Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
SELALU BERUNTUNG


Sore ini, Nara dan Septian pergi memeriksakan kandungan ke dokter. Sesuai rekomendasi dari Kinan, mereka periksa ke dokter Anna. Dokter kandungan yang prakter dirumah sakit sama dengan Kinan.


Setelah memarkirkan mobilnya, Septian menggandeng Nara menuju tempat informasi dan langsung diarahkan ke poli kandungan.


Setalah mendaftar, mereka memuju deretan bangku yang disediakan didepan poli kandungan.


Langkah Nara terhenti sebelum dia sampai bangku. Dia melihat orang yang paling tak ingin dilihatnya, Arumi. Wanita itu sedang duduk dikursi panjang didepan poli kandungan. Tak tampak Abi disebelahnya.


Dari sekian banyak dokter kandungan di Jakarta, kenapa mereka memilih dokter yang sama. Dan kenapa pula, mereka datang diwaktu yang sama. Apakah ini suatu kebetulan?


"Kenapa berhenti? ayo duduk sana." Septian mengajak Nara menunju kursi kosong yang sialnya disebelah Arumi.


Arumi yang tadinya sibuk dengan ponsel, tiba tiba mendongak. Dan disaat bersamaan, dia dan Nara saling bertatapan.


"Nara." Gumam Arumi. Dia tak pernah menyangka akan bertemu Nara ditempat ini. Arumi meremat bajunya. Dia tampak gelisah dan tak nyaman. Mungkin efek rasa bersalah dalam hatinya.


"Apa kabar Ra?" Arumi berdiri dan berinisiatif menyapa lebih dulu.


"Baik." Jawab Nara singkat.


"Kamu kenal dia?" Tanya Septian sambil menoleh kearah Nara.


"Dulu satu sekolah." Mungkin kata itu yang paling tepat. Dia enggan menyebut Arumi teman, apalagi sahabat.


"Hai, saya Septian, suaminya Nara." Septian mengulurkan tangan kearah Arumi.


Arumi terdiam sesaat, sebelum akhirnya menjabat tangan Septian dan menyebutkan namanya.


"Arumi."


Dia jelas kaget, kerena tak pernah mendengar kabar Nara menikah.


Karena tak ada kursi kosong, terpaksa Nara duduk disebelah Arumi. Mereka saling diam, tak ada satupun yang berniat membuka suara. Sudah mirip seperti orang yang tak saling kenal. Padahal dulu, mereka adalah sahabat baik.


Septian duduk disebelah Nara sambil menggenggam tangan wanita itu. Dia merasa sedikit aneh melihat Nara dan Arumi, wajah kedua wanita itu tampak tegang. Tak tampak seperti teman atau orang yang saling kenal.


"Haus? mau aku beliin minuman?" Tawar Septian yang melihat Nara sedikit tak nyaman.


"Gak usah." Nara bergelayut dilengan Septian dan menyandarkan kepalanya dibahu pria itu.


"Kenapa? pusing?" Tanya Septian sambil merapikan rambut Nara dan menyelipkannya dibelakang telinga.


"Enggak kok."


Arumi melirik sekilas lalu memilih fokus pada layar ponsel hingga giliran periksanya datang. Saat dia keluar dari ruang dokter, dia sempat melirik Nara sekilas, tapi Nara tak melihatnya.


Nara dan Septian masuk saat giliran mereka tiba. Didalam, dia disambut dengan sangat baik oleh dokter Anna.


"Adiknya dokter Kinanti ya?" Sapa Dokter Anna.


"Kok tahu sih dok?" Nara balik bertanya.


"Tadi dokter Kinan sempat telepon, katanya adiknya mau datang sore ini. Langsung kesana saja sayang, biar kita bisa lihat dedek bayinya." Dokter Anna menunjuk kearah ranjang pemeriksaan.


"Permisi ya bu." Ucap seorang suster sebelum menyingkap dan mengoleskan gel dingin diatas perut Nara.


Septian dan Nara tampak sangat antusias saat dokter Anna mulai melakukan USG.


"Say hai sama dedek bayinya." Ujar Dokter Anna saat layar monitor menunjukkan janin mereka.


"Hai sayang." Ucap Septian sambil melambai kearah monitor. Pria itu tampak sangat bahagia, begitu pula Nara. Dia menggenggam tangan Nara dengan ekspresi yang sulit digambarkan. Tak pernah menyangka, jika dia akan segera menjadi ayah diusia ini.


"Dedek bayinya sehat, detak jantung normal. Ukurannya bagus, semuanya bagus. Apa sudah mulai merasakan pergerakan?"


Nara menggeleng lalu mengangguk, seperti orang yang bingung. Otomatis dokter Anna dan suster langsung tertawa.


"Masih bingung ya?"


"Iya dok. Kadang saya seperti merasa kedutan diperut, apa itu yang namanya gerakan?"


"Wajar, hamil pertama memang masih bingung. Itu gerakan, tapi belum begitu terasa. Usia kandungan 18w, udah mau jalan 5 bulan. Nanti dengan berjalannya usia, pergerakannya akan makin terasa."


"Perutnya kok masih tampak rata ya dok?" Septian sungguh penasaran dengan hal itu.


Setelah selesai periksa, mereka keluar dari ruangan dokter Anna. Nara langsung menuju toilet terdekat Karena sejak tadi udah menahan rasa ingin buang air kecil.


Setelah menuntaskan hajatnya, dia segera keluar. Tapi lagi lagi, dia bertemu dengan Arumi. Wanita itu tampak merapikan rambutnya didepan cermin.


"Nara." Ujar Arumi yang melihat Nara dari pantulan cermin. Dia tampak mengusap sudut matanya lalu berbalik.


Nara bukan orang bodoh, dia tahu Arumi habis menangis. Mata perempuan itu merah.


"Dimana suami kamu?" Tanya Nara sambil berdiri disamping Arumi dan merapikan rambutnya.


"Em... dia kerja." Arumi tampak gugup, dia meremat ujung blousenya.


"Selamat ya Ra atas pernikahan kamu. Semoga kalian berdua bahagia."


"Semoga kali ini doa kamu tulus Rum. Tak seperti doa kamu dipernikahanku dan Abi waktu itu." Sindir Nara sambil menatap Arumi tajam.


"Kamu belum bisa maafin aku ya Ra?"


"Apa menurutmu, perbuatanmu pantas dimaafkan?"


Arumi menunduk, menyadari jika yang diucapkan Nara adalah benar.


"Semoga pernikahanmu dengan Abi baik baik saja. Aku tulus mendoakan itu. Karena aku tak mau kau sampai menjanda dan merebut suami orang lagi."


Jleb


Ucapan Nara sungguh menohok. Membuat Arumi tak bisa berkata kata lagi.


"Dia pelakor mbak?" Tanya ibu ibu yang baru keluar dari bilik toilet. Wanita itu menatap Arumi dengan tatapan penuh kebencian, walaupun tak saling kenal.


"Iya bu." Jawab Nara sambil menatap Arumi. "Tapi saya tak masalah, bersyukur malahan. Karena dia merebut suami saya, saya mendapatkan suami yang jauh lebih baik." Nara menekankan kata katanya.


Arumi yang merasa tak tahan lagi, segera keluar dari toilet. Langkahnya terhenti saat melihat Septian berdiri bersandar pada dinding didekat pintu toilet perempuan.


"Arumi." Sapa Septian.


Arumi hanya menjawab dengan senyum dan anggukan.


"Nara masih didalam?"


"Ma__"


"Abang." Ucap Nara sebelum Arumi menjawab pertanyaan Septian. "Abang kok nungguin disini? kenapa gak nunggu di depan poli saja." Lanjutnya sambil menghampiri Septian.


"Kamu lama banget. Aku takut terjadi sesuatu, makanya aku tungguin disini. Tadi mau aku telepon tapi gak jadi karena lihat Arumi keluar."


"Maaf ya, bikin Abang cemas."


"Saya duluan." Pamit Arumi dan segera pergi.


Septian memperhatikan Arumi yang tampak tergesa gesa.


"Gak usah ngeliatin dia." Tegur Nara sambil mencubit lengan Septian.


"Masak gitu aja Jealous sih?" Goda Septian sambil menarik hidung Nara. "Aku cuma ngerasa aneh aja. Kalian kayak orang yang tak saling menyukai, padahal katanya dulu satu sekolah?"


"Udahlah bang. Ayo pulang, aku capek." Nara menggandeng lengan Septian dan segera menuju apotik untuk menebus obat.


"Hujannya deras banget Ra." Ujar Septian saat mereka sudah berada dilobi rumah sakit. "Kamu tunggu sini ya. Biar aku ke mobil ambil payung."


"Loh, abang kehujanan dong."


"Gak papa. Tunggu sebentar, abang ambil payung dulu." Septian segera berlari keluar menuju tempat parkir mobil mereka.


"Suami kamu baik ya Ra." Nara terkejut saat Arumi tiba tiba sudah ada disebelahnya. "Kamu selalu beruntung. Beda dengan aku."


"Karena aku tak pernah memaksakan sesuatu. Tak mengambil milik orang, dan tak menghancurkan kebahagiaan orang lain.


Mata Arumi tampak berkaca kaca. Sebelum cairan bening itu lolos, dia segera pergi. Wanita itu bahkan menerobos hujan menuju tempat parkir.