Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
AKU BUKAN PELAKOR


Nara tertegun melihat sosok yang tiba tiba muncul dihadapannya. Pria yang paling tidak ingin dia temui saat ini dan selamanya. Pengkhianat yang telah menghancurkan semua mimpinya. Pecundang yang hanya bisa menggunakan kata terpaksa sebagai alasan.


"Siapa Bu? Apa dia suami ibu?" Tanya Diego yang sekarang berdiri disampingnya. Dia merasa pernah melihat pria itu, tapi lupa dimana.


"Bukan, dia bukan siapa siapa saya." Jawab Nara dengan tatapan mata seolah ingin menelan Abi hidup hidup. Sorot kebencian masih sangat jelas terpancar disana.


"Bisa kita bicara sebentar." Pinta Abi.


Nara memilih tak meladeni. Dia lebih memilih melenggang pergi. Tapi Abi justru menahan pergelangan tangannya.


"Lepas." Pekik Nara dengan suara tertahan karena tak ingin menimbulkan kericuhan.


"Lepaskan Bu Nara." Diego menarik tangan Abi dan menghempaskannya.


"Siapa kamu ikut campur masalah saya?" Bentak Abi.


"Saya mahasiswanya. Dan siapa anda berani beranianya bikin masalah disini. Saya rasa anda bukan mahasiswa ataupun dosen disini." Balas Diego.


Melihat mereka berdua bertengkar, kesempatan emas bagi Nara untuk pergi. Tapi sayangnya, Abi menyadari itu dan mengejarnya.


"Ra, kita butuh bicara." Teriaknya hingga menarik perhatian banyak orang. Hal sungguh membuat Nara kesal. Dia paling tak mau dinotice oleh para mahasiswa.


"Kalau Bu Nara gak mau gak usah maksa." Bentak Diego sambil menarik kasar lengan Abi.


Abi yang tak terima langsung memukul Diego. Dia bahkan lupa sedang berada dimana sekarang.


BUGH


"Damn." Umpat Diego dan hendak memukul balik tapi keburu diteriaki Nara.


"Stop, jangan Diego. Jangan kotori tanganmu dengan memukulnya. Ibu tak mau kamu kena masalah karena ini."


Akhirnya Diego menurunkan tangannya. Dia mengatur nafasnya yang memburu karena emosi.


Situasi menjadi tidak kondusif. Beberapa mahasiswa mulai berkerumun. Bahkan Nara sempat melihat, ada yang mengarahkan ponsel pada mereka. Seperti sedang merekam. Tak ingin situasi makin runyam, Nara tak ada pilihan lain selain mengikuti kemauan Abi.


"Baiklah kita bicara. Tapi tidak disini. Ikuti mobil saya."


Nara hendak melangkah pergi tapi mendadak berhenti dan berbalik.


"Perhatian semuanya." Teriaknya dengan suara lantang. "Bagi siapapun yang sempat merekam adegan tadi. Tolong segera dihapus. Jika ada yang menyebarkannya, saya tidak akan segan segan untuk menuntutnya."


Semua tampak terdiam, tak ada satupun yang berani angkat bicara. Hingga akhirnya mereka bubar satu persatu.


...******...


Nara beberapa kali menelepon Septian tapi tak dijawab. Dan akhirnya, dia memilih mengirim pesan yang berisi jika dia sedang bersama Abi sekarang.


Disinilah mereka sekarang, disebuah cafe yang letaknya lumayan jauh dari kampus. Nara sengaja memilih tempat itu agar tak bertemu dengan mahasiswanya.


"Apa benar kamu sudah menikah?"


Nara hampir saja tertawa mendengar pertanyaan itu. Jadi pria yang katanya super sibuk itu, jauh jauh datang kekampus sampai rela berantem, hanya itu bertanya masalah ini.


"Kenapa diam, benar kamu sudah menikah?"


"Siapa lo? keluarga bukan? teman bukan? jadi kenapa kepo?"


"Tinggal jawab aja susah banget sih Ra?" Abi tampak jengkel.


"Emang penting banget ya buat lo?" Tanya Nara sambil tersenyum sinis.


Abi menyandarkan punggungnya disandaran kursi. Tak menyangka jika akan sesusah ini untuk mencari jawaban iya atau tidak. Nara justru terkesan memutar mutar pertanyaan.


"Kamu hamil?"


Nara berdecih. Ternyata saat pertanyaan pertama tak menemukan jawaban, dia berganti dengan pertanyaan lain.


"Aku rasa pembicaraan kita ini hanya buang buang waktu saja. Kalau tak ada yang penting lagi. Lebih baik aku pulang."


Nara ingin beranjak tapi ponselnya berdering. Membuat dia kembali duduk dan menjawab telepon.


"Assalamualaikum bang."


Abi tampak mengernyit mendengar Nara memanggil seseorang dengan sebutan bang. Sejak dulu, dia tak pernah mendengar Nara menggunakan sebutan itu. Ditambah lagi, wajah Nara yang awalnya kesal, tiba tiba berubah berseri seri saat menjawab telepon itu.


"_____"


"Bye, love you too Abang."


Rahang Abi tampak mengeras mendengar obrolan Nara dengan seseorang yang dia panggil bang itu. Ada rasa tak terima dihatinya melihat Nara tampak mesra. Dan apa tadi, Abang? astaga...bikin panas saja.


"Siapa? suami kamu?"


"Iya." Jawab Nara sambil menyimpan kembali ponselnya kedalam tas.


"Arumi bilang, dia bertemu denganmu di poli kandungan? hamil berapa bulan?"


"Buat apa lo ngurusin kehamilan gue. Urusin istri lo sendiri. Bisa bisanya ya, lo biarin istri lo periksa kandungan sendiri dengan alasan kerja." Ledek Nara sambil tersenyum sinis. "Padahal, sekarang lo ada waktu cuma buat nanya tentang kehamilan gue."


"Apa aku kenal sama pria itu? suami kamu?" Abi benar benar kepo siapa suami Nara. Siapa lelaki yang bisa membuatnya move on secepat ini.


"Apa Arumi tahu kalau lo nemuin gue hari ini?" Seperti sebelumnya, bukannya menjawab, Nara malah balik bertanya.


Jelas saja Arumi tak tahu, tapi Abi tak menjawab.


"Kira kira, kalau dia tahu. Bagaimana perasannya? Apa akan sesakit seperti apa yang aku rasakan dulu? Tapi aku rasa tidak. Karena tak ada yang lebih menyakitkan daripada apa yang pernah lo dan Arumi lakuin ke gue." Tekan Nara sambil menunjuk dirinya sendiri. Nafasnya mulai memburu. Dan raut wajahnya menyiratkan kemarahan yang sangat besar.


"Maaf."


"Aku gak butuh."


"Aku bisa ninggalin Arumi buat kamu jika itu bisa bikin kamu maafin aku."


"Apa!" Nara seketika tergelak mendengarnya. Dia tak menyangka jika kalimat menjijikkan seperti itu bisa keluar dari mulut seorang Abimana.


"Aku yakin, kamu tidak mencintai suami kamu. Gak mungkin kamu bisa move on dari aku secepat ini Ra. Aku tahu kamu sangat mencintaiku."


Nara melongo mendengarnya. Pria itu terlalu percaya diri. Membuat Nara ingin muntah.


"Aku gak pernah mencintai Arumi. Dia hanya pelarian saat kamu gak ada Ra. Dan sampai detik ini. Aku masih mencintai kamu."


PLAKKK


Nara yang sudah tak bisa menahan emosi seketika menampar Abi.


"Bisa lo ngomong cinta Bi. Jika pada kenyataannya, waktu itu lo lebih milih Arumi dan menalak gue. Belum 24jam Bi, kalau lo lupa. Lo udah nalak gue bahkan saat pernikahan kita belum genap 24 jam." Nara berusaha untuk tidak berteriak mengingat ini adalah tempat umum. Rasanya sakit itu seperti terulang kembali. Walau tak sesakit dulu, tapi masih saja terasa sakit.


"Aku terpaksa Ra. Arumi hamil, dan aku harus tanggung jawab."


"Terpaksa, terpaksa, aku muak mendengar kata terpaksa." Nara mengambil tasnya yang berada diatas meja dan pergi.


"Tunggu Ra." Abi mengejarnya dan menahan pergelangan tangan Nara.


"Lepasin Bi." Teriak Nara dengan wajah merah padam karena emosi.


"Mas Abi."


Abi dan Nara seketika menoleh kearah suara. Ada Arumi disana, dihalaman cafe.


Abi terkejut melihat kedatangan Arumi. Tapi tidak dengan Nara, dia justru tersenyum.


"Lepasin dia mas." Titah Arumi dengan mata berkaca kaca.


Abi tersedar jika dia masih memegang pergelangan tangan Nara. Dan seketika melepaskannya.


"Kenapa kamu bisa ada disini?" Tanya Abi.


"Aku yang memberitahunya." Jawab Nara lantang.


Ya, dalam perjalanan menuju cafe tadi. Nara sempat menghubungi Nova dan menyuruhnya memberi tahu Arumi jika Abi dan dia berada dicafe violet.


"Dia berhak tahu kelakuan suaminya." Lanjut Nara.


"Kita memiliki masa lalu. Dan sekarang, kita sudah sama sama memiliki pasangan masing masing. Jadi, sudah sepatutnya pasangan kita tahu kalau kita bertemu. Aku tak mau ada fitnah. Dan yang paling penting, aku tak mau dikira pelakor. Aku bukan pelakor seperti istri kamu." Ujarnya sambil menatap Arumi dengan senyum meremehkan yang tersungging dibibirnya.


.


Nanti malam up lagi kalau like dan komennya banyak. Terimaksih..... 😘😘😘😘