Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
TAKUT


Sesampainya dirumah, Arumi mengerutkan kening melihat mobil Abi yang masih terparkir digarasi. Dia tadi memang minta ijin keluar jalan jalan saat Abi masih tidur. Takut kesiangan dan tak bisa membeli cilor kesukaannya yang tiap minggu pagi mangkal di sekitar taman.


Saat memasuki kamar, dilihatnya Abi masih tidur. Dengan senyum mengembang dihampirinya suaminya itu lalu duduk disebelahnya.


"Mas, kamu gak kerja?" Tanya Arumi sambil mengusap lengan Abi.


"Kamu lupa hari ini minggu." Jawab Abi dengan nada kesal karena Arumi mengganggu tidurnya.


"Bukankah biasanya setiap minggu kamu lembur."


"Jadi kamu gak suka aku libur?" Salak Abi.


"Ya suka lah mas. Banget malahan."


Arumi berbaring disebelah Abi sambil melingkarkan tangan diperutnya suaminya. Walaupun agak sulit karena terhalang perutnya yang sudah buncit.


"Kamu ngerasa gak sih mas, kalau kita semakin jauh. Kita tinggal satu atap, tapi kenapa rasanya kita sangat jauh. Kamu ada didekatku, tapi rasanya sulit untuk digapai. Setiap hari, aku melihatmu, tapi rasanya, aku sangat merindukanmu." Ujar Arumi dengan mata mulai berkaca kaca. Impian rumah tangga bahagia bersama Abi sepertinya memang hanya sebatas impian.


Tangan Arumi mulai masuk kedalam kaos Abi dan membelai perut serta dada suaminya. Rasanya, dia sangat menginginkan pagi ini. Sudah terlalu lama Abi tak menyentuhkan. Mungkin sejak pertengkaran dan pertengkaran yang terus terjadi. Dan semua itu, bermula sejak mereka tahu jika anak dalam kandungan Arumi mengidap down syndrome.


"Aku kangen kamu Mas." Ucap Arumi sambil mulai mencium leher Abi. Memberikan rangsangan agar suaminya itu mau memberikan nafkah batin yang sudah lama tidak dia dapat.


"Aku laper Rum." Ujar Abi sambil menyingkirkan tangan Arumi dan mengubah posisinya menjadi duduk.


"Kenapa kamu berubah dingin seperti ini Mas? Kamu bahkan tak pernah menyentuhku lagi." Ujar Arumi sambil menangis.


"Gak usah mulai deh. Pagi pagi gak usah drama. Aku laper, kamu udah masak belum?"


Abi meraih ponsel diatas nakas. Mengecek apakah ada email atau pesan penting yang masuk.


Arumi hanya bisa menghela nafas sambil menyeka air matanya. Ya, sepertinya, dia harus memperbanyak stok sabar.


"Mas, apa kamu sudah tahu kalau Nara udah nikah?"


Ponsel ditangan Abi hampir saja jatuh saking kagetnya. Dia sama sekali tak tahu soal ini. Nara sudah memblokir nomor ponsel dan semua sosial medianya.


"Darimana kamu tahu?" Tanya Abi sambil berusaha fokus pada ponsel. Walaupun sebenarnya, banyak sekali pertanyaan dibenaknya. Salah satunya, benarkah Nara sudah move on darinya?


"Bulan lalu, aku ketemu Nara didokter kandungan."


Abi makin syok lagi mendengarnya.


"Nara sudah hamil mas."


Abi meremat sprei sambil memejamkan matanya. Ada rasa tak terima jika secepat ini Nara melupakannya. Bukankah masih belum genap 6 bulan mereka berpisah. Tapi Nara sudah hamil. Kapan dia menikah?


"Ka, kamu bertemu suaminya?" Tanya Abi sambil menoleh kearah Arumi yang sekarang duduk disebelahnya.


Arumi menjawabnya dengan anggukan kepala..


"Apa kamu mengenalnya?" Abi sungguh penasaran dengan sosok suami Nara.


"Tidak. Tapi sepertinya mereka saling mencintai. Mereka terlihat sangat harmonis."


Rahang Abi mulai mengeras. Berbagai dugaan muncul dibenaknya. Apakah Nara juga punya selingkuhan waktu mereka masih berhubungan dulu? Kalau tidak, mana mungkin dia bisa move on dan menikah secepat ini?


"Kenapa kamu terlihat marah?"


"Aku hanya tak menyangka saja, kalau Nara bisa melupakanku secepat ini."


Arumi menyeringai kecil. Dia tahu jika suaminya itu marah, atau mungkin cemburu.


"Bukankah itu bagus. Kamu tak perlu lagi merasa bersalah. Dia sudah bahagia sekarang."


Arumi memeluk Abi dari samping dan menyandarkan kepalanya di dada Abi.


Abi terdiam, benarkan dia Nara sudah bahagia sekarang? Kenapa rasanya, dia masih tak rela.


"Dia sudah bahagia mas. Dan kitapun juga harus bahagia." Arumi mulai menyentuh bagian sensitif Abi. Berusaha memberi rangsangan lebih agar Abi tak menolaknya kali ini.


Sepertinya usahanya berhasil. Abi mengangkat wajahnya lalu mencium bibirnya dengan rakus. Tak memberi jeda sedikitpun untuk Arumi mengambil Nafas. Hingga mau tak mau, Arumi mendorongnya agar ciuman mereka terlepas. Setelahnya Arumi mengambil nafas sebanyak banyaknya lalu mulai membalas ciuman Abi.


Mereka berdua larut dalam permainan panas. Permainan yang sudah lumayan lama tak mereka lakukan. Hingga pagi ini, semua dahaga itu terasa terobati.


Tapi dibalik kenikmatan itu. Hati Arumi menangis. Seperti inilah sejak dulu. Dia hanya pelampiasan disaat Abi sedang ada masalah dengan Nara. Dulu, saat Abi bertengkar dengan Nara. Atau jika Abi kesal karena Nara yang terlalu sibuk hingga tak ada waktu untuknya, Arumi tempatnya berlari. Arumi tempatnya berkeluh kesah. Hingga tubuh Arumilah, tempatnya meluapkan kekesalan dengan cara yang nikmat.


Dulu, tubuh Arumi adalah obat untuk melampiaskan kekecewaananya pada Nara. Pada kekasih yang lebih mengutamakan pendidikan daripada dirinya. Dan tampaknya, Sekarangpun masih demikian. Arumi tak lebih hanyalah tempat pelampiasan.


...******...


Nara mengaduk aduk siomay nya. Tadi saat melihat penjual siomay, dia yang paling semangat beli. Tapi saat waktunya makan, dia tampak tak ada selera.


"Pare nya buat abang ya Ra. Kamu kan gak suka pahit." Septian mengambil beberapa potong Pare dari piring Nara.


"Ra." Septian menepuk bahu Nara. Membuat wanita itu seketika menoleh kearahnya.


"Kok gak dimakan? gak enak?"


"Enak kok." Jawab Nara sambil kembali fokus pada makanan didepannya.


"Mau abang suapin?"


Nara menggeleng pelan sambil tersenyum lalu memasukkan sepotong siomay kedalam mulutnya.


Setelah sholat dzuhur, mereka pamit pulang. Tapi selama dalam perjalanan, Nara tak bicara sepatah katapun. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu. Tapi tiap ditanya, selalu bilang gak ada apa apa. Septian jelas dibuat bingung dengan perubahan sikap istrinya. Apalagi, dia tak tahu apa yang diomongin Nara dan Nurul tadi.


Sesampaimya dirumah, setelah ganti baju, Nara langsung merebahkan diri diatas ranjang.


"Pasti capekkan, tadi jalan jalan dipasar? Abang pijitin ya?" Septian yang duduk disisi ranjang segera memijit kaki Nara.


"Gak usah bang." Sahut Nara sambil menarik kakinya.


"Kamu marah sama abang?"


Nara menggeleng. "Aku ngantuk bang. Aku tidur dulu ya." Jawab Nara sambil menarik selimut lalu memejamkan matanya.


"Gak makan siang dulu Ra?"


"Masih kenyang." Jawabnya dengan mata yang masih setia terpejam.


Septian menghela nafas lalu naik keatas ranjang dan merebahkan tubuhnya disamping Nara. Sebenarnya dia juga ingin tidur, mengingat nanti malam dia kerja. Tapi apa daya, matanya sama sekali tak mau terpejam. Dia terus kepikiran tentang perubahan sikap Nara.


Nara yang baru bangun melihat Septian yang sibuk didepan laptop. Kalau biasanya, dia pasti langsung menghampiri dan memeluk dari belakang. Tapi kali ini, dia memilih masuk kamar mandi dan menyiapkan air untuk berandam.


"Mau berendam ya?" Tanya Septian yang tiba tiba sudah ada dikamar mandi.


"Hem."


"Mau abang bantu gosokin punggung gak?"


"Gak perlu."


Penolakan yang membuat Septian makin yakin jika istrinya itu sedang marah.


"Ya udah, kalau gitu, kamu yang bantu gosok punggungnya abang ya?"


"Ini udah sore bang. Bentar lagi abang harus kerja. Gak papakan kalau abang mandi dikamar mandi dekat dapur. Aku mau berandam soalnya, jadi agak lama."


"Ya udah kalau gitu. Abang keluar ya."


Nara mengangguk. Sedangkan Septian, rasanya berat sekali untuk melangkah keluar. Perubahan sikap Nara membuatnya pusing tujuh keliling.


Nara tak menemukan Septian didalam kamar selesai dia mandi. Mungkin suaminya itu sudah berangkat kerja. Dia duduk didepan meja rias sambil mengeringkan rambutnya.


Tapi tak berapa lama, Septian masuk kedalam kamar dengan membawa sebuah nampan.


"Abang belum berangkat?" Tanya Nara yang heran karena Septian masih dirumah.


"Abang ijin hari ini." Septian terpaksa membujuk temannya agar mau tukar jadwal dengannya. Dan itu artinya, besok dia harus kerja dua shift sekaligus karena harus menggantikan jadwal temannya.


"Makan yuk, abang buatin omelet nih." Selama menunggu Nara mandi, dia menyiapkan makanan kesukaan istrinya itu.


Septian meletakkan nampan diatas ranjang lalu meraih tangan Nara dan menuntunnya untuk duduk di sisi ranjang.


Mata Nara berkaca kaca melihat omelet yang diatasnya diberi saus yang dibentuk love.


"Abang buat sendiri, bukan nyuruh bik Surti. Spesial buat istri tercinta."


Sontak Nara tak bisa menahan air mata mendengarnya.


"Cobain ya." Septian memotong menggunakan pisau lalu menusuknya dengan garpu. Dengan senyuman yang begitu tulus, dia lalu menyuapkannya pada Nara.


"Enak gak?"


Nara mengangguk cepat sambil terus mengunyah omelet yang ada didalam mulutnya.


Septian meminggirkan nampan berisi omelet lalu menggeser duduknya mendakati Nara. Menyeka air matanya lalu membawa Nara kedalam pelukannya.


"Maafin abang jika udah menyakiti perasaan kamu."


Nara makin tergugu mendengarnya. Apakah dia marah? Tidak, dia sama sekali tak marah pada Septian. Dia hanya sedang tak yakin pada dirinya sendiri. Sosok Nurul yang tampak begitu sempurna membuatnya insecure. Apalagi mengingat jika putusnya Nurul dan Septian bukan karena keinginan mereka. Tapi situasi yang memaksa mereka putus. Beda dengan dirinya dan Abi yang berakhir karena pengkhianatan.


Nara hanya sedang takut. Takut tak bisa menjadi sosok istri idaman bagi Septian. Ada bayangan Nurul yang sewaktu waktu bisa menggantikan posisinya. Jika dulu, sahabatnya sendiri tega menikungnya. Lalu bagaimana dengan Nurul, yang jelas jelas tak ada hubungan apa apa dengannya.