
Saat matahari masih rendah dan sinarnya terasa hangat, sepasang suami istri tengah sibuk menjemur bayi mereka.
Septian terlihat masih sangat kaku saat menggendong. Tapi wajahnya terlihat bahagia dan antusias. Sambil melantunkan sholawat, dia menimang nimang sang buah hati sambil menjemurnya.
Nara yang duduk diteras rumah Bu Linda melihatnya sambil tersenyum senyum. Dia senang melihat interaksi antara kedua orang tersayanganya. Memiliki suami seperti Septian adalah suatu kebahagiaan, dan sekarang dia lebih bahagia lagi karena punya Septian junior.
Oek oek oek
Tangis si kecil membuat Septian langsung panik. Biasalah, ayah baru, masih belum bisa memahami kenapa bayi menangis serta cara menenangkannya. Menurut yang dia tahu, saat bayi menangis, pastilah karena lapar. Padahal belum tentu juga karena itu. Dia segera membawanya mendekat ketempat Nara.
"Haus kali yang." Ujarnya sambil menyerahkan baby kepada Nara. "Masuk yuk, nen didalam. Entar ada yang ngintip kalau kamu kasih nen disini." Septian membantu Nara berdiri lalu merangkul pundaknya sambil berjalan masuk.
Sesampainya dikamar, Nara segera menyusuui bayinya. Septian mengambil karet gelang bekas nasi bungkus yang ada diatas meja. Didikumpulkannya rambut Nara lalu diikat agar tak berantakan dan mengenai wajah baby.
"Makasih." Ucap Nara sambil tersenyum kearah suaminya. Perhatian kecil, tapi mampu menggetarkan hatinya. Karena bisanya, orang akan melupakan yang kecil kecil seperti ini.
"Kamu makin cantik deh sayang." Dibelainya pipi Nara dengan punggung tangan.
"Mulai deh gombalnya." Ujar Nara sambil memutar kedua bola matanya. Wajahnya dibuat sebal padahal hatinya berdebar debar.
"Bener kata Bu Linda. Setelah melihat perjuangan kamu melahirkan, abang rasanya makin cinta."
Pipi Nara memerah. Didadanya seperti ada kembang api yang meletup letup.
"I love u so much." Septian mencium kening dan pipi Nara yang merona.
"Love u more." Sahut Nara sambil menyentuh rahang kokoh milik suaminya. Dimata Nara, Septian terlihat makin tampan setelah menjadi ayah. Apalagi saat menggendong baby, seperti seorang hot daddy yang bikin resah.
Ternyata malaikat itu nyata
Buktinya ada di depan mata
Tak peduli apapun kata mereka
Engkaulah malaikat di hidupku
Septian bernyanyi sambil memindai wajah cantik Nara..
Lirik yang begitu indah yang membuat Nara merasa tersanjung.
"Tadi malam pas kamu ngadzani anak kita, aku terharu banget. Kenapa kamu sampai nangis sih bang?" Tanya Nara yang penasaran. Dia ingin tahu alasan suaminya itu menangis. Apakah suaminya itu begitu terharu karena menjadi ayah? ataukan ada sebab lainnya?
Septian menyentuh pipi bayinya. Mata bayi itu terpejam, tapi mulutnya terus saja menghisap sumber kehidupannya. Wajahnya tampak sangat damai.
"Abang merasa bersalah pada anak kita. Dia tak bernasabkan abang meski anak kandung abang. Suatu saat nanti, jika dia sudah paham, dia pasti akan mempertanyakan hal itu. Kenapa dia tak bisa menyandang Bin Septian Shaddiq? Dan abang pasti malu untuk menjelaskan padanya jika dia ada karena kesalahan orang tuanya." Mata Septian mulai berkaca kaca, begitu juga dengan Nara.
Nara menyandarkan kepalanya dibahu Septian. Tangannya bergerak membelai pipi dan lengan bayinya mungilnya.
"Udahlah bang, yang lalu tak bisa diubah lagi. Yang kita bisa hanya memperbaiki diri saat ini. Semoga saja, dia menjadi anak yang Sholeh."
"Amin.. " Sahut Septian lalu mencium pipi si jabang bayi.
"Gimana rasanya dinen? Enak gak? enak mana sama di nen abang?"
"Dih apaan sih. Ya jelas bedalah. Konteksnya udah lain bang. Masak iya aku disuruh bandingin." Nara memelototi suaminya.
"Ya aku kan cuma nanyak."
"Btw, kamu gak terang sang lihat ini?" Nara menekan nekan dadanya yang sekarang tampak lebih berisi.
"Gak usah mancing deh. Dah tahu abang puasa 40 hari." Jawab Septian sambil berdecak kesal.
"Oh iya bang. Abang udah nemu nama belum buat anak kita?" Semalam sebelum tidur, mereka mencari cari diinternet nama yang bagus. Tapi belum juga menemukan nama yang cocok.
"Belum yang, bingung, nama sekarang bagus bagus semua."
"Gimana kalau Aydin."
"Aladin?" Septian mengernyit.
Septian seketika tergelak.
"Aidin... " Septian tampak memikirkan nama itu. "Apa gak lebih bagus Aiden atau Aidan ya?"
Nara berdecak. "Nama nama itu udah banyak digunakan bang. Di novel online udah banyak yang pakai nama itu. Di novel yang Judulnya DELMAR udah ada nama Aiden. Jadi aku mau yany beda. Btw, bagus loh novel itu. Yang belum baca, buruan baca." ( Otor numpang promo, wkwkwk )
"Emang Aidin apa artinya?"
"Aydin, pakai y. A-Y-D-I-N." Nara mengeja satu persatu hurrufnya. "Artinya cerdas."
"Bagus tuh." Septian memegang tangan mungil baby lalu menciumnya. "Semoga kamu menjadi anak yang cerdas, kayak mama."
"Amin... "
"Belakangnya, pakai nama kamu ya bang? Biarpun dia tak bisa pakai bin nama kamu, setidaknya, nama belakang kalian sama."
"Jadi namanya Aydin Shaddiq, anak yang cerdas dan jujur. Abang suka Ra." Ujar Septian dengan senyum merekah. Nama yang bagu, artinyapun juga bagus.
"Yey... sekarang kamu udah punya nama." Girang Nara sambil membelai kepala babynya. "Assalamualaikum baby Ay.... "
"Waalaikumsalam mama." Jawab Septian dengan logat menirukan suara balita.
Mereka berdua kemudian tertawa riang. Baby Ay sama sekali tak merasa terganggu. Dia masih setia memejamkan mata sambil nen.
"Kayaknya Happy banget sih, mama sama papa muda? Kita ganggu gak?" Tanya Azizah yang baru masuk keruangan Nara. Dia datang bersama dengan Nurul yang tampak membawa sebuah kotak kado berukuran sedang.
"Enggak kok." Jawab Nara sambil melepaskan bibir baby Ay dari dadanya.
"Lanjutin aja Ra. Masak iya malu sama kita. Kita juga punya kok. Ya, biarpun gak semotok punya Lo." Canda Azizah.
"Dia udah kenyang, udah tidur." Jawab Nara sambil merapikan bajunya.
Nurul meletakkan hadiah yang dia bawa diatas meja. "Gak papakan aku ngasih hadiah buat anak kamu?" Tanya Nurul sambil menatap Nara. Dia masih ingat saat Nara mengembalikan hadiah yang dia beri untuk Septian.
"Gak papa kok." Jawab Nara sambil berusaha memberikan senyuman.
"Itu dari kita berdua, bukan hanya dari Nurul." Azizah mengklarifikasi.
"Dih, yang takut namanya gak kusebut." Cibir Septian.
"Anak lo cakep banget Sep." Puji Azizah yang saat ini tengah memperhatikan wajah baby Ay dengan seksama.
"Anak siapa dulu dong. Bapaknya aja secakep ini." Sahut Septian sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Halah lagu lo." Azizah menyebikkan bibirnya.
"Udah ada namanya belum?" Tanya Nurul basa basi. Gak enak juga kalau dia hanya diam saja.
"Namanya Aydin, panggil aja baby Ay." Jawab Nara.
"Bagus sekali namanya." Puji Nurul sambil menyentuh pipi merah baby Ay.
"Boleh aku gendong Ra. Sebenartar lagi aku mau pulang. Jadi, pengen gendong dia sebentar."
Nara mengangguk lalu menyerahkan baby Ay pada Nurul.
"Makasih ya Rul, untuk bantuannya kemarin." Ujar Nara tulus.
"Sama sama Ra. Udah jadi kewajiban aku sebagai bidan." Jawab Nurul.
"Lo udah cocok jadi ibu Rul. Buruan nikah." Goda Azizah.
Mendengar kata nikah, membuat Nurul seketika melihat Septian. Tapi yang ditatap malah asyik menatap wanita lain. Membuat hati Nurul makin nyeri.
"Oh iya, aku kapan boleh pulang?" Tanya Nara.
"Kalau soal itu, tanya langsung saja ke Tante Linda. Aku gak bisa memutuskan. Karena aku cuma bantu aja kemarin." Jawab Nurul.