Syafira mengajak si kembar untuk mencari handuk untuk suaminya karena Bara harus berganti handuk setiap kali mandi. Hal itu masih bisa di terima Nalar Syafira, mungkin Bara suka kebersihan. Akan tetapi, di siji kasusnya Bara tidak mau menggunakan handuk yang sudah pernah ia pakai sebelumnya. Harus ganti dengan yang baru setiap kali ia mandi. Dan itu harus merk tertentu yang harganya tentu saja mahal. Kebiasaan yang mubazir menurut Syafira, tapi mau bagaimana lagi, sudah sultan dari lahir membuat Bata bisa berbuat apa saja termasuk ganti-ganti handuk. Jangankan handuk, mobil pun jika mau ia bisa ganti setiap hari.
Awalnya Syafira cukup terkejut dengan kebiasaan suaminya yang menurutnya buang-buang uang tersebut, namun lama kelamaan ia terbiasa. Kalau sudah kebiasaan susah mau di rubah. Sehingga Syafira mencoba berpikir positif saja, mungkin itu cara suaminya menikmati uangnya. Pernah ia menyuruh Bara untuk membangun pabrik handuk saja biar lebih hemat, laki-laki itu membalasnya dengan tatapan tajam, Syafira hanya menanggapinya dengan tertawa.
"Haha bercanda mas, gitu aja marah," ucapnya waktu itu. Hadeh, masalah handuk saja bisa jadi drama kalau ia tak segera mengakhiri percakapannya waktu itu.
"Bunda bengong?" ucapan Nathan mamou membuyarkan lamunan Syafira.
"Eh iya, ayok kita bayar ke kasir," ajak Syafira.
Setelah membayar ia keluar dengan tangan kosong karena nanti sudah ada yang mengantar ke rumahnya barang belanjaannya tersebut seperti biasa.
Sesuatu yang tidak terduga terjadi, saat mereka berjalan melewati sebuah toko pernak pernik serba keramik untuk keluar, Nathan menabrak tubuh seorang wanita. Yang tak lain ada Sonya.
Bruk! tubuh laki-laki kecil itu hampir saja terpental namun beruntung Syafira menahannya.
"Maaf tante, Nathan tidak sengaja," ucap Nathan polos.
"Kamu? baju saya jadi kotor ini, dasar anak nggak ada sopan santun. Kalau jalan pakai mata dong. Pantas saja, yang jadi ibu tirinya asal comot sih, jadi anaknya tidak terdidik dengan baik," ucap Sonya dengan nada kasar dan sinis.
"Jaga ya mbak kalau bicara, jangan asal.bicara. Katanya Anda artis kelas atas tapi omongannya bahkan lebih buruk dari pada saya yang asal di comot," Syafira tidak terima si kembar di hina oleh Sonya.
"Ck dasar, perempuan nggak jelas. Aneh ya, Bara kok mau sama perempuan seperti kamu yang standarnya jauh di bawah Olivia. Benar-benar nggak selevel dengan Bara. Hah palingan juga kamu cuma dianggap baby sitter sama Bara, jadi jangan terlalu bangga bisa bersanding dengan Bara,"
Syafira hanya geleng-geleng kepala mendengar ocehan artis tidak berakhlak tersebut.
"Nathan, Nala tutup telinga sayang," perintah Syafira dan si kembar hanya menurut. Mereka menutup telinga mereka dengan kedua tangan mereka.
"Lalu yang selevel siapa? Mbak Sonya? Bukannya waktu itu mbak Sonya sudah di beri kesempatan untuk dekat dengan anak-anak tapi malah di suruh pulang sendiri naik taksi. Itu yang di sebut calon ibu yang standarnya sama dengan mbak Olivia? yang selevel dengan Mas Bara? Perempuan yang hanya mau dengan bapaknya tapi tidak mau dengan anaknya seperti mbak Sonya iya? Ck, miris sekali hidup Anda, penuh drama," ucap Syafira tak gentar. Meski sebenarnya ia malu karena beberapa orang sudah berkerumun menyaksikan adu mulut mereka berdua. Tapi, jika sudah menyangkut anak-anak dan harga dirinya, ia tak bisa tinggal diam.
Entahlah, ucapan Sonya yang mengatakan Syafira jauh di bawah standar Olivia dan juga menikah demi uang, seperti mengiris hatinya. Karena sepertinya memang begitu adanya. Ia memang selalu tak sebanding dengan Olivia, hal itu jelas dari sikap dan perkataan Bara selama ini. Dan soal uang, bukankah pertama kaki ia setuju menikah dengan Bara memang karena uang? Bara yabg sudah membayar hutang dan biaya rumah sakit adiknya. Kalau bukan karena hak itu, mungkin saja saat ini mereka masih menjadi orang asing.
Tapi, Syafira tidak menunjukkan rasa sakitnya itu di depan Sonya apalagi sampai menangis karena ucapannya. Pasti wanita seperti Sonya akan semakin senang jika Syafira terlihat menderita.
"Haha, hati gini mbak. Siapa yang tidak mau uang? Jangan munafiklah, mbak Sonya juga mendekati suami saya karena uang kan? jadi apa bedanya saya dengan anda? Oh ya, bedanya saya tidak cuma mau uangnya saja, tapi saya juga mencintai anak-anaknya. Dan lebih dapat bonus bapaknya yang tampan. Beruntung ya saya?" ucap Syafira lantang.
"Sonya udah, malu di lihat banyak orang, nanti masuk berita kamu uang rugi," ucap Asisten Sonya.
"Diam kamu, Gadis kecil seperti ini harua di beri pelajaran. Gara-gara dia Bara jadi benci dan menjauh dariku, padahal aku sudah menunggu lama sampai Olivia meninggal dan dia menghancurkan kesempatanku untuk menjadi nyonya Osmaro. Gara-gara dua anak kecil sialan ini juga!" menunjuk si kembar yang memperhatikan percakapan mereka tanpa mendengarnya.
"Ck, sungguh saya ingin tertawa, Anda sendiri yang menghancurkan respect mas Bara mbak Sonya yabg terhormat. Kenapa nyalahin saya? Nggak punya kaca di rumah? Mau saya pinjamkan?" lantang Syafira.
"Kamu, dasar Ja*ang!" Sonya hampir menampar Syafira namun Nathan segera mendorong tubuh Sonya hingga ia terpental.
"Jangan sakiti bunda! Tante jahat, Nathan tidak suka sama tante!" teriak Nathan.
Syafira langsung mengajak Nathan dan Nala pergi, ia tak ingin kedua anaknya melihat pertengkaran yang lebih lagi, tidak akan baik untuk psikis mereka.
" Nathan tidak boleh begitu sama yang lebih tua, Ayo kita pergi dari sini,"
"Nathan tidak suka, ada yang jahatin bunda," ucap laki-laki kecil tersebut.
"Bunda nggak apa-apa kok. Ayo ajak Nala pulang,"
Nathan mengangguk, ia menyuruh Nala melepas tangannya yang menutupi telinga.
Baru beberapa langkah, Sonya yang kalap mengambil vas bunga yang terpajang di depan toko itu dan melemparnya ke arah Nathan.
"Sonya jangan nekat!" peringat asisten Sonya. Namun Sonya tak peduli.
"Bocah sial*n," umpatnya.
Syafira langsung memasang badan untuk melindungi Nathan sehingga punggungnya yang terkena lemparan Vas tersebut.
"Bunda!" seru Nathan dan Nala.
Syafira sangat marah, ia balik badan dan mendekati Sonya dengan langkah tegas lalu ia menampar wanita tersebut.
Plak! satu tamparan keras hingga membekas di pipi mulus Sonya.
"Kamu!" Sonya hendak membalas menampar Syafira. Namun dengan cepat Syafira mencekal tangan yang sudah melayang di udara dan siap mendarat di pipi Syafira tersebut.
"Dimana otak Anda? Itu anak kecil bagaimana bisa Anda melemparinya dengan benda keras seperti itu? Siap-siap saja karir Anda hancur, di sini banyak yang melihat tingkah arogan Anda, siap-siap saja jadi trending topik di media sosial. Tamparan itu sebagai peringatan, jika saja tadi Nathan yang kena, saya tidak segan-segan mematahkan tangan Anda," peringat Syafira sungguh-sungguh. Ia langsung beranjak mendekati si kembar dan mengajak mereka pergi dari sana.