Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
PERIKSA DADAKAN


Suara adzan subuh dari toa masjid yang berada tak jauh dari rumah Septian, rupanya tak mampu membangunkan dua insan yang sedang terlelap. Mungkin karena kecapekan, kurang tidur atau entah kenapa, Nara yang biasanya rewel kegerahan jika tak ada ac, malam ini tidur dengan nyenyak.


Tok tok tok


"Sep, bangun Sep."


Ketukan pintu dan panggilan dari ibu, membuat Nara terbangun. Dia menyingkirkan lengan Septian yang melingkar diperutnya. Sepanjang malam, Septian memeluknya dari belakang.


"Sep, sholat dulu." Seru ibu dari balik pintu.


"Iya Bu." Sahut Nara dalam dalam.


Setelah itu, tak terdengar lagi seruan dari Ibu.


Nara membalikkan tubuhnya pelan pelan menghadap Septian. Perut yang semakin besar membuatnya sedikit kesusahan bergerak, apalagi ranjangnya agak sempit.


Dirabanya dahi Septian. Dan dia bernafas lega saat tak lagi merasakan panas. Sepertinya suaminya itu memang sudah benar benar sembuh.


Nara terpaku menatap wajah Septian yang terlelap. Dia senyum senyum sendiri mengagumi ketampanan suaminya.


"Ergh..."


Lenguhan Septian menyadarkan Nara dari keterpesonaannya.


"Bang, bangun, sholat dulu." Nara menggoyangkan bahu Septian.


Bukannya bangun, Septian malah memeluknya. Sekarang memang sedikit susah memeluk Nara karena terhalang perut yang besar. Tapi Septian tak kurang akal. Dia menggeser kepalanya hingga terbenam di ceruk leher Nara.


"Abang geli." Tutur Nara sambil cekikikan karena Septian memberikan kecupan kecupan basah di lehernya. Tak hanya sebatas leher, dia juga mencium dan menggigit kecil cuping telinga Nara.


"Abang, sholat dulu." Nara menahan tangan Septian yang hendak menggerayanginya.


Septian menghela nafas lalu menjauhkan kepalanya dari leher Nara.


"Jadi abang ditolak lagi nih?" Tanyanya dengan nada seperti putus asa.


"Bukan ditolak abang, tapi ditunda."


Septian melihat jam dinding, ternyata sudah hampir jam 5. Dia bergegas bangun, begitu pula dengan Nara.


"Ayo sholat dulu." Ajak Septian sambil turun dari ranjang.


"Bang... "


"Hem...."


"Abang masih marah ya gara gara aku tolak dulu."


"Enggak kok. Udah gak usah bahas yang dulu. Turun yuk, sholat berjamaah sama abang."


Septian menggandeng Nara turun kebawah. Mereka membersihkan diri dikamar mandi sebentar lalu mengambil wudlu dan sholat.


Selesai sholat, Nara buru buru melipat mukena dan hendak ke dapur. Tadi saat kekamar mandi, dia lihat Shaila sedang sibuk memasak.


Diluar terdengar berisik. Sepertinya toko sudah mulai ramai.


"Mau Kemana?" Tanya Septian saat Nara hendak berjalan ke dapur.


"Bantuin Shaila masak Bang."


"Gak usahlah, balik kekamar aja. Tadi katanya ditunda, gak ditolak." Septian hendak menarik tangan Nara menuju tangga tapi keburu dipanggil ibunya.


"Bang."


"Iya Bu." Jawab Septian.


"Sudah sembuh?" Tanya ibu sampai menyentuh dahi Septian dengan punggung tangannya.


"Alhamdulillah Bu."


"Separuh nafasnya udah dateng, langsung sembuh lah Bu." Ledek Sarah yang tiba tiba nongol.


Septian tersenyum malu malu sambil menggaruk tengkuk. Sedangkan Nara, dia menunduk untuk menyembunyikan wajahnya.


"Kamu kok ikutan masuk Sar. Itu toko siapa yang jaga?" Tanya Bu Lastri.


"Kebelet Bu, gak bisa ditahan." Sarah langsung lari memuju kamar mandi.


Bu Lastri hanya bisa geleng geleng. Mau tidak mau, dia harus kembali lagi ke toko karena sedang banyak pembeli.


"Nara, bisa bantuin ibu selama Sarah di toiletkan?" Pinta ibu.


"Bisa Bu."


Nara membantu Bu Lastri di toko. Dia hanya bertugas menerima uang dan memberikan kembalian karena tak hafal letak masing masing barang. Selain itu, dia juga tak tahu harganya.


"Enak ya Bu, dibantuin mantu." Ucap Bu Nia yang datang untuk membeli minyak goreng dan sabun.


"Alhamdulillah dapat mantu yang baik, mau bantuin." Jawab Bu Lastri.


"Pagi pagi gini, lebih baik dipakai jalan jalan. Itung Itung olah raga biar mudah saat lahiran." Saran Bu Nia.


"Iya, nanti saya suruh Septian ngajak jalan jalan."


"Ditaman deket pasar biasanya ramai kalau sabtu pagi gini. Coba jalan jalan kesana." Nara mengangguk sambil tersenyum.


Disaat bersamaan, seorang wanita cantik paruh baya datang. Dia adalah Bu Linda, bidan yang tinggal didaerah tempat tinggal Septian.


"Wah, ini ya mantunya Bu Lastri, cantik sekali. Septian pintar nyari istri."


Nara tersenyum malu malu mendengar pujian Bu Linda.


"Iya Bu." Jawab Bu Lastri sambil mengangguk. "Ra, ini Bu Linda, bidan dikampung sini."


Nara mengulurkan tangan kearah Bu Linda dan langsung disambut oleh wanita itu.


"Sudah berapa bulan hamilnya? Kandungannya kelihatan sudah turun, seperti sudah mau melahirkan?"


"Udah 36w."


"Wah, tinggal menunggu hari saja berarti."


Nara mengangguk.


"Perbanyak minum air putih, olah raga ringan seperti jalan jalan. Dan mulai latihan pernafasan. Ikut senam hamil?"


Nara menggeleng. Dulu dia sempat ikut. Tapi hanya beberapa kali pertemuan, dia sudah malas mau datang.


"Saya mau melahirkan caesar Bu."


"Kenapa? ada masalah dengan kandungannya?"


Nara menggeleng.


"Takut sakit?" Tebak Bu Linda sambil tersenyum.


Meskipun malu mengakui, akhirnya Nara mengangguk.


"Boleh Ibu lihat sebentar perutnya?"


Nara mengangguk karena segan untuk menolak.


"Silakan masuk kedalam Bu." Bu Lastri mempersilakan Bu Linda masuk kedalam rumahnya.


Sekarang, Nara, Ibu dan Bu Linda sedang berada didalam kamar ibu. Bu Lastri menyuruh Sarah untuk menjaga toko.


Ini untuk pertama kalinya Nara diperiksa bidan. Jadi dia sedikit tegang saat Bu Linda memeriksa perutnya.


"Santai saja, jangan tegang." Ujar Bu Linda. Wanita itu bisa melihat ketegangan yang terpancar dari wajah Nara.


Disaat bersamaan Septian datang. Tadi Sarah sempat memanggilnya saat Nara mau diperiksa.


"Posisi janinnya bagus, kepala sudah masuk panggul. Pasti sekarang makin sering buang air kecil ya?"


"Iya Bu." Jawab Nara sambil mengangguk.


"Kalau posisi bagus seperti ini, dan kepala sudah masuk panggul, insyaallah akan mudah melahirkan secara normal. Gak sakit kok, cuma kayak mau pup aja. Habis keluar langsung lega. Iya kan Bu Lastri?" Tanya Bu Linda sambil menoleh kearah ibu.


Bu Lastri mengangguk penuh semangat. Dia yang sudah tiga kali melahirkan jelas tahu rasanya. Bohong kalau tidak sakit. Tapi sakit itu segera hilang saat melihat wajah anak yang kita lahirkan.


"Apalagi kalau suaminya siaga, selalu mendampingi. Pasti gak terasa sakitnya. Tapi malah terasa makin disayang. Gimana Sep, kamu termasuk suami siaga gak?" Goda Bu Linda sambil menoleh kearah Septian.


"Sangat siaga Bu." Sahut Septian sambil terkikik geli.


"Tuh si Asep udah siaga 45. Jadi takut apalagi? Dijamin Asep makin cinta setelah melihat perjuangan kamu melahirkan. Dan masalah organ kewanitaan, pasti akan kembali seperti semula lagi. Malah bisa bisa makin rapet setelah dijahit, balik perawan lagi."


"Bisa Gitu ya Bu?" Septian bertanya penuh antusias. Membuat Bu Linda seketika tergelak. Kalau masalah yang satu ini, suami pasti sangat antusias.


"Ya...... buktikan saja nanti." Jawab Bu Linda sambil menutup mulutnya karena tertawa.


Setelah memeriksa dan sedikit memberikan wejangan, Bu Linda pamit pulang. Bu Lastri meninggalkan Nara dan Septian berdua karena mengantar Bu Linda hingga depan.


"Makasih ya Bu bantuannya." Ucap Bu Lastri saat mereka sudah berada dihalaman rumah. Ternyata Bu Lastri sengaja meminta bantuan Bu Linda untuk meyakinkan Nara agar mau lahiran normal. Tapi Bu Lastri membuatnya seperti sebuah ketidak sengajakan. Ide ini muncul saat subuh tadi, dia bertemu Bu Linda dimasjid.