Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
TAK PULANG


Septian jalan sedikit tertatih memasuki coffee shop. Berkali kali dia tampak meringis menahan perih. Celana jins yang dipakainya tampak sobek dibagian lutut. Di lengan dan dahinya juga tampak ada luka.


Shaila yang berada didekat meja kasir segera menghampiri saat melihat abangnya jalan tertatih.


"Astaga, abang kenapa?" Tanyanya panik sambil memperhatikan penampilan abangnya yang sedikit tak karuan.


"Abang jatuh dari motor Sha." Jawab Septian sambil meringis menahan perih.


"Innalillahi. Udah dibawa ke klinik?"


Septian menggeleng. Beruntung motornya tak rusak dan kondisinya juga tak begitu parah. Jadi dia masih bisa mengendarai pelan pelan hingga ke cafe.


"Ayok Sha antar ke klinik biar diobati."


"Gak usah, kamu aja yang obatin. Cuma lecet lecet dikit aja kok."


"Tapi bang."


"Udah gak papa. Hanya luka kecil."


"Ya udah abang tunggu sini bentar."


Shaila mengambil kotak p3k lalu mengajak abangnya naik kelantai dua untuk diobati. Disana sepi dan ada sofa, jadi lebih mudah untuk mengobati.


Setelah membersihkan luka lecet yang ada dikaki dan lengan abangnya. Shaila meneteskan obat diatas luka itu.


"Kok bisa sampai jatuh sih bang?"


"Abang tadi menghindari orang tua yang sedang menyeberang. Alhamdulillah orang itu baik baik saja. Tapi malah abang yang berakhir kayak gini." Jelasnya.


"Kak Nara tahu gak?"


"Gak usah dikasih tahu, nanti dia kepikiran. Nara itu suka overthinking, abang tak mau dia cemas. Ibu juga jangan dikasih tahu. Luka gini aja gak masalah. Bentar lagi pasti sembuh."


Selesai mengobati lengan dan kaki. Shaila hendak memasang plester di dahi tapi segera ditolak oleh Septian. Dia tak mau tampak mencolok hingga Nara tahu. Cuma lecet dikit saja, pasti segera sembuh..


"Kalau kamu mau pulang, bilang sama Agus untuk bangunin abang kalau cafe mau tutup. Badan abang sakit semua Sha. Abang mau tidur dulu."


"Ya udah abang istirahat aja. Mau Sha bawain makanan atau minuman gak?"


"Gak usah, abang tidur saja."


Septian segera rebahan disofa. Sementara Shaila, dia langsung turun dan menyampaikan pesan abangnya pada Agus.


...*****...


Nara membuka almari baju untuk mencari lingerie yang dia punya. Ada 4 buah lingerie berbagai model dan warna. Setelah memilih yang paling cocok, dia langsung mengenakannya.


Nara mematut dirinya didepan cermin. Dia tertawa sendiri melihat penampilannya. Perut buncitnya terlihat lucu saat dibungkus lingerie transparan.


"Malam ini, kita sambut ayah ya sayang." Nara bermonolog sambil mengelus perut buncitnya. "Kamu pasti juga kangen ditengokin ayahkan?" Lanjutnya penuh antusias. Ah.. kenapa rasanya tak sabar menunggu suaminya pulang.


Nara senyum senyum sendiri. Kangen suami membuatnya ingin memberikan sesuatu yang spesial malam ini. Apalagi mengingat hubungan mereka yang sedikit renggang akhir akhir ini. Ingin memperbaiki dan membujuk Septian agar mau menuruti keinginannya untuk melahirkan secara sc.


Nara sama sekali tak ada niat untuk merendahkan suaminya. Dia hanya takut saja, tak lebih. Semoga saja suaminya bisa paham. Waktu itu mungkin dia terlalu emosi jadi terkesan memaksa. Mungkin dengan bicara lembut dari hati ke hati. Pillow talk setelah bercinta, semuanya masalah ini akan terselesaikan. Dia rindu dengan hubungan mereka yang dulu. Dia rindu sentuhan suami yang hampir dua minggu tak dia rasakan.


Nara melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11 lebih. Septian belum pulang juga. Niatnya ingin menunggu, tapi apa daya, mata sudah tak bisa dikondisikan. Akhirnya dia memilih tidur dulu. Semoga saja, Septian membangunkannya saat dia pulang.


Tok tok tok


Dia melihat jam, ternyata sudah hampir jam 7 pagi. Itu artinya, Septian tak membangunkannya semalam. Rugi dong pakai lingerie, batinya.


Nara menoleh kesebelah, tak ada suaminya disana. Tangannya meraba tempat yang biasa. ditiduri Septian. Dingin, seperti tak habis ditiduri. Kondisinya juga masih sangat rapi.


"Non Nara." Kembali terdengar panggilan bik Surti dengan suara cemprengnya.


"Iya Bik, aku sudah bangun." Sahut Nara dari dalam. Dia meregangkan otot otot nya lalu mengubah posisi menjadi duduk. Matanya tertuju pada pintu kamar mandi yang tertutup.


"Bang, abang dikamar mandi?" Panggilnya


Tak ada sahutan dari dalam. Suara air juga tak terdengar dari sana. Tak ingin semakin penasaran, dia turun dari ranjang untuk mengecek kamar mandi. Ternyata tak ada siapapun disana.


Nata berganti baju karena hendak keluar kamar. Tak mungkinkan, dia keluar hanya memakai lingerie.


Dicarinya Septian di halaman depan sekaligus belakang. Tapi tak ada hasil. Alhirnya, dia memutuskan untuk dari info pada Bu Surti yang sedang ada didapur.


"Bik, lihat abang gak?"


"Tidak non, saya tidak melihatnya sejak pagi."


Nara kian cemas. Apakah benar suaminya tidak pulang semalaman. Akhirnya dia menelepon satpam depan, menanyakan apakah mereka melihat Septian pulang.


"Apa? jadi suami saya tak pulang sejak semalam?" Nara kian overthinking mendengar pernyataan satpam depan. Mereka tak melihat Septian pulang kemarin siang.


"Siapa yang tidak pulang?"


Deg


Nara kaget melihat papanya tiba tiba muncul. Tidak, papanya tak boleh tau hal ini.


"Bukan siapa siapa Pah? te, teman aku."


"Motor suami kamu kok gak ada didepan? kemana dia?"


Nara seketika panik memikirkan jawaban. Dia takut salah ngomong.


"Dia... dia tidur dirumah ibu semalam."


Papa Satrio mengernyitkan kepala. Kenapa sampai dua dari menginap dirumah ibunya. Muncul pertanyaan dibenak papa Satrio.


"Kalian lagi ada masalah?"


"Eng, enggak kok Pah."


"Ya udah, papa mau sarapan dulu. Udah lapar banget ini." Ujar papa Satrio sambil mengusap perutnya.


Nara segera kembali kekamar setelah papanya pergi. Buru buru dia menelepon Shaila. Tapi hingga panggilan ke tiga, tak ada jawaban. Hingga akhirnya dia ganti menelepon Ibu. Jawaban ibu makin membuatnya tak tenang. Suaminya tak menginap disana semalam. Lalu, dimanakah dia sekarang?


Berbagai dugaan muncul dikepala Nara. Total, sudah dua hari suaminya tak pulang. Kemarin juga tak ada saat dia mencari di cafe.


"Awas kalau kamu sampai selingkuh bang." Nara mengepalkan tangannya.


Nara hendak menghubungi Septian, tapi suara pintu yang dibuka, membuatanya menoleh.


"Abang. Abang darimana, kenapa semalam gak pulang?" Nara langsung memberondonganya dengan pertanyaan.