Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
BAHAGIA BERSAMAMU


Nara mondar mandir didalam kamar. Dia cemas memikirkan suaminya yang sedang bicara berdua dengan sang papa. Mungkin rasa cemasnya malah melebihi kecemasan Septian saat ini.


Jam terasa berjalan begitu lambat. 1 jam terasa bagai 3 jam bagi Nara yang menunggu Septian.


Ceklek


Atensinya langsung tertuju pada pintu yang dibuka dari luar. Disana tampak sang suami yang masuk dengan membawa segelas susu coklat.


"Abang." Dengan wajah yang masih cemas, Nara berjalan menghampiri Septian. "Abang gak dimarahin kan sama papa?"


Bukannya menjawab, Septian malah membimbingnya duduk ditepi ranjang lalu menyodorkan segelas susu.


"Minum dulu."


"Aku itu cemas mikirin kamu, eh malah kamu ngurusin susu." Sewot Nara.


Septian menghela nafas sambil meraih tangan Nara dan meletakkan susu diatas telapak tangannya.


"Minum dulu biar rileks, kamu tampak tegang banget. Gak baik buat baby."


Nara akhirnya menuruti kemauan Septian. Dia segera menghabiskan segelas susu lalu memberikan kembali gelas kosongnya pada Septian.


"Papa ngomong apa? Abang gak dimarahin kan?"


"Enggak." Jawabnya santai sambil mengelap sudut bibir Nara yang terdapat sisa susu.


"Cuma ditinggal ngobrol sama papa kamu di ruang kerja aja udah cemas gini. Gimana kalau ditinggal perang." Goda Septian sambil terkekeh geli.


"Gak usah becanda deh. Abang bukan tentara, ngapain perang." Sinis Nara sambil cemberut. Dia sudah sangat cemas tapi Septian malah tampak santai.


Septian berdiri untuk meletakkan gelas kosong bekas susu diatas nakas. Kemudian dia malah rebahan diatas ranjang.


"Sini abang peluk." Ujarnya sambil merentangkan sebelah tangan dan menepuk lengannya agar Nara tiduran disana.


Nara segera naik keatas ranjang dan berbaring disamping Septian. Melingkarkan lengannya pada pinggang sang suami dengan berbantalkan lengan.


"Papa gak marah sama abang. Beliau cuma tanya soal skripsi. Pengen lihat katanya. Bulan depan, insyaallah abang sidang. Dan kata papa, dia akan coba menguji abang sebelum abang sidang."


"Cuma itu doang? Gak marah?" Nara masih belum bisa percaya.


"Iya, cuma ngobrolin soal skripsi doang. Kenapa lama, karena abang kedapur dulu buatin kamu susu." Jawabnya sambil mencium kening Nara.


"Aku cemas nungguin abang. Eh... abang malah didapur bikin susu. Ngeselin banget sih." Ujarnya sambil memelototi Septian.


Septia justru terkekeh sambil merapikan rambut Nara yang berantakan kewajah.


"Tapi bagus deh, kalau papa mau bantuin kamu. Papa emang pengalaman soal sidang. Dia kan sering ikut jadi dewan penguji."


"Beruntung banget ya abang. Punya mertua dan istri yang keren. Pendidikan dan kariernya gak kaleng kaleng."


"Bisa aja kamu." Sahut Nara sambil mencium sekilas bibir Septian.


"Doain semuanya lancar ya Ra. Semoga saja, abang langsung lulus, jadi gak perlu ngulang lagi."


"Pasti bang. Aku selalu doain abang. Gak sabar deh pengen lihat abang diwisuda. Kira kira, anak kita udah lahir belum ya bang, pas kamu wisuda nanti?" Tanya Nara sambil mengusap perutnya yang sudah mulai terlihat buncit.


"Udah mungkin Ra. Soalnya kan setelah sidang gak langsung wisuda. Masih nunggu jadwal dulu."


"Yee... nanti berarti aku udah bisa bawa baby dong diwisuda kamu. Kita bisa foto bertiga saat kamu pakai toga. Ngebayangin aja udah bikin seneng, apalagi pas ngejalaninnya. Gak sabar banget." Wajah Nara begitu berseri seri. Dia tak menyangka jika janin yang dulu sempat ingin dia gugurkan. Sekarang begitu dia nanti kelahirannya.


"Bang lihat deh." Nara menarik keatas kaosnya. "Perut aku udah buncitkan?" Tunjuknya penuh antusias sambil meletakkan telapak tangan Septian diatasnya.


Septian kemudian bangun lalu menciumi perut Nara.


"Abang geli ih." Ucapnya sambil tertawa dan memegang kepala Septian.


"Geli ya mah? tapi adek suka loh diciumin ayah." Septian menirukan gaya bicara anak balita. Membuat Nara makin tertawa ngakak.


"Jalan jalan yuk bang, mumpung abang lagi gak kerja." Ajaknya.


"Kemana?"


"Terserah."


"Ya udah ayok. Pakai jaket gih." Titahnya sambil turun dari ranjang untuk mengambilkan jaket buat Nara.


"Aku mau pakai jaket abang aja. Enak baunya, aku suka." Nara justru mengambil hoody yang biasa dipakai Septian kerja.


Septian hanya menanggapi dengan senyuman. Mungkin ibu hamil memang suka aneh aneh. Biarlah, yang penting dia senang.


"Yuk." Ajaknya setelah membantu Nara memakai hoody.


"Loh, abang gak pakai jaket?"


"Gak usah, kita naik mobil aja."


"Biar gak dingin, kan lagi hamil. Udah gak usah protes."


Septian melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah. Nara sama sekali tak bertanya kemana mereka akan pergi. Karena menurutnya, kemanapun, asal bersama Septian, dia pasti suka.


Septian menepikan mobilnya lalu memasuki tempat parkir sebuah minimarket.


"Mau beli apa bang?" Tanya Nara.


"Udah, ayo turun." Dia membatu Nara melepas seatbeltnya.


"Tunggu disini, abang masuk sebentar." Septian menyuruh Nara duduk dikursi yang ada didepan minimarket.


Tak berapa lama kemudian, Septian keluar dengan membawa sebuah kantong kresek. Dia duduk disebelah Nara lalu mengeluarkan sebuah donat coklat dan menyodorkannya pada Nara.


"Kesukaan kamu kan, donat coklat. Makan dulu gih." Nara mengangguk lalu membuka bungkus dan memakannya. Sedangkan Septian, dia mengambil minuman isotonik dari kresek lalu meminumnya.


"Emang kita mau Kemana sih bang? Kenapa pakai mampir ke minimarket segala?" Tanya Nara sambil mengunyah donatnya.


"Ya mau kesini."


"Maksudnya tuh, kita mau jalan kemana? Kenapa pakai mampir dulu beli donat dan minuman. Kenapa gak beli ditempat yang dituju nanti? Dan kenapa pula harus makan dulu disini, kenapa gak dimobil aja sekalian jalan?"


Septian menggaruk tengkuknya sambil tersenyum absurd. Lalu dia mendekatkan wajahnya pada telinga Nara sambil berbisik.


"Gak papakan kalau jalan jalannya ke minimarket aja. Abang lagi gak ada uang. Ada sih tabungan, tapi buat jaga jaga pas kamu lahiran nanti."


Seketika Nara merasa kesusahan menelan donat. Istri macam apa dia, tak tahu suaminya tak ada uang, main ngajak jalan aja.


"Kok abang gak bilang dari tadi. Kan bisa pakai uang aku." Nara balas bersisik. Soalnya ada orang lain yang duduk disekitar mereka.


"Enggak, abang gak mau ngerepotin kamu. Yang pentingkan kita udah jalan jalan, udah keluar rumah. Iya gak?"


Lagi lagi Nara baper. Dia malah pengen nangis.


"Astaga, maaf ya. Kamu pasti sedih karena gak bisa jalan jalan. Abang janji, setelah gajian, abang ajak jalan jalan. Ke mall atau kemanapun semau kamu pokoknya." Bujuknya sambil menggenggam tangan Nara.


"Siapa bilang aku sedih. Aku seneng kok jalan jalan ke minimarket. Apalagi dibeliin makanan kesukaan aku." Jawab Nara sambil tersenyum dan memeluk lengan Septian.


"Yakin seneng?" Goda Septian sambil menarik tangan Nara dan ikut mencomot donatnya.


"Kalau sama kamu sih, kemanapun seneng."


"Hahaha... bisa aja kamu Ra. Ya udah, kalau gitu, pulang dari sini, abang ajak jalan jalan ke surga." Godanya sambil mengedipkan sebelah mata.


...****...


Nara keluar kelas paling terakhir setelah menyelesaikan tugas mengejarnya. Rasanya lega jika mengingat ini kelas terakhirnya hari ini. Dia ingin segera pulang dan tidur. Nanti malam, dia berniat datang ke coffee shop untuk menemani suaminya kerja.


Tapi rasa leganya tak bertahan lama. Karena saat kelaur kelas, dia melihat Diego tengah berdiri berdasarkan dinding. Kedua tangannya berada disaku celana dengan tatapan mengarah kepintu kelas.


"Bu Nara." Sapanya sambil berjalan menghampiri Nara.


"Ada apa?" Nara mencoba bersikap biasa walau sebenarnya dia masih kesal pada cowok itu. Apalagi jika ingat masalah foto waktu itu.


"Bisa minta waktunya sebentar?"


"Maaf saya harus segera pulang." Jawab Nara sambil melanjutkan langkah. Tapi seperti biasa, Diego pasti menghalangi jalannya.


"Siapa pria yang menjawab telepon saya waktu itu?"


"Bukankah sudah jelas, dia suami saya." Beruntung kampus sudah lumayan sepi, jadi tak terlalu menarik perhatian.


"Saya tak percaya sebelum berkenalan langsung dengan suami ibu. Jadi, kenalkan saya pada suami ibu."


Nara kian sebal pada cowok tak tahu diri itu. Sukanya maksa banget.


"Baiklah, datang kerumah saya jika mau berkenalan dengan suami saya. Saya yakin, bukan hal yang susah untuk mengetahui dimana alamat saya."


"Baiklah, saya kesana sekarang."


Rasanya Nara ingin memaki maki cowok sialan itu. Tapi karena ini dikampus, jadi dia harus bisa menjaga perilaku sebagai dosen.


"Suami saya sedang kerja, permisi." Pamit Nara sambil berlalu.Tapi seperti biasa, Diego masih saja mengikutinya dari belakang.


Langkah Nara terhenti saat baru menginjakkan kaki keluar gedung fakultas MIPA. Dia melihat seseorang yang paling tak mau dia jumpai.


Diegopun ikut berhenti. Dia mengikuti arah pandang Nara. Wanita itu tampak sedang beradu tatap dengan seorang pria.


"Nara." Panggil pria itu.


"Siapa bu? apa dia suami ibu?" Tanya Diego.