
"Kenapa mukanya kusut begitu," tanya bu Lidya begitu Bara menyalami tangannya.
Yang di tanya hanya ngeloyor masuk rumah tanpa menjawab.
"Suamimu kenapa Fir?" tak mendapat jawaban dari sang menantu, bu Lidya melempar pertanyaan kepada Syafira.
"Kurang sajen buk," jawab Syafira asal.
Syafira langsung mencari si kembar yang sedang mandi kata bu Lidya, "Aku bantu anak-anak mandi dulu mas," pamitnya pada Bara yang di balas sebuh deheman singkat dan anggukan oleh sang suami.
"Apa mama bilang," bu Lidya duduk di sofa, ia meletakkan majalah yang sejak tadi ia pegang di atas meja yang membatasi sofa tempat duduknya dengan Bara.
Bara hanya diam, menuggu sang mertua melanjutkan bicaranya.
"Dulu aja sok-sokan nggak mau nikah lagi, sok marah, nggak suka kalau mama suruh nikah lagi. Sok gagal move on. Sekarang aja, udah ngerasain legitnya goa keramat lagi udah uring-uringan, muka di tekuk-tekuk kayak uang seribuan yang nyelip di dompet bertahun-tahun. Padahal baru juga nggak di kasih berapa hari. Enak kan kawin? Berterima kasih kamu sama mama, kalau mama nggak cerewet nyeramahin kamu tiap jam tiap menit mana bisa kamu ngerasain begituan lagi. Bawel bawel begini ada gunanya juga," bu Lidya bicara tanpa peduli ekspresi wajah Bara yang semakin gusar karena mendengar ocehannya. Laki-laki itu hanya memicingkan matanya sedikit untuk melihat ibu mertuanya.
"Emang Syafira ngomong apa sama mama, kenapa mama jadi nyerocos nggak jeda kayak spedel sepeda begitu," tanya Bara dengan wajah datar.
"Nggak ada, nggak bilang apa-apa. Kenapa? Mau marahin dia lagi, biar dia minggat lagi? Terus kamu yang pusing sendiri lagi? Begitu?"
Apaan sih, nggak jelas banget ini mertua, kenapa jadi di ungkit-ungkit lagi masalah yang udah berlalu itu, pikir Bara.
"Cuma tanya," ujar Bara singkat.
"Udah mama jawab juga kan, Syafira cuma Bilang kamu kurang sajen katanya. Untuk laki-laki dewasa, normal yang baru bucin kayak kamu apa lagi sajennya kalau bukan yes no yes no! Bersyukur kamu ada mama mertua baiknya begini amat, kayak yang tadi mama bilang, kalau nggak ada mama, kamu pasti nggak nikah sama Fira dan sampai sekarang masih jadi duda abadi,"
Bara hanya bisa menghela napasnya seraya sedikit menggelengkan kepalanya mendengar kalimat-demi kalimat yang keluar dari mumut cabenya sang mertua. Perasaan, yang milih Syafira jadi ibu untuk si kembar Bara sendiri, atas inisiatifnya sendiri. Tapi, memang sih ibu mertuanya itu berjasa banyak karena omelan dan ocehannya setiap saat hingga buat Bara luluh dan mau menikah lagi. Dan untuk itu, ia sangat mengapresiasi jasa mertua kesayangannya tersebut.
"Sepertinya mama yang kurang sajen, bukan Bara," ucap Bara dingin.
Bu Lidya hanya berdecih mendengarnya.
"Makasih ma,"
"Ucapan doang nih, nggak ada pelengkapnya gitu?"
"Katakan, apa mau mama, menikah lagi atau mau apa?" tanya Bara.
Bu Lidya langsung tersenyum, menantunya memang paling mengerti apa yanh dia mau, "Nikah lagi ya, belum dapat lampu ijo dari Varel. Tapi kalau..."
"Ada tas keluaran terbaru, limited edition. Mama sih sebenarnya B aja, tapi teman mama maksa terus,"
"Berapa?" Bara sudah memegang ponselnya. setidaknya Bara lega karena bu Lidya tidak meminta di nikahkan. Kalau iya, mau di nikahkan sama siapa, pikir Bara.
"Eeemmm,,, satu harganya lima puluh juta. Karena mama pesan dua jadi seratus juta," ucap bu Lidya lirih.
Bara langsung menatapnya tajam, "Dua?" bukan soal uang, tapi punya tas yang sama persisi dua biji buat apa, Bara tak mengerti. Bahkan ibu mertuanya ternyata sudah pesan, nekat sekali . Coba kalau Bara tidak ngasih uangnya, apa dia rela ngeluarin uang tabungannya sendiri sebanyak itu. Palingan juga lari, merengek-rengek minta ke Varel. Dan yang ada sama si Varel, di kerjain tuh ibunya.
"Dengar dulu makanya. Mama pesan dua yang satu buat Fira, bukan buat mama semuanya Bara. Pasti istri kamu nggak pernah shopping yang begituan kan, pasti sayang uangnya kan. Itung-itung mama bantu kamu buat nyenengin istri,"
Bara tertegun, benar selama ini ia belum pernah membelikan Syafira barang-barang yang mahal atau mewah. Bahkan, kartu unlimited yang ia berikan jarang di belanjakan, paling hanya intuk kebutuhan rumah tangganya terutama si kembar. Kalau untuk si kembar, Syafira selalu membeli uang terbaik dari yang baik, tapi untuk dirinya sendiri ia tak terlalu memikirkan mau branded atau tidak. Mahal atau murah.
"Udah," Bara kembali menyimpan ponselnya setelah mengirim sejumlah nominal ke rekening bu Lidya. Bu Lidya langsung mengecek ponselnya, ternyata Bara melebihkan uangnya sepuluh juta sebagai tanda terima kasih karena sudah memikirkan Syafira juga.
"Kelebihan ini Bara, sebenarnya mama nggak mau pesan, tapi gimana dong, teman mama maksa terus sih, jadi mama pesan, itung-itung juga bisa buat investasi kan tasnya selain buat koleksi. Siapa tahu nanti mama ketemu jodoh beneran dan suami mama nggak begitu kaya, John misalnya, dia kan nggak sekaya kamu. Jadi nanti mama pasti mikir-mikir buat belanjain uangnya buat shopping. Mau minta kamu juga kan nggak enak sama suami mama, pasti dia merasa malu kalau sampai mama minta sama kamu kan,"
"Biasa aja mukanya, jangan sok sungkan begitu ma," ucap Bara yang merasa aneh jika mamanya bersikap seperti itu.
"Bara ikhlas ngasih buat mama, kayak sama siapa aja," imbuhnya. Ia benar-benar menganggap bu Lidya seerti ibu kandungnya sendiri. Kelangsungan ekonomi bu Lidya termasuk salah satu prioritasnya. Tunggu! Bara tidak salah dengar, apa mertuanya itu serius ingin menikah lagi? Tapi, buay Bara tidak masalah, toh bu Lidya juga masih terlihat muda, cantik dan energik.
"Baiklah, terima kasih. Besok-besok lagi ya," ucap bu Lidya kemudian.
"Apa bu yang besok lagi?" tanya Syafira yang datang bersama si kembar yan sudah wangi, rapi dan bersiap pulang.
"Ah itu, ibu pesan tas sama teman ibu. Ibu pesan dua, satunya buat kamu," jawab bu Lidya.
"Tas? Buat apa bu, nggak usah repot-repot. Fira masih ada tas,"
"Ah nggak repot kok, lagian itu tas limited edition tahu Fir. Nggak banyak yang punya pasti nantinya. Nggak apa-apa sekali-kali belanja. Cuma sertus juta kok dua," dengan entengnya bu Lidya bilang cuma yang mana membuat Syafira terbelalak ketika mendengar nominal yang di sebutkannya.
" Seratus juta bu? Mahal sekali, sayang uanganya. Ibu nggak perlu repot-repot keluarin uang sebanyak itu buat Fira. Fira bisa alergi nanti pakai tas mahal begitu, biasa juga pakai tas diskonan di Mall. Itu aja udah mahal menurut Fira," Syafira pikir bu Lidya ysng mau membelikannya.
"Nggak apa-apa, nggak mahal. Yang lebih mahal banyak dan ibu nggak repot sama sekali kok. Sekarang kan kamu udah jadi istri sultan. Jadi harus terbiasa pakai barang yang agak mahalan dikit. Iya kan Bar?"
Iyalah dia nggak repot, orang yang bayarin Bara bukan dia, pikir Bara. Ia hanya diam mendengar celotehan ibu dan istrinya. Ibu mertua yang limited edition sama seperti tas yang dia sebutkan dan juga istrinya yang polos-polos menghanyutkan, memabukkan dan bikin candu tersebut.
🌼 🌼 🌼