
Jangan pernah takut untuk gagal. Mungkin ungkapan itu berlaku untuk sebagian orang, tapi tidak untuk Septian. Dia takut gagal, bahkan sangat takut. Apa mungkin dulu dia terlalu tergesa gesa saat menerima bantuan modal dari papa? Tidak memikirkan matang matang dulu.
Sekarang dia yang pusing sendiri. Dia merasa sangat tertekan. Papa memang tidak menekannya. Tapi tanggung jawab yang ada dipundaknya seolah olah menekannya kuat. Dia takut mengecewakan papa jika gagal. Dia takut dianggap tak bisa mempertanggungjawabkan modal dari papa.
Sudah hampir dua minggu usaha coffe shop berdiri. Tapi bukannya ramai, tapi makin sepi. Orang yang dia harapkan bisa mendukungnya, malah mendiamkannya. Hanya bicara secukupnya saat ditanya. Membuatnya tak bisa berkeluh kesah.
Shaila yang melihat wajah keruh abangnya, datang dengan membawakannya puding.
"Makan dulu bang."
"Gak selera Sha."
"Sha tahu abang lagi banyak pikiran. Maka dari itu, perut tak boleh kosong, agar otak bisa terus bekerja."
"Sok tahu." Cibir Septian sambil meraih piring berisi puding yang dibawa Shaila.
"Kamu yakin gak mau lanjut kuliah Sha?"
Shaila menggeleng. "Mau ambil kursus aja bang. Tapi masih belum ada uang, jadi kapan kapan aja."
"Nyari uang itu susah ya Sha. Abang bangga sama ibu dan ayah. " Mata Septian seketika berkaca kaca. Mendadak dia rindu pada kedua orang tuanya.
"Sebagai janda, ibu bisa menghidupi 3 anak. Tak pernah sekalipun mendengar ibu mengeluh. Sadangkan ayah, walau hanya operator pabrik, dia mampu menafkahi ibu dan ketiga anaknya. Walaupun tak bisa dibilang berkecukupan, setidaknya kita tak pernah sampai kekurangan makan."
Shaila menarik kursi lalu duduk disebelah abangnya.
"Abang juga hebat kok. Abang sebagai anak lelaki satu satunya, bisa menggantikan peran ayah. Sha tahu, abang selalu ngasih ibu uang tiap bulan." Shaila menyandarkan kepalanya dibahu Septian.
Septian tersenyum getir. Rasanya, dia tak sehebat ayahnya untuk bisa dipuji seperti itu.
"Dulu Sha, tapi sejak abang menikah, ibu menolak uang dari abang. Ibu ingin abang menggunakan uang itu untuk menafkahi istri abang. Tapi yang ada, abang masih juga tak mampu menafkahi istri abang dengan baik."
"Abang ada masalah dengan Kak Nara?"
"Masalah kecil. Biasah, tahun pertama pernikahan, ujiannya tentang penyesuaian diri. Kita yang awalnya sendiri, sekarang berdua. Dan untuk menyatukan dua kepala itu, tidak mudah. Butuh banyak kesabaran, menekan keegoisan, dan berusaha menerima kekurangan pasangan."
"Yang sabar ya bang." Shaila menepuk pelan punggung abangnya. Saat melihat jam, ternyata sudah pukul 10 malam.
"Shaila pulang dulu ya bang. Ibu selalu nungguin. Dia tak pernah bisa tidur kalau Sha belum pulang. Jadi Sha gak mau pulang telat, kasihan ibu nungguin."
"Abang Kayaknya pengen pulang kerumah deh Sha. Kangen sama ibu. Pulang sama abang aja nanti. Kamu telepon ibu gih, bilang kalau pulangnya agak maleman bareng sama abang. Suruh ibu gak usah nungguin."
"Beneran kangen ibu kan? bukan karena berantem sama kak Nara?" Shaila mencium bau bau tak sedap.
"Ya beneran kangen ibu lah Sha." Jawab Septian sambil tersenyum. Dia lalu mengambil ponsel untuk menelepon Nara. Tapi tak diangkat, mungkin sudah tidur. Jadilah dia hanya mengirim pesan kalau malam ini menginap dirumah ibu.
...****...
Lastri kepikiran saat Shaila bilang akan pulang bersama abangnya. Sejak menikah, Septian tak pernah menginap disini tanpa Nara. Paling hanya berkunjung sebentar lalu pulang. Dan malam ini, putranya itu akan menginap, menimbulkan sebuah pertanyaan besar. Apakah sedang ada masalah dalam rumah tangganya?
"Assalamualaikum." Ucap Shaila pelan saat baru memasuki rumah. Dia memang membawa kunci sendiri. Tak mau merepotkan ibu ataupun Sarah saat dia pulang malam.
"Waalaikum salam." Jawab Lastri yang ternyata sedang menunggu sambil tiduran di sofa ruang tamu.
"Loh, ibu kok belum tidur? Shaila kan udah bilang gak usah nunggu." Shaila menghampiri ibunya lalu mencium takzim punggung tangan beliau.
"Ibu kangen sama abang, jadi ibu tungguin." Setelah Shaila, ganti Septian yang salim dengan ibunya.
"Maaf ya Bu, Septian jarang kesini akhir akhir ini. Sibuk sama usaha baru."
"Gak papa." Jawab Lastri sambil memeluk putranya. "Makan yuk, Ibuk sudah masak ayam ungkep sama sambel Ijo kesukaan kamu."
"Aku langsung tidur aja ya Bu." Ujar Shaila.
"Anak perawan paling anti makan malam bu. Takut gemuk pasti dia." Ledek Septian..
"Ya udah, abang aja yang makan. Ayo ibu temenin kedapur."
Sementara Septian membersihkan diri dikamar mandi. Lastri menyiapkan makanan yang sengaja dia masak dadakan setelah Shaila telepon tadi.
Sepiring Nasi, sepiring ayam goreng yang sebelumnya diungkep dengan bumbu. Dan secobek sambel Ijo.
"Tumben Bu, malam malam makanannya masih banyak gini?" Tanya Asep yang baru datang dan langsung menarik kursi. "Jangan jangan ibu sengaja masak karena Shaila bilang abang mau pulang ya?"
"Emang apa salahnya ibu sengaja masak buat kamu. Anak lama gak nginep sini, masak datang gak dijamu." Sahut ibu sambil ikut duduk didepan Septian.
Septian mengambil sepotong paha ayam serta satu sendok sambal yang langsung dia taruh diatas ayamnya.
"Ibu gak makan?"
"Udah tadi."
Septian tampak sangat lahap menyantap makanannya. Rasa makan dirumah sendiri dan dirumah mertua sangat beda. Apapun lauknya, bahkan mungkin hanya satu macam saja, rasanya sudah sangat nikmat.
"Makan yang banyak Sep. Ibu lihat, kamu kurusan." Ujar ibuk yang memperhatikan putranya.
"Masak sih Bu?"
"Kamu lagi ada masalah?"
"Gak ada buk."
"Udah aku kasih tahu kok bu."
"Nambah lagi." Ucap ibu saat makanan yang ada dipiring Septian hampir habis.
"Ini lagi mau berdiri. Mau ngambil nasi lagi." Sahut Septian sambil terkekeh lalu berdiri untuk mengambil nasi yang ada dimagigcom.
"Ibu tinggal sholat dulu ya."
"Iya bu."
Lastri ke kamar mandi untuk mengambil wudlu. Tadi dia sempat ketiduran sebentar. Jadi sekarang dia hendak sholat tahajud.
Setelah makan dan membereskan sisa makanan. Septian menyusul ibunya ke mushola kecil yang ada dirumahnya.
"Mau langsung tidur bang?" Tanya ibu yang melihat Septian datang. Dia sudah selesai sholat, tapi masih ingin duduk lebih lama untuk berdzikir.
Septian masuk kedalam mushola lalu duduk disebelah ibunya.
"Cerita sama ibu kalau ada masalah. Mungkin ibu tak bisa bantu, tapi setidaknya, bisa melegakan hati kamu."
Septian merebahkan kepalanya dipangkuan sang ibu. Dulu, dia dan adik adiknya, suka berebut posisi ini. Dan sudah tentu, Sarah si bungsu yang bakalan menang.
"Ada apa?"
"Aku pusing bu, cafe sepi."
"Namanya juga usaha Sep. Gak selalu langsung berhasil. Ibu dulu buka toko juga gak langsung ramai. Jualan awalnya dikit, gak lengkap, lama lama alhamdulillah bisa lengkap, jadi makin ramai. Rejeki sudah ada yang ngatur, yang penting selalu berdoa dan berusaha." Ujar ibu sambil memijit mijit kepala Septian.
"Doain Septian ya buk. Semoga bisa menjadi orang yang sukses."
"Amin... tanpa kamu mintapun, ibu selalu mendoakanmu. Mendoakan Shaila, Sarah, dan Nara. Oh iya, Nara bukannya sudah waktunya lahiran?"
"Belum Bu, mungkin sebulan lagi."
"Melahirnya itu kadang juga bisa maju loh Sep. Kayak dulu Sarah, maju 2 minggu dari HPL. Adik kamu itu Kayaknya gak betah didalam perut lama lama. Lihat aja sekarang, dia itu gak bisa diam, beda dengan Shaila. Kalau Shaila itu lebih pendiam, gak banyak omong dan gak pecicilan." Ibu jadi teringat pengalamannya waktu hamil dan melahirkan 3 kali.
"Sering sering ajak Nara jalan jalan, biar lahirannya gampang. Posisi janinnya udah baguskan? Kalau belum, biasanya kalau ibu dulu, disuruh posisi kayak sujud gitu, biar bisa mapan janinnya. Selain itu juga belajar cara pernafasannya saat melahirkan."
"Nara gak mau lahiran normal bu."
"Hah!" Ibu mengernyit heran. Dia saja dulu selalu berharap bisa normal. Takut kalau sampai sc. Selain karena faktor biaya, juga karena proses penyembuhan yang lebih lama.
"Kenapa?"
"Takut sakit katanya."
"Kata ibu ibu disini, sc lebih sakit loh. Setelah obat biusnya hilang, katanya sakit sekali, panas gitu. Mau gerak susah, mau apapun juga susah. Kalau lahiran normal mah, habis berojol udah lega. Gak ada sakit sakitnya lagi."
"Nara minta yang mahal Bu. Gak sakit kali kalau yang mahal."
"Bisa gitu ya? emangnya berapa kalau yang malah?"
"50 juta."
"Masyaallah." Ibu sampai teriak saking kagetnya. Baru tahu ada biaya persalinan semahal itu. "Emang kamu ada uang segitu?"
Septian menggeleng.
"Terus?"
"Makanya aku bingung Bu. Nara bilang, mama yang mau biayain. Tapi aku gak enak bu. Masa sebagai suami, aku gak ada andil apapun. Kemarin acara tujuh bulanan, semua orang tua Nara yang biayain. Aku gak begitu keberatan karena kebanyakan teman teman dan kerabat mereka yang datang. Tapi pas lahiran, Pengennya aku yang biayain. Tapi kalau 50 juta, mana ada aku uang segitu."
Ibu mengelus dada. "Kalaupun ada, apa gak sayang uang segitu dibuat lahiran. Kalau memamg bisa normal, lebih baik normal, lebih murah. Kemarin Si Nayla, baru melahirkan di Bu bidan Linda. Katanya cuma sekitat 2 juta bayarnya. Selain itu, Bu Linda dan asistennya sangat sabar dan telaten. Coba kamu bujuk Nara lagi. Siapa tahu dia mau lahiran normal."
Ibu menceritakan pengalamannya tiga kali melahirkan di bidan. Septian yang lelah sampai ketiduran karena serasa didongengin.
...*****...
Nara terbangun tengah malam karena ingin buang air kecil. Tapi dia kaget saat tak menemukan Septian disebelahnya. Sekarang sudah hampir jam 3 dini hari. Takkan coffee shop masih buka?
Setelah selesai buang air, dia langsung mengambil ponsel untuk menghubungi Septian.
Ternyata ada 2 panggilan tak terjawab dan pesan dari Septian.
(Abang malam ini Nginep dirumah ibu)
Nara mengernyit heran. Selama ini, belum pernah suaminya itu menginap dirumah ibu tanpa dirinya. Lalu kenapa malam ini tiba tiba menginap?
Nara mencoba menghubungi Septian. Tersambung tapi tak diangkat.
"Angkat dong bang." Nara bermonolog saking gemesnya. Hingga panggilan ke 5, tetap juga tak diangkat. Dia ganti menelepon Shaila, tapi ponselnya malah gak aktif.
Penyakit over thinkingnya kembali kambuh. Dia takut jika Septian ternyata tak menginap dirumah ibu. Bagaimana jika suaminya itu malam ini malah ons sama perempuan lain.
Nara ingat jika setelah penolakannya pagi itu, Septian tak pernah minta lagi. Bahkan saat malam jumatpun, suaminya itu tak minta jatah. Apa itu artinya, suaminya udah dapat dari wanita lain?
"Abang dimana sih bang.... kenapa gak angkat telepon aku?" Nara mondar mandir gak jelas. Rasa ngantuknya hilang, pikirannya melayang kemana mana