
Sepanjang perjalanan menuju ke kediaman Osmaro, dokter Rendra terus mencuri pandangan kepada Syafira yang duduk di sampingnya sambil sesekali mengajak ngobrol.
Cukup banyak hal yang mereka obrolkan sepanjang jalan, tak jarang mereka tertawa lepas jika obrolan mereka ada yang lucu.
Syafira melihat jam tangannya.
"Dokter, bisa lebih cepat sedikit tidak?"
"Kenapa Fir? Takut Bara sudah pulang duluan?"
"Bukannya takut sih Dok, tapi lebih ke tanggung jawab aja sebagai seorang istri dan ibu buat anak-anak," sahut Syafira.
"Baiklah, saya akan ngebut," ujar Dokter Rendra menambah kecepatan laju mobilnya.
"Ya jangan ngebut juga kali dok, saya kan masih pengin hidup. Masih pengin melakukan banyak hal, ini itu. Masa anak perawan mati gara-gara kebut-kebutan bersama seorang dokter tampan, nggak bangetlah kalau jadi hastag berita," ucap Syafira bercanda. Tanpa ia sadari, ucapannya membuat dokter Rendra terkejut.
"Masih perawan? Berati Bara belum...Sebenarnya seperti apa Fir hubungan kamu dengan Bara. Apa dia memperlakukan kamu dengan baik?" Sungguh, dokter Rendra ingin menanyakan hal itu secara langsung, akan tetapi ia juga sadar, pasti pertanyaannya malah akan membuat Syafira tidak suka. Terkesan ia terlalu ikut campur urusan pribadi Syafira, padahal diantara mereka tidak ada hubungan apa-apa.
"Tadi itu, dokter Niken kan dok? Yang mobilnya berhenti di belakang mobil dokter Rendra," tiba-tiba Syafira mengalihkan pembicaraan, ia sadar ada yang salah dengan ucapannya tadi.
"Iya, kenapa?" tanya dokter Rendra.
"Enggak apa-apa. Cantik ya, baik lagi. Cocok sama dokter Rendra," ucap Syafira.
Mendengarnya, dokter Rendra langsung mengerem mobilnya mendadak, membuat Syafira terkejut dan hampir terbentur dashboard mobil.
"Maaf, kamu nggak apa-apa Fir?" tanya dokter Rendra.
"Nggak papa dok," sahut Syafira. Ia menjadi merasa tidak enak hati. Syafira hanya ingin dokter Rendra segera move on mendapatkan wanita yang baik untuk hidupnya.
Mobil kembali melaju, suasana menjadi hening. Mereka lebih memilih berdialog dengan pikiran masing-masing. Dokter Rendra melirik ke arah Syafira.
"Apa kamu ingin aku menghilangkan perasaanku terhadapmu Fir? Aku tidak tahu apa aku bisa atau tidak," batin dokter Rendra.
🌼🌼🌼
Mobil dokter Rendra sampai di depan gerbang kediaman Osmaro. Dua orang berbadan tegap membukakan gerbang dan mempersilakan mobilnya masuk ke dalam.
Syafira berharap suaminya belum pulang karena memang biasanya jam segitu Bara masih berada di kantor.
"Terima kasih dokter Rendra sudah mengantar saya pulang," ucap Syafira ketika mobik berhenti sambil melepas seatbelt.
"Sama-sama Fir, saya langsung jalan saja ya. Salam buat Bara," ucap dokter Rendra.
"Insyaallah nanti saya sampaikan," sahut Syafira tersenyum lalu ia membuka pintu mobil dan turun.
"Fira tunggu!" dokter Rendra memanggil Syafira yang hendak melangkahkan kakinya. Syafira pun berhenti dan menoleh.
"Ya, ada apa dok?" tanyanya.
"Bisa minta tolong?"
"Tolong apa dok?"
"Lain kali, kalau kita bertemu tolong jangan panggil saya dokter, terlalu formal dan seperti orang asing. Kakak saja, sama seperti Mia," ucap.dokter Rendra.
Syafira tersenyum, "Siap dok, eh kak," ucapnya kemudian. Dokter Rendra juga tersenyum lalu melajukan kembali mobilnya.
Syafira menatap mobil dokter Rendra dengan tatapan kosong, ia langsung masuk ke dalam dengan menenteng beberapa paper bag berisi belanjaannya ketika mobil dokter Rendra sudah menghilang di balik gerbang.
Tanpa Syafira sadari, sedari tadi ada sepasang mata yang memperhatikan interaksinya dengan dokter Rendra dari balik jendela ruang kerjanya. Tangan Bara mengepal kuat ketika melihat istrinya turun dari mobil sahabatnya tersebut terlebih ia sudah tahu jika dokter Rendra menyukai istrinya. Ia tak tahu apa yang mereka bicarakan tapi perasaannya semakin kesal ketika istrinya itu melambaikan tangannya dan tersenyum ke arah dokter Rendra. Apalagi ia melihat penampilan istrinya sangat cantik.
Syafira melenggang masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke kamarnya. Diletakkannya barang belanjaannya di atas tempat tidur. Ia tak tahu jika suaminya sudah pulang, karena tadi ia tak memperhatikan mobil suaminya yang terparkir di garasi.
Syafira langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri lalu akan menemui anak-anak.
🌼🌼🌼
Syafira membuka pintu kamar si kembar, Nathan tampak sedang bermain mobil-mobilan hadiah ulang tahun dari Varell, sementara Nala sedang asyik mewarnai buku yang di belikan oleh Syafira beberapa hari yang lalu.
Syafira berdiri di ambang pintu, tapi tak ada yang menyadari kedatangannya, si kembar tampak masih asyik dengan kegiatan mereka.
"Ehem! Lagi pada asyik ngapain sih? Sampai nggak ngeh bunda di sini dari tadi?" Syafira melangkahkan kakinya masuk. Si kembar menoleh dan...
"Bunda!" seru merek berdua dengan mata berbinar.
"Woah, bunda Syantik sekali," puji Nala ketika menyadari ada yang sedikit berbeda dari Syafira di dukung anggukan mantap oleh Nathan.
Syafira hanya tersenyum menanggapinya. Ia malah semakin penasaran bagaimana tanggapan suaminya ketika ia pulang nanti.
Syafira mengajak mereka ngobrol dan bercanda.
"Bunda ke kamar dulu ya, nau nyiapin air buat daddy. Sepertinya sebentar lagi daddy pulang," ucap Syafira setelah melihat.ke arah jam dinding yang menempel di dinding kamar si kembar.
"Daddy sudah pulang bunda," sahut Nathan.
Deg! Syafira terkejut. Jika Bara sudah pulang, dimana orangnya? tadi di kamar tidak ada tanda-tanda batang hidungnya.
"Daddy sudah pulang?"
Si kembar mengangguk.
"Tadi daddy pulang awal bunda," ujar Nala.
Syafira langsung nyengir, ia langsung buru-huru ke dapur untuk membuat kopi dan akan mencari keberadaan suaminya tersebut.
"Bi, tuan beneran sudah pulang?" tanya Syafira kepada pelayan.
"Sudah sekitar dua jam yang lalu nyonya," jawabnya.
"Dua jam yang lalu?"
"Iya nyonya muda sepertinya tuan sedang berada di ruang kerjanya," sambung bibi yang mengerti kebingungan Syafira.
"Oh iya bi, saya cari mas Bara dulu," pamit Syafira sambil membawa kopi yang baru saja ia buat.
"Kenapa aku tidak ngeh kalau mobil mas.Bara sudah ada di garasi," gumamnya sambil berjalan.
Syafira mengetuk pintu ruang kerja Bara namun tak ada tanggapan dari dalam. Beberapa.kaki mengetuk tetap tak ada sahutan dari dalam. Akhirnya Ia nekad membuka pintu untuk memastikan kalau suaminya benar ada di dalam.
Dan benar saja, Bara sedang duduk di kursi kerjanya dengan ekspresi yang sudah bisa Syafira tebak. Tangan Bara saling bertaut dengan kuat dan ia gunakan untuk menumpu dagunya. Rahangnya sudah mengeras, menahan sebuah rasa yang hanya ia sendiri yang tahu. Pandangannya kosong ke arah berkas yang ada di depannya.
🌼🌼🌼