
Hamil anak pertama, membuat Nara merasa masih awam. Dia tak punya pengalaman sama sekali tentang bagaimana melahirkan. Dan ketika perutnya tiba tiba terasa kaku dan sedikit sakit, dia menganggap itu adalah kontraksi. Tapi seperti diartikel yang pernah dia baca, ada yang namanya kontraksi palsu. Dan dia harap, saat ini, yang dia rasakan adalah kontraksi palsu.
Septian tampak tegang, dia takut terjadi apa apa pada kandungan Nara.
"Gak apa apa bang." Jawab Nara sambil tersenyum saat perutnya tak lagi terasa sakit. Seketika, Septian bernafas lega.
"Aku tinggal dulu ya." Pamit Nurul yang merasa kurang nyaman berada diantara mereka berdua.
Nara dan Septian sama sama mengangguk. Nurul kemudian pergi menuju tempatnya.
"Pulang yuk." Ajak Nara.
Septian segera mengangguk. Kalau dia menolak pulang, yang ada Nara akan mikir macam macam nanti.
"Ikut abang pamit ke Samsul dulu yuk."
Septian menggandeng Nara menghampiri Samsul yang tampak sibuk.
"Sul, gue pulang dulu ya."
"Jangan dulu dong Sep. Ini Pak Camat bentar lagi mau datang."
"Loh kok ada Pak Camat segala."
"Ceritanya panjang. Mending sekarang lo bantuin check sound sama bikin panggung dadakan."
"Acaranya kok tumpang tindih gini sih. Kenapa pula acara pengobatan gratis pakai dicampur sama santunan segala. Terus Pak Camat pakai hadir lagi, repot kan jadinya." Gerutu Septian.
"Ayo lah Sep bantuin jangan pulang dulu. Mbak, suaminya saya pinjam dulu ya." Samsul minta ijin pada Nara.
Septiann menoleh pada Nara. Dia tak enak hati jika harus menolak ajakan Nara pulang. Tapi meninggalkan acara ini, rasanya seperti kurang bertanggung jawab. Gimanapun, dia sudah masuk dalam daftar panitia.
"Ya udah abang bantuin aja." Jawab Nara.
"Terus kamu? Aku cariin Sarah ya, biar nemenin kamu pulang."
Nara menggeleng. "Aku disini aja. Lagian bosen dirumah."
"Ya udah kalau gitu." Septian mencarikan tempat duduk yang nyaman untuk Nara. Dia juga mengambilkan sebotol air meniral, cemilan dan juga sobekan kardus untuk kipas biar gak gerah.
Nara melihat anak anak yatim yang sudah pada datang. Tampak sekali raut jenuh di wajah wajah mereja. Mereka terpaksa menunggu lebih lama dari waktu yang ditentukan karena masih harus menunggu kedatangan Pak Camat.
Nara yang melihat ada Sarah, segera memangilnya. Dia menyuruh Sarah membeli berbagai macam snack serta minuman dalam jumlah yang lumayan banyak.
Setelah Sarah mendapatkan apa yang diminta Nara. Kedua wanita itu segera menghampiri anak anak.
"Pagi menjelang siang adik adik...Bosen ya nunggu lama?" Sapa Nara dengan suara lantang.
"Bosen.. "
"Panas.."
Jawab mereka sambil berteriak. Anak anak yang rata rata masih SD itu berjumlah hampir 30 anak.
"Kenalkan, nama kakak Nara, dan ini Kak Sarah." Lanjut Nara sambil menunjuk Sarah. "Gimana biar gak bosen, kita main game?" Ajaknya penuh semangat.
"Game apa kak?"
Nara meletakkan telunjuknya dikening. Mata sengaja dia pejamkan seolah olah sedang berfikir keras.
"Gimana kalau tebak tebakan sambil berhitung. Main game matematika."
"Gak suka, susah." Sahut seorang anak perempuan yang berumur sekitar 10 tahun.
"Emang matematika susah ya?" Tanya Nara.
"Susah... " Jawab mereka kompak.
"Kakak punya cara mudah lo buat belajar matematika. Mau gak kakak ajarin cara berhitung cepat?"
"Mau... "
Berbekal ilmunya dibidang matematika, Nara mengajari anak anak yang rata rata SD itu cara berhitung cepat dan mudah. Nara menjelaskan dengan sangat simpel dan mudah dimengerti, membuat mereka antusias belajar.
Setelah belajar menghitung cepat. Nara dan Sarah memberikan game. Dan hadiahnya, sudah tentu snack dan minuman. Ternyata mereka sangat bersemangat. Suasana menjadi sedikit riuh karena teriakan teriakan mereka saat berebut menjawab. Tapi tak ada yang merasa terganggu. Justru orang orang yang selesai periksa kesehatan, ikut menonton keseruan mereka.
Septian memperhatikan dari jauh sambil senyum senyum. Dia tak menyangka Nara punya ide untuk menghilangkan kejenuhan anak anak.
Nurul, wanita itu juga sesekali memperhatikan Nara. Tidak hanya Nara, dia juga memperhatikan Septian yang menatap istrinya sambil tersenyum. Terlihat sekali percikan percikan cinta dimatanya.
Dulu, tatapan seperti itu yang sering Septian berikan padanya. Tapi sekarang, sudah bukan untuknya lagi, melainkan untuk wanita lain yang sudah menjadi kekasih halalnya.
"Gimana adik adik, matematika tidak sulitkan?" Tanya Nara setelah game selesai karena hadiah sudah habis.
"Tidak..."
"Kak Nara." Seorang gadis kecil mengangkat tangannya. "Kak Nara kok pintar sekali. Kak Nara guru ya?"
"Kak Nara itu dosen," jawab Sarah.
"Apa itu dosen?" Tanya bocah laki laki kecil sekitar kekas 1 SD.
"Universitas, tempat apa itu?" tanyanya lagi.
Sarah berdecak. Kalau sudah seperti ini, dia malas sekali menanggapi. Memang susah menjelaskan pada anak kecil dengan tingkat keingin tahuan yang tinggi.
"Universitas itu, tempatnya mahasiswa belajar. Mahasiswa itu, seperti kakak kakak disana, yang pakai jaket biru." Nara langsung memberi contoh sebelum bocah itu bertanya, apa itu mahasiswa.
Mereka menoleh kearah gerombolan mahasiswa yang memakai jaket almamater. Tapi, bocah laki laki kecil itu seoalah masih menyimpan ribuan stok pertanyaan dikepalanya.
"Kak Nara mengajar mereka?"
"Bukan mereka, tapi seperti mereka."
"Masak Bu Gurunya, sama muridnya, tuaan muridnya?" Nara dan beberapa orang yang melihat seketika tergelak. Nara terlalu awet muda diusia 26 tahun. Membuat dia terlihat lebih muda dari pada mahasiswa. Bahkan cocok sekali menjadi maba.
"Ingat ya adik adik. Matematika itu tidak sulit. Kalau kita ingin mudah dalam belajar, kuncinya cintai dulu pelajaran itu. Jika kita menyukai matematika, kita akan lebih mudah mempelajarinya."
"Oh... berarti Kak Nara menyukai matematika dong."
"Enggak, Kak Nara menyukai Bang Asep." Tiba tiba saja Septian menyahut.
"Huu...." Anak anak yang sudah lumayan besar dan beberapa panitia langsung menyoraki.
"Apaan sih bang malu Tauk." Lirih Nara sambil mencubit lengan Septian yang sekarang berdiri disebelahnya. "Gak tahu tempat banget sih. Masak didepan anak anak ngomong gitu."
"Kak Naranya udahan dulu ya. Dedek bayinya minta istirahat. Pak Camat sudah datang. Kalian kembali kekursi masing masing dan bersikap yang sopan."
"Baik kak." Jawab mereka kompak.
Septian menggandeng Nara pergi. Acara inti akan segera dimulai. Dia mengajak Nara istirahat ditempat yang sedikit sepi.
"Istri abang pinter banget sih. Bangga deh yang sama kamu." Puji Septian sambil membuka seal air mineral lalu menyerahkannya pada Nara.
Nara meringis, perutnya merasakan seperti tadi. Seperti sebuah kontraksi. Tak terlalu sakit, dan hanya sebentar saja.
"Kenapa?"
"Gak papa. Pengen pipis."
"Ya udah, ayo abang anter. Habis itu kita pulang. Abang takut kamu kecapekan."
Nara mengangguk. Setelah dari toilet, mereka segera pulang kerumah.
Sesampainya dirumah, Nara segera istirahat. Dia merasa sangat lelah berjalan bolak balik dari rumah ke balai desa.
Melihat Nara yang kelelahan, Septian segera memijit kakinya.
"Enak banget pijitan kamu bang. Setelah kaki, punggung sama pinggang sekalian ya."
"Ngelunjak."
Nara langsung tergelak. Dia merasa pinggangnya sedikit sakit, rasanya seperti orang yang hendak datang bulan.
Sesuai permintaan, Septian duduk dibelakang Nara sambil memijat punggung dan pinggang belakang wanita itu.
Nara sampai terkantuk kantuk saking nikmatnya pijitan suaminya. Tapi bukan Septian namanya jika tidak iseng. Tangannya bergerak kedepan dan memijat dada Nara.
"Abang.. yang benar dong mijitnya." protes Nara.
"Takutnya bagian ini juga pegel. Makin besar pasti makin berat."
"Halah, modus kamu."
Septian makin gencar memijit bagian dada. Tangannya bahkan sudah menelusup kedalam baju Nara. Memijit dan memainkan puncaknya hingga Nara beberapa kali melenguh nikmat.
Hasrat keduanya sama sama naik. Septian membalikkan tubuh Nara dan langsung mencium bibirnya. Cuaca yang panas tak menyurutkan gairah mereka berdua. Keduanya sama sama terbakar gairah.
Tanpa perlu diberi aba aba, keduanya kompak melucuti pakaian masing masing. Kembali berciuman panas dan mulai memberikan sentuhan sentuhan diarea sensitif lawan.
Saat hendak melakukan menyatukan, Septain ingat jika ranjangnya tak begitu kuat. Jadi dia mencari alternatif lain. Dengan dirinya yang berdiri lantai dan Nara diatas ranjang, membuat tekanan pada ranjang tak terlalu berat.
Nara terus membekap mulutnya. Dia tak mau suara suara sumbang sampai terdengar keluar kamar. Cukup suara ranjang berderit saja yang menjadi backsound.
Mereka melayang bersama dengan bermandikan peluh. Cuaca yang panas sama sekali tak mengurangi kenikmatan yang mereka rasakan. Apalagi saat mencapai puncak, kenikmatannya seperti tiada tara.
Keduanya sama sama mengatur nafas sambil bertatapan setelah gelombang dahsyat menghantam mereka. Septian masih membiarkan miliknya terbenam disurga dunia sambil meresapi sisa sisa per cintaan.
Setelah beberapa saat, dia baru mengeluarkan miliknya. Tapi bersamaan dengan itu, keluar juga lendir cukup besar bercampur sedikit darah. Septian langsung gemetaran, dia takut jika aktivitas yang barusan mereka lakukan membahayakan janin.
"A, apa ini Ra." Septian menunjuk lendir yang berada diatas sprei.
Nara bangun dan ikut memperhatikannya. Dia juga merasa takut.
"Kenapa keluar seperti itu bang?"
"Abang gak tahu Ra. Biasanya juga gak pernah. Apa abang terlalu dalam ya, atau terlalu cepat, atau, atau..." Septian makin cemas.
"Ada yang sakit gak?"
Nara menggeleng, dia tak merasakan sakit apapun.