
Waktu terus berjalan, tanpa terasa kini baby Zio sudah berumur satu tahun. Bocah laki-laki itu kini sedang aktif-aktifnya belajar berjalan kesana kemari tanpa mempedulikan sekitarnya. Bayi montok, itu kini tampak sedang duduk di atas permadani sambil memainkan mainan kesukaannya dan ditunggu oleh Bara yang memang sedang tidak bekerja karena pagi tadi ia mengeluh tak enak badan keada Syafira.
Baby Zio asyik bermain sendiri karena daddinya malah terlelap di sampingnya. Sesekali bayi itu menaiki tubuh sang daddy seperti naik kuda lalu turun kembali untuk bermain.
Bara sengaja mengeluarkan hampir seluruh mainan yang di miliki oleh bayi tersebut hingga mengepung mereka. Dengan harapan ia bisa sedikit bersantai, memejamkan matanya karena pusing yang melanda, membuatnya enggan untuk membuka matanya.
Syafira dan Bara memang lebih senang mengasuh baby Zio tanpa terlalu banyak melibatkan pengasuh. Jika Syafira pergi kuliah dan Bara harus ke kantor, barulah baby Zio akan di pegang oekh pengasuh. Tapi, jika salah satu dari mereka di rumah, baby Zio sepenuhnya berada dalam asuhan mereka.
Meski sering kerepotan sendiri, apalagi jika si kembar sudah berada di rumah, namun Syafira sangat menikmati peran barunya sebagai ibu untuk tiga anaknya.
Plak!
Baby Zio yang merasa di abaikan oleh dadinya, mengeplak wajah sang daddi, hingga membuat Bara tersentak, "Apa sayang? Daddy di sini, Zio mau apa?" ucap Bara setengah mengernyit menahan pusing di kedua pelipisnya.
Baby Zio menunjuk mainan yang sengaja ia lempar untuk menarik perhatian dadinya. Bara bangun dan mengambil mainan tersebut dan memberikannya kepada baby Zio. Kemudian, ia kembali merebahkan tubuhnya, matanya kembali memejam.
Beberapa menit, kemudian, baby Zio menyentuh mata Bara, "Dad... Di... Dad... Di," tangan mungilnya terus bergerak menarik kelopak mata dadinya supaya melek.
"Da....dad...dad...di,," celoteh bayi bertubuh gempal tersebut.
"Apa nak? Hem, Zio mainan sendiri ya, di temani daddy di sini, daddy nggak kemana - mana. Tapi, kepala daddy pusing banget, Zio bermain sendiri ya, nak," Bara mendekatkan beberapa mainan ke depan Baby Zio, namun baby Zio malah menggerak-gerakkan kakinya mendorong mainan-mainan tersebut.
"Cu... Cu... Cu.. Cu!" celoteh BABY Zio setengah merengek. Bara tersenyum, rupanya putra bungsunya itu haus.
"Zio haus ya? Bundanya belum selesai, gimana dong?"
"Cu.. Cu... Cu... Cu!" tak peduli Dengan ucapan Bara, baby Zio terus merengek minta susu.
"Sayang! Zio haus, pengin nen kayaknya!" teriak Bara melongok ke arah dapur.
Tak lama kemudian, Syafira keluar dengan membawa dot berisi susu formula. Ya, baby Zio tak puas hanya minum dari asi Syafira. Setelah MP-asi, Syafira terpaksa memberikan tambahan susu formula juga untuk bayinya yang sangat kuat menyusu tersebut. Setidaknya, ia berhasil lulus memberikan asi eksklusif untuk baby Zio sampai usianya enam bulan.
Baby Zio langsung berdiri dan berjalan dengan pelan, ia mengangkat kedua tangannya menyambut dot yang ada di tangan Syafira, "Sayang haus ya," ucap Syafira, ia tak langsung memberikan dot tersebut kepada putranya. Baby Zio menunjukkan wajah kecewa, ia membantu kan bibirnya, menggemaskan sekali.
Syafira berjongkok di depan baby Zio dan tersenyum kepada putranya yang manyun, "Guve me your chieek, Please!" ucapnya.
Baby Zio langsung memajukan wajahnya, menyambut kecupan Syafira di pipi gembulnya. Bayi laki-laki itu tampak gembira sekali ketika Syafira memberikan dotnya.
Syafira menghela napasnya saat melirik suaminya yang sama sekali bergeming dengan mata terpejam, "Mas, sebentar lagi. Aku belum kelar buat makan siang, sebentar lagi si kembar pulang. Jagain sebentar lagi ya? Sedikit lagi beres kok,," ucap Syafira yang tahu sebenarnya suaminya tak benar-benar terlelap.
"Hem, tinggalin aja Zio, nggak apa-apa. Aku nggak tidur kok," ucap Bara dalam gumaman.
"Makasih," Syafira mengusap lengan suaminya lembut, "Nanti aku juga ada kuliah sore. Biar nanti gantian sama Adel jagain Zionya, di bantu sama nanny, ya?" sambungnya cepat sebelum kembali ke dapur.
Ya, kini Syafira sudah mulai aktif kuliah kembali setelah mengambil cuti sampai usia baby Zi genap enam bulan, yang awalnya ia berencana segera kembali kuliah setelah baby Zio lahir, nyatanya ia baru benar-benar merelakan waktunya untuk berkukiah setelah putranya MP-asi.
"Hem," sahut Bara singkat.
Syafira mendengus, "Apa pusing banget, mau di panggilan dokter nggak mau, suruh minum Obat nggak mau, tapi mata merem terus begitu, nggak mau melek dari tadi. Tumben sampai absen ngantor segala, nggak biasanya begitu,"
"Nggak apa-apa, cuma agak masuk angin aja kayaknya mas. Nanti juga enakan. Kan malah bisa buat jagain Zio di rumah, iya kan, sayang?" Bara membuka matanya lalu mengusap pipi baby Zio yang sudah duduk bersila di sampingnya.
Syafira kembali ke dapur setelah memastikan baby Zio duduk anteng.
Bara yang mengerti keinginan putranya langsung mengurai tangan kirinya lalu menepuk-nepuk lengannya sendiri, "Sini!" ucapnya.
Baby Zio langsung tersenyum dan merangkak mendekat, ia langsung merebahkan diri di ketiak Bara, kepalanya berbantalkan lengan sang daddy.
Baby Zio menyesap susunya dengan tenang di ketiak ayahnya.
🌼 🌼 🌼
Selesai memasak, Syafira membersihkan diri dan kembali ke ruang keluarga untuk mengambil alih baby Zio. Namun, matanya mengerjap ketika tak mendapati bayinya tersebut di sana. Yang ada hanya Bara yang kini malah terlelap dengan berbagai macam mainan di atas perut hingga dadanya. Wajahnya juga sudah penuh dengan susu sisa yang di minum oleh baby Zio.
"Mas, bangun. Suruh jagain Zio sebentar tapi malah merem lagi. Ini juga, muka udah penuh susu, untung nggak di kerubutin semut. Bangun, anaknya mana ini?" ucap Syafira mengguncang tubuh suaminya, ia panik. Takutnya baby Zio berjalan ke kolam renang dan kecebur. Jika keluar rumah itu di rasa tidak mungkin karena ada penjaga di depan.
" Ada kok, Zio ada. Ini, dia lagi nyusu," ucap Bara setengah sadar.
"Ada ada! Mana? Tahu anaknya lagi rusuh-rusuhnya, lagi seneng-senengnya jalan, malah di tinggal tidur. Heran dari tadi tidur terus tidur terus, itu yang bikin tambah pusing, kebanyakan tidur!" omel Syafira sambil berlalu mencari keberadaan baby Zio.
Bara hnya bisa meringis, entahlah kenapa sejak kemarin ia bawaannya terus mengantuk. Padahal tadi malam ia absen berolah raga di ranjang, sehingga tidak begadang, tapi matanya seperti ada lemnya yang memaksanya terus terpejam.
"Bangun, bantu cari mas, takutnya kecebur kolam!" teriak Syafira.
Bara sedikit berjengit, mengusap telinganya karena suara teriakan Syafira yang terdengar melengking. Semenjak babi Zio bisa merangkak, Syafira dirasanya semakin cerewet dan suka berteriak. Apa lagi sekrang, baby Zio setelah baby Zio bisa berjalan, suara teriakan Syafira bertambah lagi satu oktaf.
Bara segera bangkit dan berlari menuju ke halaman belakang, ia langsung menuju ke kolam renang, memastikan anak bungsunya tak ada di sana.
Bara menghela napas lega, karena yang Syafira khawatirkan tidak terjadi.
"Mas, lihat ini! Gara-gara kamu teledor jagain Zio, Zio jadi begini!" terdengar suara teriakan Syafira dari arah halaman samping, dimana paman Tiger biasa berada. Bara langsung membulatkan matanya, jangan-jangan peliharaan itu telah memangsa putranya.
Bara langsung berlari menuju ke sumber suara Syafira. Syafira menyambut kedatangannya sambil melotot, "Lihat ini!" Syafira menunjuk baby Zio yang sedang tiduran terlentang di samping paman Tiger yang juga sama, sedang menengadah ke atas, bayi itu tampak kotor penuh lumpur, bisa di pastikan ia dan hewan buas peliharaan ayahnya tersebut habis guling-guling di tanah. Bahkan, mulutnya juga penuh dengan tanah.
"Ya ampun, Zio. Kamu makan tanah, Nak? Nanti sakit perut!" Syafira segera membopong baby Zio. Ia mendelik menatap paman Tiger, "Apa?" umpat Syafira yang di balas raungan binatang tersebut. Syafira langsung mundur satu langkah, ia masih saja ngeri jika macan itu mengeluarkan suaranya.
"Lihat ini mas, anakmu makan tanah! Hari ini diajak main tanah sama paman mas Bara, nanti bisa-bisa di ajari mengaum!" Syafira menunjuk putranya yang terlihat biasa saja dan santai, tak terusik sama sekali dengan amarah sang bunda. Ia justru mengecap-ngecap lidahnya seolah sedang menikmati apa yang ada di dalamnya.
" Nggak takut apa nanti anaknya bisa-bisa di mangsa sama dia" Syafira menunjuk paman Tiger, macan itu kembali mengaum sebagai tanda protes, seolah ia tahu apa yang di bicarakan oleh Syafira dan dia mengatakan tidak mungkin dia melakukannya.
Syafira berjengit lalu mendesis, dari dulu sejak pertama kali menginjakkan kaki di rumah itu, memang ia sudh seperti bermusuhan dengan paman Tiger. Ia tak mau dekat-dekat macan yang usianya sudah tua untuk ukuran macan tersebut.
Bara meringis, "Namanya juga anak laki-laki, nggak apa-apa, makan tanah makan apa, tetap strong, ya Nak," ucap Bara santai mengusap kepala baby Zio.
"Hais, ngomong sama mas Bara sama aja ngomong sama tembok, nggak peka! Udah, tidur lagi aja sana!" Syafira terus mengomel sambil berlalu. Tentu saja, ia akan segera memandikan baby Zio yang sudah sangat kotor.
Syafira sama saja seperti kebanyakan ibu-ibu, pasti akan khawatir dan mengomel jika anaknya melakukan hal yang aneh-aneh. Namun, Bara selalu menyikapinya dengan santai, karena begitulah dulu dirinya di didik. Ayahnya selalu santai dengan apa yang ia lakukan, selama tidak membahayakan. Dan baginya, berani kotor itu, baik. Seperti slogan sebuah ikhlas detergen.
"Makin hari, makin bawel kayak emak-emak, istriku. Dan itu, manusiawi," gumam Bara tersenyum.
💦💦 LAH, EMANG UDAH Emak-emak mas Bara, maunya jadi gadis terus ya 😄😄
🌼 🌼 🌼