Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
IKRAR TALAK


Nara mengemasi barangnya, memastikan tak ada yang tertinggal dihotel. Dia tak punya banyak waktu, dua jam lagi, dia harus terbang ke Jepang.


"Tiket, paspor." Gumam Nara sambil memastikan dua benda itu ada ditas slempangnya. Setelah yakin semuanya siap. Nara berniat mengajak Abi segera chek out.


"Sayang, yuk buruan." Panggil Nara.


Abi tak bergeming, pria itu sejak tadi fokus menatap ponselnya. Tak mengajak Nara bicara sama sekali apalagi membantu berkemas.


Sejak keluar semalam, Abi memang sedikit aneh, setidaknya itu menurut Nara. Pria itu lebih banyak diam, termenung dengan tatapan kosong. Seperti seseorang yang sedang memiliki masalah berat.


"Bi." Nara menepuk pelan bahu Abi. Hanya pelan, namun mampu membuat pria itu terjingkat kaget.


"Kamu kenapa sih? Kamu kayak punya masalah gitu?"


"Gak ada. Udah selesai semuanya?"


"Udah. Yuk buruan check out. Sarapan di bandara aja. Takutnya macet dijalan. Jangan sampai kita ketinggalan pesawat."


"Ya udah Ayok."


Keduanya segera meninggalkan kamar untuk melakukan check out. Sementara Abi mengurusi check out, Nara memilih menunggu di sofa lobi.


Sejak tadi Abi cemas. Arumi tak bisa dihubungi sejak dini hari tadi. Ponsel wanita itu tidak aktif. Setelah menyelesaikan urusan di meja resepsionis. Ponsel Abi berbunyi, saat dia cek, ternyata pesan dari Arumi. Wanita itu mengirimnya sebuah gambar.


Deg


Jantung Abi serasa copot. Arumi mengirim foto dirinya yang sedang berdiri dipinggir rooftop hotel. Sepertinya, wanita itu benar benar nekat.


Disaat tubuh Abi masih gemetaran. Ada VC masuk dari Arumi. Buru buru Abi menekan tombol hijau.


"Bi." Sapa Arumi.


Mata Abi membulat sempurna. Persis di foto yang baru dikirim Arumi. Wanita itu sedang berada di rooftop sekarang. Hanya terlihat hamparan langit biru dibelakang Arumi.


"Rum jangan gila." Pekik Abi tertahan.


"Selamat tinggal Bi. Aku sayang kamu, sayang banget." Tutur Arumi sambil menangis.


Arumi mengarahkan kamera ke perutnya. "Seperti yang kamu mau." Lanjutnya sambil mengelus perut yang masih tampak rata. "Kami berdua akan segera lenyap dari hidup kamu, dari dunia ini."


"Enggak, jangan nekat. Jangan lakukan itu Rum."


Nara yang duduk disofa dibuat bertanya tanya dengan ekspresi Abi. Dengan siapa Abi VC, kenapa wajahnya seperti sangat panik?


Tak ingin terus penasaran, Nara berjalan menghampiri Abi.


"Selamat tinggal Bi. Semoga kamu bahagia bersama Nara."


"Jangan Rum, jangan lakukan itu. Tunggu gue, gue bakalan ke rooftop sekarang. Gue bakalan tanggung jawab. Gue akan nikahin lo."


Deg


tanggung jawab? nikah? Ada apa ini?


"Apa maksud ucapan kamu Bi?" Tanya Nara yang mendengar perkataan Abi yang sedang melakukan VC entah dengan siapa..


Abi terkejut melihat Nara yang ternyata berdiri tak jauh darinya. Tapi dia tak ada waktu untuk menjelaskan Apapun, Arumi lebih penting saat ini.


"Maaf Ra, gue harus pergi." Abi berlari secepat kilat menuju lift. Lima detik, sepuluh detik, Nara masih mematung. Dia masih belum bisa mencerna apa yang terjadi.


Melihat pintu lift terbuka, Abi segera masuk. Nara yang masih bengongpun seperti langsung tersadar. Dia berlari mengejar Abi. Tapi sayangnya, pintu lift terlanjur tertutup.


Kalau tak salah, dia mendengat Abi berkata rooftop. Apa pria itu kesana sekarang?


Rooftop


Begitu lift terbuka Abi segera keluar. Tapi itu bukan di rooftop melainkan lantai paling atas. Abi terpaksa menuju pintu darurat dan naik tangga hingga rooftop.


"Arumi." Teriak Abi saat melihat Arumi berdiri ditepi rooftop.


"Jangan gila." Lanjutnya sambil berlari ke arah Arumi.


"Gak ada gunanya aku hidup lagi Bi. Aku tak mampu hidup tanpa kamu." Ujar Arumi sambil menangis tergugu.


"Jangan nekat." Kata Abi sambil menarik tangan Arumi agar lebih ketengah. Abi memegang kedua bahu Arumi dan menatapnya lekat lekat.


Arumi melepaskan tangan Abi sambil menggeleng. "Enggak Bi, aku gak mau jadi yang kedua. Dan aku yakin, Nara juga tak mau dipoligami. Biar aku pergi saja. Aku orang ketiga disini. Jadi, aku yang harus tau diri." Arumi kembali berjalan ke pinggir tapi segera ditarik kembali oleh Abi.


"Jangan gila. Aku akan tanggung jawab." Bentak Abi sambil memeluk Arumi.


"Tapi bagaimana Dengan Nara. Aku gak mau dipoligami."


Kepala Abi pusing. Arumi tak mau dipoligami. Dan dia yakin Narapun juga tak akan mau.


"Kamu gak bisa egois, kamu harus pilih salah satu dari kami." Lirih Arumi sambil memukul mukul dada Abi.


"Jika kamu milih Nara, aku dan anak ini akan menghilang selamanya. Tak akan pernah mengganggu kalian lagi. Tapi jika kamu milih aku. Ceraikan Nara sekarang juga."


Pilihan yang sangat berat. Tapi dia tetap harus memilih.


"Beri aku waktu, kita cari solusi sama sama."


"Enggak, aku gak mau." Teriak Arumi. "Kalau kamu gak putusin sekarang, berarti kamu milih Nara." Arumi berusaha melepaskan diri dari pelukan Abi.


"Gak seperti itu Rum." Abi mengeratkan pelukannya. Tak mau Arumi sampai terlepas. Bisa bisa wanita itu langsung nekat terjun bebas.


"Lepas Bi, emang sebaiknya aku mati saja. Masalah akan kelar. Kamu dan Nara akan hidup bahagia." Arumi terus meronta ronta agar terlepas dari pelukan Abi.


"Jangan gila Rum. Bunuh diri itu dosa besar."


"Apa kamu pikir menggugurkan kandungan juga bukan dosa besar? Itu juga tindak pembunuhan Bi." Arumi menangis histeris.


"Apa maksudnya ini?" Seru Nara yang baru sampai dirooftop. Dia melihat Abi yang sedang memeluk Arumi.


"Menggugurkan kandungan? siapa yang hamil?" Tanya Nara dengan suara bergetar. Kenapa perasaannya tidak enak. Tadi dia mendengar Abi bilang akan tanggung jawab, dan sekarang Arumi bilang menggugurkan kandungan. Apakah ini saling berkaitan?


"Maafkan aku Ra." Lirih Arumi sambil melepaskan diri dari pelukan Abi.


Dengan kaki gemetar, Arumi berjalan menghampiri Nara. Wanita itu tiba tiba bersimpuh dikedua kaki Nara.


"Maaf Ra, maafin gue." Arumi menangis sambil memegang kedua kaki Nara.


"Ada apa ini Rum?" Tanya Nara sambil berusaha berfikir positif.


Abi menyeka air matanya lalu mendekati kedua wanita itu. Dia membantu Arumi bangun lalu menggenggam tangannya.


"Maafin kami Ra." Ujar Abi. Arumi menatap Abi, apa ini artinya Abi memilihnya?


"Apa yang sebenarnya terjadi Bi?" Mata Nara sudah berkaca kaca. Permintaan maaf, dan genggaman tangan mereka, menunjukkan jika ada sesuatu.


"Arumi hamil anak gue."


Tangis Nara pecah seketika. Lututnya terasa lemas seperti jelli. Dia tak mampu lagi berdiri. Tubuhnya seketika ambruk dilantai rooftop.


"Kami tahu kami salah. Tapi anak dalam kandungan Arumi tidak salah. Dan dia lebih butuh aku daripada kamu."


Nara merasakan dunia seperti berputar. Kepalamya terasa berat. Dadanya sesak seperti terhimpit sesuatu yang besar dan berat.


"Maaf Ra. Dengan terpaksa kita harus mengakhiri pernikahan ini."


Nara mendongak menatap Abi. Tak percaya jika Abi akan mengatakan hal itu.


"Detik ini juga. Aku jatuhkan talakku padamu."


Ini hanya mimpikan? tolong bangunkan aku jika ini mimpi. Mimpi ini terlalu buruk.


Tapi tidak, ini nyata, bukan mimpi. Dia sudah Ditalak oleh Abi, oleh pria yang baru menikahinya kemarin pagi.


"Sekali lagi, aku minta maaf. Aku harus bertanggung jawab pada Arumi."


Nara melihat jam ditangannya, 8.30 am. Itu artinya, belum genap 24jam dia dan Abi menikah. Tapi statusnya sebagai istri Abimana, sudah berakhir. Sekarang dia janda, ya seorang janda. Janda yang bahkan belum merasakan bagaimana indahnya malam pertama. Menjanda sebelum dia digauli suaminya.


"Belum 24 jam Bi." Nara menangis sambil tertawa. Apakah dia sudah gila? Ya, gila karena perubahan status yang begitu mendadak. Bahkan di KTP, statusnya masih belum kawin, belum dirubah menjadi kawin.


"Maaf Ra." Abi menarik tangan Arumi pergi dari tempat itu. Meninggalkan Nara yang masih terduduk dilantai sambil menangis dan tertawa bersamaan.


Kenapa takdir bisa selucu ini. 8 tahun pacaran, tapi menikah tak sampai 24 jam.