
Cukup lama Bara berada di ruang rawat Adel, namun tidak ada tanda-tanda datangnya Syafira. Bara oun memutuskan untuk meninggalkan rumah sakit.
Saat sampai di lobby rumah sakit, Bara bertemu dengan dokter Rendra.
"Bara..." sapa dokter Rendra ketika keduanya bertemu.
"Rend," sahut Bara.
"Sendiri kesini?" tanya dokter Rendra.
Bara sedikit mengernyit, apa dokter Rendra berharap dia datang bersama Syafira begitu maksudnya? Dari pertanyaan dokter Rendra sepertinya dia juga tidak tahu dimana Syafira berada saat ini, pikir Bara.
"Hem, kebetulan tadi aku lewat dekat sini, jadi sekalian jenguk Adel, karena Syafira tidak sempat menjenguk Adel dalam waktu dekat, dia minta aku sekalian menjenguknya," ujar Bara berbohong.
"Oh. O ya, acara charity dinner untuk anak-anak penderita kanker akan di adakan seperti tahun-tahun sebelumnya sekalian memperingati hari kanker anak. Aku harap kau meluangkan waktu. Ajak istri dan si kembar juga," ucap dokter Rendra.
"Hem, akan aku usahakan. Kau atur saja semuanya. Aku pergi dulu, masih ada urusan penting," sahut Bara seraya menepuk pundak sahabatnya tersebut dan langsung pergi.
Dokter Rendra menatap kepergian sahabatnya tersebut dengan tatapan sedikit curiga, ia merasa ada yang aneh dengan Bara namun segera ia tepis pikirannya tersebut.
Bara terus mencari Syafira, hingga waktu malam tiba. Ia memutuskan kembali ke rumah mengingat waktu yang sudah cukup larut, dan akan kembali mencari lagi esok hari.
Bara segera masuk ke dalam kamar setelah sampai di rumah, ia berharap jika Syafira sudah pulang. Namun lagi-lagi ia hanya bisa mendesah kecewa ketika kamar itu serasa dingin tak berpenghuni.
Bara menatap lekat photo Olivia yang sudah terpasang kembali itu. Photo Olivia bersamanya saat menghadiri sebuah acara makan malam, terlihat sangat serasi memang, wajar jika Syafira merasa ada cemburu ketika melihatnya. Bara memejamkan matanya, ingat saat ia memarahi Syafira gara-gara photo itu. Bara mengambil intercom dan memanggil anak buahnya untuk datang ke kamar. Sementara menunggu anak buahnya datang, Bara menuju ke walk in closet milik Syafira. Ia berusaha mencari siapa tahu ada photo pernikahannya dengan Syafira yang di simpan oleh Syafira.
Setelah beberapa saat mencari, akhirnya ia menemukannya. Beberapa album photo pernikahannya dengan Syafira dan juga sebuah photo besar yang sudah di bingkai dengan bingkai warna gold. Ternyata selama ini Syafira menyimpan semuanya di almarinya. Bara segera mengambil photo tersebut dan membawanya ke kamar utama.
"Tuan muda," dua anak buah Bara sudah sampai di kamar sesuai perintah Bara.
"Turunkan photo itu dan ganti dengan yang ini!" perintahnya.
"Baik Tuan," mereka langsung melakukan perintah Bara.
"Letakkan saja itu di gudang, tapi letakkan yang rapi jangan sampai rusak," perintahnya lagi ketika photo sudah di turunkan dan di ganti.
Bara menatap sendu photo yang di bawa oleh anak buahnya keluar kamar. Tapi ini sudah benar, mungkin memang ini saatnya mengganti photo itu. Namun ia akan tetap menyimpan kenangan Olivia di hatinya.
"Saya sudah menggantinya sendiri Fir, cepat pulang ya," batinnya.
🌼🌼🌼
Malam kian larut, namun Syafira masih belum bisa memejamkan kedua matanya. Ia hanya terus menggerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan sambil menatap langit-langit kamarnya.
Jika siang hari ia bisa melupakan sejenak perasaannya dengan belajar mengeksplore lagi kemampuannya membuat kue-kue, tapi jika sudah malam begini ia akan merasa sepi, sama seperti suaminya yang saat ini juga sedang tiduran terlentang sambil menatap langit-langit kamar di kediaman Osmaro.
"Mas Bara udah tidur kali ya?" gumamnya mengingat ini sudah hampir dini hari.
"Anak-anak, pada kangen nggak ya sama aku? Aku kangen mereka," gumamnya lagi. Ia menoleh dan mengambil ponselnya yang sudah hampir tiga hari ia matikan tersebut.
Syafira menyalakan ponselnya, ia takut kalau bu Lidya menghubunginya untuk membicarakan soal anak-anak. Mau bilang apa jika bu Lidya mempertanyakan kenapa ponselnya lama mati.
Nah kan benar baru saja ia menyalakan ponselnya sudah ada puluhan pesan singkat dan panggilan tidak terjawab masuk. Ada banyak pesan dari bu Lidya yang menanyakan keberadaannya, dan kenapa ponselnya tidak bisa di hubungi, anak-anak merindukannya ingin sekali video call dengan Syafira.
Syafira pikir bu Lidya tidak tahu jika dia sedang tidak berada di rumah. Syafira memang tidak pernah menceritakan apapun soal rumah tangganya, namun bh Lidya selalu punya caranya sendiri untuk tahu.
Syafira segera membalas pesan bu Lidya, ia tak ingin membuatnya khawatir.
"Assalmualaikum bu, maaf Fira baru balas pesan ibu. Fira baik-baik saja kok, sekarang lagi ada di rumah ayah. Sudah lama Fira tidak datang kesini, mau sekalian bersih-bersih. Fira sudah ijin sama mas Bara kok, besok kalau urusan Fira sudah selesai Fira balik ke rumah. Anak-anak bagaimana bu? Tidak menyusahkan ibu kan? Maaf ya jika merepotkan ibu," Syafira mengirim pesan kepada bu Lidya namun tidak di balas karena sudah di pastikan jika bu Lidya pasti sedang tidur pules-pulesnya.
Syafira kembali fokus menatap pesan-pesan yang masuk, ada banyak pesan juga dari suaminya yang di kirim seakan tanpa jeda.
"Fira, kamu dimana?"
"Fir, sudah sore kenapa belum pulang?"
"Sudah malam Fir, kenapa nomor kamu tidak aktif? kamu dimana?"
"Jangan seperti anak kecil Fir, ayo bicara baik-baik. Kamu dimana, saya jemput kamu,"
"Kenapa harus matiin ponsel sih Fir, jangan buat saya khawatir,"
Dan masih banyak lagi pesan yang di kirim oleh Bara untuknya. Syafira senyum-senyum membacanya, baru kali ini Bara mengirim pesan sampai segitu banyaknya. Namun, ada juga rasa bersalah dalam dirinya yang sudah pergi dari rumah, meskipun sudah ijin tapi ijinnya seperti tidak resmi, dia hanya bilang butuh me time saja. Ah entahlah, kenapa hatinya menjadi galau, melow seperti ini. Apa Syafira sebenarnya juga merindukan Bara?
"Kamu nyebelin sih mas," gumamnya kesal menatap pesan-pesan dari suaminya.
Syafira ragu antara ingin membalas pesan suaminya atau tidak. Ingin mengabaikan, tapi tidak baik juga. Mau membalas tapi gengsi, pikirannya benar-benar seperti seorang remaja yang sedang marahan dengan pacarnya.
Sementara itu, Bara yang juga belum bisa tidur, tersadar dari lamunannya ketika mendengar nada pemberitahuan pesan terbaca dari ponselnya. Bara segera mengambil ponselnya.
Bara menghela napas lega karena semua pesannya yang di kirim ke Syafira sudah di baca oleh sang istri. Itu artinya ponsel Syafira sudah aktif kembali. Dengan begitu, akan sangat mudah baginya untuk melacak dimana keberadaan Syafira saat ini.
Bara melihat kontak Syafira yang bertuliskan sedang mengetik. Ia berpikir jika istrinya itu sedang mengetik pesan yang akan di kirim kepadanya. Akan tetapi cukup lama menunggu, tidak ada balasan dari Syafira.
"Ngetik apa sih lama sekali," gumam Bara. Ia tak sabar akhirnya langsung di teleponnya saja Syafira.
Syafira yang sejak tadi bingung mau mengirim pesan langsung terkejut ketika ada panggilan masuk dari suaminya.
"Angkat nggak ya, angkat nggak ya?" Syafira terus bergumam. Karena kelamaan mikir akhirnya panggilan berakhir.
Tanpa pikir panjang lagi, Bara segera mengambil jaket dan kunci mobil. Ia akan melacak keberadaan Syafira sambil jalan.
Syafira berdecak kesal, pasalnya suaminya tidak meneleponnya lagi.
"Segitu saja usahanya? Ck. dasar kamu mas emang nggak peka. Telepon cuma sekali langsung udahan, nggak usaha lagi gitu?" gerutunya. Ia langsung menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam selimut.
Syafira kembali membuka selimutnya dan melirik ponselnya, tetap saja suaminya itu tidak menelepon lagi. Akhirnya Syafira pun memutuskan untuk tidur, waktu dini hari membuatnya mulai terserang kantuk.
🌼🌼🌼
Tak butuh waktu lama untuk Bara mengetahui lokasi keberadaan Syafira saat ini.
"Ini kan...rumah...ah sial kenapa todak kepikiran sampai ke sana!" umpat Bara ketiak sudah mengetahui keberadaan Syafira di rumah ayahnya.
Terkadang hal yang kita pikirkan sampai pusing tujuh keliling, ternyata sepele keberadaannya. Bara malah sibuk mencari Syafira ke tempat-tempat lain, dan menghabiskan waktu pencarian di jalanan. Ia lupa jika ada tempat ternyaman untuk istrinya pulang, yaitu rumah peninggalan ayahnya.
Bata segera memutar balik mobilnya menuju ke rumah ayah Syafira. Jalanan yang mulai sepi membuatnya bisa melajukan mobil dengan kecepatan tinggi sehingga bisa cepat sampai.
Sesampainya,Bara langsung turun dari mobil. Ia segera menuju ke teras rumah untuk mengetuk pintu.
"Fira sudah tidur belum ya, kalau saya ketuk pintunya dia kaget nggak ya," batin Bara tangannya maju mundur antara ingin mengetuk dan tidak.
"Nggak di kunci?" heran Bara ketika ia memegang handle pintu dan bisa membukanya.
"Astaga ini anak perawan, kenapa udah jam segini pintu tidak di kunci," gumamnya. Ia langsung masuk saja. Ia berhenti di depan pintu sebuah kamar. Ia ingat Syafira keluar dari sana saat lamaran. Pasti itu kamarnya, pikir Bara.
Pelan-pelan ia membuka pintu kamar tersebut. Lagi-lagi Bara mengernyit, karena pintu kamar juga tidak di kunci.
"Ini anak perawan, kenapa kamarnya juga tidak di kunci. Bagaimana kalau ada garong yang masuk, ceroboh. Astaga, kenapa sepele sekali sih Fir, sengaja atau bagaimana? " Bara tak habis pikir dengan kecuekan istrinya tersebut.
Bara berhenti di depan ranjang, dimana ia melihat istrinya sudah tidur pulas meringkuk. Bara tersenyum, menghela napas lega. Akhirnya ia menemukan istrinya itu setelah seharian mencarinya.
"Suami kelimpungan nyariin, kamu malah enakan tidur di sini Fir, awas ya," gumam Bara kembali tersenyum.
Karena sudah dini hari, mata Bara mulai mengantuk juga. Ia melepas jaket dan naik ke tempat tidur di sebelah Syafira yang kosong. Merebahkan diri di samping istrinya yang sudah pulas.
Bagaimana reaksi Syafira jika ia bangun dan tahu suaminya sudah berada di sampingnya, senang atau marah? Bara tak ingin pusing memikirkannya. Bagaimana nanti ya nanti saja ia hadapi, yang jelas sekarang ia sudah merasa lelah dan ingin segera mengistirahatkan tubuhnya.
🌼🌼🌼