Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
KONTRAKSI


Shaila benar benar gugup berada didapur rumah Diego. Peralatan masaknya semua modelan terbaru dan paling canggih. Dia yang biasanya hanya menggunakan peralatan biasa, jadi takut salah.


Beruntung chef Roger sangat baik dan telaten dalam mengajari. Membuat rasa gugup Shaila menjadi sedikit hilang. Dia berusaha menyerap ilmu semaksimal mungkin agar bisa dia terapkan di coffee shop nanti.


Setelah 1 jam lebih berkutat didapur, akhirnya selesai juga privat membuat puding caramel. Setelah chef Roger pamit. Shaila dan Mama Eva membawa dessert hasil buatan mereka untuk dicicipi Diego dan papanya.


"Enak bikinan siapa?" Tanya mama Eva yang sengaja meminta suami dan anaknya menilai hasil buatannya dan Shaila.


"Enak buatan mama." Jawab papa Dion.


"Enggak, enak buatan Shaila." Sangkal Diego.


"Enak buatan mama."


"Buatan Shaila."


Kedua orang itu malah berdebat mengunggulkan jagoan mereka masing masing. Karena malas mendengar keributan. Damar langsung turun tangan ikut mencicipi.


"Sama saja rasanya." Ucap bocah itu lantang hingga membuat dua orang yang saling berdebat itu akhirnya diam.


Mama Eva dan Shaila terkekeh. Mereka diajari chef yang sama. Resep juga sama, jelas rasanya juga sama.


"Lihatlah Shaila, itu definisi cinta tak ada logika. Jelas jelas rasanya sama, tapi terasa beda dilidah mereka. Alasannya apa? karena cinta. Masakan yang dibuat atas nama cinta akan terasa lebih nikmat. Makanya, nanti kalau kamu sudah menikah. Harus selalu masakin buat suami. Biarpun masakan rumahan, kalau dibuat dengan cinta, dan yang memakan penuh cinta, akan terasa lebih nikmat dari masakan hotel bintang lima."


Shaila hanya tersenyum mendengarkan petuah dari mama Eva.


"Kak, sini deh." Damar menarik lengan Shaila agar sedikit mundur.


"Kakak pacarnya kak Diego ya?" Bisik Damar sambil sedikit berjinjit karena Shaila lebih tinggi daripada dia.


"Bukan." Jawab Shaila lirih sambil melirik sebentar kearah Diego.


Sedangkan Diego, dia merasa jika dua orang itu sedang berbisik tentangnya. Terbukti dengan keduanya yang terlihat sesekali menatap kearahnya.


"Bagus deh. Jangan mau sama Kak Diego. Dia bad boy. Kakak tahu kan bad boy? Yang suka ngerokok, suka mabuk, suka ngabisin duit papa. Pokoknya, kakak jangan mau ya." Damar sok sok an dewasa dengan menasehati Shaila.


"Hem." Shaila mengangguk tanda mengerti.


"Bagus." Kedua kemudian melakukan tos. Membuat Diego makin curiga. Dia kemuadian melambaikan tangan kearah Damar, meminta bocah kecil itu untuk datang menghampirinya.


"Ngomong apa lo bocil?"


"Gak ada."


"Jangan bohong."


"Mau tahu?"


"Hm."


"Seratus ribu." Damar menengadahkan telapak tangannya.


"Busyet, mahal amat." Diego seketika melotot. "Beneran anak papa lo. Politik, apa apa diuangkan."


"Mau tahu gak?"


"Gak jadi mahal."


Shaila melepas apronnya. Dia berniat kembali kedapur untuk beres beres. Tapi mama Eva melarangnya. Dia malah mengajak Shaila untuk duduk santai dan ngobrol bersama. Dan hal itu justru membuat Shaila tak nyaman.


"Kamu kuliah apa masih sekolah. Kelihatan masih muda banget?" Tanya papa Dion.


"Baru lulus om."


"Mau lanjut kemana setelah ini?"


"Em... mau kerja dulu. Belum tertarik buat lanjut kuliah." Jawab Shaila ragu ragu.


"Sekolah itu penting loh. Kenapa gak kerja sambil kuliah?"


"A, anu.. " Shaila bingung menjelaskan. Entah kenapa, dia memang belum tertarik untuk lanjut kuliah tahun ini.


"Perempuan tak perlu sekolah tinggi tinggi. Buktinya, ijazah S1 mama gak ada gunanya." Sahut mama Eva.


"Ijazahnya mungkin gak berguna. Tapi ilmunya jelas berguna."


"Ilmu gak melulu bisa didapat dari universitas. Bisa juga dari tempat lain Pah. Kayak les privat tadi misalnya. Bisa juga dari tempat kerja, dari pergaulan, dari pengalaman. Terus ya..... " Mama Eva malah terus nyerocos. Membuat Diego dan Damar menahan tawa. Sedangkan papa, hanya pura pura dengar. Tapi aslinya, masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.


Merasa kegiatannya dirumah ini sudah selesai, Shaila segera pamit. Dia dan Diego langsung menuju coffee shop. Diego hendak memulai misinya untuk sedikit mengubah interior cafe sebelum dia mulai memviralkannya.


Besok dan tiga hari kedepan, Shaila masih akan mengambil privat dari chef Roger. Dia harus bisa mengubah semua dessertnya menjadi hidangan sekelas hotel bintang lima.


"Tadi Damar ngomong apa sama lo?" Tanya Diego saat mereka dalam perjalanan menuju coffee shop.


"Gak ada, cuma becandaan aja."


"Bohong dosa loh. Katanya gak mau bohong?"


Shaila membuang nafas kasar. Bisa bisanya cowok itu masih ingat kata katanya dulu.


"Damar bilang, kamu bad boy."


"Hehehe.... " Diego tertawa gak jelas. Dalam hati, dia berjanji akan bikin perhitungan dengan adiknya. Bisa bisanya dia buka kartu.


"Tapi biasanya, anak kecil gak pernah bohong."


...*****...


Septian, pria itu terkejut saat melihat Nurul ada bersama tim kesehatan dipengobatan gratis. Nurul memang seorang bidan, tapi dia bukan berasal dari kampung ini, jadi kenapa dia ikutan? Pertanyaan itu yang memenuhi otak Septian.


Septian mendekatai Samsul yang kebetulan sedang melakukan pengecekan tekanan darah pada beberapa lansia.


"Itu, Nurul, kenapa ikutan?"


"Mantan lo? kangen kali sama lo, makanya ikutan." Samsul malah menggoda Septian..


"Sialan lo. Gue nanya beneran." Kesal Septian..


"Tanya langsung sama dia. Gue juga gak tahu apa alasannya. Tapi Diakan temannya Zizah, diajakin kali sama Tuh anak."


"Kayaknya gue pulang aja deh." Septian merasa kurang nyaman. Apalagi sekarang Nara sedang dirumahnya. Kalau wanita itu melihat ada Nurul disini, bisa berantem lagi nanti ujung ujungnya.


"Kita lagi kekurangan orang. Lo tahukan, sebentar lagi ada santunan anak yakim dan duafa. Tuh mereka sudah pada berdatangan. Jangan aneh aneh deh pakai ngide mau pulang."


Septian mendengus kesal. Bisa bisanya dia malah terjebak menjadi panitia diacara ini. Sudah 2 tahun dia vacum dari kegiatan karang taruna. Dan dua hari yang lalu tiba tiba saja, Jamal mengajaknya karena kekurangan orang. Merasa sedang tak ada kerjaan, dia langsung saja mengiyakan. Tapi malah sial, ada Nurul disini.


"Sep, bisa bantuin aku gak?" Sungguh panjang umur. Orang yang dibicarain tiba tiba datang.


"Ada apa Nur?" Tanya Septian.


"Orang yang datang membludak. Banyak ibu hamil yang pada ikutan datang. Jadi kita mau pisahin antrian antara bumil dan lansia. Jadi tolong bantu ngatur ulang kursi dan mindahin meja ya."


Septian mengangguk dan segera melakukan seperti perintah Nurul. Dia tak sendiri, beberapa pemuda juga membantunya.


Nurul tampak mengusung sekotak besar biskuit ibu hamil dari dalam mobil menuju ketempat pemeriksa bumil. Melihat itu, Septian datang untuk menolongnya. Ternyata masih banyak lagi biskuit didalam mobil. Dia membantu Nurul untuk mengusung semuanya.


Setelah semuanya beres, Nurul memberikan sebotol air meniral pada Septian.


"Makasih ya Sep."


"Sama sama." Jawab Septian sambil membuka seal penutup botol dan langsung meminumnya.


"Eh itu, punggung tangan kamu kenapa?" Nurul melihat ada luka gores yang mengeluarkan darah dari punggung tangan Septian.


Septian melihat tangannya. Terlalu sibuk, membuat dia sampai tak sadar saat tangannya terluka.


"Mungkin tergores kursi atau meja tadi."


"Harus diobatin Sep."


"Gak perlu, luka gini aja." Tolak Septian sambil tersenyum.


Nurul mengambil sesuatu dari dalam kantong jas nya. Ternyata itu adalah plester.


"Pakai ini aja." Dia mengulurkan benda itu pada Septian.


"Makasih." Jawab Septian sambil menerima plester tersebut. Saat dia hendak membuka bungkus plester, Danu tiba tiba menyenggol lengannya.


"Mampus lo, perang dunia." Bisik Danu sambil menahan tawa.


Septian tak paham. Tapi beberapa saat kemuadian, dia melihat Nara berjalan kearahnya dan Nurul. Entah sejak kapan, Nara sudah berada disana.


Nurul yang melihat Septian bengong segera mengikuti arah pandangnya. Dia baru tahu kalau ada Nara. Mendadak, dia merasa tak enak hati. Takut Nara salah paham.


Melihat wajah tegang Nara. Septian buru buru menghampirinya istrinya itu.


"Sayang, tolong jangan salah paham. Abang cuma ngobrol biasa sama Nurul. Dia cuma ngasih aku plester karena tangan aku luka." Septian menunjukkan luka ditangannya.


Tanpa bicara sepatah katapun, Nara mengambil plester dari tangan Septian. Sambil melirik ke arah Nurul, dia memasangkan plester tersebut di tangan Septian yang terluka.


"Aku haus." Ujar Nara.


"Astaga, maaf sayang." Septian membuka penutup botol air mineral yang dia pegang. Setelah itu, dia menyerahkannya air meniral yang tinggal setengah itu pada Nara.


Nara meminumnya sambil melirik Nurul yang masih diam ditempat.


"Capek ya jalan kesini." Septian menyeka keringat disekitaran wajah Nara.


Sebenarnya Nurul enggan melihat kemesraan mereka. Tapi rasanya tak enak hati jika tiba tiba pergi. Sambil tersenyum, dia berjalan kearah Septian dan Nara.


"Apa kabar Ra?" Sapa Nurul.


"Baik."


"Udah berapa bulan? Kalau dilihat lihat, kayaknya udah mau lahiran. Mau ikutan periksa juga? sudah ada beberpaa bumil yang ngantri dan sedang dicek tekanan darahnya. Silakan kesana kalau mau ikutan periksa." Nurul menunjuk kearah deretan antrian ibu hamil. "Bisa konsultasi juga sama aku nanti. Kebetulan, aku bidan."


Nara tersenyum terpaks, dia baru tahu jika Nurul adalah bidan. Diperiksa Nurul, apalagi konsultasi? jelas dia ogah banget.


Tapi tiba tiba, Nara merasakan perutnya sakit. Rasanya, seperti kontraksi.


"Kenapa sayang?" Tanya Septian saat melihat Nara meringis sambil memegangi perutnya.


Nara berusaha tenang. Dia berharap ini hanya kontraksi palsu. Kehamilannya masih 37w, rasanya belum saatnya melahirkan. Tidak, dia tak mau melahirkan sekarang. Tak mau kalau sampai Nurul yang membantunya lahiran.