
"Gratis, cuma ada satu syaratnya." Ujar Diego dengan seringai kecil diwajahnya.
"Apa?"
Mendengar Septian menyahut dengan cepat, membuat Diego senang. Ya, walaupun dia belum yakin jika syaratnya disetujui. Dia menoleh kearah Shaila. Sedangkan yang ditoleh, perasaannya mendadak gugup tak karuan dan buru buru menunduk. Shaila yang belum pernah dekat dengan pria, merasa grogi saat diperhatikan seperti itu.
"Angkat gue jadi manager promosi disini."
Septian dan Shaila tercengang mendengarnya. Sungguh syarat yang diluar dugaan. Untuk apa coba cowok itu minta kerja disini.
"Gila." Seru Septian. Dia saja sedang berada dalam masalah karena keuangan cafe yang jauh dari kata stabil. Mungkin saja bulan ini dia tak dapat untung karena laba dibuat bayar karyawan. Mana mungkin dia menambah karyawan, dengan jabatan manager pula. Itu mustahil, dan lagipula, rasanya tak perlu ada manager di cafenya.
Shaila juga terkejut mendengar syarat Diego. Dia tahu pria itu kaya. Lalu bekerja di tempat ini, buat apa? Apakah ini karenanya? Shaila buru buru menggeleng, tak mau terlalu ge er.
"Gue lagi gak butuh pegawai, lupakan saja." Tolak Septian. Shaila yang merasa sudah tak ada yang perlu dibicarakan, hendak pergi. Namun sebelum itu, ucapan Diego membuatnya mengurungkan niat.
"Jangan tergesa gesa mengambil keputusan, pikirkan dulu. Gue bisa buat cafe lo ramai, bukankah itu yang paling utama saat ini."
Septian tersenyum kecut. Dia tak tahu apa yang sebenarnya ada dalam pikiran Diego. Dia jelas bukan sedang butuh uang atau pekerjaan saat ini. Jadi sudah pasti, ada motif dibalik ini semua.
"Apa tujuan lo sebenarnya?" Septian tak ingin menebak nebak. Pikirannya, mulai bercabang ke mana mana mengingat trek record Diego. Selain karena pernah mengejar Nara, Diego juga pernah ada kedekatannya dengan Shaila.
"Tujuan gue? bukankah udah jelas, gue pengen bisa kerja ditempat ini." Diego yakin jika Septian sedikit banyak tahu niat utamanya. Tapi dia harus bermain cantik. Pelan pelan, tak mau tergesa gesa dan bikin Septian atau Shaila ilfeel padanya.
"Yakin hanya ingin bekerja? bukan untuk lainnya?" Selidik Septian.
"Ya kalau selain dapat pekerjaan bisa dapat yang lain juga, kenapa tidak." Jawabnya sambil melirik Shaila. Lagi lagi Shaila dibikin ge er dengan ucapan Diego. Jantungnya mendadak berdegup kencang.
"Yang lain?" Septian mengerutkan kening. "Apa?"
"Pengalaman."
Perasaan Shaila yang beberapa detik lalu membuncah. Seakan langsung drop mendengaranya. Dia terlalu ge er. Buru buru dia menepis semua prasangkanya tentang Diego. Mengingat kembali ucapan cowok itu tempo hari. Ya, dia ingat sekali. Pria itu bahkan mengakui jika dia tukang ghosting.
"Gue butuh pengalaman agar nanti saat gue membuka usaha sendiri, gue udah sangat siap. Dan gue butuh pengalaman di tempat usaha baru seperti ini. Oh iya, satu lagi. Gak ada sangkut pautnya dengan Bu Nara, jadi lo gak usah khawatir."
Mendengar Diego malah membahas Nara, entah kenapa, ada rasa kesal dihati Shaila.
"Aku kebelakang dulu ya bang," pamit Shaila tanpa melihat ke arah Diego, dia segera pergi begitu saja.
Diego memperhatikan kepergian Shaila. Rasanya belum puas melihat wajah cewek itu, tapi udah main pergi saja. Tapi tak apa, kalau dia kerja disini, tiap hari dia akan bisa melihat Shaila.
"Cari pengalaman ditempat lain saja." Septian masih pada pendirian awalnya, yaitu menolak.
"Gue pengen disini karena cafe lo masih baru dan sedikit bermasalah. Gue pengen pekerjaan yang menantang. Kerja ditempat yang udah besar, yang udah ramai, gak ada tantangannya. Pengen yang masih dalam proses seperti ini. Biar bener bener mengasah kemampuan gue."
"Gue gak tahu niatan asli lo. Tapi yang pasti, gue gak bisa menerima syarat lo. Gue gak ada uang buat bayar gaji manager."
"Gue gak minta bayaran banyak. Hanya minta bebeberpa persen keuntungan bersih saja. Jadi jika gue gagal bikin cafe lo dapat untung besar, lo gak perlu gaji gue. Lo fokus saja pada cara lo membuat kopi. Urusan promosi dan lainnya, biar gue yang handle."
Tak ada salahnya dicobakan, toh Diego tak minta bayaran, hanya beberapa persen laba bersih. Bukankah ini demi coffe shopnya. Selain itu, juga demi nama baiknya didepan keluarga Nara. Jika sampai usahanya gagal kali ini, harga dirinya dipertaruhkan. Papa Satrio pasti akan kecewa berat dan menganggap dia tak bisa diandalkan sama sekali.
"Berapa persen?"
"20 persen saja."
"Baiklah, gue setuju."
Akhirnya....ingin sekali Diego berteriak seperti itu. Tapi jelas dia harus jaim. Bekerja disini, pasti membuatnya bisa lebih dekat dengan Shaila. Mata kuliahnya juga sudah hampir habis. Dia sedang proses menyusun skripsi, jadi tak harus ke kampus setipa hari.
...*****...
Dalam perjalanan pulang dari kampus, dia melihat sebuah toko perlengkapan bayi. Sebenarnya sudah sejak hamil 7 bulan, dia ingin belanja perlengkapan bayi, tapi belum terlaksana juga karena kesibukan Septian mempersiapkan coffee shop nya.
"Kita mampir ke coffee shop dulu ya pak." Ucap Nara pada sang supir. Dia ingin mengajak Septian berbelanja. Mungkin dengan begitu, hubungannya yang terasa anyep seminggu ini, bisa kembali hangat seperti dulu.
"Baik Non." Jawab Pak Muklis paham.
Tak berapa lama, mobil yang tumpangi Nara, tiba di mezra coffe shop. Nara sudah tak sabar ingin bertemu suami yang dia rindukan seharian ini.
Nara memasuki cafe dan langsung menuju ketempat dimana Septian bekerja bersama coffee makernya. Tapi dia tak melihat suaminya itu ada disana. Hanya ada Agus yang tampak meracik kopi.
"Sore Mbak." Sapa salah seorang waitres yng berpapasan dengannya.
"Suami saya gak ada ya?"
"Oh Mas Septian. Dia sedang keluar." Jawab waitres pria tersebut.
"Keluar?" Nara mengernyit bingung. "Kemana?"
"Saya tidak tahu. Mungkin bisa tanya ke Shaila lebih jelasnya. Atau mungkin sama Mas Agus."
"Em... abang, eh maksud saya suaminya saya, sering keluar?"
"Aduh gimana ya mbak." Waitres tersebut tampak bingung. "Gak sering sih, tapi ya sayakan kan gak tahu dia keluar atau pulang ke rumah. Dia kan bos, jadi gak ada jam kerja."
"Ya udah kalau gitu."
Nara melihat kondisi coffee shop yang lumayan sepi. Apa ini setiap hari, atau hari ini saja. Entahlah, mungkin nanti dia akan bertanya pada Septian. Sejauh ini, Septian belum pernah cerita soal ini padanya.
Dengan langkah pelan karena perut yang mulai terasa berat. Nara melangkah menuju dapur.
"Sibuk Sha?" Tanya Nara saat melihat Shaila
sedang sibuk membuat dessert bersama Mila.
Merasa namanya dipanggil. Shaila segera menoleh.
"Eh Kak Nara." Sapa Shaila.
Nara mendekat dan melihat kesibukan adik iparnya.
"Abang kok gak ada Sha?" Tanya Nara.
"Loh jadi belum balik? Tadi sih katanya mau keluar bentar cari kopi."
"Oh.... "Nara menggut manggut.
"Bentar lagi mungkin dateng kak. Kakak tunggu aja."
Nara mengangguk dan segera menarik kursi yang berada tak jauh darinya. Dia memang tak kuat berdiri lama. Mungkin efek perut yang sudah makin membesar...
"Mau aku buatin sesuatu kak?"
"Gak usah Sha."
Nara mengambil ponsel untuk menghubungi Septian. Ingin memberitahunya jika dia sedang menunggu di coffee shop. Tapi sayangnya, dia malah mendengar bunyi ponsel Septian berada tak jauh darinya. Septian meninggalkan ponselnya didapur karena sedang diisi daya.
Setelah lumayan lama menunggu dan yang ditunggu tak menampakkan batang hidungnya. Akhirnya Nara memilih pulang. Badannya terasa lelah. Mungkin menunggu dirumah sembari istirahat lebih baik.