Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
OEK OEK


Septian panik melihat kasur yang sampai basah. Dia gegas memanggil ibunya yang kebetulan sedang memasak.


Bu Lastri tergopoh gopoh menuju kamar Septian untuk melihat kondisi Nara. Dan sebagai orang yang berpengalaman, Bu Lastri jelas tahu apa yang terjadi pada Nara. Dia meminta Septian membantu Nara membersihkan diri dan ganti baju. Setelah itu mereka bertiga langsung menunju kediaman Bu Linda yang hanya berjarak beberapa rumah dari rumahnya.


Sesampainya disana, mereka langsung disambut oleh Azizah, anak Bu Linda. Azizah masih dalam pendidikan dokter gigi saat ini.


"Zah, ibu ada?" Tanya Bu Lastri.


"Ibu lagi gak ada dirumah. Tadi pergi keseminar lalu mampir ketempat saudara."


"Waduh." Septian langsung panik, begitu juga dengan Nara. Apalagi saat ini, Nara mulai merasakan kontraksi. Walaupun tak begitu sakit dan jaraknya cukup lama.


"Nara mau melahirkan ya?" Tanya Zizah sambil melihat kearah Nara yang sedang memegangi perutnya.


"Kayaknya sih iya Zah. Barusan dia pecah ketuban." Jawab Septian.


"Udah pecah ketubannya? Harus segera ditangani. Yuk masuk." Zizah minggir dari pintu untuk memberi jalan pada mereka.


"Emang lo bisa nanganin orang mau lahiran?" Septian jelas ragu. Apakah calon dokter gigi bisa menangani orang melahirkan.


"Ada Nurul didalam, biar dia yang tangani dulu. Aku telepon mama biar cepat pulang."


Mata Nara terbelalak. Nurul? kenapa harus dia. Diantara sekian banyak bidan di Jakarta, kenapa harus dia yang sekarang ada dirumah Zizah.


Septian menatap Nara. Dia ingin bertanya tentang kesediaan Nara. Dia tak mau Nara tak nyaman saat melahirkan.


"Nurul profesional kok. Kesampingkan dulu urusan pribadi." Ucap Zizah yang bisa melihat keraguan diwajah Nara dan Asep. "Aku hubungi mama supaya cepat pulang. Jadi Nurul hanya memeriksa sementara."


"Asistennya ibu gak ada ya Zah?" Tanya Bu Lastri. Biasanya, dirumah Bu Linda ada anak magang.


"Gak ada Bu. Anaknya lagi sakit, jadi ambil cuti." Jawab Zizah.


"Gimana Ra, apa kita kerumah sakit saja?" Tanya Septian.


Nara sejenak berfikir. Ditangani Nurul mungkin akan terasa canggung. Tapi melahirkan dirumah sakit, akan terasa lebih menegangkan. Disini, susananya terasa mirip dirumah, jadi Nara merasa lebih nyaman. Dan mengingat Bu Linda sebentar lagi akan pulang, tak ada alasan dia harus kerumah sakit.


"Disini saja bang."


"Ibu juga lebih setuju disini." Bu Lastri menimpali.


"Iya, mending disini saja. Lagian mama pasti bentar lagi pulang. Paling satu jam lagi."


"Ayo masuk, udah mau magrib, gak baik diluar." Bu Lastri segera menggandeng tangan Nara masuk.


Azizah mengantar mereka ke ruang tindakan. Dia menyuruh Nara langsung berbaring diatas ranjang sementara dia memanggil Nurul yang ada dikamar.


Betapa terkejutnya Nurul saat mengetahui jika pasien yang hendak melahirkan adalah Nara. Azizah hanya memberitahunya jika ada yang mau lahiran, tapi tak memberitahu siapa orangnya.


"Nara." Gumam Nurul sambil mendekat kearah ranjang. Dia berusaha bersikap biasa.


"Nara sudah pecah ketuban, tolong segera ditangani." Bu Lastri angkat bicara karena Nara dan Septian hanya diam.


"Aku periksa ya Ra." Nurul segera memakai sarung tangan lalu memeriksa jalan lahir Nara.


"Udah mulai pembukaan satu. Rileks saja, biasanya kalau ketuban udah pecah, proses pembukaannya lebih cepat," terang Nurul.


Karena ketuban sudah pecah, Nurul memberikan suntikan anti infeksi pada Nara. Setelah itu, dia memberikan tips tips untuk mempercepat pembukaan.


"Aku tinggal dulu ya. Nanti kalau ada apa apa, panggil aja dari bel sini." Nurul menunjukkan letak bel pada Septian.


Nara segera menghubungi mamanya. Memberitahu jika dia akan segera melahirkan. Mama Tiur yang panik campur antusias segera meluncur bersama papa Satrio.


Sementara sambil menunggu pembukaan lengkap, Septian terus berada disamping Nara. Dia hanya beranjak sebentar untuk sholat magrib dan isyak. Setelahnya, dia sama sekali tak mau meninggalkan Nara.


Seperti kata Azizah, ba'da magrib Bu Linda sudah sampai dirumah. Setidaknya itu membuat Nara lega, tidak harus Nurul yang membantunya melahirkan.


Septian menggenggam tangan Nara saat istrinya itu meringis merasakan kontraksi yang makin lama makin sering dan makin sakit.


"Sakit banget ya?" Septian merasa tak tega.


Nara mengangguk. Dia ingin menerapkan apa yang dikatakan Kinan, menikmati prosesnya. Tapi dimana nikmatnya, rasanya sungguh sakit, batin Nara.


Septian jadi ragu sekarang, sepertinya benar kata Nara, dia terlalu egois jika menyuruh Nara lahiran normal. Karena Nara yang merasakan sakitnya, bukan dia.


"Aduh bang... " Nara menggeliat liat menahan sakit.


Septian menekan bel, dia ingin Bu Linda segera memeriksa, siapa tahu sudah waktunya melahirkan.


"Nur coba dicek. Nara udah kesakitan banget, siapa tahu udah waktunya." Ucap Septian.


Nurul segera memakai sarung tangan dan memeriksa jalan lahir Nara.


"Masih pembukaan dua Sep."


Nara seketika melongo. Susah sesakit ini masih pembukaan dua. Dia jadi ragu, mungkinkah dia sanggup menunggu dan menahan sakit hingga pembukaan sepuluh?


"Gimana sayang, kamu kuat?" Tanya mama Tiur yang ikutan cemas. Rasanya, dia ikut merasakan apa yang sedang dirasakan anaknya.


"Kuat mah." Nara berushaa tersenyum dan sok kuat. Malu kalau sampai bilang gak kuat, apalagi didepan Nurul seperti itu. Biarpun sakit, dia harus berjuang demi harga diri.


Bu Lastri datang dengan membawakan makanan. Dia ingin Nara makan lagi agar kuat saat melahirkan. Tapi Nara jelas menolak, mana ada selera makan saat sakit seperti ini.


Nara samakin kesakitan saat jam 10 malam. Rasanya dia sudah ingin mengejan. Bayinya seperti memberikan dorongan dari dalam. Tapi kata Nurul, dia belum boleh mengejan sebelum pembukaan lengkap.


"Kalau kamu gak kuat, kita kerumah sakit sekarang. Kamu lahiran sc saja." Septian seperti orang yang putus asa.


"Hus, gak boleh bilang gak kuat. Kamu itu harusnya menyemangati istri kamu." Ibu mengingatkan. "Istighfar terus Ra. Kamu wanita yang kuat, pasti bisa."


Papa Satrio yang mondar mandir diluar akhirnya masuk. Dia sungguh tak tega melihat putrinya seperti itu. Belum pernah sama sekali dia menemani orang yang mau lahiran normal.


"Gimana Ra, mau sc saja?" Tawar papa.


Bu Lastri menghela nafas. Kenapa tak ada yang mendukung Nara. Semua seolah ingin mematahkan semangat wanita itu.


"Melahirkan normal memang seperti ini Pak. Saya sudah 3 kali menjalaninya. Saya yakin Nara kuat." Bu Lastri rasanya geram sekali.


"Nara kuat kok Pah."


Nara rasanya sudah tak kuat menahan dorongan dari dalam. Anaknya terasa sudah sangat mendesak untuk keluar.


"Panggil bidan bang."


Septian segera menekan bel. Lagi lagi Nurul yang datang. Wanita berhijab itu langsung memeriksa Nara.


"Udah waktunya Ra."


Rasanya lega mendengar itu. Nara pikir masih pembukaan masih akan berjalan lambat seperti tadi. Tapi alhamdulillah, sekarang sudah saatnya melahirkan.


Nurul memanggil Bu Linda. Setelah itu mereka menyiapkan segala peralatan termasuk alas untuk melahirkan. Nurul menyuruh semua orang menunggu diluar. Hanya Septian saja yang diijinkan berada didalam.


"Ikuti instruksi dari ibu ya." Titah Bu Linda.


Bu Linda mengajari Nara cara pernafasannya dan mengejan yang benar.


Nara terus memegang tangan Septian selama proses melahirkan. Percobaan pertama, kedua dan ketiga, Nara masih gagal. Bayi itu belum juga berhasil dia keluarkan.


"Ayo Ra, coba lagi."


"Emmmpppt... "


Nara kembali mencoba saat terjadi kontraksi. Tapi hasilnya masih sama, bayinya belum berhasil keluar. Keringatnya bercucuran, tenaganya terasa terkuras.


"Usaha lebih maksimal lagi. Kalau gak keluar keluar, nanti kepala bayinya bisa lonjong. Gak ganteng kayak papanya loh nanti. Ayo, ayo, semangat." Ucapan Bu Linda membuat Nara takut. Dia tak mau kalau kepala anaknya lonjong gara gara dia sendiri.


"Ayo sayang, semangat. Kamu pasti bisa. Abang cinta sama kamu." Septian mencium kening Nara.


Nurul membuang pandangannya kearah lain. Entah kenapa, rasanya masih sakit melihat kemesraan mereka.


"Ayo dorong."


"Emmmpppt... "


"Alhamdulillah, bayinya sudah keluar." Ucap Bu Linda.


Nara dan Septian juga langsung mengucap hamdalah.


Nara merasakan tubuhnya lemas. Semua sakit yang tadi, langsung hilang. Dan air matanya bahagianya menetes saat mendengar suara tangis bayi. Orang orang yang menunggu diluar juga langsung mengucap syukur mendengar suara oek oek.


"Makasih sayang, I love you." Septian mencium kening Nara. Air matanya juga menetes. Dia terharu melihat perjuangan Nara. Dan Akhirnya, detik ini, dia sudah menjadi seorang ayah.


"Masyaallah, ganteng sekali jagoanya. Hidungnya mancung kayak papanya. Kulitnya merah, pasti nanti putih banget kayak mamanya." Puji Bu Linda. Dia kemudian memberikan bayi pada Nurul untuk dibersihkan dan diperiksa kondisi kesehatannya.