Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
MODUS


Diego tersenyum absurd saat terciduk mengatai Septian pemalas. Dia merutuki kebodohannya sendiri. Harusnya dia mengambil hati Septian, bukan malah mengatai dan membuatnya kesal.


Sedangkan Shaila, cewek itu menahan tawa melihat ekspresi lucu Diego. Cowok songong itu sedang kena batunya, batin Shaila.


"Pagi Bu Nara." Sapa Diego sambil tersenyum semanis mungkin.


"Ngapain lo kesini?" Tanya Septian sambil berjalan kearah Diego.


"Mau ngomongin masalah kerjaan."


"Abang ada kerjaan apa dengan dia?" Tanya Nara heran. Dia memang tak tahu menahu urusan Septian dengan Diego.


"Sekarang saya jadi manager di mezra coffee shop." Jawab Diego dengan bangganya.


"Hah!" Nara tak bisa menyembunyikan ekspresi keterkejutannya. Rasanya sulit untuk dipercaya jika Diego bekerja pada Septian..


Sarah juga tak kalah kaget. Tak menyangka jika cafe baru milik abangnya mempekerjakan seorang selebgram terkenal. Sudah sesukses itukah abangnya.


"Dia kerja di cafe kita?" Tanya Nara sambil menatap Septian.


"Nanti abang ceritaan. Kamu pasti capek. Masuk gih, istirahat dikamar. Sha, temenin Kak Nara didalam."


"Tunggu tunggu, gak bisa gitu dong." Diego langsung menyalak. Dia kesini untuk ketemu Shaila, tapi kenapa cewek itu malah disuruh masuk. Mana terima dia. Belum juga hilang kangennya.


"Kenapa?" Tanya Septian.


"Gue, gue ada perlu sama Shaila." Jawab Diego sambil garuk garuk kepala.


Sarah seketika menatap Shaila. Diantara mereka berlima, sepertinya hanya dia yang tak tahu apa apa. Shaila yang diberi tatapan penuh pertanyaan segera mengalihkan pandangan kearah lain.


"Sebenarnya lo kesini nyariin gue apa Shaila?"


Diego tersenyum absurd sambil menoleh kearah Shaila.


"Nyariin lo. Tapi yang paling utama, nyariin Shaila."


Tawa Nara hampir saja meledak mendengarnya. Sedangkan Septian, cowok itu hanya mendengus kesal. Sebenarnya dia sudah bisa menebak. Karena tak mungkin hanya demi pekerjaan yang hasilnya tak pasti, Diego sampai mencari rumahnya.


Shaila, wajah cewek itu seketika merona. Dia menunduk untuk menyembunyikan kegugupannya. Ini pertama kalinya, ada cowok yang datang kerumah untuk mencarinya.


"Kakak ada hubungan apa sama dia?" Lirih Sarah sambil menyenggol lengan Shaila. Tapi Shaila tak berniat menjawabnya.


"Ada kepentingan apa nyariin adik gue. Bukankah kalian udah putus?" Tanya Septian.


Mulut Sarah seketika menganga dengan mata membulat sempurna. Tak pernah menyangka jika kakaknya yang pendiam itu pernah pacaran dengan selebgram terkenal.


"Eh... ada tamu." Ucap Bu Lastri yang baru keluar dari dalam rumah.


"Pagi Bu." Diego menghampiri Bu Lastri dan mencium takzim tangannya.


"Temannya Septian ya?"


"Iya Bu." Jawab Diego sambil melirik Septian.


"Kok gak diajak masuk sih bang temannya. Ayo masuk."


Dengan senang hati Diego langsung mengiyakan tawaran Bu Lastri. Dia masuk kerumah sederhana itu dan langsung duduk di sofa.


Septian dan Nara ikut duduk. Sedangkan Sarah dan Shaila, kedua cewek itu masih berdiri.


"Sha, kok malah bengong. Bikinin minum dong tamunya." Titah Bu Lastri.


"I, iya Bu." Shaila segera masuk untuk membuat minuman.


"Sarah, kamu kenapa juga bengong disitu. Kalau gak ada kepentingan disini, kembali ke toko."


"Hehehe....iya Bu." Dengan berat hati, Sarah kembali ke toko. Padahal dia ingin ikut mengobrol bersama Diego. Siapa tahu cowok itu mau memfolback akunnya dan mempromosikan. Sarah ingin punya banyak follower di akun IG nya. Ingin dapat endorsmen biar punya penghasilan sendiri


"Ada apa lo nyariin Shaila?" Septian kembali ke topik obrolan setelah Bu Lastri pergi.


"Dulu gue sempet nawarin Shaila ikut nyokap gue les privat bikin dessert. Dan besok nyokap nyuruh Shaila dateng."


"Halah, itu pasti modus lo doang." Sahut Septian.


"Lo neting mulu sama gue Sep. Gue ngelakuin ini juga sebagai tanggung jawab gue sebagai manager. Kalo dessert bikinan Shaila enak, siapa yang untung? lo juga kan?" Balas Diego.


"Siapa yang kasih privat?" Tanya Nara.


"Chef Roger, yang dulu jadi chef di hotel Gardenia flower."


"Beneran?" Nara langsung tertarik. Pasalnya, dia sangat menyukai makanan di hotel tersebut.


"Itu chef terkenal bang. Kalau Shaila bisa belajar langsung dari dia. Aku yakin, kemampuan bikin dessert Shaila bakalan maju pesat. Dan ini sangat bagus untuk cafe."


"Tuh dengerin Bu Nara." Diego merasa mendapatkan dukungan.


Shaila keluar dari dapur dengan membawa secangkir teh diatas nampan. Matanya sesekali mencuri pandang kearah Diego. Dengan hati hati, diletakkannya cangkir tersebut diatas meja dihadapan Diego.


"Terimakasih." Ujar Diego sambil tersenyum kearah Shaila.


"Duduk dulu Sha." Titah Septian.


Shaila mengangguk dan segera duduk disofa single yang kebetulan menghadap Diego.


"Sha, besok ditungguin mama dirumah." Ujar Diego.


Shaila seketika menatap Septian. Dia bingung harus berkata apa.


"Kamu yakin mau ikut privat bareng mamanya Diego?" Tanya Septian.


"Aku masih bingung bang."


"Gak usah bingung. Chef nya baik kok. Mama gue juga baik orangnya." Ujar Diego sambil meraih cangkir berisi teh hangat.


"Kalo lo?"


"Huk Huk." Diego yang baru menyeruput seketika tersedak mendengar pertanyaan to the point dari Shaila.


"Hahaha... lo nanya gue? gue baiklah, baik banget malahan." Jawab Diego sambil terkekeh gak jelas.


"Hati hati Sha. Buaya darat baiknya diawal doang, lama lama bisa gigit." Sindir Nara.


"Bu Nara bisa aja. Drakula kali Bu gigit."


"Gimana Sha?" Septian kembali bertanya.


"Apa aku boleh ngajak seseorang?"


"Ngajak aku aja kak." Sahut Sarah yang tiba tiba muncul. Ternyata cewek itu sejak tadi nguping dari toko.


Diego memutar bola matanya malas. Niatnya untuk pedekate bisa gagal total kalau pakai ngajak orang lain. Diego hendak mengatakan keberatannya tapi udah keduluan Septian yang bicara.


"Gue setuju, lo pergi sama Sarah saja."


"Ya udah deh, terserah." Pada akhirnya, hanya itu bisa keluar dari mulut Diego.


"Ya udah, kalau gitu, lo boleh pulang. Kayaknya udah gak ada kepentingan disini." Usir Septian.


"Teh gue belum habis." Salak Diego.


"Gue kasih waktu 30 detik, buruan habisin."


"Astaga, kejam banget sih lo Sep. Punya dendam kesumat lo sama gue?"


"Iya. Gara gara lo udah berani ngedeketin istri gue."


"Astaga, masa lalu gak usah dibawa bawa." Diego segera menghabiskan tehnya lalu pamit. Yang penting tujuan utamanya mengajak Shaila kerumah sudah berhasil. Jadi mending dia ngalah sekarang.


Sesampainya didekat mobil. Tiba tiba Diego bohlam dikepala Diego bersinar. Seringai kecil muncul dari bibirnya.


Diego berjalan menuju toko. Disana ada Sarah yang sedang bermain ponsel.


"Sini lo." Diego melambaikan tangan agar Sarah mendekat kearahnya.


"Aku?" Sarah menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, lo. Emang ada orang lain lagi?"


Sarah segera mendekat ketempat Diego.


"Lo, pasti aktif di IG ya? buktinya lo kenal gue? "


"Hem." Jawab Sarah sambil tersenyum bangga.


"Mau gak kalau akun IG lo, gue promosiin di akun gue. Atau...gini aja. Kalau ada tawaran endorsmen, gue ajak lo ikutan. Gimana, mau gak?"


"Mau mau, mau banget."


Diego tersenyum penuh kemenangan. Dugaannya benar, mudah sekali untuk menarik Sarah kedalam tim pendukungnya.


"Tapi ada syaratnya."


"Apa?"


"Besok, lo gak usah ikut. Lo tinggal nyari alasan apa Gitu. Pokoknya, gak usah ikut. Dan satu lagi, dukung gue sama Shaila."


"Bisa diatur." Jawab Sarah sambil tersenyum. "Tapi awas kalau kakak sampai macem macem sama Kak Shaila. Aku bakal ngerahin semua teman aku buat jadi haters kakak."


"Dih, kecil kecil sok sok an ngancem. Cocok banget lo jadi adiknya Asep."