Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
JATUH


Hari yang mendebarkan bagi seorang Septian. Dia tak henti henti berdoa agar bisa lulus. Dia sudah tak sabar ingin meraih gelar sarjana. Ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik agar bisa memberi kehidupan yang layak untuk Nara dan anak mereka. Walaupun sebenarnya, dia sangat menyukai pekerjaan sebagai barista.


Waktu yang ditunggupun akhirnya tiba. Setelah beberapa kali menghela nafas dan membuangnya, dia masuk kedalam ruanh sidang.


Sementara ditempat lain, Nara tak begitu bisa fokus saat mengajar. Dia mencemaskan Septian. Rasanya dia ikut tegang meski bukan dia yang sedang ujian.


Nara segera keluar setelah menyelesaikan kelasnya. Tapi kemudian dia berdecak malas saat melihat ada Diego.


"Bu Nara." Seperti tak pernah lelah, dia mengejar Nara. Padahal sebisa mungkin Nara sudah menghindar.


"Bu Nara tunggu." Dengan terpaksa Nara menghentikan langkahnya.


"Ada apa lagi Diego?" Tanya Nara dengan nada malas dan kesal.


Diego memperhatikan perut Nara. Gosip tentang dosen most wanted itu tengah hamil sudah menyebar kemana kemana.


"Jadi benar ibu hamil?" Tanyanya dengan mata yang masih fokus pada perut Nara.


Nara mengehela nafas lalu mengangguk. Dan raut wajah Diego, seketika menunjukkan ekspresi kecewa. Dia selalu berpikir jika Nara membohonginya tentang status sudah menikah. Tapi sekarang, sepertinya dia harus bisa menerima fakta tersebut.


"Saya menunggu kamu dirumah, kenapa tidak datang? Bukankah kamu sangat penasaran dengan suami saya?"


"Em... "Diego menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal. Sungguh, dia bingung harus berkata apa sekarang.


"Dua minggu lagi, saya tunggu dirumah saya. Ada acara syukuran tujuh bulanan. Jangan lupa bawa pacar kamu. Bukankah kamu terkenal seorang playboy." Lirih Nara sambil tersenyum sinis. Dia lalu melangkah meninggalkan Diego yang masih mematung.


"Bu Nara, jadi benar ibu sudah menikah dan hamil?" Seorang mahasiswa yang tak sengaja mendengar obrolan mereka bertanya dengan suara lantang. Pertanyaan yang mewakili rasa penasaran banyan orang.


Nara melihat sekitar. Beberapa mahasiswa tampak bergerombol dengan genk masing masih. Dan terlihat sekali, wajah wajah penasaran disana. Ya, mungkin sudah waktunya dia untuk bicara tentang status. Dan semoga saja tak ada yang menyadari jika dia hamil diluar nikah.


"Benar, saya sudah menikah dan sekarang sedang hamil." Jawab Nara lantang.


Ooo, jadi.. ,sebagian besar kalimat awal seperti itu yang terucap dari bibir mereka. Rasa penasaran itu tiba tiba berubah menjadi senyuman lega di bibir para mahasiswi. Sedangkan mahasiswa yang mengidolakannya tampak kecewa.


"Permisi." Nara ingin pergi tapi seseorang mencegahnya.


"Tunggu sebentar Bu." Teriak seseorang yang tak lain adalah Mayang.


"Boleh lihat foto pernikahan ibu? atau kalau bukan, foto suami ibu?" Walaupun dia tak percaya jika Asep suaminya, tapi rasa penasaran itu sangat besar.


"Kenapa? penasaran?"


"Bukan Asep kan?" Tanya Mayang lantang. Wajahnya sudah tampak tegang. Kemarin, mamanya cerita, jika Asep sudah menikah, dan keluarga mereka diundang di acara tujuh bulanan. Kata mamanya, istri Asep seorang dosen. Dan seketika, otaknya tertuju pada Nara. Teringat tentang ucapan Johan saat dikantin.


"Asep?"


"Asep, Septian?"


"Asep anak fakultas teknik?"


Pertanyaan pertanyaan itu langsung terdengar. Septian memang lumayan terkenal dulu. Tapi sejak dia cuti satu tahun, namanya sedikit tenggelam.


"Bukan Asep kan Bu?" Mayang mengulangi pertanyaannya karena Nara masih diam.


"Kalau iya kenapa?"


Boom...


Seperti bom yang tiba tiba meledak. Seketika suasana menjadi riuh. Seorang Asep, menjadi suami Nara, sungguh diluar dugaan semua orang. Asep memang terkenal tampan, tapi dia jelas berada distatus sosial yang sangat berbeda dengan Nara.


Dan yang paling syok, sudah tentu Mayang dan Diego. Bahkan Mayang sudah seperti mau menangis.


"Permisi, saya harus pergi." Nara tak mau lagi menanggapi Mayang.


"Jelasin dulu." Mayang menarik lengan Nara. "Kenapa ibu tiba tiba menikah dengan Asep? Kapan kalian kenal? Saya sudah kenal Asep sejak kecil, tapi kenapa dia nikahnya malah sama ibu? Saya tak terima bu, gak terima." Mayang menarik narik lengan Nara seperti anak kecil yang sedang ngambek.


Nara berusaha melepaskan tangan Mayang. Dia ingin segera pergi, tak mau kalau sampai Mayang keceplosan bilang mereka baru menikah kurang lebih tiga bulan. Sedangkan sekarang dia sudah hamil 7 bulan.


Johan yang takut terjadi keributan, berusaha menelepon Asep. Tapi sayang, ponsel pria itu sedang tidak aktif. Mungkin masih menjalani sidang, jadi ponselnya dimatikan.


"Lepasin May." Teriak Nara.


"Yang, Yang, udah Yang, lepasin Bu Nara." Ucap Johan.


"Enggak, ibu Jelasin dulu. Dan tunggu, acara tujuh bulanan? bukankah____"


"Saya bilang lepas Mayang." Nara buru buru memotong ucapan Mayang. Dia menarik tangannya kuat tapi Mayang tak mau melepas. Hingga akhirnya, Nara yang berusaha sekuat tenaga, jatuh kebelakang saat tangannya berhasil lepas.


"Akh....." Teriak Nara sambil berusaha duduk dan memegangi perutnya yang terasa sakit.


"Ibu, ibu gak papa kan?" Diego segera mendekat untuk menolong Nara yang wajahnya seketika berubah pucat.


Sedangkan Mayang, dia gemetaran karena takut. Dia takut disalahkan jika terjadi sesuatu pada Nara.


"Tolong, perut saya sakit sekali." Rintih Nara sambil memegangi perutnya yang sakit. Dia mulai menangis, takut terjadi sesuatu pada janinnya.


"Saya antar kerumah sakit Bu." Diego langsung sigap hendak mengangkat tubuh Nara.


"Ada apa ini, ada apa?" Tanya Bu Sista yang baru datang.


"Bu Nara jatuh Bu." Jawab seorang mahasiswa.


"Astaga Bu Nara." Wanita itu mendekati Nara dan berjongkok disebelahnya. "Ayo bantu bawa ke rumah sakit."


Johan belum juga berhasil menghubungi Septian. Tapi, tiba tiba dia melihat seseorang yang berlari kearahnya, Septian, pria berkemeja putih itu tampak berlari menuju kerumunan.


"Sep cepetan." Teriak Johan sambil melambaikan tangan.


"Abang." Gumam Nara yang mendengar Johan memanggil Sep. Diego yang hendak mengangkat mengurungkan niatnya.


Septian menerobos kerumunan dan segera menghampiri Nara.


"Biar saya yang bawa." Teriak Septian membuat Diego menjauhkan tangannya dari Nara.


"Abang, sakit bang." Rintih Nara sambil memegangi perut..


"Tahan sebentar ya sayang." Ucap Septian sambil memposisikan tangannya di punggung dan lutut Nara.


Sekarang, tak ada lagi yang meragukan jika suami Nara adalah Septian. Mereka sudah menyaksikan didepan mata kepala sendiri.


"Jo, bantu gue bawa mobil. Ambil kunci mobil di tas Nara." Titah Septian sambil berdiri dan membopong tubuh Nara.


Septian berjalan cepat menuju parkiran bersama Johan.


"Anak kita gak papa kan bang?" Nara menangis menahan sakit serta ketakutan terjadi apa apa pada anak mereka.


"Berdoa sayang, berdoa terus semoga anak kita baik baik saja." Septian berusaha menenangkan walau sebenarnya dia juga sangat cemas. Apalagi melihat wajah Nara yang sudah pucat pasi.


Tadi setelah keluar dari ruang sidang. Septian hendak langsung menemui Nara di FMIPA. Tapi belum juga sampai, dia melihat kerumunan di depan FMIPA.


Feelingnya, ada sesuatu yang tak baik terjadi. Dia berlari menuju kerumunan itu. Dan mendengar teriakan Johan, dia semakin yakin, jika terjadi sesuatu yang berhubungan dengannya.