Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
JANGAN PERCAYA DIRI DULU


Sesuai perjanjian dengan Diego, Sarah membuat alasan agar dia tak jadi ikut kerumah Diego. Untung hari ini ada acara pengobatan gratis dibalai desa yang digawangi oleh anak anak karang taruna yang bekerja sama dengan para lulusan kesehatan dari kampung situ. Jadi Sarah mempunyai alasan yang sangat tepat.


Ada dokter, perawat, bidan serta yang masih menempuh pendidikan di bidang kesehatan pada kumpul. Mereka rata rata orang asli sana. Hanya beberapa saja yang dari daerah lain tapi secara suka rela ikutan.


"Kok lo diem aja sih sejak tadi?" Tanya Diego yang berada dalam satu mobil dengan Shaila. Mereka dalam perjalanan menuju rumah Diego.


"Emang harus banget ya ngomong?"


"Huft, ya gak harus juga sih. Tapi mulut lo apa gak capek diam aja?"


Shaila tersenyum mendengarnya. "Gak kabalik ya? Bukannya kalau ngomong terus yang bikin mulut capek?"


"Lo berubah sekarang?"


"Emang gue power ranger, atau ultraman gitu, bisa berubah?"


"Lo lebih pendiam. Apa karena Asep. Dia nyuruh lo jaga jarak dari gue?"


"Gak usah sotoy deh."


"Terus kenapa? perasaan awal kita ketemu, lo gak sependiam ini. Tapi sekarang lo diem banget. Terutama kalau pas ada Asep."


"Perasaan lo aja kali." Jawab Shaila sambil melihat ke arah jendela.


"Masak sih?"


Mobil yang dikendarai Diego terus melaju hingga memasuki area perumahan mewah. Perasaan Shaila mulai tidak tenang. Dia merasa gugup. Ini untuk pertama kalinya, dia datang kerumah cowok.


Saat mobil itu memasuki gerbang rumah Diego. Shaila merasakan jantungnya berdegup tak karuan. Tangannya sampai berkeringat dingin. Hingga beberapa kali, dia meremat midi dress yang dia pakai.


Semalam, dia sampai tak bisa tidur memikirkan outfit apa yang akan dia kenakan hari ini. Dia tak punya banyak baju. Dan rata rata hanya baju murahan yang dia beli secara online atau dipasar.


Baju terbagusnya adalah pemberian Nara waktu itu. Tapi baju itu sudah dia pakai saat acara tujuh bulanan yang kebetulan bertemu dengan Diego dan mamanya. Kalau dia pakai lagi, bisa bisa dikira hanya punya baju itu saja.


Akhirnya, pilihannya jatuh pada midi dress yang dikombinasikan dengan leging dan pashmina.


"Gak usah terlalu tegang gitu." Ujar Diego sambil menahan tawa saat melihat wajah pucat Shaila. "Yuk turun." Dia melepas seatbeltnya dan langsung turun.


Sedangkan Shaila, saking gugupnya, dia sampai kesusahan membuka seatbelt. Hingga berujung, Diego membukakan pintu untuknya.


"Sengaja dilama lamain biar gue bukain pintu?" Ledeknya sambil menyeringai kecil.


"Paan sih. Orang seatbeltnya macet." Setelah berhasil melepasnya, Shaila segera turun dari mobil.


"Masak mobil sebagus ini seatbeltnya macet. Lo aja kali yang gak bisa buka."


Shaila langsung memelototi cowok itu. Udah gugup, malah diledekin, bikin kesel saja.


"Becanda, gak usah melotot Gitu napa. Takut gue, serem."


"Huft." Shaila membuang nafas kasar lalu merapikan hijabnya.


"Udah cantik kok, yuk masuk." Diego hendak menggandeng tangan Shaila tapi buru buru ditepis oleh cewek itu.


"Bukan muhrim."


"Jadi pengen cepet cepet bawa ke KUA biar jadi muhrim." Goda Diego sambil segera melangkah menuju pintu masuk. Takut dia dipelototin lagi.


Shaila melangkah mengikuti Diego. Jujur, ini rumah termewah yang pernah dimasuki Shaila. Rumah ini lebih mewah dari rumah Nara.


"Eh... calon mantu mamah udah dateng." Sapa Mama Eva yang baru muncul dari dalam. Dia berjalan menghampiri mereka dan langsung memeluk Shaila lalu cipika cipiki.


"Gimana kabarnya sayang? Seneng deh tante, kamu mau main kesini."


"Alhamdulillah baik Tente. Tante apa kabar?"


"Tante selalu baik. Asalkan dia gak bikin ulah." Jawab Mama Eva sambil memberikan lirikan tajam kearah Diego.


"Astaga mah, kapan sih aku bikin ulah?"


"Kapan kata kamu? Mama sampai lupa kapan saking seringnya." Omel mama Eva.


Shaila menutup mulutnya untuk menahan tawa.


"Ayo masuk, mama kenalkan sama papanya Diego dan adiknya."


Mama Eva segera menggandeng lengan Shaila menuju ruang keluarga. Disana tampak suami dan anak bungsunya sedang bermain game.


"Hallo kesayangan kesayangan mama. Kenalin nih ada cewek cantik yang lagi main kerumah."


Papa Dion dan Damar yang sedang asyik main game sama sekali tak menanggapi. Kedua nya seperti tak mendengar suara mama Eva. Merasa diabaikan, mama Eva bergerak secepat kilat untuk mematikan TV.


"MAMA!" Teriak papa Dion dan Damar kompak.


"Mampus." Cibir Diego sambil tertawa ngakak. Bahagia diatas penderitaan dua orang itu.


"Emang mama ngomong apaan tadi?" Papa Dion bertanya pada Damar. Sedangkan Damar, dengan santainya hanya mengedikkan bahu. Mereka memang tak mendengar apapun. Terlalu fokus pada permainan game.


"Ada tamu." Ujar Mama Eva sambil melotot geram.


"Tamu? Mana?"


"Assalamualaikum om, dek." Ucap Shaila.


"Waalaikum salam." Jawab papa dan Damar sambil menoleh kebelakang. Keduanya saling bertatapan penuh tanya setelah melihat penampilan tamu itu dari atas kebawah. Tapi beberapa saat kemudian mereka kompak berdiri dan menghampiri Shaila.


"Maaf ya, om tidak tahu kalau ada tamu. Saya Dion, papanya Diego." Papa Dion mengulurkan tangan.


"Shaila." Sahut Shaila sambil mencium takzim tangan papa Dion.


"Ini adiknya Diego, namanya Damar." Papa Dion menarik lengan Damar agar lebih maju sedikit.


Damar, bocah kecil berumur 9 tahun yang Sebentar lagi naik kelas 4 SD itu mengulurkan tangan kearah Shaila. Sambil tersenyum, Shaila segera menjabat tangannya.


Mama Eva menghampiri mereka dan langsung menggandeng lengan Shaila.


"Ya udah yuk sayang. Kita kedapur untuk menyiapkan bahan. Sebentar lagi chef Roger datang."


"Permisi." Pamit Shaila saat lengannya ditarik pergi oleh mama Eva.


"Pacar kamu Go?" Tanya papa saat kedua wanita itu sudah masuk kedapur.


"Otw."


"Nemu dimana? tumben bener."


"Astaga Pah, gitu banget sih ngomongnya." Sahut Diego sambil menjatuhkan bobot tubuhnya di karpet bulu depan TV.


"Itu si Anna, apa kabar?" Papa Dion ikutan duduk disebelah Diego.


"Tauk." Jawab Diego asal.


"Pah, main lagi yuk." Rengek Damar yang merasa belum puas main game.


"Hei bocil, sana lo bantuin mama masak. Katanya cita cita lo mau jadi chef." Sahut Diego.


"Gak jadi. Aku mau jadi pemain drum aja."


"Cita cita lo kenapa gonta ganti mulu. Kemarin kemarin, pengen jadi mentri, terus ganti polisi, chef, sekarang pemain drum. Lama lama jadi tukang cilok lo." Cibir Diego.


"Gak papa jadi tukang cilok asal kaya. Yang penting gak jadi bad boy kayak kakak. wlekkkk." Balas Damar sambil menjulurkan lidah lalu berlari kabur.


"Asem." Seru Diego sambil melempar bantal kearah adiknya.


Papa Dion hanya geleng geleng. Biarpun usia mereka beda jauh, tapi setiap ketemu, selalu saja bertengkar. Malah aneh rasanya jika mereka tampak rukun. Rumah terasa sepi.


"Kayaknya mama suka banget sama cewek itu, siapa tadi namanya?"


"Shaila."


"Oh iya Shaila." Papa manggut manggut.


"Selera mama kan emang yang modelan kayak gitu. Apalagi hobinya sama, yaitu masak. Makin sukalah mama." Terang Diego.


"Gimana Pah pilihan Diego kali ini? Menurut Diego nih ya pah. Dia itu tipe istri idaman banget. Cantik iya, sholehah iya, pinter masak iya. Dah gitu, anaknya pendiam, gak kayak mama, nyerocos mulu."


PLAK


"Aduh." Diego meringis saat sebuah keplakan mendarat dikepalanya.


"Mau jadi anak durhaka ngatain mama kamu. Gitu gitu dia yang ngerawat kamu sejak kecil. Walaupun dia bukan yang melahirkan kamu, tapi dia menyayangi kamu kayak anaknya sendiri. Pernah kamu ngerasa dibedakan sama Damar?"


"Dih bapak, baperan banget sih. Orang cuma becanda."


"Tapi kalau dipikir pikir ya. Dulu mama kamu itu pendiam sebelum nikah sama papa. Bahkan dia tak berani menatap mata papa. Nurut banget, gak berani bantah apapun omongan papa. Tapi dengan berjalannya waktu, kenapa jadi makin cerewet. Jangan jangan semua wanita kayak gitu?"


"Enggak, Diego yakin Shaila gak kayak gitu. Dia pasti akan jadi istri yang penurut. Gak banyak protes, gak cerewet."


"Jangan percaya diri dulu kamu."


"Kalau ini sih Diego yakin Pah. Dia gak bakalan cerewet deh."


"Bukan itu maksud papa."


"Lalu?"


"Jangan percaya diri dulu dia mau jadi istri kamu. Hahaha.. "


Diego hanya bisa menahan kesal. Ingin marah dan mengumpat, takut dicap anak durhaka. Tapi lebih takut lagi, uang jajan diblokir. Biarpun dia punya penghasilan sendiri dari endorsmen, tapi uang dari papanya sangat sayang jika hilang.