Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
USAHA MEMPERBAIKI


Septian termenung didekat coffee makernya. Dengan kedua tangan dilipat didada dan tubuh yang dia sandarkan dimeja. Hari ini cafe sedikit sepi, jadi dia tak begitu sibuk.


Dia masih kepikiran tentang pertengkarananya tadi dengan Nara. Bisa dibilang, mereka sangat jarang bertengkar. Dan mungkin, tadi salah satu pertengkaran besar mereka.


Mungkin benar kata Nara, kalau dia egois. Tapi salahkah sedikit egois demi harga diri? Salahkah dia yang ingin menjadi sosok yang bisa diandalkan, sosok yang dibutuhkan, bukan hanya sosok yang dianggap pelengkap.


"Hari ini sepi ya Bang." Ucap Shaila yang baru keluar dari dapur. Sejak tadi, orderan dessert hanya sedikit. Dia pikir mungkin mereka hanya ingin minum kopi. Tapi nyatanya, cafe memang sepi.


"Bang." Panggil Shaila karena Septian tak menanggapi ucapannya. Tapi masih sama, tak ada respon.


"Abang."


Akhirnya Shaila menepuk bahu Abangnya karena lelah tak direspon.


"Iya Sha, ada apa?"


"Ada masalah? Aku lihat, abang bengong sejak tadi?"


Septian diam saja, dia memang sedang dalam masalah. Tapi sebaiknya tak usah cerita pada Shaila. Takut wanita itu cerita pada ibu dan berujung ibu kepikiran..


"Mikirin cafe yang lagi sepi ya?" Tebak Shaila. "Udah 5 hari buka, tiap hari bukannya makin ramai, tapi makin sepi." Keluh Shaila.


Sebenarnya hal itu juga membuat Septian kepikiran. Tapi dia berusaha positif thinking saja..


"Mungkin karena sekarang weekday Sha. Semoga aja nanti pas weekend ramai."


"Semoga begitu bang. Takutnya, dessert bikinannku kurang enak."


Shaila jadi teringat ucapan Diego. Mungkin benar kata cowok itu. Dessert buatannya hanya b saja, tak ada nilai lebih. Tak ada sesuatu yang bikin orang kangen dengan dessertnya itu.


"Jangan pesimis dulu. Namanya juga usaha baru Sha. Belum punya pelanggan tetap. Semoga aja seiring waktu makin ramai. Yang penting, kamu tetap semangat. Terus memperbaiki dessert kamu dan jangan lupa berdoa, semoga usaha kita dilancarkan dan dilimpahi rejeki."


"Amin... " Sahut Shaila.


"Kamu lagi gak sibukkan?"


Shaila menggeleng.


"Buatin dessert box buat Kak Nara ya. Biar nanti abang bawa pulang."


Terbesit sebuah ide dikepala Septian. Ingin membawakan dessert box untuk membujuk Nara agar tak marah lagi. Mungkin sebaiknya dia ngalah dulu saat ini. Dan setelah itu, dia akan mencari cara lain untuk membujuk Nara agar mau lahiran normal.


"Siap bang. Ya udah, aku tinggal kebelakang dulu ya." Pamit Shaila dan segera kembali ke tempatnya bekerja.


...*****...


Hampir jam 1 malam, Septian baru sampai dirumah. Dia langsung kedapur untuk mencuci tangan serta mengambil sendok. Niatnya, ingin mengajak Nara makan dessert bersama. Sebelum hari berganti esok, dia ingin memperbaiki hungannya dengan Nara. Tak ingin masalah berlarut larut..


Septian duduk ditepi ranjang sambil mengusap pelan pipi Nara agar bangun..


"Sayang, bangun bentar gih." Masih tak ada tanda tanda pergerakan.


"Abang bawain makanan kesukaan kamu. Kita makan sama sama yuk." Septian sedikit mengguncang bahu Nara karena tak bangun juga.


"Apaan sih bang?" Sahut Nara dengan suara khas bangun tidur. Ia tampak menguap dan mengucek matanya.


"Abang bawain dessert box. Makan sama sama yuk, abang suapin." Septian menunjuk makanan yang dia bawa.


"Aku ngantuk banget." Jawab Nara sambil kembali memejamkan mata.


"Cobain dikit aja, enak banget loh. Abang minta Shaila spesial buatin untuk kamu." Septian masih berusaha membujuk.


"Iya besok pagi aja aku cobain."


"Ck, aku ngantuk. Bisa gak sih, gak usah maksa." Sahut Nara dengan nada jengkel.


Kalau sudah begini, Septian hanya bisa menghela nafas pasrah. Mungkin Nara masih marah padanya. Karena biasanya, dia pasti mau bangun kalau sepulang kerja dibawain oleh oleh.


Mungkin memang lebih baik ditaruh kulkas untuk dimakan besok saja. Mau makan sendiri juga malas. Apalagi sudah tengah malam seperti ini. Lebih baik tidur saja. Besok pagi cari usaha lain untuk membujuk Nara biar gak ngambek lagi.


...******...


Septian mengerjabkan matanya untuk melihat jam dinding. Sudah pukul 7 lebih dikit. Tadi selepas subuh, dia tidur lagi karena masih sangat ngantuk.


Dilihatnya, Nara sedang duduk merias wajah didepan cermin. Wanita itu sudah tampak cantik dengan gaun selutut yang dipadukan dengan blazer.


Septian bangkit dari ranjang lalu mendekati Nara, dan berdiri dibelakangnya.


"Cantik banget sih istri abang." Puji Septian sambil memegang kedua bahu Nara dan menatap pantulan wajahnya dicermin.


"Ganggu ih, aku mau pakai mascara jadi sudah ini." Nara mengedikkan bahunya agar suaminya itu menjauhkan tangannya dari sana. Mau tak mau, Septian menjauhkan tangannya.


"Kalau budosnya cantik gini. Mahasiswanya pasti betah dikelas." Goda Septian.


Setelah Nara meletakkan maskaranya. Septian sedikit membungkuk lalu memeluk pinggang wanita yang sedang duduk itu.


"Abang kangen." Ucapnya sambil membenamkan wajah diceruk leher Nara dan menciumnya.


"Bang, jangan kayak gini dong. Aku mau ngampus nih." Nara berusaha mlepaskan belitan tangan Septian dan menjauhkan lehernya.


"Bentaran aja yuk yang, abang pengen." Septian tak mau melepaskan Nara kali ini.


"Aku bisa telat kalau abang kayak gini." Nara terus berusaha berontak, membuat Septian akhirnya melepaskannya.


"Ini masih pagi Ra. Emangnya kamu ngajar jam berapa?"


"Sembilan." Jawabnya sambil berdiri lalu berjalan menuju meja kerja untuk mengecek tas nya.


"Berarti masih ada waktu dong." Septian kembali mendekati Nara dan memeluknya dari belakang. "Abang janji bentar doang. 30 menit aja cukup."


Septian membalikkan tubuh Nara lalu hendak menciumnya tapi Nara malah melengos dengan dengan tampang masam.


"Maksa banget sih bang. Egois tahu gak kamu." Seru Nara sambil melepaskan diri dari pelukan Septian.


"Aku itu mau kerja sekarang. Kayak gak ada waktu lain aja. Jangan mentingin diri kamu sendiri dong. Kamu sih enak, habis capek berdua bisa langsung tidur. Lha aku?" Nara menunjuk dirinya sendiri. "Aku masih harus mandi lagi, harus keramas, harus keringin rambut, ngulang make up lagi. Kamu pikir gak lama?"


Septian menggaruk garuk tengkuknya. Mungkin dia memang salah momen. Semua ini gara gara baca artikel diinternet. Cara membujuk istri yang marah, yaitu diajak bercinta. Semalam niatnya habis makan dessert mau diajak, eh malah gak mau bangun. Pagi pagi tadi sehabis sholat subuh, Nara hilang entah kemana. Mungkin bantu Bik Surti masak. Dan sekarang, sepertinya memang salahnya karena tak mempertimbangkan waktu.


"Ya udah abang minta maaf. Abang anterin ke kampus ya?"


"Gak usah, aku dianter sopir." Jawabnya ketus. Setelah acara tujuh bulanan itu, Papa Satrio mencarikan sopir untuk Nara sekaligus Mama Tiur. Perut Nara sydah terlalu besar, riskan jika menyetir sendiri. Dan Mama Tiur juga lebih sering keluar karena bisnis barunya.


"Kalau abang bisa anter, kenapa harus pakai supir?"


"Itu memang udah kerjaan dia nganter aku."


Nara hendak keluar tapi ditahan oleh Septian.


"Lupa? kamu belum cium tangan abang loh? Masih marah ya sama abang gara gara kemarin? Abang minta maaf, abang hanya ingin jadi suami yang ber__"


"Udahlah bang. Aku Males bahas itu. Aku berangkat dulu." Nara meraih tangan Septian lalu menciumnya.


Setelah Nara keluar, Septian kembali menghempaskan tubuh diatas kasur. Ternyata susah juga membujuk wanita yang lagi ngambek.


PR nya sekarang ada 2. Dan dua duanya, sama sama susah. Yang satu membujuk Nara. Yang satu meningkatkan penjualan di coffee shop yang kian hari kian sepi.