Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
ADA HATI YANG TERLUKA


Suara tangisan bayi mungil itu terdengar sangat nyaring. Nara dan Septian tak henti henti berucap syukur. Gelombang kebahagiaan seakan menghantam mereka bertubi tubi. Akhirnya setelah perjuangan, mereka merasakan kebahagiaan menjadi orang tua.


Tapi beda hal nya dengan seorang wanita yang tengah memeriksa dan membersihkan bayi mungil itu. Hatinya berdenyut nyeri. Dia tersenyum menatap bayi tampan itu, senyuman getir yang mengekspresikan perasaannya saat ini.


Ini bukan yang pertama, sudah berkali kali Nurul ikut membantu orang melahirkan. Dan setiap kali dia menatap bayi yang baru lahir, dia seakan ikut merasakan kebahagiaan orang tuanya. Tapi tidak kali ini, menatap wajah bayi yang sangat mirip dengan sang mantan, membuatnya hatinya seperti terhimpit sesuatu, sesak.


Dia sangat tampan, sepertimu Sep, batin Nurul.


"Auh... " Nara meringis saat Bu Linda menjahit miliknya. Ternyata rasanya sakit sekali. Dia pikir setelah anaknya keluar, dia sudah tak akan merasakan sakit lagi, ternyata masih harus merasakan sakitnya dijahit.


"Tahan sebentar." Ujar Bu Linda sambil terus melakukan tugasnya.


"Uh.... sakit Bu." Nara mencengkeram tangan Septian sambil meringis.


"Sakit dikit aja kok, nanti kalau udah 40 hari, dijamin jadi perawan lagi." Hibur Bu Linda. "Si Asep langsung senyum senyum tuh dibilang balik perawan." Lanjutnya menggoda Septian.


"Bisa aja ibu." Sahut Septian.


"Tapi jangan lupa KB setelah 40 hari. Ntar Asep main nyosor aja, langsung jadi deh adiknya."


Nara dan Septian langsung tergelak. Mereka tertawa lepas seperti tanpa beban. Sangat jauh berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan Nurul saat ini.


Nurul buru buru mengenyahkan perasaan itu dari hatinya. Dia menarik nafas lalu membuanganya perlahan. Dia harus terlihat profesional. Jangan sampai Nara terlebih Septian mengetahui gejolak batinnya saat ini.


"Semuanya normal, berat 2,5kg dan panjang 49." Ujar Nurul yang baru selesai memeriksa.


Septian dan Nara bernafas lega. Mereka sempat cemas karena anak mereka lahir terlalu awal, masih 37w lebih beberapa hari. Tapi syukurlah, semuanya normal meski berat badannya hanya sedikit.


Nurul menggendong bayi itu untuk ditunjukkan pada Nara. Dia bisa meliha binar kebahagiaan diwajah ibu baru itu.


"Bayi kamu sangat tampan Ra."


"Tentu saja, karena ayahnya sangat tampan." Sahut Nara sambil menatap Septian dan tersenyum.


"Saatnya untuk IMD." Ucap Nurul.


"Apa itu?" Septian sebagai ayah baru tidak mengerti istilah itu.


"Inisiasi menyusui dini. Saatnya baby belajar mennyusu." Terang Nurul.


"Ooo... " Septian ber o ria. Sedangkan Nara segera membuka bajunya. Nara sudah paham dengan istilah itu. Dia banyak membaca artikel tentang hamil dan melahirkan akhir akhir ini.


Nurul meletakkan bayi mungil yang masih merah itu didada Nara. Bayi itu segera bergerak gerak mencari sumber kehidupannya. Dan begitu mendapatkannya, seperti sudah paham, dia langsung menghisap.


"Masyaallah." Nara sungguh takjub melihatnya. Wajah bayinya benar benar mirip dengan Septian. Dan mulutnya yang mungil itu tampak sangat lucu saat meenyusu.


"Pinter banget debaynya." Ujar Bu Linda yang ikut memperhatikan. "Kuat gitu kalau nen, pasti cepet naik nanti bb nya."


"Emang asinya udah keluar ya?" Tanya Septian penasaran.


"Sepertinya belum, tapi nanti juga akan keluar. Terus saja dibuat menyusui." jawab Bu Linda.


Septian membelai kepalanya putranya. Rasanya masih seperti mimpi dia menjadi seorang ayah. Seperti baru kemarin dia menyeret Nara dari klinik aborsi. Tapi hari ini, bayi mungil itu sudah terlahir kedunia.


"Kuat banget sih kalau nen." Ujar Septian yang matanya tak pernah lepas dari menatap kedua orang yang dicintainya.


"Kayak kamu. Like father like Son."


Septian seketika tergelak.


"Wah... bisa bisa ayahnya gak kebagian jatah nih." Canda Septian sambil mengusap usap pipi anaknya.


"Anak kita ganteng banget ya bang, kayak kamu. Makin bahagia deh aku, sekarang dikelilingi cogan."


"Dih yang merasa paling cantik." Ledek Septian sambil menyebikkan bibir.


Hati Nurul terasa tercabik. Mereka berdua seolah lupa dengan keberadaannya. Tak malu mengumbar keromantisan yang melukai hatinya.


Bu Linda keluar untuk menyampaikan berita gembira ini pada keluarga Nara dan Septian. Sementara mereka belum diijinkan masuk agar Nara lebih nyaman saat IMD.


Bu Lastri tampak sangat antusias mengingat ini cucu pertamanya. Segera diraihnya bayi dalam box itu kedalam gendongannya.


Mama Tiur tak kalah antusias. Tapi dia masih harus menunggu giliran saat mau menggendong.


"Masyaallah, ganteng banget cucu nenek. Ini sih gak mirip lagi Sep, tapi persis, plek ketiplek sama kamu." Ucap Bu Lastri yang terkagum kagum dengan wajah cucunya. Bisa persis sekali dengan Septian.


"Iya Bu. Kayaknya cuma numpang lewat aja di Nara. Gak ada mirip miripnya sama dia. Padahal katanya anak cowok mirip ibunya. Ini sih mirip Septian semua." Mama Tiur ikut berkomentar.


"Waduh Ra, kalau seperti ini, wajah ganteng papa bakalan gak ada yang nerusin dong. Berhenti sampai dikamu doang."


"Hahahaha... " Kekonyolan papa Satrio langsung disambut dengan tawa renyah semua orang.


"Keponakan ganteng namamya siapa nih?" tanya Sarah.


Nara dan Septian saling pandang. Mereka belum memikirkan soal nama sama sekali.


"Kasih nama Arjuno saja." Saran papa Satrio.


"Mentang mentang papa namanya Satrio, terus cucunya Arjuno Gitu? enggak enggak Nara gak suka. Kurang kekinian."


"Tapi bagus juga nama itu Ra." Bu Lastri malah mendukung. "Dia nanti bakalan sehebat dan setampan Arjuna. Waduh waduh, bakalan jadi kesatria yang dielu elukan cucuku ini nanti."


Septian terkekeh melihat wajah kesal Nara. Dia tahu istrinya tak menyukai nama yang terkesan lawas itu.


"Arjuno, dipanggil Juno. Keren loh kak." Sarah ikut ikutan mendukung.


"Biar papanya aja yang kasih nama." Mama Tiur memberi saran. Dia bisa melihat kekesalan diwajah Nara.


"Papa itu cuma ngasih saran mah. Dipakai alhamdulillah, enggak juga gak papa." Sahut papa Satrio.


"Nanti aku dan Nara bakalan pikirin namanya." Ujar Septian.


Karena sudah tengah malam, mama Tiur dan papa akhirnya pulang. Begitu pula dengan ibu , Sarah dan Shaila. Sekarang tinggal Septian saja yang menemani Nara dan bayi mereka.


...******...


Oh mengapa harus kulihat kau dengan dirinya


Terluka tapi tak berdarah


Azizah dengan jahatnya malah menyanyikan potongan lagu milik Arvian dwi yang berjudul ajarkan aku, saat Nurul baru memasuki kamar.


Nurul langsung berdecak lalu membuang nafas kasar. Dia tahu Azizah dengan sengaja meledeknya.


"Capek?" Tanya Zizah saat melihat Nurul yang terduduk lesu di sisi ranjang.


Nurul tak menjawab, dia memilih menaikkan kaki keatas ranjang sambil menyenderkan punggung di kepala ranjang.


"Capek badan apa capek hati?" Zizah masih terus meledek. Tak tahu saja dia betapa hancurnya hati Nurul saat ini.


"Kenapa harus aku sih Zah? Dari sekian banyak orang, kenapa harus aku yang ikut membantu persalinan Nara?" Mata Nurul mulai berkaca kaca. Sejak tadi, dia berusaha untuk tegar. Tapi sekarang, pertahanannya jebol, dia menangis.


Azizah merasa tak enak hati. Dia merasa bersalah karena udah meledek Nurul tanpa perasaan. Dia pikir, Nurul tak akan sebaper ini.


"Maafin gue ya Rul." Azizah mendekati Nurul dan memeluk sahabatnya itu. "Gue pikir, lo udah move on dari Asep."


"Gak semudah itu Zah. Septian cinta pertamaku. Dialah satu satunya orang yang kuharap menjadi jodohku. Namanyalah yang selalu aku langitkan setiap malam. Aku dan Septian, pernah bermimpi untuk berjalan bersama. Tapi tenyata, jalan yang kami tempuh, memiliki tujuan yang berbeda. Dia hanya sekedar hadir, bukan takdir untukku."


Azizah makin merasa bersalah. Dia bisa melihat luka dimata Nurul. Luka yang coba Nurul sembuhkan, tapi malah berdarah lagi hari ini. Dan semua ini tak akan terjadi jika dia tak memaksa Nurul untuk menginap dirumahnya malam ini.


"Maaf ya Rul. Semua ini gara gara gue yang maksa lo Nginep disini."


"Bukan salah kamu Zah. Mungkin ini sudah menjadi ketetapan Allah. Kita ambil hikmahnya saja. Sepertinya Allah menegurku dengan cara ini. Menegur aku yang masih menyimpan rasa untuk laki laki yang sudah menjadi suami wanita lain. Rasa ini tak seharusnya masih ada dihatiku. Rasa ini tak benar, ini salah. Dan Allah ingin aku membuka mata lebar lebar, jika Septian, sudah bahagia bersama keluarga barunya."


"Lo wanita yang hebat. Gue yakin, Tuhan akan mengirimkan jodoh terbaik buat lo."


"Amin.... "