
Beberapa saat mencari, akhirnya Bara melihat Syafira dari kejauhan. Ia bisa bernapas lega karena tak melihat sosok laki-laki yang di maksud Adel. Di lihatnya Syafira berjalan sendirian di jalan yang kanan kirinya hamparan sawah yang sedang menghijau, sejuk sekali di pandang mata.
Bara menimbang-nimbang, berpikir antara ingin menyusul Syafira dan berjalan bersama, atau cukup mengikutinya dari kejauhan saja.
Sementara Syafira terus berjalan. Ia merasa ada yang mengikutinya, ia menoleh namun tetap berjalan. Naas, ia tak melihat ada jalan yang berlubang, hingga kaki telanjangnya keseleo dan ia jatuh terduduk di jalan.
"Aduh!" pekiknya. Ia merasakan perutnya terasa sakit, seketika ia panik mengingat anak yang ada dalam kandungannya.
Bara yang melihat Syafira jatuh dan memegangi perutnya langsung berlari mendekat, "Fir, kamu nggak apa-apa?" Tanya Bara khawatir seraya berjongkok dan memegangi bahu sang istri.
Syafira tak menjawab, melihat Bara malah membuatnya semakin panik dan takut terjadi apa-apa dengan calon buah hati mereka karena perutnya terasa semakin nyeri, "Mas bawa aku ke puskesmas, cepat mas!" pinta Syafira, keringat dingin sudah menghiasi dahinya karena takut.
Bara merasa heran, biasaya Syafira selalu cuek, luka sedikit tak masalah, selalu menolak untuk di periksa. Jika sakit, minum obat, istirahat sebentar juga sembuh, itu yang selalu ia katakan. Tapi, kali ini ia dengan tegasnya minta di antar ke puskesmas.
Melihat reaksi Bara yang seperti sedang berpikir, Syafira menaboknya, "Cepat mas, bawa aku ke puskesmas. Anakku, aku takut anakku kenapa-kenapa," ucap Syafira lagi, semakin cemas.
Bara semakin bingung, "Anak apa? A-anak? A-nak kamu? Maksudnya?" setelah berpikir sejenak, akhirnya Bara mengerti.
Bara langsung panik, di gendongnya Syafira yang meringis menahan sakit di perutnya. Puskesmas cukup jauh, ia tak mungkin berjalan kaki ke sana. Kelamaan. Pulang dulu ke rumah uwak untuk mengambil mobil juga kelamaan baginya yang sudah sangat panik tersebut, tak kalah paniknya demgan Syafira. Akhirnya ia menghentikan mobil pick up yang kebetulan lewat dan menumpang sampai ke puskesmas.
🌼 🌼 🌼
"Bagaimana dok?" tanya Bara sesaat setelah dokter selesai memeriksa Syafira.
"Syukurlah, semuanya baik-baik saja. Anak kalian memang hebat," ujar dokter tersenyum.
"Beneran istri dan calon anak saya baik-baik saja dok? Ta-tapi tadi perutnya sakit, yakin tidak apa-apa dok?" Bara masih kepikiran dan khawatir.
"Iya Tuan, tapi alhamdulillah, semuanya baik-baik saja. Wanita hamil jatuh, apalagi terduduk memang bisa berakibat bahaya, tapi syukurlah kondisi janin kalian baik-baik saja. Hanya saja, kondisi nona Syafira masih lemah karena syok, sebaiknya opanme dulu di sini, besok baru bisa pulang," terang dokter.
Namun, Bara masih belum bisa tenang," Tadi dia ngekuh perutnya sakit dok, apa benar anak kami baik-baik saja?" tanyanya seolah ragu dengan ucapan dokter.
Dokter tersenyum paham," Saya mengerti akan kekhawatiran Tuan, sakit perut yang dialami oleh nona Syafira tadi mungkin akibat syok. Tapi setelah semuanya di periksa, aman. Nmun, tetap saja, nona Syafira harus lebih hati-hati ke depannya. Hal-hal yang bisa membahayakan ibu hamil dan janin harus semaksimal mungkin di hindari, termasuk stres karena banyak pikiran. Peran orang-orang terdekat sangat penting, terutama suami," ucap dokter.
Bara langsung menatap lekat dokter seolah berntanya apa maksudnya? Aa dokter yang kini duduk di depannya tersebut sedang menyindirnya.
"Kemarin nona Syafira sempat masuk ke puskesmas ini Tuan, beliau pingsan. Banyak pikiran, stres dan tidak makan dengan baik menjadi pemicunya. Erasaan senang dan bahagia itu sangat penting bagi ibu hamil. Terlalu banyak pikiran bisa berakibat buruk buat kehamilan," jelas dokter kemudian.
Bara seakan merasa tersindir dengan ucapan dokter kandungan tersebut. Bukannya bermaksud mengabaikan, namun ia benar-benar tidak tahu jika Syafira hamil. Soal stres, banyak pikiran, memang ia akui, saat ini mereka sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Saya mengerti dok, kemarin memang saya sedang berada di kuar kota karena urusan pekerjaan. Kedepannya saya akan lebih memperhatikan istri saya, kalau begitu saya permisi," ucap Bara.
Setelah dokter mempersilakan Bara keluar. Laki-laki dewasa itu langsung kembali ke ruangan dimana Syafira berada.
"Gimana mas? Apa kata dokter? Anakku baik-baik saja kan?" tanya Syafira cemas, ia masih belum tenag jika belum mendengar anak dalam perutnya baik-baik saja. Jika terjadi sesuatu yang buruk, ia asti akan merasa sangat bersalah, apalagi selama ini ia belum memberitahu Bara soal kehamilannya.
Bara mendekat dan menarik kursi yang ada di bawah ranjang, "Kata dokter anak kita baik-baik saja," ucapnya dengan menekan kata 'anak kita' karena sejak tadi Syafira seiring menyebut anakku dan itu sangat mengganggu telinga Bara.
"Syukurlah, sayang maafin bunda ya. Dan terima kasih karena kamu baik-baik saja," Syafira menghela napas lega seraya mengusap perutnya.
Rasa hangat menjalar di hati Syafira ketika tangan kokoh itu menyentuh perutnya. Rasa haru juga tak dapat ia sembunyikan, betapa rindunya ia akan sentuhan suaminya tersebut.
"Sudah berapa bulan?" tanya Bara yang lupa bertanya keada dokter tadi.
"Delapan minggu," jawan Syafira tak begitu yakin dengan jawabannya, terlalu banyak pikiran hingga ia lupa berapa astinya usia kehamilannya.
Bara mengernyit, "Delapan minggu? Dan kamu nyembunyiin semua ini dari mas?" protes Bara.
"Aku nggak nyembunyiin, waktunya aja yang belum pas buat kasih tahu," Syafira membela diri.
"Lalu kapan waktu yang pas itu? Sampai kamu nggak marah lagi? Sampai kamu bisa memaafkan mas? Kalau kamu nggak memaafkan mas, apa kamu akan menyembunyikannya bersama dengan kemarahanmu?"
"Aku hanya perlu waktu, tanpa bermaksud menyembunyikannya," ucap Syafira dengan nada bergetar menahan tangis.
"Kenapa nggak bilang dari awal Fir? Jadi mas bisa ikut jagain kamu dan dia," Bara mengusap lembut perut Syafira.
"Kenapa malah pergi semakin menjauh dari mas seperti ini?" lanjutnya.
"Aku hanya ingin ketenangan, aku hanya perlu waktu sampai Adel bisa menerima semuanya. Sampai keadaan baik-baik saja,"
"Dengan pergi dari mas? Bagitu? Jika Adel tidak bisa menerima semua ini, jika Adel tidak bisa memaafkan mas, kamu juga tidak bisa memaafkan mas bukan?"
Syafira terdiam, ia tak bisa menjawab pertanyaan Bara.
"Aku nggak mungkin misahin dia dengan ayahnya. Nggak mungkin aku pergi jauh membawa anak ini sendiri. Nggak mungkin aku bisa lari dari mas jika di sini ada anakku. Tapi semuanya tidak semudah itu... Aku harus myakinkan Adel terlebih dahulu, aku butuh waktu... Aku.... " ucap Syafira seraya terisak.
"Anakk kita Fir. Dia anak mas juga. Dari tafi kamu menyebutnya anakmu terus. Mas ikut Andil dalam pembuatannya, jangan lupakan itu Fir," protea Bara yang merasa tersingkir dan tak dianggap sebagai penanam benih yang kini tumbuh menjadi janin dalam perut Syafira.
"Kalau Adel memang tidak bisa memerima mas. Siapa yang akan kamu pilih? Mas atau Adel?" Tanting Bara. Pertanyaan itu membuat Syafira semakin terisak. Tak memyangka jika suaminya juga akan menanyakan hal itu, pilihan yang tidak bisa ia pilih.
"Jika memang kamu masih ingin bersama, kenapa kamu memilih untuk melalui semuanya sendiri Fir? Ada mas, Fir, kita bisa melewatinya bersama, kita bisa meyakinkan Adel bersama Fir. Kecuali kalau kamu memang ingin kita udahan..." ucap Bara semakin lirih di akhir kalimatnya.
"Yakinkan Adel! Buat dia memaafkan mas, buat dia nerima mas. Aku... Aku nggak bisa memilih diantara kalian, aku ingin kita utuh, aku ingin semua bahagia dan baik-baik saja. Aku sayang kalian berdua, aku nggak bisa memilih.. Nggak bisa. Aku Aku cinta mas Bar tapi aku nggak bisa memilih mas, yakinkan Adel mas, yakinkan dia! Maka aku akan memaafkan mas. Aku nggk mau kehilangan kalian..." tangis Syafira semakin menjadi.
Mendengarnya, Bara tersenyum. Setidaknya ada harapan untuknya mendapat maaf dari Syafira. Ia duduk di tepi ranjang Ialu meraih Syafira ke dalam pelukannya. Syafira hendak menolak, namun tangan kokoh itu terlalu kuat untuk ia tepis. Dada hidang itu, terlalu hangat untuk ia sia-siakan.
"Maafin mas, maaf karena baru bisa mencari kamu, sehingga kamu terlalu lama menanggung semuanya sendiri. Maaf," Bara Berkali-kali mengecup puncak kepala Syafira. Di usapnya cairan bening yang terus mengalir di wajah Syafira.
"Jangan nangis lagi, kasihan anakku kalau kamu nangis terus,"
"Anakku!" protes Syafira, ia melepaskan diri dari pelukan Bara karena telah menyadari situasi.
"Anak kita," ucap Bara tersenyum, berusaha meraih Syafira kembali ke dalam pelukannya. Syafira tak menolak namun tubuhnya kaku seperti patung.
🌼 🌼 🌼