Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
BUNGA TAK BERTUAN


Tidak ada rasa sedih sama sekali diwajah Nara. Dua hari dirawat dirumah sakit justru membuatnya bahagia. Karena selama 24 jam, suaminya itu selalu siaga, selalu ada disisinya. Septian sampai mengambil cuti kerja lagi. Walaupun kena omel bahkan sampai diancam mau dipecat, dia tak peduli. Mungkin memang sudah saatnya dia berhenti kerja ditempat itu. Dia akan melamar kerja ditempat yang lebih baik.


Seperti saat ini, tawa bahagia terus terukir saat dia dan Septian memakan strawberry shortcake yang tadi dibawa mamanya.


"Emmm." Septian meringis sambil memejamkan mata saat sepotong strawberry mendarat dimulutnya. Tentu saja Nara yang menyuapinya, kalau tidak, mana mau dia makan strawberry.


"Kenapa bang?" Tanya Nara sambil tertawa ngakak.


"Kenapa kamu bilang? Asem banget tauk." Jawab Septian sambil membalas menyuapi Nara strawberry.


Tapi balas dendamnya tak sesuai ekspektasi. Nara sama sekali tak tampak keasaman. Dia justru terlihat sangat menikmati. "Gak asem kok bang, enak, seger."


Septian hanya geleng geleng. Dia mengambil secuil cake lalu memakannya agar rasa asam dimulutnya berkurang.


"Abang... kayak anak kecil makannya." Ujar Nara saat melihat krim yang tertinggal disudut bibir Septian.


Seperti ada lampu bohlam yang tiba tiba berpijar dikepalanya Nara. Sebuah ide jahil terlintas.


Nara memajukan wajahnya lalu membersihkan sisa krim tersebut dengan bibirnya. Mendapat perlakuan seperti itu, membuat Septian seketika tersedak.


"Huk Huk Huk."


Nara buru buru meraih air diatas nakas dan menyodorkan pada Septian. Dan dengan segera, Septian meneguk air tersebut hingga tenggorokannya merasa lega.


"Suka banget sih, godain abang." Gerutu Septian sambil membuang nafas kasar. "Udah tahu lagi puasa."


Nara terkekeh mendengarnya. Dan entah kenapa, dia makin bersemangat menggoda Septian.


"Ish.. . kalau lagi kesel, auranya makin keluar. Makin ganteng deh bang." Goda Nara sambil menyentuh rahang dan bibir Septian.


"Ra....jangan mulai lagi deh." Septian menyingkirkan tangan Nara dari wajahnya.


"Banyak jalan menuju roma bang." Godanya sambil tertawa cekikikan.


"Maksudnya?" Septian merasa mendapatkan angin segar.


"Kan bi___"


Tok tok tok


Ketukan pintu membuat Nara tak melanjutkan ucapannya.


Ceklek


Mata Nara membulat sempurna melihat siapa yang datang. Sedangkan Septian, dia mengernyit heran. Tak menyangka jika cowok itu berani datang.


"Siang Bu." Sapa Diego sambil berjalan menghampiri ranjang Nara. Ditangannya tampak sebuket bunga lily putih yang sangat cantik.


"Ngapain kamu kesini?" Tanya Septian sinis. Matanya menatap nyalang kearah bunga yang dibawa Diego.


"Ingin menjenguk Bu Nara." Jawabnya santai. "Buat ibu." Dia menyodorkan buket bunga pada Nara.


Tapi dengan gerakan cepat, Septian meraih bunga itu.


"Istri saya tidak menerima bunga dari pria lain." Ujarnya lantang sambil kembali menyodorkan bunga tersebut pada Diego.


Diego menghela nafas lalu menerima bunga itu kembali.


"Sekarang kamu sudah yakinkan, kalau saya sudah menikah. Dan kenalkan, Septian, suami saya." Ujar Nara.


Diego menggaruk garuk tengkuknya sambil tersenyum absurd. Sebenarnya dia kesini untuk memastikan hal tersebut. Rasanya belum bisa yakin jika Septian suami Nara. Tapi setelah melihat mereka bersama hari ini, sepertinya memang benar, mereka suami istri.


Septian mengambil ponselnya lalu menunjukkan foto pernikahan mereka.


"Masih belum yakin?" Tekannya sambil menahan emosi. Rasanya kesal saja pada cowok yang tak kenal menyerah itu.


"Maaf, gue benaran gak tahu kalau Bu Nara sudah menikah."


"Sekarang udah tahukan, jadi ngapain masih disini."


Diego berdecak sambil memutar kedua bola matanya.


"Ya sudah gue pulang." Sahutnya lalu menoleh ke arah Nara. "Bu Nara, cepet sembuh. Saya permisi dulu."


"Terimaksih. Jangan lupa datang keacara tujuh bulanan saya. Bawa pacar kamu juga."


"Permisi."


Diego segera keluar dari ruangan Nara. Dan seperti awal dia datang, bunga lily itu masih ada ditangannya.


...*****...


Tiga orang wanita berhijab tampak memasuki lobi rumah sakit. Mereka adalah Bu Lastri, Shaila dan Sarah. Tampak sebuah tote bag berukuran lumayan besar ditangan Shaila. Bu Lastri sengaja memasak banyak makanan untuk Nara dan juga Septian.


Sarah menuju tempat informasi untuk menanyakan letak ruangan VVIP. Setelah mendapatkan petunjuk arah, dia segara mengajak Shaila dan ibunya menuju ruangan Nara.


"Sar, bawain ini. Aku ke toilet bentar." Shaila menyerahkan tote bag yang dia bawa padanya Sarah.


"Ditungguin gak? "


"Duluan aja. Takutnya aku lama."


"Ya udah, kita duluan."


Shaila masuk kedalam toilet untuk buang air kecil. Setelahnya, merapikan hijab sebentar lalu keluar. Dia mengikuti petunjuk arah menuju ruangan VVIP.


Langkahnya tiba tiba terhenti saat melihat cowok arogan yang menabraknya dua hari yang lalu.


"Elo." Diego terkejut bertemu Shaila ditempat itu. "Dunia sempit banget, ketemu elo lagi, elo lagi."


Shaila menghela nafas. Dia juga tak berminat kok untuk bertemu dengan cowok sombong itu.


"Oh iya, besok kamu pasti gantiin laptop aku kan?" Jujur saja, Shaila takut jika Diego hanya membohonginya soal mengajak ketemu ditoko laptop.


"Emang muka gue ada tampang penipu?" Tanya Diego dengan nada jengkel.


"Gak ada didunia ini orang bertampang penipu. Makanya banyak orang kena tipu. Karena tak bisa terdeteksi dari wajahnya." Jawab Shaila.


Diego mendengus kesal. Tapi dalam hati, membenarkan ucapan Shaila.


"Buat lo." Diego menyerahkan buket bunga lily putihnya pada Shaila.


Shaila hanya terbengong. Tak tahu apa maksud pria itu tiba tiba memberinya bunga. Seumur hidup, dia belum pernah diberi bunga oleh cowok.


Melihat Shaila hanya bengong. Diego meraih tangannya dan meletakkan bunga disana.


"Gak usah ge er karena gue kasih bunga. Sayang aja kalau bunga sebagus itu berakhir ditempat sampah."


Diego langsung pergi begitu saja. Sedangkan Shaila dia masih terpaku menatap buket bunga lily yang ada ditangannya.


Setelah cukup lama, dia menoleh kebelakang. Dia melihat Diego sudah tampak jauh. Dan akhirnya, dia kembali petunjuk arah menuju ruangan VVIP.


Sesampainya di depan ruangan Nara, dia mendengar suara gelak tawa Sarah dan Nara dari dalam.


"Assalamualaikum." Ucapnya saat memasuki kamar Nara.


"Waalaikumsalam." Jawab yang didalam bersamaan.


Semua mata langsung tertuju pada Shaila. Terutama pada bunga yang dibawanya. Sarah merasa aneh, saat mereka datang tadi, Shaila tak membawa itu. Tak mungkinkan, beli bunga didalam rumah sakit.


Sedangkan Septian dan Nara, mereka saling berpandangan. Bunga itu, kenapa tampak sama persis dengan bunga yang dibawa Diego tadi.


"Bunga siapa itu Sha?" Tanya Bu Lastri.


"Emmm... itu Bu. Buat kak Nara." Jawabnya dengan gugup.


"Loh, tapi kapan belinya. Bukankah pas kesini tadi gak mampir beli bunga ya?" Tanya Sarah. Jiwa detektifnya meronta melihat ada yang aneh dari ekspresi Shaila.


"Oh... itu.. itu... tadi dikasih teman aku."


"Teman?" Nara mengernyitkan keningnya. "Laki laki?" Pikirannya langsung tertuju pada Diego.


"Bu, bukan kak, perempuan. Iya, perempuan." Mana berani dia bilang dikasih bunga dari cowok. Bisa bisa kena marah ibunya.


"Tapi kenapa teman perempuan ngasih bunga ke kakak?" Sarah belum bisa percaya.


"Anu, anu... dia mau njeguk saudaranya. Ternyata udah pulang. Jadi bunganya dikasih ke aku."


Shaila Merutuki dirinya sendiri karena telah berbohong. Harusnya dia tak usah terima bunga itu tadi.