Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 51 (Shock Theraphy)


Pagi hari, seperti biasa Syafira di sibukkan dengan masalah urus mengurus si kembar dan juga keperluan suaminya. Apalagi ini hati Senin dimana banyak sekali orang yang sibuk sejak pagi setelah menikmati liburan hari Minggu mereka.


Bara duduk sambil mengamati istrinya yang sedang sibuk menyiapkan sarapan untuknya. Semenjak ada Syafira semua urusan rumah aman terkendali. Tak hanya urusan anak-anaknya saja, tapi urusan perutnya juga tak pernah terlewatkan. Masakan Syafira begitu memanjakan lidahnya.


"Anak-anak belum turun?" tanya Bara membuka obrolan di pagi itu.


"Sebentar lagi juga turun, mereka sudah siap tinggal sarapan aja," jawab Syafira tanpa menoleh ke arah suaminya.


"Kamu hari ini ada kuliah nggak?" tanya Bara lagi.


"Ada nanti jam sembilan," sahut Syafira yang masih sibuk.


"Kalau bicara itu, tatap lawan yang di ajak bicara Fira, kalau seperti itu tidak sopan namanya," ucap Bara pelan.


Syafira menghela napasnya, suaminya itu mengganggu sekali, padahal dia lihay jika Syafira sedang sibuk. Syafira menoleh menatap suaminya.


"Apa mas Bara, suamiku?" tanyanya sok imut dengan senyum yang terpaksa ia buat semanis mungkin.


"Kok senyumnya begitu, tidak tulus itu namanya," ujar Bara.


"Intinya saja mas, mau bicara apa aku masih mau ambil menu yang lain ini," tegas Syafira.


"Kan ada pelayan Fir, buat apa saya gaji mereka jika kamu yang mondar mandir ambil ini semua,"


"Iya juga sih," gumam Syafira.


"Kamu yang masak buat saya sama anak-anak, tapi biar mereka yang menyiapkan di meja. Kamu nyonya di sini,"


"Nyonya rasa babby sitter ya mas," skak Syafira dengan senyum selebar mungkin.


"Kamu itu ibunya anak-anak Fira, bukan babby sitternya,"


"Iya, aku ibu mereka, hanya ibu mereka," pupus Syafira malas mendebat suaminya, masih pagi.


"Istri saya juga," ucap Bara lirih.


"Apa mas? Aku tidak dengar, tadi aja bicaranya kenceng, kok sekarang kayak nggak ada tenaga begitu bicaranya,"


"Ya sudah jika tidak dengar," timpal Bara.


"Istri hanya status kan mas, yang di catat di buku nikah, kalau realnya mah masih mbak Olivia yang istri mas Bara,"


"Fira, saya sedang tidak ingin ribut karena hal sepele. Jangan mancing-mancing masih pagi. Kalau saya bilang kamu istri saya ya istri saya," ucap Bara tegas.


"Nah gitu dong yang keras nyebut istrinya, jangan lirih kayak malu mengakui saja. Udah ini makan dulu. Anak-anak biar nyusul," ucap Syafira menyodorkan sarapan untuk suaminya.


"Tunggu mereka saja." sahut Bara sembari meletakkan ponselnya di meja.


Baru selesai bicara, si kembar sudah berjalan beriringan menuruni anak tangga.


"Pagi boy, princess," sapa Bara ketika melihat dua bocah kecil kesayangannya berjalan mendekat ke meja makan. Mereka sudah rapi dengan setelan seragam sekolah dan tas masing-masing.


"Pagi daddy!" seru keduanya serempak lalu duduk di kursi yang biasa mereka duduki jika sedang makan bersama.


"Daddy, bagaimana? Apa sudah jadi Dedek bayinya?" tanya Nala.


"Belum sayang, bunda nggak mau daddy ajak kerja sama," Bara melirik ke arah Syafira yang sedang sibuk melayani si kembar.


"Bunda..." Mata indah gadis cilik itu menatap ke arah Syafira, sudah siap menumpahkan air mata yang sudah berkumpul di sudut kedua matanya.


"Eh cepat sekali reaksinya," batin Syafira.


"Bukan begitu sayang, bunda bukannya tidak mau,"


"Lalu? Apa karena daddy nakal?" tanya Nathan.


"Aduh gimana jelasinnya ya. Mas Bara bantuin dong, itu anaknya sudah siap menangis," bisik Syafira di telinga Bara.


"Tinggal bilang saja kamu mau, kan beres," ucap Bara.


"Ih nanti mas Bara nagih lagi kalau aku bilang mau,"


"Ya iyalah kalau kamu sudah bilang mau," sahut Bara santai.


Kedua anak itu hanya menatap tak mengerti apa yang sedang orang tua mereka diskusikan.


"Kenapa malah diskusi? Ayo jelaskan bunda, daddy," cebik Nathan menatap tajam keduanya.


"Em begini sayang, hari ini kan bunda ada kuliah, daddy juga harus bekerja berangkat pagi-pagi. Kalau tadi malam bekerja sama kan harus begadang, nanti bangunnya telat lagi kalau malamnya begadang," jelas Bara sebisanya mencari alasan.


"Bagaimana?" bisik Bara meminta pendapat soal jawabannya di telinga Syafira.


"Bisa di terima," balas Syafira.


"Berati kalau besoknya libur bunda mau dong di ajak kerja sama daddy?" tanya Nala lalu menggigit ujung sandwhichnya.


"Eh...itu..."


"Iyain aja, tahu sendiri mereka kritis pikirannya. Semakin banyak alasan semakin besar kekepoan mereka," bisik Bara.


"Ish tapi jangan nagih ya kalau aku bilang iya?" Syafira menatap tajam suaminya.


"Insyaallah," sahut Bara tersenyum mencurigakan.


"Bunda kok ngga jawab? Nggak mau ya" Nala mulai kehilangan kesabarannya, matanya kembali berkaca-kaca.


"Eh iya sayang, bunda mau," ucap Syafira cepat.


Gadis cilik itu langsung merubah ekspresi wajahnya menjadi cerah, sangat cerah mengalahkan lampu lima puku watt.


"Yes punya dedek bayi!" serunya.


Diam-diam di bawah meja, Nathan dan Nala melakukan tos.


"Berhasil!" seperti itulah kira-kira ekspresi yang tergambar dari kedua mata mereka. Rupanya drama mata berkaca-kaca yang di perlihatkan Nala tadi hanyalah akting belaka.


Syafira juga senang, bukan karena soal permintaan dedek bayi, tapi karena sifat Bara yang semakin melunak terhadapnya. Namun, ia masih harus memastikan perasaan Bara terlebih dahulu sebelum memberikan apa yang menjadi hak suaminya.


🌼🌼🌼


Di kantor...


"Tuan muda, para investor sudah menunggu di ruang meeting," ucap om Jhon begitu masuk ke ruangan Bara.


"Baiklah, siapkan berkasnya!" perintahnya.


"Maaf tuan muda, berkas itu bukankah ada bersama tuan muda? Semalam saya mengantar ke rumah karena tuan muda bilang ingin mempelajarinya terlebih dahulu?"


"Biar saya yang mengambilnya tuan," ucap om Jhon yang melihat wajah kesal Bara.


"Tidak perlu om, tidak akan keburu jika om ke rumah dan balik ke sini," cegah Bara.


"Lalu bagaimana Tuan muda?"


Bara tampak berpikir sejenak. Ia mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Syafira.


Syafira yang sedang terburu-buru berangkat kuliah berhenti didepan pintu kamarnya setelah mendengar ponselnya berdering.


"Mas Bara? tumben jam segini telepon?"


Syafira langsung mengangkatnya.


"Assalamualaikum mas, tumben jam segini telepon ada apa?" tanya Syafira.


"Fir, kamu lagi dimana?" tanya Bara.


"Ini mash di rumah, udah telat mau ke kampus kenapa mas?"


"Tolong kamu antar berkas yang ada di meja ruang kerjaku, yang map berwarna merah ke kantor sekarang juga ya?"


"Tapi mas, aku harua ke kampus," Syafira melihat jam tangannya, sepertinya masih keburu jika mengantar berkas suaminya karena searah jalan ke kampusnya.


"Baiklah aku antar, aku ambil dulu berkasnya," ucap Syafira setelah memperkirakan waktu.


"Baiklah, terima kasih ya Fir?"


"Terima kasihnya nanti saja mas, sekarang tutup teleponnya ya. Assalamualaikum,"


"Cepat saya tunggu ya Fir, klien sudah menunggu. Waalaikumsalam," sahut Bara. Syafira langsung mematikan panggilan suaminya ia segera menuju ke ruang kerja suaminya dan mencari berkas yang di maksud.


🌼🌼🌼


Sekitar lima belas menit kemudian, Syafira sampai di depan kantor Bara. Ini untuk pertama kalinya dia menginjakkan kaki di depan gedung yang menjulang tinggi tersebut. Syafira berdecak kagum, tak menyangka jika suaminya pemilik gedung tersebut. Syafira menghentikan sepeda motornya tepat di depan gedung tersebut.


Satpam yang berjaga mengejar Syafira yang memarkirkan sepeda motornya tidak di tempat yang seharusnya.


"Nona mau kemana? Ada perlu apa ke kantor ini? Kenapa nona parkir di sini? Parkir sepeda motor seharusnya di sebelah sana," satpam itu menunjuk tempat parkir sepeda moto menggunakan pentungan satpamnya.


"Maaf pak saya buru-buru, saya mau mengantar berkas ini buat mas...eh maksud saya buat pemilik perusahaan ini," ucap Syafira sambil melangkahkan satu kakinya ke depan untuk mengambil ancang-ancang masuk.


"Tunggu nona, apa hubungan Anda dengan pak Bara? Saya tidak bisa membiarkan sembarang orang mengaku keluarga pak Bara,"


"Aih bapak kelamaan, kalau mau tau saya siapa nanti bisa tanya langsung sama pak Baranya, sekarang saya buru-buru ini, harus segera ke kampus juga,"ucap Syafira, namun satpam.itu tetap mencegahnya.


"Ya kali aku harus ngaku istri pemilik perusahaan ini, yang ada aku di ketawain, di kira halu nanti. Bisa-bisa mereka pikir aku abg simpanannya lagi,"


"Ada apa ini?" suara bariton itu membuyarkan lamunan sesaat Syafira.


"Ini Pak, nona ini bilang ingin mengantarkan berkas buat Bapak," ucap Satpam itu menunduk tak berani menatap bosnya.


Syafira menatap kagum suaminya yang terlihat keren ketika di kantor, sangat berwibawa bahkan mereka yang lewat melintasinya semua menganggukkan kepala mereka sebagai tanda hormat kepadanya.


Bara mendekati Syafira dengan langkah pelan namun panjang, satu tangannya ia masukkan ke saku celana.


"Bawa berkasnya?" tanya Bara, suaranya yang tadi mendominasi, kini berubah lembut.


"Fir...?" Syafira masih bengong.


"Eh iya, ini berkasnya," Syafira menyodorkan map berwarna merah sesuai perintah Bara.


"Terima kasih. Kok cepat sampainya?" Menurut perhitungan Bara paking tidak butuh waktu sekitar setengah jam untuk sampai, paling cepat dua puluh limat menit.


"Cepat soalnya bawa Wiliam." ucap Syafira


"Kamu ngebut Fir?" Bara menatapnya tajam.


"Hehe, kalau nggak ngebut nggak keburu. Lagian nih pak satpam malah ngajakin negosiasi segala, dia nggak tahu aku is..eh " Syafira langsung menutup mulutnya, ia ingin menyebut kata 'mas' tapi ragu. Takut Bara malu.


Bara mengernyit karena Syafira tak meneruskan ucapannya.


"Ya sudah, mau masuk dulu?" tanya Bara.


"Tidak, aku buru-buru sudah hampir telat," Syafira menoleh ke satpam yang berdiri menyaksikan percakapan mereka berdua.


"Pak satpam, jangan suka su'udzon yah. Assalamualaikum," pamit Syafira lalu balik badan dan melangkahkan kakinya meninggalkan Bara yang masih berdiri di tempatnya.


"Siapa itu Pak? Ponakan ya?" tanya Salah satu karyawan yang kebetulan lewat.


"Iya, ponakan," jawab Bara yang mengingat tadi Syafira ragu menyebutkan dirinya sebagai istrinya. Mungkin Syafira malu atau bekum siap, pikirnya.


"Cantik ya Pak," ucapnya. Membuat Bara tak suka, ada laki-laki lain memuji kecantikan istrinya di depannya, meskipun kenyatannya Syafira memang cantik.


Syafira yang baru berjalan dua langkah mendengar ucapan Bara dan kesalahpahaman pun terjadi. Syafira pikir Bara malu mengakuinya. Pun dengan Bara, ia pikir Syafira malu mengakuinya.


"Aku kira kamu beneran udah anggap aku istri mas, nyatanya belum. Masih malu. Perlu di kasih shock therapy sepertinya," batin Syafira menyeringai.


Syafira berbalik badan, melangkah cepat mendekati suaminya dan langsung mencium bibir Bara. Satpam dan juga mereka yang melihat adegan tersebut langsung terkejut, tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Seorang gadis cantik, masih muda mencium atasan mereka di depan umum.


Bara langsung membulatkan kedua matanya ketika bibir Syafira menempel sempurna di bibirnya. Ia tak percaya, istrinya senekat itu,padahal kemarin ia hampir menangis karena ketahuan sedang berciuman oleh pelayan restoran.


"Tadi aku bilang terima kasihnya nanti saja kan? Ini anggap sebagai ucapan terima kasih om Bara kepadaku," ucap Syafira, sekali lagi ia berjinjit dan mencium bibir suaminya, kali ini tangan Bara denga cepat menahan tengkuk Syafira sehingga ciuman terjadi sedikit lebih lama. Begitu Bara melepas tangannya dari tengkuk Syafira, Syafira langsung berbalik badan, memejamkan matanya menahan malu dan siap melangkah dengan langkah seribu menuju ke sepeda motornya. Niatnya dia yang ingin memberi shock therapy untuk suaminya, eh dirinya sendiri juga kena, bahkan mungkin shocknya melebihi Bara.


"Wah, ponakan apa ponakan nih, ponakannya masih muda, cantik, dan energik ya Pak," celetuk salah satu karyawan.


"Dia istri saya," ucap Bara, yang masih tertegun sambil menyentuh bibirnya sendiri. Tersenyum, mengingat kejadian yang baru saja terjadi. Tidak bisa ia bayangkan seperti apa wajah Syafira saat ini, pasti merah seperti udang rebus. Pikir Bara.


"Hah, marah itu pak istrinya tadi ngga diakui sebagai istri,"


"Diam kamu! Siapa nama kamu?"


"Indra Pak,"


"Indra, mau potong gaji atau di pecat? Jam kerja malah keluyuran!"


"Tidak dua-duanya Pak, maaf" ucapnya lesu.


Bara tak menanggapinya, ia langsung melangkah masuk karena ingat sudah di tunggu.


"Kamu sih, punya mulut ngga di jaga, untung Pak Bara lagi senang, coba kalau lagi badmood, bisa di kirim ke Pluto kamu," bisik teman Indra.


"Keceplosan tadi,"sahut karyawan bernama Indra.


🌼🌼🌼