
Suara spatula yang beradu dengan penggorengan terdengar begitu nyaring. Ditambah, aroma sedap yang mulai menguar dari area dapur begitu menggoda. Membuat langkah Nara kian mantap menuju dapur.
Tampak Bi Surti yang tengah sibuk didepan penggorengan dengan kompor yang menyala. Sedangkan mama Tiur, wanita itu tampak sibuk menyiangi kangkung sambil sesekali bersenda gurau dengan Bi Surti.
"Pagi Ma, bik." Sapa Nara sambil berjalan mendekati mamanya. Menarik kursi lalu duduk disebelah wanita paruh baya itu.
"Pagi sayang. Tumben pagi pagi kesini, udah lapar ya?" Tebak mama Tiur.
Nara menggeleng. "Pengen belajar masak."
Respon pertama yang ditunjukkan mama Tiur sudah pasti syok. Bi Surti yang sedang menggoreng ikanpun seketika menoleh menatap Nara.
What's wrong with her? Belajar masak? yakin?
"Emang ada yang salah ya Ma?" Nara merasa jika respon mamanya dan Bi Surti agak berlebihan.
"Non Nara pasti belum jangkep." Celetuk Bik Surti.
"Maksudnya?" Nara mengernyit kearah Bi Surti.
"Belum jangkep kesadarannya. Alias masih ngigau. Ujug ujug, mau belajar masak, aneh." Bi Surti masih tak bisa percaya. Sepuluh tahun lebih dia bekerja dirumah ini. Tak pernah sekalipun melihat Nara punya inisiatif memasak, atau belajar.
"Yey.... bibi mah gitu. Orang mau belajar malah diledekin." gerutu Nara.
"Beneran kamu mau belajar masak Ra?" Tanya mama Tiur.
"Beneran lah Ma."
"Pasti gara gara Den Septian nih non Nara tiba tiba mau belajar masak. Kalau enggak, gak yakin bibi."
"Kok tahu sih bi?" Sahut Nara sambil cekikikan dan menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Tiur geleng geleng sambil tersenyum. Rasanya, senang sekali melihat perubahan Nara kearah yang lebih positif. Gara gara terlalu dimanja, Nara jadi tak bisa mengerjakan pekerjaan rumah Apapun. Berbeda dengan kakaknya Kinan. Yang pandai memasak, bahkan cukup bisa diandalkan juga untuk pekerjaan lainnya seperti beres beres rumah.
Dulu, Tiur pikir, Nara akan lebih dewasa dan mandiri saat kuliah di luar negeri. Nyatanya tidak, papanya tak mengijinkan Nara tinggal sendiri. Nara dititipkan pada saudara Satrio yang menikah dengan orang asli UK.
"Ya udah sini, bantu mama menyiangi kangkung." Tiur menggeser wadah berisi kangkung sedikit kehadapan Nara.
"Mah, gak ada yang lebih spesifik lagi apa tugasnya. Aku mau belajar masak, kok malah disuruh menyiangi kangkung. Ajari resep masak apa gitu?"
"Ya udah, kamu kupas bawang merah sama bawang putih. Mama ajarin bikin cah kangkung."
"Cocok." Sahut Bi Surti sambil menunjukkan dua jempolnya. "Den Septian suka banget cah kangkung."
"Beneran Bi?" Tanya Nara heran. Kenapa Bi Surti lebih paham tentang Septian daripada dia. Sebenarnya yang istrinya Bi Surti atau dia?
"Beneran lah. Wong Aden sendiri yang bilang sama saya. Dia suka sekali cah kangkung bikinan bibi. Yang ada campuran ebi sama terasinya." Terang Bi Surti.
Nara segera meraih wadah bawang merah dan bawang putih. Semangatnya menggebu gebu mendengar suaminya menyukai cah kangkung. Diraihnya pisau yang berada atas meja lalu mengambil sebiji bawang merah. Satu, dua, tiga, masih aman. Tapi selanjutnya, matanya mulai merasakan efek pedas dari bawang merah. Belum lagi ditambah bawang putih.
Saat rasa panas itu kina mendera. Nara buru buru menuju wastafel untuk mencuci matanya. Ternyata tak semudah bayangannya. Mengupas bawang saja sudah sesulit ini, bahkan lebih sulit dari menghafal rumus matematika.
"Masih semangatkan? gak nyerah?" Goda mama Tiur sambil menahan tawa saat Nara kembali duduk ditempat semula.
"Masih lah Ma. Ini udah selesaikan, acara mengupasnya bawangnya? Lalu aku mesti ngapain lagi?"
Mama Tiur dengan telaten mengajari Nara membuat cah kangkung. Mulai dari bumbu apa saja yang harus disiapkan. Sampai cara menumis. Gerakan Nara yang sangat kaku saat memegang spatula membuat Bi Surti tak bisa menahan tawanya. Tapi Nara tetap semangat. Dia ingin membuktikan, jika dirinya layak mendapatkan sebutan istri serba bisa. Bisa memuaskan perut, serta yang berada dibawah perut.
...*****...
Beberapa jenis lauk tampak terhidang dimeja makan. Satrio jenis orang yang dalam prinsipnya, belum makan jika belum makan nasi. Jadi tak ada istilah sarapan roti dalam kamus hidupnya.
Dia juga tak mau sarapan nasi goreng. Berusaha mengurangi makanan berminyak sesuai anjuran Raka. Jadi setiap pagi, Tiur dan Bi Surti pasti sibuk didapur menyiapkan sarapan dengan berbagai macam menu sehat.
Sarapan pagi ini tampak beda. Hanya ada tiga orang yang berada dimeja makan.
"Suami kamu mana Ra?" Tanya papa Satrio.
"Masih tidur Pah." Sehabis sholat subuh tadi, Septian kembali tidur. Tidurnya yang tampak nyenyak, membuat Nara tak tega membangunkan.
"Enak sekali dia, jam segini masih tidur. Bisa ya seperti itu dirumah mertua." Ujar Satrio dengan nada kesal.
"Abangkan habis kerja pah. Hampir jam 1 baru pulang. Dia baru tidur beberapa jam saja. Sebentar lagi, dia juga kerja lagi, masuk shift siang." Bela Nara.
"Kayak cuma dia saja yang kerja. Semua dirumah ini juga kerja. Emang berapa sih gajinya sebulan? Dikasih nafkah berapa kamu sama dia?"
Nara hampir tersedak mendengar pertanyaan papanya. Bisa bisa papanya pingsan kalau tahu nominal angka yang Septian berikan padanya.
"Papa jangan bahas itu dong. Lihat Nara, selera makannya langsung hilang gara gara pertanyaan papa. Mending papa cobain ini." Tiur mengambil satu sendok cah kangkung dan meletakkan diatas piring Satrio.
"Itu Nara yang masak loh." Lanjutnya sambil tersenyum kearah Nara.
"Kamu belajar masak Ra?" Satrio mengernyitkan keningnya.
Nara mengangguk.
"Gimana Pa, enak gak?" Tanya mama Tiur.
"Enak." Jawab Papa Satrio sambil menoleh kearah Nara.
"Nara hebatkan. Sekarang tak hanya pandai matematika saja. Dia juga pandai memasak." Puji Tiur.
"Septian yang nyuruh kamu belajar masak? Kenapa? mau ngajak kamu hidup susah."
"Pah." Sela Tiur. "Emang cuma orang susah aja yang bisa masak. Mama juga bisa masak. Emangnya kita hidup susah? enggakkan?"
Satrio kembali melanjutkan makannya. Tak mau lagi membahas masalah belajar masak. Karena yang diucapkan Tiur adalah benar.
"Pah." Panggil Nara.
"Hem." jawab Satrio sambil mengalihkan pandangannya dari piring ke Nara.
"Tolong terima abang ya pah. Nara tahu, abang jauh dari kriteria mantu idaman papa. Jauh banget malahan. Tapi Nara yakin, suatu saat, dia bisa bikin papa bangga. Dia laki laki yang baik Pah." Ucap Nara dengan mata mulai berkaca kaca.
Satrio beranjak dari duduknya lalu mendekati Nara. Berdiri disebelah Nara sambil membelai rambutnya.
Nara melingkarkan lengannya dipinggang sang papa dengan kepala yang menempel diperutnya.
"Kamu bahagia dengan pernikahan ini?" Tanya Satrio dengan tangan yang masih setia membelai puncak kepala Nara.
"Bahagia Pah, sangat bahagia."
"Papa senang mendengarnya." Sahut Satrio sambil mencium puncak kepala Nara.
"Kamu tahu Ra. Kebahagiaanmu adalah prioritas papa. Walaupun usia kamu sudah 25 tahun. Tapi bagi papa, kamu tetaplah putri kecil yang harus papa lindungi dan pastikan kebahagiannya. Kamu adalah segalanya bagi papa. Dan Melihatmu bahagia, adalah impian papa."
Nara yang terbawa suasana mulai menangis. Tanpa diucapkanpun, dia tahu jika papanya amat menyayanginya. Sejak kecil, belum pernah permintaannya ditolak oleh sang papa. Dan mungkin karena itu juga, dia menjadi gadis manja dan sedikit egois.
"Papa takut kamu tak bahagia. Mengingat apa yang sudah Septian lakukan padamu hingga kamu hamil. Papa belum bisa yakin jika dia pria yang tepat buat kamu."
"Abang memang salah. Tapi Nara juga salah. Kami berdua sama sama salah disini."
Tiur merasakan air matanya tiba tiba turun dengan sendirinya. Dia terharu melihat interaksi antara Nara dan suaminya.
Satrio menciumi puncak kepala Nara berkali kali. Dia juga tampak menyeka air matanya.
"Pah, lanjutin makannya. Udah siang, Entar papa telat ke kampus." Tiur mengingatkan.
Satrio menyusut hidungnya lalu kembali ke tempat duduknya.
Satrio mengambil ikan goreng dan meletakkannya dipiring Nara. "Makan yang banyak, biar cucu papa sehat."
...*****...
Seperti biasa, Nara selalu menghujani wajah Septian dengan ciuman saat membangunkan suaminya itu. Cara yang benar benar tepat, membangunkan dua sekaligus.
"Jam berapa Ra." Tanya Septian sambil mengucek matanya.
"Jam 8 lebih bang."
Septian yang terkejut langsung duduk. Dia menatap jam dinding yang berada dikamar. Benar, ternyata sudah jam 8 lebih.
"Kok gak bangunin abang dari tadi sih Ra? Ini sudah lewat jam sarapan. Papa pasti nanyain abang. Mau ditaruh mana muka abang Ra. Numpang tinggal dirumah mertua, terus makan gratis. Tapi enak enakan molor."
Nara hanya tersenyum mendengar ocehan Septian. Pria itu tampak panik untuk hal yang sebenarnya tak begitu serius.
"Gak papa bang. Gak usah mikirin itu. Mending abang mandi, terus sarapan."
Septian melihat mata Nara. Tampak merah seperti habis menangis. Septian segera beringsut kesamping Nara dan memperhatikan wajah istrinya itu dengan seksama.
"Kamu habis nangis Ra? Ada masalah? ada apa?"
Nara tersenyum melihat raut cemas yang ditunjukkan Septian. Suaminya itu memang luar biasa. Sangat perhatian padanya.
"Gara gara abang." Jawab Nara sambil mengerucutkan bibir.
"Abang?" Gara gara abang?" Septian menujuk dirinya sendiri. Bagaimana bisa gara gara dia? Dia baru bangun tidur, belum juga melakukan apapun.
Nara mengangguk. "Gara gara bikinin abang cah kangkung nih. Aku kan jadi nangisin si bawang." Jawabnya sambil memukul lengan Septian pelan.
Tawa Septian pecah seketika. Dia lalu meraih kedua tangan Nara dan menciuminya. "Makasih ya istri abang yang cantik. Udah mau repot repot masak buat abang. Tapi perlu kamu Tahu Ra. Abang gak pernah nuntut kamu bisa masak. Tetap jadi diri kamu sendiri. Karena apapun dan bagaimanapun kamu. Satu hal yang tak akan pernah berubah. Abang mencintai kamu. I love you.
.
KALAU LIKE DAN KOMEN BANYAK, NANTI MALAM UP LAGI