Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
BAHAGIA BERSAMAMU


Suara riuh rendah memenuhi sebuah coffee shop. Hari ini, pembukaan cabang ke lima Mezra coffee n dessert. Letaknya sangat strategis, tak jauh dari area kampus dan perkantoran.


Pengunjung lumayan membludak karena sejak tiga hari sebelumnya sudah diumumkan di akun sosmed resmi Mezra coffee shop. Diskon 50 persen serta penampilan live musik dari band cukup terkenal menambah antusias pengunjung.


Ditempat biasanya Septian berada, alias didepan coffee maker, seorang pria paruh baya berdiri disana. Tak lain tak bukan adalah papa Satrio. Pria yang tahun lalu pensiun itu sedang asik meracik kopi. Dengan mengenakan apron bertulis Mazra coffee n dessert, papa Satrio fukos membuat latte art.


"Belum siap juga kek?" Seorang bocah berusia 5 tahun sedang berdiri disebelahnya dengan kedua tangan dilipat didada. Wajahnya tampak cemberut, lelah menunggu sang kakek yang tak jua merampungkan permintaannya.


"Sabar... " Entah sudah berapa kali kata itu terlontar dari mulut sang kakek.


Bibir bocah itu tampak menirukan ucapan sang kakek tanpa bersuara. Setelah beberapa saat.


"Ini dia... " Dengan bangganya, papa Satrio menunjukkan latte art bergambar kucing pada Aydin.


Wajah Aydin seketika berbinar. Kucing kecil didalam cangkir itu sungguh menggemaskan. Membuatnya tak sanggup untuk sekedar mencolek apalagi menyeruput. Dengan senyum lebarnya, Aydin memberikan 2 jempol pada sang kakek.


"Kita bawa kesana kek." Aydin menarik apron sang kakek sambil menunjuk kearah kursi tempat mama, ayah, adik dan neneknya berada.


Papa Satrio segera mengangguk lalu mengikuti langkah Aydin menuju meja tempat keluarga mereka berkumpul.


"Mama, mama, kakek sudah bisa bikinin Ay cute cat mah." Teriak Aydin penuh antusias sambil berlari menuju tempat mamanya.


"Oh ya, mana lihat?" Sahut Nara tak kalah antusias. Berbulan bulan lamanya papanya itu belajar meracik kopi. Dan dia selalu gagal saat membuat latte art. Dan jika kali ini berhasil, itu merupakan sebuah pencapaian luar biasa.


"Lihat ini." Dengan bangganya papa Satrio menunjukkan latte art bikinannya.


Mama Tiur tak kuasa menahan tawa, begitu pula dengan Nara dan Septian. Kucing dalam cangkir itu tampak sangat aneh. Bahkan mungkin tak layak disebut kucing. Tapi karena tak mau menyurutkan semangat papa Satrio. Mereka bertiga kompak mengangkat jempol.


Karena keriuhan mereka, baby Ayleen yang ada distroler terbangun. Bayi yang baru berusia 2 tahun itu merupakan abak ke2 Septian dan Nara.


Nara hendak meraihnya tapi sudah keduluan mama Tiur. Nenek yang satu itu memang siap siaga untuk semua cucu cucunya.


"Mama aja. Kamu kelihatan capek banget Ra. Istirahat aja." Ujar mama Tiur yang dengan cekatan menggendong Ayleen.


"Biar Ay dan Ayleen papa dan Mama yang jaga. Kamu ajak Nara istirahat aja Sep." Papa ikut menimpali. Saat ini, Nara sedang hamil 5 bulan. Beliau tak mau sampai terjadi apa apa pada kandungan Nara. Punya banyak cucu adalah cita citanya. Kinan sudah memiliki 4 anak. Dan sekarang, Nara otw anak ke 3.


Septian mengangguk lalu mengajak Nara istirahat disebuah ruangan khusus. Tapi Nara malah menolak. Wanita itu justru mengajak suaminya naik ke rooftop untuk menikmati senja.


Rooftop tempat ini juga dimanfaatkan untuk cafe. Biasanya beberapa pengunjung suka tempat out door seperti ini. Apalagi saat malam hari yang cerah. Tapi saat siang hingga sore, tak begitu ramai karena cuaca lumayan panas.


Nara berdiri dipinggiran rooftop yang dikelilingi pagar besi. Senja yang menampakkan sinar jingganya sungguh pemandangan yang sangat indah. Apalagi menikmatinya bersama orang terkasih yang sedang memeluknya dari belakang sambil meletakkan dagu di bahunya.


"Terimakasih." Ucap Septian sambil mencium pipi Nara.


"Untuk?"


"Semuanya. Terimakasih karena sudah mau menerimaku yang banyak kekurangan. Terimakasih karena setia disampingku yang bukan siapa siapa ini. Terimakasih untuk semua cinta dan kebahagian yang kau berikan."


Nara tersenyum mendengarnya sambil mengusap tangan Septian yang melingkar diperutnya.


"Aku gak butuh terimakasih bang. Balasan cinta darimu sudah lebih dari cukup untukku. Aku sempat ragu saat pertama kali menikah denganmu. Tapi akhirnya, kamu bisa membuktikan jika tak semua laki laki sama." Nara melepaskan pelukan Septian lalu membalikkan badannya.


Mereka berdua saling menatap penuh cinta dan kebahagiaan. Septian mengambil ponsel lalu menunjukkan sesuatu pada Nara.


"UK?" Mata Nara terbelalak saat melihat suaminya sudah memesan tiket perjalanan ke UK disebuah aplikasi.


"Hem." Septian mengangguk. "As your wish babe."


Nara yang kegirangan langsung memeluk Septian. Menurutnya, ini hadiah yang sangat luar biasa. Beberapa hari yang lalu, dia vc dengan salah satu temannya di UK. Dan Nara mengutarakan kerinduannya pada tempat itu. 6 tahun disana, membuatnya merasa UK seperti rumah keduanya.


"Terimakasih Bang." Ucapnya sambil mengeratkan pelukannya.


"Abang ingin melihatmu bahagia dan mewujudkan semua keinginanmu."


"Me too."


"I love you Abang."


"I love you more babe."


Septian mendaratkan ciuman dibibir Nara. Mareka seolah tak peduli jika saat ini, ada orang lain yang juga berada ditempat itu.


"Hem Hem."


Suara deheman menghancurkan momen sakral antara Septian dan Nara.


"Dunia milik berdua, yang lain ngontrak." Ledek Diego keras keras. Dia terlihat datang bersama Shaila dan berjalan menghampiri Mereka berdua.


Diego segera merangkul Septian dengan gaya khas laki laki. Sedangkan Nara dan Shaila, cipika cipika seperti biasanya.


"Dibawah ramai banget." Ujar Diego.


"Alhamdulillah, berkat doa istri." Sahut Septian sambil melirik kearah Nara. "Gimana dengan usaha kamu?"


"Alhamdulillah, berkat doa istri juga." Kali ini giliran Diego yang mengerling kearah Shaila. Diego dan Shaila membuka bisnis baju muslim. Berbekal dari kepopuleran keduanya di instagram, membuatnya berani keluar dari zona nyaman, yaitu dengan mendirikan konveksi baju muslim keluarga.


Sejak menikah dan punya anak, Diego dan Shaila kebanjiran endorsmen baju muslim Couple. Bahkan putri mereka yang baru berusia 4 tahun, sudah menjadi babygram dan banjir endorsmen.


Jadi saat mereka membuka usaha, jalan mereka terbuka lebar. Selain menjual baju muslim secara online, mereka juga mempunyai butik offline yang tersebar dibeberapa mall. Karyawan yang awalnya hanya puluhan, sekarang sudah menjadi ratusan.


"Kita kemari juga mau minta izin bawa Aydin buat pemotretan besok." Ucap Shaila.


"Koleksi baru lagi?" Tanya Nara.


"Yup, begitulah." Jawab Diego. Untuk model anak laki laki, mereka memang memakai Aydin. Sedangkan anak perempuan, adalah Davina, putri Diego dan Shaila.


Sebenarnya sejak menjadi BR di koleksi Diego dan Shaila, Aydin sempat beberapa kali mendapat tawaran endorsmen. Tapi Nara menolaknya karena tak mau membebani Aydin.


"Gimana kehamilannya kak?" Tanya Shaila sambil mengelus perut Nara.


"Alhamdulillah, lancar. Kamu kapan nambah?'


"Otw." Jawab Diego yakin dan langsung disambut gelak tawa oleh yang lain.


"Kita mau babymoon ke UK loh." Pamer Nara sambil tersenyum kearah Septian.


"Wah... pasti seru banget." Sahut Shaila.


"Kamu mau juga yank?" Tanya Diego sambil menoleh ke arah Shaila. "Kuy lah, kita honeymoon ke UK juga. Siapa tahu pulang darisana kamu langsung isi. Untung untung kalau bisa kembar 3."


Shaila langsung melotot mendengarnya. "Kamu kira aku kucing apa."


"Heh, kok kucing. Ada loh orang yang hamil sampai kembar 5 juga. Tapi aku gak tega yank, takut kamu keberatan. 3 aja cukup kok." Sahut Diego sambil mengerling nakal.


Nara dan Septian hanya tertawa sambil geleng geleng. Adik ipar yang dulu Mereka kenal sebagai player, ternyata punya sisi lain yang ternyata seorang humoris. Menjadikan Septian dengan mudah akrab dengan Diego.


.


TAMAT


.


YANG BELUM BISA MOVE ON SAMA BANG ASEP, BISA BACA KISAH ANAKNYA, PELABUHAN TERAKHIR SANG BAD BOY.