Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
TERPAKSA KONON


Nara menghentikan mobilnya diparkiran sebuah supermarket. Niatnya masih sama, ingin mencari nanas mentah. Tapi perasaannya tak seyakin tadi.


Kalau udah bikin dosa itu insaf, bukan malam nambah dosa.


Ucapan ibu ibu penjual buah itu mampu menggoyahkan keteguhan hatinya. Apakah menggugurkan kandungan adalah pilihan yang tepat?


Memang bukan pilihan yang tepat, tapi tak ada pilihan lain. Meneruskan kehamilan dan menjadi single parent, jelas akan sangat memalukan keluarga. Menikah? jelas tak mungkin, karena dia tak tahu dimana Septian. Dan satu lagi, dia belum mau menikah, dia masih trauma dengan pernikahannya dengan Abi.


Satu satunya jalan keluar hanya menggugurkan kandungan. Dan dia tak boleh mundur saat ini.


Nara memasuki supermarket dan langsung menuju tempat buah buahan segar. Dia menuju tempat nanas. Memilih salah satu yang menurutnya paling muda. Memang tak bisa dibilang muda, tapi masih setengah matang. Tak apa daripada tidak dapat.


Nara berjalan ketempat penimbangan. Setelah ditimbang, dia minta pegawai yang sedang memotong buah untuk mengupas dan membersihakan nanas tersebut.


Setelah dibersihkan dan disimpan dalam foam yang dibalut wrap, Nara berkeliling sebentar untuk mencari cemilan.


Sekelebat, dia seperti melihat Septian. Nara yang ingin memastikan, langsung mengejar pria itu. Tapi karena terburu buru, tak sengaja dia menabrak seseorang hingga keranjang belanjaan orang tersebut jatuh dan isinya berantakan.


"Sorry." Ujarnya sambil membantu mengambil belanjaan orang tersebut dan memasukkan kembali kedalam keranjang.


"Nara."


Nara mendongak mendengar suara itu. Suara yang dulu selalu dia rindukan siang dan malam.


"Abi." Gumam Nara dengan tangan yang masih memegang belanjaan milik Abi yang terjatuh.


Susu ibu hamil, benda itu yang sekarang ada ditangan Nara. Bukankah seharusnya benda itu yang dia beli sekarang, bukannya malah nanas mentah.


Nara kemudian memasukkannya susu ibu hamil itu kedalam keranjang belanjaan Abi. Dia berniat pergi tapi keburu tangannya dicekal oleh Abi.


"Lepas." Nara menarik tangannya dari cekalan Abi. Dulu, dia merasa sangat terlindungi saat Abi menggenggam tangannya. Tapi semua sudah berubah saat ini. Semua tak lagi sama. Semua tak lagi seperti dulu.


"Bisa kita bicara sebentar."


"Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan."


"Ada, dan masih banyak."


"Menurutmu, tapi tidak menurutku." Nara melangkah pergi tapi lagi lagi ditahan oleh Abi.


"15 menit."


"Aku sibuk." Sahutnya sambil mendengus kesal.


"Baiklah, 10 menit saja."


"Maaf." Kata pembuka yang dipilih Abi sebelum bicara panjang lebar.


Nara hanya menanggapi dengan senyum getir. Karena kalau boleh jujur, dia belum bisa memaafkan Abi.


"Maaf karena cintaku dikalahkan oleh jarak dan waktu. Jarak yang terlalu jauh dan waktu yang terlalu lama membuatku tak mampu bertahan. Aku kalah Ra. Maaf, karena tak mampu berjuang sampai akhir. Tak mampu tetap bergandengan hingga digaris finish seperti impian kita dulu."


Tak peduli sejauh apapun jarak memisahkan kita. Kita akan tetap menjadi Ara, Abi Nara. Anggap saja sekarang cinta kita sedang diuji oleh jarak. Kita sedang berjuang, berlari menuju garis finish. Dan selama itu, kita harus tetap bergandengan. Tak akan ada yang memisahkan kita, hingga kita sampai digaris finish, yaitu pernikahan.


Dulu, itulah yang sering diucapkan Abi padanya. Terdengar manis, tapi nyatanya pahit.


"Kata kata adalah doa." Ujar Nara sinis. "Tanpa sadar, kita selalu mengaminkan doa itu. Doa yang setelah aku renungkan, adalah sebuah kesalahan besar. Finish kita adalah pernikahan, dan kita sudah mencapainya. Seharusnya, finish kita adalah surga bukan pernikahan. Kita berpisah tepat setelah garis finish." Nara menekankan ucapanmu.


Abi tersenyum getir sambil menatap keluar jendela. Benar kata Nara. Mereka salah menentukan garis finish. Mungkin inilah yang dinamakan tak jodoh.


"Apa kamu membenciku?" Tanya Abi dengan pandangan masih kearah jendela.


"Apa ada alasan untuk tidak membencimu?"


Abi menggeleng. "Aku memang pantas dibenci. Tapi asal kamu tahu. Aku terpaksa melakukan itu. Hatiku juga sakit Ra. Aku sakit karena kita harus terpisah. Dan yang lebih membuatku sakit, aku telah memberimu luka yang amat dalam." Mata Abi mulai berkaca kaca.


"Tapi aku tak ada pilihan. Aku sudah membuat kesalahan besar. Dan aku harus bertanggung jawab pada Arumi dan anak dalam kandungannya."


Wow.. terdengar seperti pria hebat. Pria bertanggung jawab. Patut diacungi 4 jempol.


"Dan kenapa setelah aku menalakmu, aku langsung pergi begitu saja. Karena aku tak sanggup Melihatmu menangis. Terlalu menyakitkan melihat orang yang kita cintai terluka. Apalagi yang membuat dia terluka adalah kita."


Nara makin muak mendengar ucapan Abi. Tak mau melihatnya menangis? Bulshit.


"Sepetinya, sudah lebih dari 10 menit." Nara menatap jam tangannya lalu mulai beranjak dari duduknya. Tapi saat dia ingin melangkah pergi. Dia berbalik dan menatap Abi.


"Jangan pernah mencari pembenaran dengan sebuah kata TERPAKSA. Karena sejatinya, kamu tak pernah terpaksa saat memulai untuk selingkuh."


"Jangan kamu pikir aku akan terharu dengan ucapan sok gentleman kamu. Sok menjadi pria hebat dengan bertanggung jawab. Nyatanya, kamu tak pernah bertanggung jawab dengan ucapan kamu. Bahkan dengan ikrar ijab kabul yang kamu ucapkan didepan papaku dan semua saksi."


"Bagiku, kamu dan Arumi, tak lebih daripada sepasang pengkhianat. Seribu ucapan rasa bersalah kalian, tak akan mampu mengobati luka yang telah kalian berikan padaku. Seberapapun besarnya usahamu untuk memperbaiki benda yang rusak. Tak akan bisa kembali sempurna karena bekasnya pasti masih ada."


"Tapi aku masih bisa bersyukur. Setidaknya, pengkhianatan ini, membuat aku bisa melihat. Seperti apa wajahmu dan Arumi yang sesungguhnya."


Nara yang sudah tak sanggup menahan air mata segera pergi dari tempat itu. Berjalan cepat menuju tempat parkir dan menangis didalam mobil.


Nara Merutuki kebodohannya. Bodoh karena telah membuang waktu selama 8 tahun untuk mencintai pria seperti Abi.


Yang paling menyakitkan dari pengkhianatan adalah saat kamu mengetahui, bukan musuh yang mengkhianatimu melainkan sahabat sendiri.