Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 142


Setelah makan, sesuai janjinya, Bara membuatkan susu untuk di minum oleh Syafira.


Setelah Syafira meminum susu buatan suaminya, mereka kembali mengobrol. Syafira menyadarkan kepalanya di dada Bara, "Adel gimana?" tanya Bara.


"Dia kelihatan senang dan bahagia mas. Tapi, dia belum mau tinggal di sini. Katanya nanti, untuk sekarang-sekarang ini mau tinggal di rumah peninggalan ayah. Masih belum bisa ninggalin rumah. Menurut mas, gimana?" Syafira meminta pendapat Bara.


"Emmm, sebaiknya biarkan saja dulu. Ya, meskipun mas penginnya dia tinggal di sini nemenin kamu. Tapi jangan di paksa kalau belum mau. Yang penting dia nyaman aja. Nanti bisa suruh sering-sering menginap di sini," sahut Bara.


Syafira mengangguk, "Magang aku gimana, mas? Apa aku boleh lanjutin?" tanya Syafira.


"Apa, sebaiknya nggak usah di lanjut aja? Mas nggak mau kamu capek-capek,"


"Tapi, aku butuh nilainya mas. Aku juga maunya dekat-dekat mas Bara terus. Selama ini aku udah nabung rindu banyak banget buat mas. Aku nggak mau jauh-jauh lagi sama mas," rayu Syafira.


Bara tampak berpikir, "Anak kita yang nggak mau jauh-jauh dari ayahnya. Maunya sama ayah terus," rayu Syafira lagi.


"Oh, anak ayah ya. Bundanya enggak mau dekat-dekat ayahnya nih?"


"Dua-duanya. Anak ayah sama bundanya yang mau dekat," jawab Syafira cepat.


"Tapi, sekarang mas yang mau dekat-dekat dengan anak kita. Mas pengin kenalan, mas kangen, mas pengin jengukin anak Kita...." Bara langsung mendorong tubuh Syafira pelan.


Bara langsung mengunci kaki Syafira dengan kakinya, sementara bibirnya sudah mencium mesra bibir Syafira.


Syafira menyambut bibir Bara dengan penuh minat. Tak di pungkiri ia juga sangat merindukan bibir tersebut.


Cukup lama tak di jamah oleh suaminya, membuat Syafira langsung meremang saat bibir suaminya menempel di bibirnya.


Cukup lama mereka saling menumpahkan kerinduan dalam ciuman tersebut. Bara membelai pipi Syafira yang terkungkung di bawahnya. Ia menyusuri setiap sudut wajah sang istri, "Jangan tinggalin mas lagi ya, sayang. Kamu dan anak-anak kita adalah hidup mas. Mas nggak bisa kehilangan kalian," ucap Bara.


"Iya, mas..." jawab Syafira yang sudah tak sabar menantikan lebih dari suaminya.


Bara tersenyum lalu kembali melu mat bibir Syafira dengan lembut namun penuh hasrat. Syafira melenguh sesekali. Baru sampai di bibir saja rasanya sudah ke awang-awang buat dia.


Tanpa melepas pagutannya, Bara mulai melepas kancing piyam yang Syafira kenakan. Syafira yang tak sabar berinisiatif membantu Bara.


"Biar mas aja, kamu cukup menikmatinya saja," ucap Bara yang dengan cekatan membuka satu persatu kancing piyama Syafira. Ia kembali memagut bibir Syafira. Tangannya menyusup ke punggung Syafira untuk melepas pengait benda yang menutupi dada Syafira.


"Mas juga buka," ucap Syafira diantara lenguh annya karena kini bibir Bara sedang bermain di atas dada Syafira.


Tak menunggu lam, kini Bara juga sudah melepas piyama atasnya.


Suasana semakin panas ketika Bara mengobrak-abrik hasrat Syafira dari bawah sana hingga suara melengking dari bibir Syafira terdengar mewakili gejolak yang baru saja mencapai puncaknya.


Karena sudah tidak tahan, sejak tadi si piton sudah meronta-ronta ingin di bebaskan dari sesaknya kain yang mengurungnya, Bara melepaskan celana piyama dan juga boxernya karena ia ingin segera menemui calon anaknya di dalam sana.


Syafira yang masih terengah-engah karena baru saja sampai puncaknya tak menyadari jika suaminya sudah polos seperti bayi baru lahir.


Dan... Begitu Bara bersiap membenarkan si piton di lembah suragwinya di bawah sana, Syafira baru menyadari suatu hal yang dia lihat.


"Hoek.. Hoek...." Syafira langsung menutup mulutnya yang terasa amat mual.


"Mual mas... Hoek... Hoek..." Syafira langsung bangun dan berlari menuju ke toilet. Karena khawatir, Bara langsung menyusulnya. Ia mengusap-usap punggung Syafira.


Melihat pantulan suaminya yang masih polos di cermin, Syafira kembali mual, "Hoek.. Hoek..."


"Ya ampun, kok bisa gini sih. Mas panggilkan dokter ya," ucap Bara yang panik.


Syafira menggeleng, "Enggak usah. Mas tutupin aja itu nya, nanti mualku hilang," kata Syafira. Ia menunjuk si piton dari cermin.


Bara langsung menunduk, menatap miliknya sendiri lalu mengernyit, "Kmu mual karena lihat dia?" Bara menunjuk bawahnya.


Syafira mengangguk, raut wajahnya seketika merasa bersalah. Bara mengusap wajahnya lalu mengambil handuk yang ada di dalam kamar mandi tersebut untuk kemudian ia lilitkan di pinggangnya.


Bara memanah Syafira untuk kembali ke dalam kamar setelah Syafira tak lagi merasa mual.


"Maaf ya mas. Aku juga nggak tahu kenapa. Tapi, waktu itu juga aku mual pas lihat si piton," ucap Syafira yang merasa bersalah.


"Oh, yang waktu itu kamu mual-mual ya. Apa ini juga ngidam namanya? Berarti wktu itu kamu udah hamil dong, sayang," ujar Bara menerka.


"Bisa jadi mas, tapi kita nggak ngeh," sahut Syafira.


Bara memungut pakaian Syafira, lalu ia membantu memakaikannya.


"Nggak di lanjut mas? Aku nggak apa-apa, kok. Kasihan mas kalau nggak jadi. Ayo lanjut aja, nggak apa-apa," ucap Syafira.


"Enggak untuk malam ini sayang. Mas nggak mau kamu mual-mual begitu. Mas nggak apa-apa. Mungkin memang belum rejeki mas malam ini buat jenguk dedek. Besok-besok siapa tahu udh nggak mual lagi, bisa di coba lagi," UCAP Bara sambil mengancingkan piyama Syafira.


" Beneran nggak apa-apa, nggak jadi?"


" Iya, habis ini tidur ya. Kan capek juga, habis perjalanan jauh tadi, buat istirahat aja,".Bara tampak tenang, padahal dalam hati ia was-was. Sampai kapan Syafira ngidam yang menyiksanya seperti itu. Sementara saja, atau jangan-jangan sampai anak mereka lahir. Ah, memikirkannya, Bara gusar setengah mati dalam hatinya. Kenapa ngidamnya seperti itu, sih.


Kalau saja Syafira ngidam pengin ketemu artis idola, liburan ke luar negeri, atau di buatkan candi sekalipun, ia akan menyanggupinya. Tapi, ini dia malam mual melihat benda pusaka kebanggaan suaminya sendiri.


"Udah, sekarang tidur ya," Bara menarik selimut untuk menutupi tubuh Syafira. Ia mengecup kening istrinya sebelum akhirnya ia mengambil celana piyamanya yang teronggok di lantai sambil mulai memikirkan cara bagaimana bisa melakukannya tanpa harus membuat Syafira mual-mual.


" Mas nggak usah pakai bajunya, gitu aja udah," ucap Syafira yang memperhatikan Bara kembali memakai pakaiannya.


"Nggak pakai baju?" Bara mengernyit.


"Iya, aku mas tidurnya telan jang dada. Mau di peluk tapi mas nggak pakai baju, biar wangi tubuh mas bisa langsung kecium," Syafira Syafira tersenyum malu-malu.


Bara tersenyum, ia menuruti kemauan Syafira. Ia mencampakkan baju piyamanya ke sembarang lalu merangkak naik ke tempat tidur. Menyibak selimut dan berbaring di samping Syafira.


" Sini!"


Syafira langsung menyusup ke dalam pelukan suaminya. Ia mengendus-ngendus aroma tubuh Bara yang terasa wangi dan segar di hidungnya.


🌼 🌼 🌼