Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 46


Bara benar-benar membuktikan ucapannya, seharian ia membantu Syafira membuat kue. Bahkan ia rela mengantarkan kue ke rumah para pelanggan Syafira. Satu nilai plus lagi Syafira sematkan untuk suaminya. Selain bisa menjadi ayah yang baik, menjadi imam sholat, dia juga partner yang baik.


"Melihat om Bara seperti itu lucu ya mbak. Dia tidak tampak seperti seorang presdir," ucap Rani yang kini tengah berdiri di samping Syafira melihat Bara yang sedang memasukkan Box-box kue yang akan ia antar ke pelanggan.


"Ssstt jangan keras-keras.Nanti kalau dia dengar di sebut om, marah dia, bukan om-om katanya,"sahut Syafira.


"Emang iya mbak? Terus aku harus panggil apa mbak, nggak mungkin manggil mas Bara kayak mbak Fira, terlalu jauh umurnya sama aku mbak," Rani tampak berpikir, karena memang ia baru berusia delapan belas tahun. Ia tidak melanjutkan kuliah setelah lulus SMA, tepatnya satu tahun yang lalu saat usianya tujuh belas tahun karena tidak ada biaya.


"Saya juga terpaut dua belas tahun sama dia Ran, tapi manggilnya mas," ucap Syafira tersenyum.


"Tapi kan dia suami mbak Fira, wajar kalau mbak manggil begitu. Tapi nih ya mbak, seusia om Bara itu lagi matang-matangnya ya mbak. Itu yang di sebut laki-laki dewasa. Pengin deh kayak mbak Fira, dapat yang hot-hot begitu," ujar Rani.


"Mau yang duda begitu?"


"Ya nggak harus duda juga mbak, yang penting matang, ganteng, kaya dan bertanggung jawab seperti om Bara, hihihi,"


Syafira hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya menanggapi ucapan Rani yang terdengar menggelitik di telinganya. Mungkin Rani pikir, hidup Syafira beruntung, mendapat suami tampan, kaya, dewasa, bahkan lanhsung dapat bonus anak dua yang lucu dan menggemaskan. Tapi untuk saat ini, Syafira belum merasakan kata beruntung tersebut.


"Kamu hanya melihat luarnya saja Ran, kalau tahu bagaimana sebenarnya rumah tanggaku, mungkin kamu akan langsung menarik kata-katamu barusan," batinnya tanpa memudarkan senyum dai bibirnya.


"Fir, udah selesai. Ayo!" ajak Bara setelah memasukkan box terakhir ke dalam mobil.


"Ya sudah Ran, aku antar kue yang terakhir dulu ya, sekalian pulang, nanti nggak balik lagi ke sini. Kamu nggak apa-apa kan sendiri?" ucap Syafira.


"Iya mbak nggak apa-apa," sahut Rani tersenyum.


"Terima kasih pak Bara sudah bantuin!" seru Rani ketika Bara hendak membuka pintu mobilnya. Ia mengerutkan keningnya mendengar Rani memanggilnya pak.


Syafira menahan tawanya mendengar Rani memanghilnya pak dan melihat ekspresi Bara.


"Yuk ah mas buruan, nanti keburu sore. Udah rindu berat sama anak-anak ini," ucap Syafira.


Bara langsung masuk ke mobil dan melajukan mobilnya. Sepanjang jalan Bara hanya diam, bahkan ketika selesai mengantar pesanan dan sekarang sudah dalam perjalanan pulang pun Bara banyak diamnya, seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Mas Bara kenapa diam aja sih? Capek? Siapa suruh bantuin segala tadi," tanya Syafira.


"Saya cuma lagi mikir Fir," jawab Bara.


"Mikir apa emangnya? Sampai kening mengkerut begitu, jangan kebanyakan mengernyit mas, nanti beneran cepat tua, aku susah ngimbanginnya," canda Syafira.


"Itu yang lagi saya pikirkan Fir," sahutnya.


"Itu apa mas? Yang jelas kalau bicara ih, kalau cuma sepotong-sepotong mana aku paham,"


"Kaju itu, katanya kuliah dapat beasiswa, tapi masa begiu saja nggak paham Fir,"


"Apa hubungannya coba. Aku kan nggak bisa baca pikiran mas Bara,"


"Apa saya memang setua itu Fir?"


Syafira langsung mengerti kemana pikiran Bara, ternyata dia memikirkan ucapna Rani. Ia diam sejenak, kenapa suaminya jadi seperti kurang percaya diri begitu?


"Kan mas Bara sendiri yabg bilang kalau mas itu pria dewasa bukan tua. Lalu apa masalahnya?" Syafira balik bertanya.


Syafira tersenyum tipis mendengarnya.


"Mas Bara meragukan kedewasaanku dalam berpikir? Mas Bara takut aku tidak bisa mengimbangi mas Bara. Takut aku tidak bisa seperti mbak Olivia yang cerdas, dewasa, dan bijaksana yang bisa mengimbangi mas Bara yang seorang pengusaha sukses?" tanya Syafira datar, tanpa menunjukkan ekspresi yang sebenarnya ia rasakan.


"Bukan begitu Fir, maksud saya...."


"Sudahlah, tidak usah di bahas, aku capek, mas juga capek. Jika diteruskan hanya akan merusak suasana saja," pupus Syafira.


"Kamu salah paham Fir, bukan itu maksud saya,"


"Cukup mas, kalau di teruskan justru aku bisa salah paham," sahut Syafira.


"Justru saya yang takut tidak bisa mengimbangi kamu Fir, kamu bisa di bilang masih ABG, masih muda," batin Bara.


Ketika melewati sebuah restoran mewah, Bara membelokkan Mobilnya dan berhenti di area parkir restoran tersebut.


"Kok ke sini sih mas?" tanya Syafira.


"Kita makan dulu Fir, saya lapar. Kamu tidak ngasih saya makan seharian ini," jawab Bara.


"Astaghfirullah! Iya, aku sampai lupa nggak ngasih mas Bara makan siang tadi," Syafira menepuk jidatnya sendiri.


"Iya Fir, tega kamu sama suami sendiri. Untung kuenya nggak aku makan tadi,"


"Ya maaf mas, namanya juga manusia tempatnya lupa. Di maafin nggak nih mas suami?" Syafira menoel lengan Bara sambil mengedipkan matanya.


"Kalau kamu kayak gini, saya jadi laparnya beda Fir," ujar Bara.


"Apa?"


"Saya jadi pengin..." Bara mendekatkan bibirnya ke bibir Syafira. Dipandanginya mata indah istrinya tersebut dalam-dalam. Pandangannya beralih ke bibir Syafira dan kembali menatap manik mata indah tersebut.Syafira langsung memejamkan matanya ketika Bara sedikit memiringkan kepalanya dan semakin mendekatkan bibirnya ke bibir Syafira.


Beberapa saat Syafira menunggu, namun bibir itu tak kunjung menciumnya. Dan entah kenapa hal itu membuatnya sedikit kesal.


Sementara Bara berusaha menarik-narik tubuhnya supaya bibirnya segera bisa memagut bibir istrinya karena tertahan oleh seat bealt.


"Lama amat sih mas, sebenarnya mau cium nggak sih?" kesal Syafira dalam hati.


Syafira sedikit melirik aktivitas suaminya, dan sontak ia langsung menahan tawanya melihat suaminya yang sedang berusaha menciumnya, tangannya sibuk ingin melepaskan seat beltnya namun tak kunjung berhasil.


"Mas Bara mau apa?" Syafira pura-pura bertanya polos.


"Ah enggak apa-apa... Ayo turun. Saya sudah lapar!" ucap Bara kesal karena aksinya gagal. Padahal tinggal sedikit lagi berhasil. Kepalang malu sama Syafira, ia pin langsung melepaskan sealbeltnya dan langsung turun dari mobil.


"Tadi aja susah banget di lepas, giliran mau turun langsung bisa di lepas. Seat belt sialan!" gumamnya mengumpat.


Syafira masih berusaha menahan tawanya sambil melepas seat beltnya.


"Bahkan seat belt pun tak mendukungmu mas," gumamnya terkekeh dan langsung menyusul Bara turun.