Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
RESTU


Pagi hari, Septiaan sudah rapi dengan kemeja putih dan celana bahan. Pria itu tampak sedang merapikan rambut didepan meja rias sambil sesekali bersiul.


Sedangkan diatas ranjang, Nara memperhatikan suaminya sambil menyuusui baby Ay. Ada perasaan tak rela, tapi dia tak mau dikira egois. Sebenarnya berat baginya mengijinkan Septian bekerja. Dia ingin punya lebih banyak waktu bersama suaminya. Tapi dia sudah bertekad akan mendukung apapun yang terbaik untuk suaminya.


"Yang, udah rapi belum?" Tanya Septian sambil membalikkan badan menghadap Nara. Ini hari pertamanya bekerja disebuah perusahaan multinasional, jadi dia ingin terlihat perfect.


"Udah cakep." Jawab Nara sambil tersenyum.


Melihat baby Ay sudah tertidur, Nara meletakkan bayi mungil itu diatas kasur. Dia kemudian berjalan menghampiri suaminya.


Nara merapikan kemeja Septian yang sebenarnya sudah rapi. Dia lalu memeluknya sambil menahan tangis. Tak mau sampai dikira lebay.


"Kenapa?" Tanya Septian sambil menarik bahu Nara dan menatap wajahnya.


Nara menggeleng sambil tersenyum.


"Kamu gak mau abang kerja?" Septian bisa melihat dari mata dan bahasa tubuh dari Nara.


"Bukan gak mau, hanya berat. Aku takut abang terlalu sibuk dan gak ada waktu buat aku dan Ay."


Septian membelai rambut Nara lalu mencium keningnya lama. "Abang akan selalu usahakan ada waktu buat kalian." Hibur Septian.


Nara menghela nafas lalu merebahkan kepalanya didada bidang Septian.


"Abang seperti ini juga buat kalian. Abang ingin bisa membahagiakan kalian. Mencukupi semua kebutuhan kalian."


Nara mengeratkan pelukannya sambil memejamkan mata. Dia menghirup dalam dalam aroma tubuh suaminya. Mungkin setelah ini, dia tak akan punya banyak waktu lagi untuk bersandar didada bidang yang membuatnya nyaman ini.


"Udah siang Ra, abang berangkat ya?" Septian melepaskan belitan tangan Nara lalu mencium sekilas bibir manis milik istrinya.


"Aku antar kedepan." Ujar Nara sambil meraih tas milik Septian yang berada diatas ranjang dan membawakannya hingga ke halaman.


Nara merasakan ada bagian dari dirinya yang hilang saat melepas Septian pergi. Padahal hanya untuk melamar kerja, tapi kenapa, rasanya seberat ini.


...******...


Sepulang kerja, Septian langsung ke rumah ibunya. Ada hal yang harus dia bahas dengan sang ibu mengenai lamaran Shaila.


Kalau boleh jujur, Septian sebenarnya belum sepenuhnya memberikan restu. Tapi pagi itu, sebelum melakukan lamaran, Diego datang kerumah Septian.


Flashback


Pagi itu, disaat matahari baru mengeluarkan sinarnya. Saat sebenarnya belum waktunya orang bertamu, Diego sudah berada di rumah Septian. Dia tak mau menunda lagi, jadi sehabis sholat subuh, dia bertandang ke rumah calon ipar.


Septian jelas merasa terganggu dengan kedatangan Diego yang dirasa terlalu pagi. Tapi mau tak mau, dia tetap menemui cowok itu.


Diego tak mau melamar sebelum mendapatkan restu Septian. Selain sebagai kakak, Septianlah yang akan menjadi wali nikah untuk Shaila. Jadi restu darinya, sangat dibutuhkan.


"Gue mau ngelamar Shaila." Ujar Diego sambil menoleh kearah Septian yang saat itu duduk disebelahnya. Kedua orang itu sedang berbincang di halaman samping rumah Nara.


"Lalu?" Tanya Septian dengan tatapan mengintimidasi.


"Gue butuh restu dari lo."


Septian tersenyum sinis dengan kedua tangan dilipat didada.


"Shaila masih terlalu muda untuk menikah."


"Tapi menurut agama dan negara, usianya sudah dianggap cukup untuk menikah." Sahut Diego.


"Belum." Tekan Septian.


"Dua bulan lagikan? Usia Shaila 19 tahun, 2 bulan lagi. Gue bakal tunggu itu. Sekarang, gue butuh restu lo sebelum gue ngelamar secara resmi."


"Gak ada apapun dari diri gue yang bisa dijadikan alasan kuat agar lo ngerestuin gue. Gue hanya punya janji. Janji akan ngebahagiain Shaila."


"Cih, janji? lo pikir gue percaya? Lo pikir gue bocah yang akan percaya saat lo janji akan ngasih permen?" Septian tersenyum kecut.


"Lo gak perlu percaya. Lo cuma perlu melihat. Lihat apa yang gue lakukan untuk ngebahagiain Shaila. Dan bukti pertama yang akan gue lakuin, gue mau ngelamar Shaila. Bukankah itu tindakan gentleman? Gue gak ngajak dia pacaran, tapi nikah."


Septian membuang nafas kasar. Mempercayai orang seperti Diego? rasanya mustahil. Tapi satu bulan dekat dengan Diego, membuatnya tahu, kalau cowok itu tak seburuk perkiraanan.


"Gue tulus sayang sama Shaila. Gue gak mau mainin dia atau ngambil keuntungan dari dia. Gue pengen ngajak dia nikah. Ngajak dia ibadah yang paling panjang."


"Semua orang punya masa lalu. Dan semua orang bisa berubah. Mungkin selama ini, lo melihat sisi negatif gue. Tapi pernahkan lo pikir, kalau gue juga punya sisi positif. Sama kayak lo." Lanjut Diego.


"Maksud lo apa?" Entah kenapa, Septian mendadak tersindir dengan ucapan sama kayak lo.


"Gak usah sok gak paham." Sahut Diego dengan tatapan lurus kedepan. "Gue tahu kok, apa yang terjadi sama lo dan Bu Nara hingga akhirnya nikah. MBA kan?"


Septian speechless. Secara tidak langsung, dia seperti tertampar. Dia tak suka dengan Diego karena playboy dan sombong. Padahal diri sendiri bahkan tak lebih baik darinya.


"Maaf, bukannya mau ngejudge lo ataupun Bu Nara. Gue cuma mau lo fair. Kita sama sama bukan orang baik. Jika lo bisa berubah, kenapa gue tidak? gue hanya butuh waktu untuk membuktikan. Kita gak jauh beda kok. Justru gue masih lebih baik. Gue gak sampai ngebuntingin anak orang." Lanjut Diego sambil menahan tawa.


"Sialan." Seketika Septian memukul lengan cowok tak tahu diri yang saat ini duduk disebelahnya. "Gini cara lo minta restu?" Sentak Septian sambil melotot.


"Sorry Sep, terpaksa. Gue butuh restu sekarang juga. Semalam gue udah calling semua tim gue buat nyiapin lamaran buat Shaila. Jadi bisa gak bisa, mau gak mau, detik ini juga, gue harus dapat restu."


"Kalau gue gak mau?"


"Gue ajak Shaila kawin lari."


"Dia gak bakal mau."


"Jangan terlalu yakin. Cinta itu buta bro. Dan Shaila udah terlanjur cinta sama gue."


"Cih, pede banget."


"Udah sifat gue sejak kecil kayak gitu."


"Jadi lo ngancem gue nih?"


"Kalau menurut lo seperti itu, ya terserah. Gue hanya butuh restu. Please... restuin gue untuk menikahi Shaila."


Septian diam. Ini bukan keputusan mudah yang bisa dia ambil dengan cepat. Masa depan Shaila dipertaruhkan.


"Makasih." Ucap Diego sambil menjabat tangan Septian.


"Buat?" Septian mengernyit.


"Restunya."


"Kapan gue bilang ngerestuin?"


"Barusan. Bukankan kata orang jaman dulu, diam artinya iya."


"Hah." Septian melongo.


"Makasih kakak ipar. Gue janji Bakan bikin Shaila bahagia dunia akhirat. Bye.... gue harus segera pulang." Diego buru buru ngacir.


"Hei sialan. Gue belum ngasih restu." Teriak Septian.


"Tapi menurut gue udah." Jawab Diego sambil menoleh kebelakang.