Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
TERJEPIT SITUASI


Setelah kelas terakhirnya selesai, Nara segera meluncur menuju sebuah mall yang tak jauh dari kampus.


Tadi Nova mengirim chat padanya. Mengajak ketemu di mall karena ada hal penting yang perlu diklarifikasi. Nara yang memang ada keperluan dimall langsung menyetujui ajakan Nova. Tapi lebih dulu dia minta ijin pada Septian yang masih bekerja.


Setelah memarkirkan mobilnya di basement. Dia segera menelepon Nova. Dan ternyata, sahabatnya itu sudah menunggu di sebuah cafe yang berada dilantai satu.


Nara mengedarkan pandangannya mencari Nova. Dan disaat bersamaan Nova yang melihatnya langsung melambaikan tangan.


"Kangen." Ucap Nara sambil memeluk Nova dan cipika cipiki.


"Bohong lo." Cibir Nova sambil melepaskan pelukannya dan kembali duduk.


Nara tergelak mendengar cibiran Nova. Dia lalu duduk dan memanggil waitres untuk memesan minuman dan makanan kecil. Walaupun tadi udah makan siang dikantin, dia sudah mulai lapar lagi.


"Jelasin ke gue yang sebenarnya." Todong Nova.


"Jelasin apaan?"


"Tentang lo yang kabarnya udah nikah. Tega lo, nikah gak ngundang gue. Ngabarin aja enggak." Nova melipat kedua tangan didada sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.


"Tahu dari Arumi?" Tebak Nara.


"Kok lo tahu sih?" Nova memajukan tubuhnya lalu menyedot jus nya.


"Karena cuma dia yang tahu."


"Astaga, jadi beneran lo udah nikah. Dan sekarang, lo hamil?"


Nara mengangguk.


"Gila... gila.. gila.. Gak nyangka gue. Lo bisa move on secepat ini dari Abi." Nova geleng geleng.


"Jangankan elo. Gue aja juga heran. Kenapa gue bisa move on secepet ini."


"Gue penasaran sama suami lo. Secakep apa sih, sampai bisa bikin lo move on kilat?" Nova tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. "Saking keponya, gue sampai cek seluruh sosmed lo. Tapi gak ada foto suami lo. Lo juga gak pernah masang di status wa. Jangan bilang kalau lo malu masang wajah suami lo. Kenapa, jelek, atau....udah tuwir?" canda Nova.


"Ish... keterlaluan lo bilang suami gue tuwir. Suami gue berondong."


"Kalau berondong, kenapa gak pernah lo post fotonya?"


"Gue gak mau ekspos foto suami gue, karena tak mau diambil pelakor." Nara menekankan kata katanya.


Nova langsung tergelak mendengarnya. Dia tak yakin jika itu alasan Nara yang sebenarnya.


"Emang lo kapan sih nikahnya? kok tiba tiba udah hamil aja. Jangan bilang.... lo... "


"Gue hamil duluan." potong Nara.


Nova menatap Nara cengo. Setahu dia, Nara bukan perempuan gampangan yang mau diajak gituan sebelum nikah. Selama pacaran dengan Abi saja, dia selalu menolak saat Abi minta. Dan selama tinggal di UK, Nara juga tak terpengaruh dengan pergaulan bebas disana. Tapi, kenapa tiba tiba bisa hamil duluan?


Nara yang makanannya baru datang, segera memakannya. Tak mempedulikan Nova yang masih menatapnya tak percaya.


"Nov, anterin gue shopping yuk."


"Ceritain dulu ke gue apa yang sebenarnya terjadi. Sumpah, ini kayak Bukan lo Ra. Lo masih waraskan? Lo gak lagi depresi gara gara ditinggal Abi kan?"


"Dih, depresi lo kata. Gue waras seratus persen." Tekan Nara sambil menghembuskan nafas kasar. Enak aja dia dikatain depresi.


Akhirnya Nara menceritakan kisahnya dengan Septian. Karena Nova jelas tak akan berhenti mengejar penjelasan darinya. Setelah mendengar cerita Nara, Nova jadi makin penasaran seperti apa tampang Septian yang mampu meluluhkan hati Nara secepat kilat..


Setelah makanannya habis, Nara mengajak Nova untuk menemaninya shopping. Mereka memasuki butik yang menjual pakaian muslim. Nara ingin membeli gamis untuk dipakai diacara tahlilan dirumah Septian. Dia harus tampil all out karena mau dikenalkan dengan tetangga Septian.


"Nov, bantu milih dong, gue bingung nih." Rengek Nara sambil memilah milah gamis yng berjejer di gantungan. Dia tak paham sama sekali dengan model gamis yang sedang hits saat ini.


"Gue mana ngerti Ra. Mending tanya pegawainya, mana model yang terbaru."


"Tumben lo pinter."


"Dih, dari dulu kali. Buktinya, gue yang cuma denger keluhan lo aja, tahu kalau Abi selingkuh. Tapi lo malah gak percaya sama gue." Nova selalu jadi teman curhat Nara sejak dulu. Dan dua tahun terakhir hubungannya dengan Abi. Nara selalu mengeluh jika Abi tak lagi perhatian, tak lagi ada waktu dan sering terdengar tak bersemangat jika dia ajak bicara. Nova bisa menebak jika Abi punya wanita lain, tapi Nara justru lebih percaya Abi.


"Ngapain malah bahas siberengsek itu sih. Gedek gue, denger namanya aja pengen muntah." Kesal Nara dan langsung disambut tawa oleh Nova.


Sesuai saran Nova, Nara meminta bantuan pegawai toko untuk memilih gamis. Setelah mendapatkan gamis dan hijab untuknya. Nara berniat membelikan juga untuk ibu dan adik adik Septian. Alhasil, dia memborong 4 gamis ditoko tersebut.


"Bu Nara." Panggil seseorang yang tiba tiba muncul saat Nara dan Nova baru keluar dari toko busana muslim. Ternyata Diego yang memanggilnya. Cowok tampan itu tampak sangat senang karena tak sengaja bertemu Nara di mall.


"Diego... "Sahut Nara sambil tersenyum terpaksa.


"Siapa Ra, cakep bener?" Bisik Nova yang sejak tadi melotot melihat Diego.


"Mahasiswa di kampus gue." Jawab Nara pelan.


"Wah, habis shopping ya bu?" Tanya Diego yang melihat barang barang bawaan Nara.


"Diego." Jawabnya sambil menjabat tangan Nova.


"Ya udah ya, kita harus segera pergi." Ujar Nara yang tak nyaman dengan kehadiran Diego.


"Emang mau Kemana lagi sih Ra?" Nova justru enggan untuk pergi. Dia malah ingin berlama lama dengan berondong manis itu.


"Temenin gue cari laptop."


"Saya tahu tempat jualan laptop yang bagus bu. " Diego menyahut cepat. "Yang koleksinya lengkap dan harga bersaing. Gimana kalau saya anter?" Diego tampak bersemangat.


Wow, seperti es teh di cuaca yang panas. Tawaran yang terdengar sangat menggiurkan buat Nova.


"Boleh, yuk kita kesana." Sahut Nova cepat. Dia bahkan tak bertanya dulu pada Nara. Sontak saja hal itu membuat Nara memelototinya karena kesal.


"Gak perlu, gak perlu, kita berdua aja. Nanti merepotkan kamu." Kilah Nara. Dia memberi kode pada Nova agar menolak, tapi Nova yang masih terpesona dengan Diego jelas tak mengindahkan kode kode dari Nara.


"Gak repot kok Bu. Seneng malahan saya. Yuk saya antar." Pemuda itu segera berjalan agak didepan agar Nara dan Nova mengikutinya. Nova menarik tangan Nara yang tampak ogah ogahan berjalan.


Setelah dua kali naik eskalator dan berjalan sedikit, akhirnya mereka sampai disebuah toko laptop yang lumayan besar.


"Hai bos, tumben kesini?" Sapa seorang pegawai ditoko tersebut.


"Bos?" Nara dan Nova saling berpandangan seolah mata mereka berkata. Dia bos disini?


"Punya bokap, bukan punya saya." Ujar Diego yang melihat tanda tanya dimata Nara dan Nova.


"Tora, Temen gue nyari laptop. Tunjukin nih tipe tipe terbaru dan harganya." Diego memanggil salah satu pegawainya.


"Kirain beneran nunjukin toko yang bagus. Eh taunya lagi promosiin toko sendiri." Celetuk Nova yang langsung disenggol oleh Nara.


Diego tergelak mendengar ucapan Nova. "Tenang saja, ada diskon gede buat bu Nara. Gratis juga boleh, asal mau jadi pacar saya." Godanya sambil menaikkan sebelah alis.


"Hah!" Nara langsung melotot mendengarnya. Sebenarnya dia sudah tahu kalau Diego menyukainya. Terbukti dengan dua kali pemuda itu memberinya hadiah serta bunga.


Nova tak kalah heranya. Bukankah Nara sudah menikah, tapi masih aja dikejar berondong. Lha dia, yang nyata nyata masih single, belum pernah dirayu berondong.


"Maaf, sepertinya saya tak jadi membeli laptop." Nara hendak pergi tapi malah dihalangi oleh Diego. Pria itu berdiri tepat didepan Nara, hingga membuat wanita menghentikan langkahnya.


"Ucapan saya tadi becanda kok. Jangan terlalu diambil hati. Jadikan beli laptopnya?"


Nara menghela nafas lalu membalikkan badan dan kembali menuju etalase utama. Disana ada pegawai yang menyambutnya dan menjelaskan tentang beberapa macam laptop terbaru.


Tapi saat dia sibuk memikirkan mau beli yang mana. Nova malah mendapatkan telepon dari ibunya. Dia disuruh cepat pulang karena ibunya sakit.


Alhasil tinggal Nara sendirian. Melihat kursi di sebelah Nara yang tadi diduduki Nova kosong, Diego segera menempatinya.


"Ya udah saya ambil yang ini." Nara buru buru menentukan pilihannya. Dia tak nyaman saat Diego duduk disebalahnya dengan jarak yang lumayang dekat.


"Baiklah bu, saya buatkan notanya. Mau bayar pakai apa?"


Nara mengeluarkan kartu kreditnya dan menyerahkan pada pegawai.


"Ada diskon 25 persen bu. Jadi ini total semuanya." Pegawai itu menyerahkan nota pembelian pada Nara.


Nara menoleh kearah Diego yang duduk disebelahnya.


"Jangan salah sangka. Memang lagi ada diskon ditoko. Bukan karena saya." Diego mengangkat kedua tangannya. Berpura pura tak tahu apa apa, padahal jelas ini perbuatannya.


Setelah menyelesaikan pembayaran, Nara segera pergi. Tapi Diego, pria itu tetap saja mengikutinya.


"Kamu ngapain ngikutin saya?" Tanya Nara dengan nada jengkel.


"Saya mau pulang kok bu, bukan ngikutin ibu." Jawab Diego sambil menahan tawa.


Nara membuang nafas kasar lalu melanjutkan langkah. Tak mempedulikan lagi pria yang terus mengikutinya dibelakang..


Saat memasuki lift, Nara makin kesal karena pemuda itu mengambil tempat tepat disebelahnya.


Dan saat lift berhenti dilantai dua. Banyak sekali orang masuk. Dan tanpa sengaja, ibu ibu gemuk menyenggol Nara hingga hampir terjatuh. Beruntung Diego langsung sigap menangkap tubuhnya. Hingga Nara tak sampai terjatuh.


"Lepas." Desis Nara yang risih karena kedua tangan Diego memegangi pinggangnya. Tapi pemuda itu malah bergeming, menatapnya intens dan tak melepasnya.


Dan saat lift kembali terbuka. Tubuh Diego terserempet orang yang hendak keluar. Alhasil tubuhnya makin menempel pada Nara, dan lengannya kian erat memeluk wanita itu.


bugh


Nara akhirnya memukul dada Diego yang dianggapnya sudah sangat kurang ajar itu.


"Ma, maaf bu." Diego baru tersadar.


"Kurang ajar kamu." Maki Nara lalu segera keluar dari lift saat pintu terbuka.