Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 100


"Apa? Mas ngomong apa?" Syafira menegaskan pendengarannya, ia mendengar suaminya mengumpati seseorang namun tidak jelas.


"Nggak apa-apa, udah nggak usah di pikirkan. Kamu itu nggak kerasukan apa-apa, percaya sama mas. Anggap aja semalam kamu khilaf. Sering-sering ya khilafnya, mas sangat suka loh Fir," sahut Bara dengn senyum nakalnya.


"Tapi capek mas setelahnya, badan sakit semua ini," Syafira meringis dan di balas senyum dan usapan lembut di kepalanya oleh Bara.


"Oya, ngomong-ngomong lingerinya kapan beli, mas perasaan nggak pernah beliin motif kembaran paman tiger begitu. Mas sampai susah bedain mana paman tiger, mana istri mas loh Fir. Sama-sama buas, eh isrtri mas lebih buas ding" ucap Bara tersenyum.


"Mas ih, godain terus. Itu baju di beliin Mia waktu kita Menikah mas, katanya kalau aku pakai itu mas Bara kalau marah pasti langsung nggak jadi marah, benar begitu mas?"


"Yang buat mas nggak marah itu bukan bajunya sayang tapi isinya," ucap Bara terkekeh yang langsung membuat Syafira mengatupkan bibirnya.


"Duduknya sini sayang, jauh-jauh amat duduknya kayak lagi musuhan aja, padahal semalam maunya jadi satu muku nggak mau ada jarak buat angin sekalipun," ucap Bara, padahal hanya berjarak tidak ada sepuluh centimeter duduknya.


"Mumpung anak-anak lagi di ungsikan, kita bisa puas pacaran, sini!" sambungnya.


Syafira sedikit menggeser duduknya hingga menempel di lengan Bara,"Mas kemarin katanya hari ini mau ke kantor, banyak kerjaan, nggak jadi?" tanya Syafira yang ingat suaminya bilang akan ke kantor meskipun weekend.


"Enggak, mas kerjanya dari rumah aja, mas capek," jawab Bara. Syafira meringis mendengarnya. Dia bahkan bisa bikin lelah mas Baranya yang biasanya gagah perkasa tanpa lelah kalau soal urusan ranjang, pikirnya.


"Pikiran mas yang capek sayang, jadi mas kerjanya di rumah biar bisa di sambi ngerjain kamu. Kalau urusan pabrik bayi mah mas masih oke buat beronde-ronde sayang, apalagi kamu yang minta duluan, mas senang, mas puaas," ralat Bara dengan cepat seakan ia tahu apa yang di pikirkan oleh istrinya.


"Dih, emangnya nggak habis itu kalau keluar terus mas," ucap Syafira.


"Mau di coba aja apa gimana? Masih apa enggaknya nanti ketahuan," tantang Bara. Membuat bibir Syafira lagi-lagi mengatup, entah kenapa sejak bangun tadi pagi ia merasa suaminya semakin membuatnya klepek-klepek dan semakin cinta.


"Maass," mendengar Syafira memanggilnya seperti itu, membuat Bara ingat semalam. Ia buru-buru meletakkan laptopnya di sisi kirinya yang kosong. Di tariknya tubuh Syafira hingga terduduk di paha kanannya.


"Apa sayang, mau lagi?" tanya Bara lembut. "Udah nggak nyeri emang, mau nambah? Boleh, " tanyanya lagi.


Syafira menggeleng, "Soal magang..." Syafira melingkarkan tangan kirinya ke tengkuk Bara, sementara tangan kanannya membelai dagu suaminya yang sudah mulai tumbuh lagi rambutnya yang membuat Syafira meringis karena merasa geli.


"Kirain mau lagi, ternyata ada mau lainnya. Mas tetap nggak bisa ijinin kamu magang di sana sayang. Kalau terpaksanya kamu memang nggak mau magang di perusahaan mas, mas bisa rekomendasiin perusahaan lain yang juga bagus, tapi tidak di sana. Itu perusahaan milik saingam mas, mas nggak bisa bayangin kamu magang di sana. Apalagi jika pemiliknya tahu kamu istri mas. Mas bukan tanpa alasan mau kamu magang di kantor mas sayang. Selain itu, mas juga bisa sambil ngawasin kamu, mas nggak tenang kalu kamu magang di tempat lain, sungguh mas nggak bisa lihat kamu di lirik pria lain sedikitpun. Mas percaya sama kamu, kamu nggak akan tergoda oleh mereka, tapi mas nggak bisa percaya sama mereka yang lihat kamu tidak akan tergoda. Bayangin kamu di lirik apalagi di deketin cowok lain aja udah bikin mas panas dingin. Mas harap kamu nggak marah, tolong ngertiin mas ya," ucap Bara dengan pelan dan hati-hati supaya tidk menyinggung istrinya.


" Kok kamu diam? Marah lagi?" tanya Bara dan Syafira menggeleng sambil menahan senyum. Tangannya membelai mesra pipi Bara.


"Terus kenapa kok diam?" Bara menyentuh tangan Syafira yang membelai pipinya lalu mencium punggung tangan itu.


"Suamiku lucu kalau lagi cemburu, belum juga apa-apa udah pasang bendera kecemburuan aja. Aku tuh mau bilang, klau aku mau magang di kantor mas Bara. Tapi beneran aku nggak tahu kalau itu kantor saingan mas Bara. Udah dari dulu aku bercita-cita magang dan kerja disana. Mana aku tahu klau nasibku akan jadi istri mas Bara kan, jadi aku udah planning duluan, maaf ya," satu kecupan mendarat di pipi kanan Bara. Bara tersenyum. Kemajuan, pikirnya. Ia senang sepertinya pertempuran sengit semalam mampu mmebuay Syafira luluh, dan semakin membuat Bara tergila-gila tentunya.


"Kenapa planningnya nggak ke kantor mas aja sih dulu?" Bara melingkarkan tangannya di pinggang Syafira dan menjatuhkan dagunya tepat di pundak sang isteri.


"Jujur aku dulu nggak tahu ada perusahaan mas Bara, padahal besar ya mas kok aku nggak tabu coba, aku yang kurang gaul mungkin, kurang update, tahu perusahaan itu aja cuma dari dengar kata orang," ucapnya ternsenyum was-was menunggu reaksi suaminya atas apa yang ia jawab.


Dan benar saja, kening Bara langsung mengkerut dan bibirnya langsung berdecak kesal," Perusahaan mas seratus kali lipat lebih baik, bisa-bisanya nggak tahu dan nggak pernah dengar,"


"Ini kening jangan keseringan mengkerut ih," Syafira mengusap kening Bara lalu menciumnya.


"Yang penting kan sekarang aku mau magang di perusahaan mas, iya kan? Jadi mas bisa liat aku terus, mas nggak perlu was-was lagi aku dilirik cowok lain, tapi..."


"Tapi apa?" potong Bara dengan cepat.


Syafira mengambil kertas yang sedari tadi ia kantongi di saku celananya.


"Apa lagi ini?" tanya Bara.


"Surat perjanjian kalau di kantor mas aku akan bekerja seperti karyawan lainnya, bukan bekerja plus-plus di ranjang, meja kerja atau di sofa. Kalau lagi pengin tunggu pulang dulu, aku mau bekerja bukan kelon di sana. Bisa? Nih udah ada cap bibir aku, mas tinggal tanda tangan di atas bibir aku," Syafira membuka lipatan kertas itu yang mana membuat Bara berdecak saat melihat tanda bibir merah di sana, ada-ada saja istri kecilnya itu, semua di pikirkan sampai sejauh itu, pikirnya.


"Dosa," sambung Syafira meneruskan ucapan Bara.


"Pintar, jadi harus nurut ya sama mas, sayang kan sama mas?"


"Iya mas, sendiko dawuh!" sahut Syafira.


"Ck, dasar!" Bara nguyel-uyel pipi Syafira, jenggotnya yang mulai tumbuh membuat pipi Syafira merasa di tusuk-tusuk.


"Ini jenggotnya udah agak panjang begini, nusuk-nusuk kalau di sentuh atau lagi nyium aku, cukur aja ya mas. Aku suka yang bersih," lanjut Syafira ketika tangannya kembali mengusap pipi hingga dagu suaminya.


"Kenapa kalau mas bewokan? Takut nggak bisa bedain bewok atas sama bawah ya," goda Bara.


"Ih serius malah gitu jawabnya, udah ah mas Bara mah gitu sekalinya di baikin, di puasin maksimal sampai mentok malah godain terus," berusaha berdiri dan beranjak namun demgan cepat Bara menahannya.


"Mau kemana? Di sini aja, mumpung sepi, kapan lagi bisa berduaan begini kan. Jangan manyun gitu, nggak ada salah kan mas ngomongin begituan sam istri mas. Yang salah kalau ngomongnya sama istri orang lain. Mas tuh lagi seeneng banget karena semalam tuh mantab tahu nggak. Benar-beanr surga mas berada di antara kedua kaki kamu semalam. Makasih ya? Nanti di cukur, bantuin cukurnya seperti biasa ya," ucap Bara memeluk erat pinggang Syafira. Apapun deh, biar kata pengin bewokan biar tambah macho, tapi demi enak-enak, cukur cukur deh. Bara bersih, istri senanh, ranjang aman, pikirnya terkekeh.


Tangan Bara menelusup dari bawah kaos yang Syafira kenakan hingga berhenti tepat di perutnya. Mengusap pelan perut Syafira," Mas geli," icap Syafira namun tidak menepis tangan yang kini sedang memainkan pusarnya tersebut.


"Mas berharap yang semalam jadi satu, dua atau tiga sekalian embrio di sini Fir. Mas pengen cepat punya anak dari kamu,"ucap Bara serius.


"Tapi mas..."


"Kamu nggak mau mengandung anak mas? Buah cinta kita?"


"Bukan begitu, tentu saja aku mau, tapi aku kan mau belajar bekerja di perusahaan, kalau hamil apa enggak apa-apa, nggak ganggu?"


"Maknya mas maunya kamu magang di kantor mas, biar kalau hamil mas bisa ikut jagain kamu. Magang jangan di jadikan beban, mas nggak maksa kamu harus gimana-gimana. Buat pengalaman aja, sebenarnya nggak magangpun nggak apa-apa. Nanti setelah lulus kuliah, kamu bis fokus urus anak-anak sambil urus bisnis aja, toko kamu nanti di gedein dan buka cabang, mau tambah bisnis lain juga bisa gampang nanti mas ajari, kamu bisa jadi pengusaha wanita, tidak harus jadi karyawan kan. Suami kaya ini di manfaatin dong, jadi mas merasa ada gunanya. Ilmu kmu kuliah juga penting untuk mengurus anak-anak, jangan berpikir kalau tidak bekerja sesuai jurusan kuliah, ilmunya jadi tidak faedah. Gimana?"


" Deal... "sahut Syafira cepat, sekarang mah apapun kata suaminya yang penting baik dia nurut aja.


" Tapi... " hadeh, udah deal masih aja ada tapinya nih bini, desah Bara.


" Apa lagi sayang? "


" Jangan yang semalam ah yang jadi, itu langsung gas aja, tanpa doa tanpa pembukaan, main sruduk-sruduk aja. Minimal naca doa dulu lah mas buatnya,"


"Ngode nih? Bilang aja mau lagi, lanjutin yang semalam. Ayuklah gaskeun!" tangan Bara mulai merangkak naik ke dada Syafira.


Syafira meringis, menahan desahan ketika Bara meremat kedua benda kenyal itu secara bergantian.


"Tapi aku capek mas," ucapnya.


"Tapi mas mau lagi, gimana dong. Mas akan pelan-pelan, santai aja yang penting sampai puncak. Sepertinya kamu juga perlu di ajari ilmu baru peranjangan, biar nggak gitu-gitu mulu servisnya, nggak mas mulu yang kerja. Mulut kamu juga perlu belajar banyak ini,"


"Tapi nggak sekarang mas, aku capek. Sekarang aku mau pasrah aja, mas yang kerja,"


"Iya beres," Bara sudah membuka resleting celana jeans yang di kenakan syafira6.


"Doa dulu mas,"


"Hem," sahut Bara yang sedang sibuk menyesap dada Syafira. Ia langsung membopong tubuh sang istri," Di kamar aja, di sini banyak cctv," ucap Bara.


🌼 🌼 🌼