Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 118


 Varel langsung masuk ke dalam untuk melihat kondisi Adel yang kini sudah sadar.


 


“Untunglah kamu nggak jadi mati, aku udah ikut panik tadi. Jangan di biasakan ngeprank orang ya, terutama kakak kamu, kasihan dia. Dikiranya tadi kamu pasti udah wassalam. Tapi syukurlah, dunia nggak jadi kehilangan salah satu bidadarinya,” ucap Varel seraya menarik kursi di bawah ranjang lalu mendudukinya.  Adel hanya menatapnya dengan tatapan lemah. Ia tak mengerti apa yang laki-laki di depannya itu bicarakan.


 


“Kamu siapa?” tanya Adel dengan lemah.


“Kenalin Aku Varel, aku...” Varel bingung harus memeperkenalkan diri sebagai apa. Haruskah ia mengatakan kalau dia adik ipar dari kakak iparnya? Atau... Adik ipar dari laki-laki yang sudah menabrak ayah dan dirinya hingga ayahnya meninggal? Ah terlalu rumit, gadis itu baru saja siuman, ia tidak ingin membuat kepalanya sakit karena ucapannya lalu koma lagi. Kan tidak lucu, pikirnya. Bisa-bisa kesan pertama yang gadis itu berikan langsung anjlok jika tahu soal penabrakan dan kematian ayahnya.


“Kata dokter tadi, aku pacarmu...” ucap Varel kemudian asal. Ia langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat karena celotehannya barusan sambil menahan senyum.


 


“Kata dokter tadi lho... beneran...kata dokter, baru saja tadi dia bilangnya," ucap Varel lagi. Lagi-lagi ia langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Mendengarnya, Adel hanya mampu mengernyit dengan lemahnya.


 


Entah apa yang ada dalam pikiran Adel saat ini. Ketika ia bangun malah di suguhi laki-laki aneh di depannya.


“Udah. Jangan di pikirkan, siapa aku sekarang tidak penting. Yang penting sekarang kamu udah sadar. Kakak kamu sampai pingsan tadi,” ucap Varel.


“Kakak... Ayah....” Adel mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Mencari sosok yang ia sebutkan namanya tersebut.


“Dimana mereka om?” tanya Adel yang tak mendapati siapapun di sana kecuali laki-laki aneh tersebut.


Varel ikut mengedarkan pandangannya, ia mencari sosok ‘om’ yang dimaksud oleh Adel. Ia tak mendapati siapapun kecuali... Dirinya sendiri.


“Om?” Varel menunjuk wajahnya sendiri tak percaya.


Adel hanya mengangguk lemah sebagai jawaban. Membuat Varel mendengus sebal.


“Ayah... Kakak... Dimana mereka om?” tanya Adel sekali lagi.


“Ayah? Kakak?”gumam Varel mengulangi pertanyaan Adel. Detik kemudian, ia tersadar dan langsung kebingungan harus menjawab apa. Mendadak jadi gagu untuk sekedar menjelaskan soal ayahnya.


“Se-baiknya kamu tenang-tenng dulu di sini. Biar aku lihat Syafira dulu sebentar,” ucap Varel yang langsung berdiri, jika tetap berada di sana ia bisa mati kutu untuk menjawab soal ayahnya kepada Adel.


“Tenang ya... Aku lihat kakak kamu dulu, baik-baik di sini, jangan koma lagi,” ucap Varel sambil berangsur berjalan mundur untuk keluar. Soal urusan ayahnya biar nanti Syafira sendiri yang menjelaskan kepada Adel, pikirnya.


“Ya ampun, apa aku setua itu sampai dia manggil aku om, dia umur berapa sih”  gumam Varel seraya berjalan mendekati pintu dengan tangannya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia ingin mengecek kondisi Syafira. Apakah perempuan itu sudah sadar dari pingsannya atau belum.


🌼 🌼 🌼


Dokter tersenyum tipis melihat Syafira menitikkan air matanya. Dokter pikir Syafira sangat terharu akan berita kehamilannya.


“Senang ya... Dulu saya juga begitu waktu tahu saya hamil sampai tidak bisa berkata apa-apa sangking senangnya karena saya cukup lama menantikannya. Apalagi suami saya, ia bahkan sampai menangis karena senangnya,” ucap dokter tersenyum mengingat momen bahagianya dulu waktu menyambut sang buah hati.


Namun, entah apa yang sebenarnya kini Syafira rasakan. Ada rasa haru, bahagia namun juga perasaan sedih menghinggapi hatinya. Jika semua baik-baik saja, pasti ini akan menjadi momen paling membahagiakan buat dia dan suaminya, Bara.


Mendengar dokter yang terus menyebut kata suami, membuat Syafira ingat Bara. Hal itu justru membuatnya kembali ingat dengan kondisi terakhir Adel sebelum ia jatuh pingsan dan berakhir di ranjang IGD tersebut.


“Adel...” Syafira langsung terkesiap ingat Adel.


“Nyonya, sebaiknya Anda tenang dulu, Anda baru saja sadar dari pingsan,”ucap dokter mencoba menenangkan Syafira.


 


“A-del... Dok, saya harus menemui adik saya. Saya harus  memastikan  dia baik-baik saja,” ucap Syafira mencoba turun dari ranjang. Namun ia langsung meringis ketika selang infus yang menancap di tangannya tertarik. Berdirinya juga masih belum bisa menapak semourna di lantai. Tubuhnya masih terasa sedikit limbung.


 


 


“Tapi dok, saya harus melihat adik saya! Saya harus memastikan kalau dia... Kalau dia masih hidup... ” Syafira kembali menangis, ia sangat takut jika Adel benar-benar meninggalkannya. Ia ingat tadi jantung Adel berhenti.


“Iya saya tahu nona, tapi tolong pikirkan juga kondisi janin Anda. Anda masih lemas, jangan sampai janin dalam kandungan Anda kenapa-kenapa. Sebaiknya Anda istirahat di sini dulu sebentar, paking tidak sampai infus ini habis,” bujuk dokter.


“Tapi dok... Adik saya...,” ucap Syafira lirih. Ia paham maksud dokter. Ia sendiripun tak ingin bayi yang kini ada dalam perutnya kenapa-kenapa.


“Fir.... Syukurlah kmu sudah sadar!” ucap Varel sambil mengatur napasnya saat memeasuki ruang IGD dimana Syafira berada.


Pandangan Varel beralih kepada dokter, “Bagaimana keadaannya dok? Kakak ipar saya baik-baik saja kan? Dia pingsan karena terlalu syok dan lelah kan dok?” tanya Varel kepada dokter.


“Iya tuan, nona Syafira baik-baik saja. Anda tidak perlu khawatir. Hanya saja sekarang ini nona Syafira sedang....”


“Rel... Gimana Adel Rel? Di-dia baik-baik aja kan Rel? Adel tidak....” Syafira memotong ucapan dokter. Ia tak ingin Varel tahu soal kehamilannya sekarang. Karena, jika Varel tahu, sudah pasti berita tersebut akan langsung sampai ke telinga Bara hanya dalam hitungan menit bahkan mungkin detik saja.


“Ah iya, aku ke sini mau ngecek kondisi kamu dan....”


“Dan apa Rel?” tanya Syafira tak sabar menunggu Varel melanjutkan bicaranya.


“Adik kamu udah sadar, dia udah bangun....” jelas Varel seraya tersenyum.


“Beneran Rel? Adik aku udah sadar? Adel bangun dari komanya?” Syafira seakan tak percaya dengan verita bahagia yang baru saja ia dengar dari mulut Varel.


“Hem... Tadi setelah kamu pingsan, tak lama kemudian Adel sadar.... Dan dia... Nanyain kamu dan ayah kalian...” ujar Varel.


“Aku harus segera ke sana, aku harus nemuin Adel sekarang juga,” Syafira kembali menapakkkan kakinya ke lantai. Ia sudah tak sabar ingin bertemu dan memeluk adiknya.


“Tapi nona...” dokter tetap berusaha mencegah, setidaknya sampai kondisi Syafira sedikit lebih fit dari sebelumnya. .


“Dok, saya baik-baik saja. Saya ingin segera menemui adik saya dok, saya mohon,” mohon Syafira.


“Tapi....”


“Sebenarnya kondisi Syafira kenapa dok? Bukannya dokter bilang dia baik-baik saja tadi?” tanya Varel penasaran.


“Iya, kondisi nona Syafira memang baik-baik saja tuan, tapi beliau masih lemas, dan lebih lagi dari kemarin nona Syafira tidak makan, dia butuh tenaga, supaya....”


“Setelah ini saya akan makan yang banyak, yang bergizi dokter, saya janji. Tapi biarkan sekarang saya menemui adik saya. Saya sudah sangat merindukannya,” ujar Syafira.


Dokter tampak mengernyit, kenapa setiap kali dia ingin mengatakan kepada Varel jika Syafira sedang mengandung, wanita di depannya itu seakan menutupinya.


“Baiklah kalau begitu nona, saya akan membuatkan resep vitamin buat nona, jangan lupa diminum ya nanti,” akhirnya dokter mengijinkan Syafira jeluar dari ruangan tersebut.


Syafira tersenyum lega, “iya dok, pasti. Pasti saya akan meminum vitaminnya,” ucapnya senang karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan Adel.


🌼 🌼 🌼


💠💠Assalamualaikum author kembali.... Maaf ya lama baru bisa up lagi, ini pun masih belum bisa maksimal... Yang mengikuti IG-ku pasti tahu alasannya.


Jangan lupa jaga kesehatan dan tetap patuhi protokol kesehatan. Dan... Semangat terus buat para pejuang isoman...


Jangan lupa like, komen dan votenya terima kasih 🙏🏼🙏🏼


Salam hangat author ❤️🤗💠💠