
Ternyata untuk memulai sebuah usaha itu bukanlah hal yang mudah. Mungkin itulah yang saat ini dirasakan Septian. Dia yang memang masih amatir dalam bidang bisnis, merasa sedikit kesusahan. Ditambah lagi jurusan kuliah yang dia ambil adalah teknik, jauh banget.
Untuk menyiapkan semuanya, Septian bahkan butuh waktu hampir satu bulan mulai dari survei tempat hingga grand opening.
Usaha coffee shop tak melulu hanya ada modal terus bisa bikin kopi, jadi deh. Tidak, tidak semudah itu bro. Karena faktanya, banyak perintilan lain yang harus dipikirkan juga.
Mezra coffee n dessert, itulah nama yang terpasang didepan tempat usaha, yang baru hari ini resmi dibuka. Dengan harapan, siapapun yang datang ke tempat itu, akan merasakan kemesraan. Mesra itu tak hanya melulu tentang pasangan kekasih atau suami istri. Karena dari maknanya, mesra itu adalah erat, hubungan yang erat. Jadi mesra juga bisa untuk berlaku dalam konteks persahabatan, pekerjaan dan keluarga.
"Kak, senyum dong." Ujar Sarah sambil mengarahkan ponselnya pada Shaila. Dia sedang merekam aksi kakaknya membuat dessert. Dia juga merekam abangnya serta pekerja lain. Menyebarkan disosmed, agar banyak pengunjung yang datang. Ya, walaupun pengikutnya gak banyak banyak amat.
Nara menikmati secangkir buatan sang suami sambil menyaksikan live musik. Selama grand opening 3 hari ini, akan ada live musik. Selaian itu, semua makanan dan minuman didiskon 50 persen. Dia tak sendiri, melainkan bersama Nova.
"Bagus juga konsepnya Ra. Sesuai dengan nama, interiornya bertemakan kasih sayang." Ucap Nova sambil menyesap kopi.
"Bagian bawah emang kita buat seinstagramable mungkin. Tujuan kita untuk menarik pelanggan dari kalangan muda. Kalau bagian atas, bisa dibilang seperti private area. Digunakan untuk para eksekutif buat meeting atau yang lainnya."
"Gue doain, semoga usaha suami lo ini lancar Ra."
"Amin.. "
"Oh iya, tadi Arumi sempet ngutarain niatnya mau kesini."
"Hah, ngapain?" Nara dibuat terkejut.
"Gak tahu." Jawab Nova sambil mengedikkan bahu.
Tak terasa malam semakin larut. Dan akhirnya Nova pamit lebih dulu, meninggalkan Nara duduk sendirian di salah satu sudut cafe.
"Sayang, kamu istirahat diatas gih. Udah malem , gak baik bumil begadang." Titah Septian yang baru saja datang menghampiri Nara.
Nara mengangguk, dia memang sudah sangat ngantuk. Ditambah lagi kecapekan karena bantu bantu persiapan grand opening.
"Yuk abang anterin." Septian meraih tangan Nara dan menuntunnya menuju tangga.
"Gus, gue tinggal bentar ya." Pamitnya pada Agus yang bertugas sebagai barista.
"Sip." Sahut Agus sambil mengangkat jempolnya.
Suasana emang sudah tak seramai tadi, mungkin efek malam yang udah makin larut. Jadi Septian bisa meninggalkan coffee makernya sebentar.
"Capek?" Tanya Septian saat keduanya sudah duduk disofa yang ada dilantai dua.
"Lumayan." Jawab Nara sambil mengatir nafas. Naik tangga sudah menjadi hal yang sangat berat buatnya. Makanya kamar mereka pindah dibawah sekarang.
"Sekarang aku emang lebih mudah capek. Mungkin karena perut yang makin gede kali." Keluh Nara sambil menaikkan kedua kakinya keatas sofa biar bisa selonjoran.
"Bang, seharusnya kemarin jadwal cek kandungan. Sekarangkan 2 minggu sekali disuruh kontrol sama Bu dokter." Ujar Nara.
"Astaga. " Septian membuang nafas kasar. "Maaf ya, abang sampai lupa. Efek terlalu sibuk jadi kayak gini deh. Tapi gak ada keluhan apapunkan sama kandungan kamu?"
"Alhamdulillah gak ada. Tapi aku sering ngerasa takut deh menjelang hari persalinan bang. Apalagi hpl tinggal sebulan. Dan Itupun, bisa aja maju loh."
"Takut apa? harusnya seneng dong. Bentar lagi anak kita lahir."
"Lahiran kan sakit bang."
"Itu kan kata orang. Kamu belum merasakannya sendiri." Septian meraih tangan Nara lalu menggenggamnya. "Ada abang yang bakal selalu nemenin kamu."
"Ya udah, kalau gitu, lusa kita cek kandungan. Setelah promo besar besaran 3 hari ini, mungkin abang lebih sedikit longgar."
"Ya udah, terserah abang kalau gitu."
"Abang panggilin Sarah buat nemenin kau ya. Abang masih ada kerjaan soalnya."
Nara mengangguk. Walaupun dia lebih nyaman ditemani Septian, tapi untuk saat ini, dia tak boleh egois. Suaminya itu sedang sibuk. Dan dia yang tak bisa bantu apa apa karena hamil besar, hanya bisa memberikan dukungan dan mempermudah urusannya.
Dibawah, Shaila yang sudah tak sibuk membuat dessert, keluar dari area dapur. Selain dia, ada Leli yang juga bekerja sebagai pembuat dessert.
Satu jam lagi cafe tutup, jadi sudah jarang yang datang. Live musik juga sudah selesai. Palingan tinggal orang orang yang masih santai menikmati kopi sambil wifian gratis.
Melihat sepasang kekasih yang sedang menikmati wafle macha. Muncul keinginannya untuk mendengar langsung komentar dari mereka.
"Malam, mbak, mas." Sapa Shaila.
"Malam."
"Maaf mengganggu sebentar. Gimana waflenya? enak, atau under estimate? Saya pembuatnya, jadi ingin dengar langsung pendapat konsumen setelah memakannya." Tanya Shaila sambil tersenyum ramah.
"Enak kok mbak, cuma kalau buat saya, sedikit kurang manis aja. Tapi selera orang berbeda, mungkin saja sudah pas dilidah orang lain, saya juga tidak tahu." Jawab sang cewek.
"Makasih atas komentarnya. Saya akan berusaha untuk memperbaiki supaya sesuai dengan lidah pada konsumen. Silakan dilanjut, permisi." Pamitnya. Setelah itu, Shaila lanjut survei ke meja lain. Dia ingin makanan buatannya cocok dilihat semua orang, meski bisa dibilang mustahil. Karena selera setiap orang itu berbeda.
"Mbak Shaila, dipanggil orang dimeja 14." Ucap Surya.
"Ada apa ya?"
"Gak tahu mbak, dari muka mukanya, kayak mau komplain."
Denger kata mau komplain, membuat Shaila jadi deg degan. Dilihatnya meja no 14. Tampak seorang pria yang duduk sendiri sambil menyantap puding karamel. Oh, mungkin dia ingin komplain tentang puding karamel bikinannya.
"Permisi, ada apa ya mas?" Tanya Shaila pada cowok yang duduk dimeja no 14. Posisinya yang menunduk sambil bermain ponsel, membuat Shaila tak bisa melihat wajahnya dengan jelas.
"Pudingnya kurang manis."
Suara itu, kenapa seperti tak asing, batin Shaila.
"Hai, kita ketemu lagi."
Mata Shaila terbuka lebar melihat siapa yang saat ini ada didepannya. Siapa lagi kalau bukan Diego, cowok sombong yang sejak hari itu tak pernah bertemu lagi.
"Kebetulan banget ya." Ujar Diego.
Bohong banget kalau disebut kebetulan. Karena faktanya, Diego sengaja kesini dengan harapan bisa bertemu Shaila. Saat dia lihat status IG dan WA temannya, dia baru tahu kalau Asep membuka sebuah coffee shop. Mengingat hari ini grand opening, besar kemungkinan Shaila datang.
Sebenarnya siang tadi dia sudah datang, tapi nahas karena tak bertemu Shaila. Tak mau putus asa, malam ini , dia kembali datang.
Bukannya menjawab, Shaila malah melihat kearah Asep. Ada sedikit perasaan takut jika abangnya lihat.
"Takut sama Asep?" Tebak Diego.
"Makanya duduk biar gak narik perhatian. Dia sibuk tenang aja. Lagian meja ini jaraknya jauh dari barista. Duduk gih cepetan." Titah Diego sambil menunjuk dagu kursi yang ada dihadapannya..
Bukannya duduk, Shaila masih saja berdiri.
"Gue mau ngasih komen puding karamel bikinan lo."
"Kok lo tahu kalau gue yang bikin?"
"Hehehehe... gak sengaja denger pas lo nanyain komentar pelanggan tentang dessert disini. Gue tunggu tunggu, tapi lo gak nyamperin meja gue. Ya terpaksa deh, gue suruh pelayan manggil."
Shaila akhirnya duduk juga. Semoga saja abangnya gak nggeh kalau yang duduk didepannya ini Diego. Posisi cowok itu, membelakangi Septian.
"Gimana pudingnya?" Tanya Shaila.
"Em.... mau komen positif apa negatif dulu?"
Shaila menghela nafas. Jadi teringat juri diajang pencarian bakat.
"Positif dulu."
"Jadi lo pengen positif nih. Gampang, pulang dari sini ikut gue. Gue jamin deh, bentar lagi positif."
Shaila langsung melotot. Apa apaan cowok itu.
"Becanda. Nanggepinnya serius banget."
"Gak lucu."
"Ya kan gue emang bukan pelawak, mana bisa ngelucu."
"Udah deh buruan."
"Gak sabaran banget neng." Ledek Diego sambil terkekeh.
"Menurut gue sih, pudingnya masih bisa dimakan. Masih layak disebut puding. Gak bikin gue pengen ngelepeh gitu."
Apa seperti ini komentar positif. Kenapa jadi ingat juri acara masak di tv. Kalau seperti ini dibilang positif, seperti apa negatifnya? Shaila bertanya dalam hati.
"Yang jelas komennya. Gak usah sok niruin gaya juri di tv."
"Emang kayak gitu ya juri di tv? Gue sih gak tahu, maklum, gak pernah nonton tv. Udah sekitar setahun kali ya. Sampai lupa dimana gue dulu naruh remotnya."
Shaila menghela nafas. Cowok didepannya itu Kayaknya emang sengaja muter muter dulu.
Diego kembali mencicipi puding karamel dihadapannya. Tapi raut mukanya menunjukkan ekspresi yang tak biasa, bisa dibilang aneh.
"Kenapa?" Shaila mendadak panik. Takut pudingnya beneran tak layak konsumsi.
"Aneh rasanya." Diego mengeratkan kening. "Fix, ini puding teraneh yang pernah gue makan."
"Ma, maksudnya?"
"Bisa berubah ubah gitu rasanya. Tadi pas gue makan, rasanya hambar, kayak ada yang kurang gitu, kayak hati gue. Tapi pas makannya ditemenin lo, jadi enak aja, rasanya pas." Shaila memutar kedua bola matanya jengah. Apa seperti rasanya berhadapan dengan playboy. Ngomong apapun, selalu mengarah ke gombalan. Dia udah deg degan takut seaneh apa rasa pudingnya, eh malah dibuat ajang gombalan.
"Permisi."
"Eits, tunggu dulu. Ngambekan banget sih." Diego menahan pergelangan tangan Shaila agar tak pergi dulu. "Gue pelanggan loh, raja disini. Gak baik dicuekin."
Dengan terpaksa Shaila duduk kembali. Siapa sih yang pertama buat istilah, pembeli adalah raja? Jadi bikin penjual pusing kadang kadang.
"Tuh kan." Diego menunjuk kening Shaila, membuat gadis itu bingung sendiri. Dia segera mengusap keningnya, takut ada kotoran disana.
"Udah mulai ada keriput diwajah lo. Pasti karena suka marah marah."
Shaila mendengus kesal. Bener bener gak jelas nih cowok, batinnya..
"Kayaknya lo mesti rutin perawatan di salon sebelah deh. Biar hilang Tuh keriput. Jangan mau kalau sama emak emak. Nyokap gue aja yang umurnya udah 50 tahun, masih kenceng kulitnya."
Shaila tak ambil pusing. Dia tahu ini hanya kekonyolan gak jelas.
"Ngomongin tentang nyokap. Gue jadi teringat mama nih. Dia nanyain terus, kapan kamu main kerumah."
"Kayaknya obrolan udah melenceng jauh dari topik. Mending gue masuk kedalam aja."
"Wait, wait, wait. Ok, gue balik ke topik utama."
Sabar Sha, orang sabar disayang Tuhan. Dan kalau Tuhan udah sayang, pasti bakal dikasih jodoh yang baik, amin......
Shaila bermonolog dalam hati.
"Menurut gue sih, rasanya standar. Bisa dibilang, satu tingkat lebih enak dari bikinan mama gue. Tapi...... "
"Tapi apa?"
"Tiga tingkat lebih turun dibanding puding karamel yang biasa gue makan di hotel."
Shaila langsung tertunduk lesu. Pendidikan memasaknya hanya selevel SMK. Jelas kalah jauh dibanding chef hotel yang mungkin lulusan luar negeri.
"Gak usah sedih gitu dong. Hari ini gak enak, bukan berarti selamanya gak enak. Lo masih bisa terus belajar kok. Bisa ambil kursus privat dari suhunya."
"Kalau lo mau, bisa belajar dirumah gue. Setiap hari selasa, nyokap ada les masak sama salah seorang chef hotel. Kalau lo mau, bisa gitu belajar bareng mama. Nanti biar gue bilangin mama. Dan nyuruh chef nya ngajarin lo bikin dessert yang lebih enak."
"Gak perlu."
"Gak usah sok gengsi. Lo pengenkan lihat cafe abangnya maju, ramai, sukses gitu. Kalau yang dijual kek gini, gue gak bisa jamin pelanggan bakal ketagihan, terlalu standar. Gak ada nilai plusnya."
Shaila mencoba berfikir positif. Selera orang berbeda, Mungkin Diego terlalu sering makan makanan enak, jadi yang seperti ini dia anggap terlalu biasa. Menurut pelanggan lain tadi, enak kok. Tapi gimana kalau mereka bohong hanya karena sungkan mau jujur? Shaila jadi pusing sendiri.