Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
DIBANDING DIA


Sungguh aku lebih mencintaimu dibanding dia


Aku bakal buktikan perasaanku seutuhnya


Sungguh aku lebih mendalamimu dibanding dia


Aku mohon padamu dengarkanlah bisikanku


( lyodra~ dibanding dia )


Jantung Nara berdetak sangat cepat saat dibertatapan langsung dengan Nurul. Dia tak mengira jika Nurul secantik ini. Selain cantik, dia juga tampak sopan. Dan yang paling menarik perhatian, wanita itu memakai hijab syari, jauh berbeda penampilan dengan dirinya. Dia jadi teringat kejadian semalam. Saat Septian terus terusan memujinya cantik saat mengenakan hijab. Mungkin memang wanita seperti ini yang disukai Septian.


Dari keempat wanita yang baru datang, hanya satu yang tak dikenali Nurul. Dan jelas, hal itu sangat membuatnya penasaran.


"Ini???" Tanyanya sambil hendak mengulurkan tangan ke arah Nara.


"Dia Nara, istriku."


Tangan yang hendak 1terulur itu tiba tiba terasa lunglai. Dia syok mendengar ucapan Septian barusan.


Lastri memberi kode kepada Shaila dan Sarah untuk masuk. Dan kedua putrinya itu langsung mengangguk dan pamit masuk. Begitu pula dengan Bu Lastri.


Septian mendekati Nara lalu bediri disampingnya. Sekarang tinggal mereka bertiga diteras. Suasana seketika menjadi canggung.


Nurul meremas gamisnya. Wanita itu tampak gelisah. Matanya mulai berkaca kaca. Dia sama sekali tak menyangka jika Septian sudah menikah.


"Nur, masuk yuk, kita bicara didalam." Ajak Septian.


"Bang Tian, bisa kita bicara berdua?" Pinta Nurul.


Seketika mata Nara membola. Tentu saja dia tak terima wanita lain memanggil suaminya dengan sebutan Abang. Dan wanita itu, sekarang ingin bicara berdua dengan suaminya. Tentu saja dia tak rela. Nara melingkarkan lengannya pada lengan Septian sambil menatap pria itu dan menggeleng pelan.


"Hanya sebentar, ada yang harus kami selesaikan." Ujar Nurul yang melihat ekspresi keberatan diwajah Nara.


"Kenapa harus berdua? apa yang tak boleh aku ketahui?" Tanya Nara sambil memberi tatapan tidak suka kearah Nurul.


"Aku ha__"


"Maaf Nur, aku gak bisa, karena istriku gak kasih izin." Potong Septian.


Nurul mengalihkan pandangannya kearah lain. Berusaha menyembunyikan air mata yang mulai menetes. Dadanya terasa sesak. Sebegitu cintanya kah dia pada istrinya? hingga dia butuh ijin saat hendak bicara berdua. Dia pikir, setelah berhasil menyakinkan orang tuanya untuk membatalkan taaruf, dia bisa bersama Septian. Nyata, semua sudah terlambat.


Nara melihat Nurul menghapus air matanya. Ada sedikit rasa iba dihatinya.


"Baiklah, aku izinkan kalian bicara berdua. Tapi tak lebih dari 15 menit." Ucap Nara sambil melepaskan lengan Septian. Walaupun sebenarnya, itu sangat berat. Tapi mungkin memang ada hal yang perlu mereka selesaikan.


"Kamu percaya kan sama abang?" Tanya Septian sambil menatap mata Nara.


Nara mengangguk lalu masuk kedalam rumah.


Dia hendak naik kelantai dua tapi lebih dulu dipanggil oleh Bu Lastri.


"Nara, kenapa kamu masuk sendirian? Mana Septian?"


"Mereka ingin bicara berdua bu." Jawab Nara sambil mengusap sudut matanya yang mulai berair.


"Percaya sama Septian. Dia pasti tak akan macam macam. Ibu tahu dia sangat mencintai kamu." Ucap Bu Lastri sambil mengusap kepala Nara.


"Nara naik dulu ya Bu."


"Hem."


Nara segera naik untuk mengambil sesuatu didalam kamar.


Sedangkan diluar, sepasang mantan kekasih duduk diam didua kursi yang dibatasi meja dibagian tengahnya. Nurul hanya menangis sambil memegangi dadanya. Dia bahkan belum bicara sepatah katapun sejak tadi.


"Maaf, karena aku, kamu membatalkan taaruf dengan uztad Zaka. Tapi sekali lagi, aku minta maaf, aku sudah menikah Nur."


Nurul meremat gamisnya. Dia pikir, kisah cintanya dengan Septian akan berakhir dipelaminan. Tapi ternyata, itu hanya ada dalam angannya saja.


"Jadi....Nur sudah terlambat bang?"


"Maaf."


"Apa abang mencintai wanita itu, Nara?"


Hati Nurul terasa ditusuk sembilu. Selama ini dia tak pernah bisa melupakan Septian. Tapi ternyata, Septian tak demikian. Dia sudah menggantikan posisinya dihati dengan wanita lain.


"Semoga kamu bisa mendapatkan lelaki yang lebih baik dari aku. Mungkin kita memang bukan jodoh."


"Tapi aku selalu berharap jika kamu jodoh aku bang. Aku selalu selalu menyebut namamu dalam doa. Aku selalu me__" Nurul tak sanggup melanjutkan kata katanya. Semua ini terlalu menyakitkan baginya. Kalau saja waktu bisa diulang kembali. Dia tak akan pernah melepas Septian waktu itu.


"Tapi sudah ada nama wanita lain dalam doaku Nur. Dan wanita itu, juga sedang mengandung anakku saat ini."


Nurul memejamkan matanya. Menahan sakit hati yang teramat sangat. Sepertinya, dia memang sudah tak ada harapan.


"Wanita yang baik, akan mendapatkan jodoh laki laki yang baik juga. Aku yakin, Allah sudah menyiapkan jodoh untukmu. Laki laki yang aku yakini, lebih baik dariku. Kamu pantas mendapatkannya."


"Ini sangat menyakitkan bang. Tapi mungkin, memang seperti inilah takdir untuk kita. Semoga kamu bahagia dengan wanita pilihanmu." Nurul berdiri dan mengambil tasnya yang ada diatas meja.


"Aku juga akan mendoakan untuk Kebahagiaanmu Nur." Septian ikut berdiri.


"Salam untuk ibu, adik dan istri kamu bang. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Septian segera masuk kedalam rumah. Dia takut jika Nara terlalu lama menunggu dan berfikir macam macam.


"Mana Nurul bang?" Tanya Nara yang menunggunya sambil duduk dianak tangga.


"Sudah pulang."


"Pulang?"


Nara segera keluar untuk mengejar Nurul. Beruntung wanita itu masih berdiri didekat pintu gerbang.


"Tunggu." Teriak Nara sambil berjalan cepat menghampiri Nurul.


Nurul membalikkan badan mendengar ada yang memanggil. Dia terkejut saat tahu, jika Nara yang memanggilnya.


"Ada apa?" Tanya Nurul sambil menyusut hidungnya. Matanya tampak merah. Jelas jika dia baru saja menangis.


Nara menyodorkan kotak warna navy berisi tasbih, hadiah dari Nurul.


"Maaf, aku tak mau suamiku menyimpan barang dari wanita lain."


Nurul mengangguk lalu meraih kotak warna navy tersebut dan menyimpannya didalam tas.


"Kemarin, tanpa sengaja aku membaca surat yang kau tujukan untuk suamiku. Aku tahu kamu masih mencintainya."


Nurul menunduk. Dia merasa malu kerena mengirim surat pada suami orang.


"Maaf, aku tidak tahu jika Bang Tian sudah menikah."


Nara tersenyum getir. Ya, tak terima rasanya mendengar wanita lain memanggil suaminya dengan sebutan bang.


"Aku minta, jika suata saat kamu bertemu dengan suamiku lagi. Jangan pernah memanggilnya dengan sebutan abang. Aku tidak suka ada wanita lain yang memanggilnya abang selain aku dan keluarganya."


Nurul lagi lagi menyesal dengan perbuatannya. Ya, seharusnya dia bisa menjaga perasaan Nara.


"Insyaallah saya akan mengingatnya. Saya tak akan memanggilnya dengan sebutan itu lagi." Jawab Nurul sambil tersenyum walau tampak sekali jika terpaksa.


"Aku tidak berhak menyuruhmu berhenti mencintai suamiku. Karena itu urusan hati. Tapi aku berhak menyuruhmu menjauhi suamiku."


"Insyaallah, saya tahu diri. Saya tak akan mendekati Ba, Septian lagi." Nurul hampir saja keceplosan menyebut Bang.


"Terimakasih, hanya itu yang ingin saya sampaikan." Nara hendak pergi. Tapi baru beberapa langkah, Nurul memanggilnya.


"Nara."


Nara kembali berbalik.


"Apa kamu mencintai Septian?"


"Lebih banyak dibanding kamu." Jawab Nara dengan yakin. "Assalamualaikum." Lanjutnya.


"Waalaikumsalam."