Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
BERUBAH PIKIRAN


Setelah selesai diperiksa, Septian mengajak Nara jalan jalan. Mereka berjalan menuju taman dekat pasar dengan jari jari yang saling bertautan. Tak jarang dijalan mereka bertemu dengan teman atau tetangga Septian dan mengobrol sebentar.


"Capek?" Tanya Septian setelah mereka berjalan cukup jauh.


"Lumayan." Jawab Nara sambil mengatur nafas yang mulai ngos ngosan.


"Mau istirahat dulu?"


"Nanti aja, kalau udah sampai taman."


Merekapun melanjutkan perjalanan hingga taman. Ini kedua kalinya Nara ketempat ini. Dulu bersama ibu dan adik Septian.


Setelah sampai ditaman, mereka istirahat disebuah bangku panjang. Benar kata Bu Nia, sabtu pagi seperti ini, taman lumayan ramai. Banyak orang yang joging atau hanya sekedar jalan jalan disini.


Septian menyodorkan air mineral yang sengaja dia bawa dari rumah pada Nara. Dan dengan segera diminum oleh Nara karena dia memang lumayan kehausan.


"Mau sesuatu?" Tawar Septian sambil menyeka keringat yang ada didahi Nara.


"Pengen nasi rawon, tapi kayaknya disini gak ada deh." jawab Nara sambil celingukan mencari penjual nasi rawon.


"Mungkin didalam pasar ada. Mau abang beliin?"


"Enggak usah deh. Aku gak mau sendirian."


"Entar kalau anak kita ngiler gimana?"


"Paan sih, itukan cuma mitos." Sangkal Nara.


Tak jauh dari tempatnya duduk, Nara melihat seorang ibu hamil berjalan jalan dengan dua anaknya yang masih balita. Nara tersenyum sendiri membayangkan jika dia seperti itu.


"Ada apa?" Tanya Septian yang melihat Mata senyum senyum sendiri.


"Lihat deh bang." Nara menunjuk kearah ibu hamil tersebut. "Gimana kalau aku kayak gitu? lucu kali ya?" Nara terkekeh.


"Kamu pengen punya anak berapa?" Tanya Septian dengan mata masih menatap sibuknya ibu hamil itu dengan dua balitanya.


"Sebenarnya aku pengen punya banyak anak. Tapi aku takut melahirkan." Jawab Nara lesu.


Septian meraih tangan Nara dan menggenggamnya. Dirapikannya rambut Nara yang sedikit berantakan lalu diselipkan dibelangan telinga.


"Gak usah takut, ada abang. Oh iya, Abang udah ada uang buat operasi sc kamu. Jadi gak usah mikir apa apa lagi. Tinggal tentukan saja tanggalnya."


Nara tertegun. Uang sebanyak itu, darimana suaminya mendapatkannya? Bukannya meremehkan, tapi Nara tahu seperti apa keuangan Septian.


"Abang dapat uang darimana?"


"Kamu gak perlu tahu. Yang penting udah ada. Dan bukan uang hasil nyuri atau lainnya."


Septian tak mungkin cerita kalau dia pinjam uang tabungan ibunya. Tabungan yang berasal dari uang kematian ayahnya dari perusahaan. Uang itu sebenarnya untuk biaya kuliah Shaila dan Sarah.


"Oh iya, abang mau datang menemui papa dan Mama. Abang mau minta maaf sama mereka."


Nara mendadak terharu. Suaminya itu tak malu atau gensi meminta maaf, bahkan sebelum dia memintanya.


"Makasih ya bang. Abang mau melakukan itu demi aku." Ujar Nara sambil melingkarkan tangan dilengan Septian dan merebahkan kepala dibahunya.


"Abang cinta sama kamu. Sesuai janji abang, abang akan lakukan apapun untuk kebahagiaan kamu." Jawab Septian sambil mencium puncak kepala Nara.


Hati Nara terenyuh mendengarnya. Suaminya itu rela melakukan apapun demi kebahagiaannya. Dan mungkin, dia juga harus melakukan apapun demi suaminya, termasuk meringankan bebannya.


"Bang, aku mau lahiran normal."


Septian yang kaget langsung melepaskan lengan Nara dan menatap wajah wanita itu.


"Aku mau lahiran normal." Nara mengulangi lagi karena Septian masih terdiam sambil menatapnya.


"Kamu yakin?"


Nara mengangguk sambil berusaha tersenyum.


"Abang tak mau kamu terpaksa melakukan itu."


Nara menggeleng. "Aku gak terpaksa."


"Karena aku ingin makin disayang kamu." Jawab Nara sambil tersenyum dan kembali bergelayut dilengan Septian. "Bukankah kata Bu Bidan, saat kamu melihat langsung bagaimana perjuanganku melahirkan anak kita, kamu pasti bakalan makin cinta. Kamu gak akan tega buat nyakitin aku."


Septian terkekeh mendengarnya. Alasan macam apa itu?


"Walaupun kamu melahirkan secara sc, itu juga perjuangan. Abang juga akan menghargainya. Bagaimanapun caranya, entah normal atau sc, semua itu butuh perjuangan. Melahirkan secara apapun, semua wanita tak layak disakiti. Abang malu banget kalau inget udah mukul kamu." Septian mengusap lembut pipi Nara. Pipi halus nan lembut yang dulu pernah memerah akibat layangan tangannya.


"Aku udah melupakannya." Sahut Nara sambil meraih tangan Septian dan menciumnya.


"Pikirkan dulu baik baik. Abang tak mau kamu sampai tertekan nanti karena terlalu takut."


"Aku sudah sangat yakin mau lahiran normal."


"Jangan bilang kamu tiba tiba berubah pikiran karena pengen dijahit biar makin rapet?"


"Abang." Nara memukul lengan Septian cukup kuat hingga pria itu meringis.


"Sory bang, sakit ya? Aku lupa kalau lengan abang masih sakit." Nara memeriksa lengan Septian, takut lukanya bekas kecelakaan kembali berdarah. Beruntung luka itu cuma lecet biasa dan sudah lumayan kering jadi tak mengeluarkan darah lagi.


"Abang sih pakai ngomong dijahit. Aku jadi ngilu ngebayangin itu aku jahit." Nara menggigit bibir bawahnya. Membayangkannya sungguh membuat gilu.


Septian tergelak mendengarnya. Tapi dia jadi ikutan membayangkan juga akhirnya. Bukan membayangkan ngilunya dijahit, tapi gimana kalau jahitannya sobek saat dia bobol.


...*****...


Sarah, gadis itu sedang menjaga toko sambil berselancar disosmed. Dia sedikit berbeda dengan Shaila. Dia lebih pecicilan dan hobi bersosial media. Dikit dikit suka foto dan langusng dibikin story, sampai kadang dibilang lebay oleh Shaila. Bahkan tak jarang dia ditegur ibu karena terlalu sibuk dengan ponselnya.


Saat dia sedang sibuk berbalas dm dengan temannya, dia dikejutkan dengan sebuah mobil sport yang masuk kehalaman rumahnya.


Jelas dia berdecak kagum melihatnya. Apakah itu milik kakak iparnya Nara? Tapi sepertinya bukan? Dan tadi, abangnya dan Nara keluar berjalan kaki, tidak pakai mobil. Lalu siapakah yang datang?


Sarah melongo dengan mulut sedikit terbuka melihat cowok tampan berkaos hitam serta kaca mata hitam turun dari mobil tersebut.


Mungkin kalau dalam dongeng, pangeran berkuda putih. Ini versi dunia nyatanya, cowok tampan bermobil putih, batin Sarah.


Saat cowok itu membuka kaca mata dan berjalan kearahnya, Sarah mendadak jantungan. Tapi, otaknya masih bisa berpikir, ingatannya masih lumayan tajam. Cowok itu, mirip sekali dengan selebgram Diego Aldrich.


Sarah hendak mengetik Diego Aldrich di pencarian IG. Dia ingin lebih memastikan. Tapi sebelum tangannya selesai mengetik. Cowok itu lebih dulu sampai dihadapannya.


"Apa ini rumahnya Asep?"


"Di, Diego."


"Lo kenal gue?" Diego menunjuk dirinya sendiri sambil mengernyit.


"Jadi benar kamu Diego?" Sarah segera keluar dari toko dan langsung reflek memeluk Diego.


Shaila yang baru keluar dari dalam rumah kaget melihat ada Diego. Dan lebih kaget lagi karena melihatnya sedang dipeluk Sarah.


Diego yang melihat kedatangan Shaila buru buru melepaskan pelukan Sarah.


"Maaf maaf." Sarah baru tersadar jika dia sudah kebablasan. Wajahnya merah padam karena malu. Saat dia menoleh, dia langsung menepuk jidat karena ternyata ada Shaila. Jelas dia takut kena marah karena memeluk laki laki. Apalagi kalau sampai diadukan pada ibunya.


"Kak Shaila." Sarah berjalan kearah Shaila. "Ada yang nyariin abang. Dia selebgram loh." Ujar Sarah sambil senyum senyum.


"Oh... nyariin bang Asep." Entah kenapa, ada rasa kecewa dihati Shaila saat tahu Diego datang untuk mencari abangnya.


"Ganteng bangetkan kak." Bisik Sarah sambil terus memandangi Diego. Gadis itu jadi salah tingkah sendiri didepan Diego.


"Lo sama Asep kok gak pernah ke cafe lagi?"


Sarah seketika menatap Shaila. Jadi mereka berdua sudah saling kenal?


"Kakak kenal sama dia?" tanya Sarah.


Shaila mengangguk ragu ragu.


"Gue nyariin kalian tiap hari tapi malah gak pernah datang. Padahal gue udah semangat mau kerja. Si Asep beneran mau sukses apa enggak sih? Kenapa males malesan gitu kerjanya?"


"Siapa yang lo katain males?" Suara lantang dari arah belakang mengagetkan Diego. Saat dia menoleh, dilihatnya Septian dan Nara yang baru datang.