
Wanita itu berdiri ketika melihat Syafira dan Bara.
"Fira..." ucap wanita itu. Syafira mencengkeram tangan Bara kuat-kuat, mencari kekuatan dari suaminya untuk bisa tetap berdiri kokoh menahan perasaan di dadanya. Perasaan rindu sekaligus benci terhadap wanita yang melahirkannya tersebut. Rindu, karena sudah sangat lama ia tak merasakan kehangatan dan kasih sayang sang ibu. Benci, karena wanita itu tega meninggalkannya dan Adelia di saat mereka masih sangat kecil. Benci karena wanita itu tega mengkhianati cinta sang ayah yang bahkan tidak pernah membencinya sekalipun sudah dikhianati.
Wanita itu tersenyum dan berjalan mendekat.
"Apa kabar kamu Fir? Ini ibu, apa kamu masih ingat sama ibu?" tanya Wanita itu. Tentu saja Syafira ingat, sangat ingat. Meski sudah lama tidak bertemu, Syafira bisa mengenali wajah ibunya. Meskipun kini ibunya sudah tak semuda dulu saat pergi meninggalkan Syafira, tak banyak yang berubah darinya.
Syafira masih mematung dan memegang tangan Bara semakin kuat. Lidahnya terasa sangat kelu untuk sekedar menanyakan kabar sang ibu. Ingin sekali ia memeluk wanita itu, tapi kemarahannya terhadap wanita itu lebih besar. Dalam waktu lima belas tahun, kenapa tak sekalipun ia menampakkan batang hidungnya di depan anak-anaknya hanya sekedar untuk menanyakan kabar mereka.
Bahkan, menangispun Syafira tidak bisa saat ini. Entah apa yang dia rasakan saat ini, yang jelas ia benar-benar terkejut, marah, sedih, kecewa dan...sedikit senang karena masih bisa melihat wajah sang ibu.
Syafira benar-benar belum siap untuk bertemu dengan ibunya sekarang apalagi untuk bicara. Masih perlu waktu untuk menyiapkan mentalnya setelah sekian lama tinggal.oleh ibunya.
"Masuklah ke kamar," ucap Bara yang tahu jika istrinya itu bekum siap untuk bertemu ibunya. Syafira menoleh, menatap suaminya. Bara mengangguk dan tersenyum.
Syafira oun memilih untuk menuruti suaminya, ia melangkahkan kakinya melewati wanita yang tak lain adalah ibunya tersebut.
"Fira, ibu ingin bicara sama kamu," ucap wanita itu sedikit berteriak. Membuat Syafira sempat ingin menghentikan langkahnya.
"Kenapa kamu malah menyuruhnya pergi? Tidak sopan sekali kamu, saya ibu yang melahirkannya, saya ingin bertemu dan bicara dengan anak saya,"" ucap Wanita itu lantang menatap Bara.
"Atas dasar apa Anda mencarinya?" tanya Bara dingin.
"Apa saya perlu memiliki alasan khusus unruk.menemui anak saya?" jawab wanita itu.
"Ck, anak? Sekarang Anda sebut dia anak? Apa Anda lupa waktu saya datang secara langsung untuk meminta Anda datang ke acara pernikahan kami? Waktu itu Anda sendiri yang menolaknya dan bilang tidak peduli dan sudah tidak menganggap Syafira maupun Adel anak," ucap Bara.
Mendengar ucapan.suaminya, Syafira yang baru menapaki dua anak tangga itu langsung berhenti.
"Mas Bara, dia..." gumam Syafira. Ia tak menyangka jika ternyata Bara sempat menemui ibunya untuk memberitahu soal pernikahan mereka.
Ya, setelah acara lamaran dadakan yang rancang oleh bu Lidya waktu itu, uwa Syafira sempat menemui Bara dan mengutarakan apa yang di inginkan Syafira yaitu ingin ibunya menyaksikan dirinya menikah, setidaknya ada salah satu orang tuanya yang hadir. Bara berusaha menuruti keinginan Syafira tersebut, ia dengan cepat bisa menemukan info tentang ibu kandung Syafira yang ternyata berada di Jakarta juga.
Bara menemui wanita itu dan sebagai laki-laki dewasa, ia mengutarakan niat baiknya untuk menikahi Syafira dan memintanya untuk datang ke pernikahan mereka. Namun, wanita paruh baya tersebut menolaknya mentah-mentah. Ia tidak tahu jika Syafira akan menikahi seorang duda kaya raya, karena waktu itu Bara tidak menunjukkan kekayaannya sama sekali saat menemui ibu Syafira. Sehingga, wanita itu berpikir tidak asa keuntungannya datang ke acara tersebut.
Kali ini, Syafira menitikkan air matanya. Setega itukah sang ibu yang selama ini ia rindukan tersebut. Bahkan hanya untuk melihatnya menikah saja tidak mau. Sebenci itukah ibunya terhadap Syafira. Syafira pikir karena ibunya tidak tahu pernikahannya makanya ia tidak datang. Dan ternyata malam itu, ketika uwa Syafira masuk saat Syafira sedang bermain dengan sepupu-sepupunya, sebenarnya uwa sudah tahu jika ibunya mengetahui pernikahannya tapi memang tidak ingin datang.
Syafira mengepalkan tangannya sendiri kuat-kuat, menahan perasaan kecewanya. Ia mengusap air matanya kasar lalu kembali melanjutkan langkahnya. Tidak peduli apa yang ibu dan suaminya bicarakan lagi, hatinya sudah cukup sakit mendengar kenyataan tersebut.
"Syafira istri saya, apapun urusannya, menjadi urusan saya juga. Lebih baik Anda pergi dari sini sebelum saya panggilkan scurity," ucap Bara tegas. Ia tak mau berlama-lama membiarkan wanita itu berada di rumahnya.
Wanita itu mengambil tasnya, lalu pergi dengan perasaan kesalnya.
Bara menghela napasnya, ia mengusap wajahnya kasar dan segera menyusul Syafira ke atas.
Sesampainya di kamar, Bara langsung mendekati istrinya yang kini sedang berdiri di balkon kamarnya, menatap ibunya yang berjalan keluar dari kediaman Osmaro dengan menahan air matanya.
"Sayang," panggil Bara lirih di telinga Syafira, laki-laki tersebut langsung memeluk sang istti dari belakang.
"Eh, mas..." sahut Syafira sambil menahan air matanya.
"Dia sudah pergi," ucap Bara.
"Apa yang mas Bara katakan tadi itu benar? Mas pernah menemui ibu?" tanya Syafira, hatinya merasa sakit saat menyebut kata ibu.
"Iya," jawab Bara.
"Kenapa mas Bara tidak pernah bilang?"
"Mas tidak ingin kamu kecewa ketika mengetahuinya, seperti sekarang ini," jawab Bara. Ia paham bagaimana kecewa dan sedihnya seorang anak ketika ibunya tidak peduli dengannya.
Syafira langsung memutar tubuhnya, ia memeluk erat suaminya. Mencari ketenangan di sana, menumpahkan rasa sakit di dadanya.
"Aku benar-benar kecewa, tapi aku sangat merindukannya," ucap Syafira terisak, ia tidak bisa lagi tegar.
"Menangislah jika itu bisa buat kamu lebih tenang. Sekarang ada mas yang akan selalu ada buat kamu dan Adel, jangan khawatir," Bara memeluk Syafira erat, dikecupnya puncak kepala sang istri berkali-kali. Jangankan Syafira, ia sendiri bisa merasakan kecewa dan rasa sakit itu.
Malam semakin larut, kini Syafira sudah tertidur pulas dalam dekapan suaminya dengan posisi Bara duduk dan bersandar di sandaran tempat tidur. Bara membenarkan posisi tidur Syafira. Di rebahkannya Syafira dengan hati-hati. Setelah menyelimuti kakinya, Bara mencium kening Syafira lalu meninggalkan Syafira menuju ke ruang kerjanya. Ada banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan malam itu karena ia tinggal beberapa hari kemarin.
Setelah beberapa saat memeriksa beberapa email yang masuk, Bara memutuskan kembali ke kamar dengan membawa laptopnya. Ia akan bekerja di kamar, ia tak ingin meninggalkan Syafira sendirian terlalu lama.