Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
BUKTIKAN


Arumi tak bisa menahan tangis. Melihat bayi mengingatkan dia pada putranya yang sudah tiada.


Oek oek eok


Baby Ay yang merasa terganggu dengan suara berisik langsung menangis. Dan Nara langsung mengambil anaknya dari gendongan Nova.


"Gue gak rela lo nyentuh orang orang yang gue sayang, termasuk anak gue." Tekan Nara sambil mendekap baby Ay. Saat ini, hati dan otaknya seperti tak sinkron. Sebagai seorang ibu, dia merasa kasihan melihat Arumi. Dia kasihan melihat wanita itu menangis karena rindu pada anaknya. Tapi otaknya seakan terus memaksanya untuk keras pada Arumi. Wanita seperti dia tak bisa dikasih hati.


Arumi memegangi dadanya yang terasa sesak. Tangisan bayi membuatnya makin tersiksa karena rindu.


"Rum, lebih baik lo pulang sekarang." Ujar Septian. "Nara tak boleh stres karena dia sedang mengasihi. Mending lo pulang aja."


Arumi mengangguk sambil menyeka air matanya.


"Gue seneng lihat lo bahagia Ra. Setidaknya, hal itu bisa mengurangi rasa bersalah gue." Ucap Arumi.


"Jangan salahin Nova. Dia gak ngajak gue, tapi gue yang maksa ikut."


"Gue pulang dulu." Arumi menghela nafas lalu berbalik dan berjalan menuju pintu.


"TUNGGU." Teriak Nara sebelum Arumi keluar. Wanita itu lalu membalikkan badan menghadap Nara.


"Setelah ini, gak perlu temui gue lagi buat minta maaf. Kedatangan lo hanya membuka luka lama. Gue udah maafin lo, meski gue gak akan pernah bisa melupakan apa yang pernah lo perbuat ke gue. Setelah ini, gue harap, kita layaknya orang yang tak pernah kenal. Jika suatu saat kita bertemu dalam ketidak sengajakan, anggap saja kita tak saling kenal." Ujar Nara.


"Terimakasih udah maafin gue." Sahut Arumi sambil tersenyum. "Semoga lo selalu bahagia. Selamat tinggal." Arumi lalu keluar dari kamar Nara.


Septian menghampiri Nara yang sedang mengasihi baby Ay. Merangkulnya sambil mengusap pelan lengannya.


"Abang bangga sama kamu karena bisa memaafkan Arumi. Dengan memaafkan, hati kamu akan terasa lebih damai." Ujar Septian sambil mengecup puncak kepala Nara.


"Hanya mulutku yang berhasil mengatakan memaafkannya. Tapi hatiku? belum bang." Sahut Nara sambil menatap Septian.


"Tidak apa apa, dengan berjalannya waktu, abang yakin kamu bisa memaafkannya dengan tulus."


"Maafin gue ya Ra." Ucap Nova sambil tentunduk. Dia merasa bersalah karena telah mengijinkan Arumi ikut dengannya.


"Udahlah Nov, lupakan."


"Lo gak marahkan sama gue?"


"Sedikit."


Nova mendekati Nara lalu memeluknya dari samping. "Sorry."


"It's ok."


Keduanya kemudian duduk diatas ranjang dan mulai berbincang dengan santai. Melihat suasana yang mulai kondusif, Septian segera minta ijin keluar.


"Abang ke cafe bentar ya yang." Pamitnya sambil mengambil kunci motor serta ponsel yang berada diatas nakas.


"Pulangnya jangan sampai larut ya bang."


"Iya." Jawab Septian lalu mencium kening Nara dan pergi. Dia ingin mengecek kondisi cafe. Selain itu, dia juga ada janji dengan Diego.


"Duh, mesra banget sih dua orang itu. Gue berasa kayak nyamuk tau gak?" Ujar Nova.


"Makanya nikah, biar bisa mesra mesraan. Trek aja gandengan, masa lo kagak." Ledek Nara.


"Huft, jodoh Oh jodoh, dimanakan kamu sekarang?" Desis Nova dengan wajah menyedihkan.


"Eh, ngomong ngomong, lo tadi Ngapain di kamar mandi. Gila ya, baru beberapa hari melahirkan udah main ehem ehem aja."


"Otak lo yang ngeres. Orang kita gak lagi ngapa ngapain." Jawab Nara sambil geleng geleng.


...*****...


Shaila tampak sibuk di pantry cafe. Dia mulai membuat dessert dengan resep baru yang diajarkan chef Roger.


Sedangkan Diego, cowok itu sejak tadi duduk dipantry. Dia tampak sibuk dengan ponselnya. Entah apa yang dia lakukan. Tapi yang jelas, keberadaannya membuat Shaila risih. Shaila tak punya kuasa mengusir karena Diego sudah secara resmi diterima kerja disini. Meskipun kerjanya gak jelas sama sekali.


"Lo benaran pacaran sama dia Sha?" Tanya Mila sambil melirik kearah Diego.


"Enggak."


"Gue nonton live lo tadi. Dia bilang doain aja, itu artinya, kalian benar benar ada hubungan. Btw, kalian cocok loh."


"Gak usah nebak nebak deh. Kita gak ada apa apa."


"Yakin?"


"Hem."


"Kalau gitu, gue deketin dia ya."


Shaila seketika melotot mendengarnya. Dia yang sedang mengambil cake dari oven sampai hilang konsentrasi. Loyang yang dia pegang hampir jatuh, dan untuk mempertahankan itu dia sampai menahan menggunakan tangan kiri yang tidak memakai sarung tangan.


"Auh... " Pekik Shaila yang merasakan telapak tangan kirinya panas terkenal loyang yang baru keluar dari oven.


"Hati hati dong Sha." Mila segera melihat tangan Shaila. Telapak tangan putih itu terlihat merah.


"Ada apa?" Tanya Diego panik.


"Tangan Shaila kena loyang panas." Jawab Mila.


Diego segera menarik Shaila kearah wastafel. Diraihnya tangan Shaila dan diguyur dengan air dari pancuran.


"Ada obat luka bakar?" Tanya Diego.


"Ada, didepan." Jawab Shaila.


Mereka berdua segera menuju tempat menyimpan kotak P3K. Setelah mendapatkannya, Diego mengajak Shaila keatas untuk diobati. Mereka duduk disofa lantai dua yang disediakan untuk tamu yang ingin meeting.


"Gue bisa sendiri." Tolak Shaila saat Diego hendak mengoleskan salep luka bakar ke telapak tangannya..


"Bisa nurut bentar gak sih." Diego menarik paksa tangan Shaila. Diolesinya telapak tangan yang tampak merah itu dengan salep luka bakar. Setelah rata, Diego meniup niupnya agar rasa panasnya berkurang.


Jantung Shaila berdetak cepat. Ini pertama kalinya dia diperlakukan seperti ini oleh cowok.


"Makasih." Ujar Shaila sambil menarik tangannya. Dia tak mau lama lama karena takut makin baper.


"Gak usah makasih. Buat calon istri, apapun gue lakukan."


Shaila terdiam. Raut wajahnya seketika berubah kala disebut calon istri. Dia masih bingung dengan perasaannya sendiri. Dan juga, tentang perasaan Diego padanya. Dia takut jadi korban ghosting.


"Gimana soal lamaran kemarin?" Tanya Deigo.


"Hem..." Shaila seketika gugup. "Eh... itu... gue harus kembali kedapur." Shaila hendak beranjak tapi ditahan oleh Diego.


"Gak usah ngelak deh. Pakai acara mau kabur segala."


"Bu, bukan gitu. Tapi gue emang banyak kerjaan didapur."


"Cafe masih sepi. Ngapain lo sibuk sibuk didapur?"


Dengan terpaksa akhirnya Shaila duduk lagi. Diego bisa melihat ketidak nyamanan Shaila. Apa itu artinya, lamarannya ditolak.


"Kalau ada yang lo pengen omongin, omongin aja." Ujar Diego.


"Mengenai lamaran itu...." Shaila bingung cara menjelaskannya. "Bukankah itu hanya kesalah pahaman. Mama lo ngira kita pacaran, padahal aslinya kan enggak. Kita gak ada hubungan apa apa. Gak mungkinkan, kita tiba tiba nikah?"


Diego tersenyum mendengarnya. Playboy kelas kakap kayak dia pasti tahu maksud Shaila.


"Jadi lo butuh pengakuan. Lo butuh kepastian tantang perasaan gue?"


Sejujurnya, Shaila memang butuh itu. Antara dia dan Diego, tak pernah ada kata jadian, tak pernah ada yang namanya pacaran. Lamaran itu inisiatif mama Eva, bukan dari Diego sendiri. Tentu saja Shaila tak bisa menerimanya begitu saja tanpa tahu perasaan Diego yang sebenarnya.


"Lo tahu Sha. Beberapa hari ini, gue selalu diledekin sama Damar. Dia selalu bilang gue gila. Karena apa? karena gue sering senyum senyum sendiri. Dan semua itu karena lo. Setiap kali gue teringat lo, teringat saat kita bersama, gue pasti tersenyum gak jelas. Bahkan gue selalu gak bisa tidur sebelum lo balas chat dari gue. Meskipun setiap gue kirim sepuluh chat, lo cuma balas 1,itupun lama."


Shaila hanya diam , dia tak tahu harus berkomentar apa. Sebenarnya dia melakukan itu untuk membentengi diri agar tak sampai jadi korban ghosting Diego.


"Menurut lo, apa yang gue rasain, bukan cinta?" Tanya Diego.


Shaila masih setia dengan diamnya, bingung harus menjawab apa.


"Itu cinta, gue yakin dengan perasaan gue. Dan gue juga yakin kalau lo juga suka sama gue."


Mata Shaila seketika melotot. "Jangan ge er deh," Sangkalnya sambil mendengus.


"Hahaha... " Diego seketika terbahak.


"Gue bisa lihat kok Sha. Dimata lo, ada cinta buat gue."


Shaila menunduk, wajahnya memerah dan jantungnya berdebar. Benarkan semua itu terlihat jelas dimatanya?


"Kita saling mencintai, jadi gak ada alasan buat lo nolak gue."


Shaila mengangkat wajahnya dan menatap Diego. Sepertinya, ini saat yang tepat untuk mengungkapkan uneg unegnya.


"Rumah tangga gak hanya butuh cinta." Ujar Shaila.


"Tapi hal yang paling mendasar untuk membangun rumah tangga adalah cinta." Diego tak mau kalah.


"Banyak hal yang harus diperhitungkan sebelum membina rumah tangga."


"Apa? nafkah? gue bisa kok mencukupi nafkah lahir batin buat lo."


Shaila menggeleng. "Tak hanya itu. Tapi juga kemampuan lo buat jadi pemimpin dalam rumah tangga. Seorang laki laki ditakdirkan menjadi pemimpin dalam rumah tangga. Dia harus bisa membimbing dan membawa anak istrinya ke surganya Allah. Apa kamu sudah merasa mampu?"


Diego terdiam, raut wajahnya seketika berubah. Dia yang awalnya begitu percaya diri jadi menciut. Jangankan membimbing istri dan anak menuju surga, membimbing dirinya sendiri saja, dia masih tidak mampu.


"Gue akan berusaha."


"Jangan memaksakan diri. Gue gak mau lo terpaksa melakukan itu demi gue. Pikirkan saja dulu."


"Apa yang harus gue lakukan agar lo yakin kalau gue mampu menjadi pemimpin rumah tangga."


"Buktikan kalau kamu bisa menjadi imam sholat, setidaknya buat aku."