Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
WAKTU


Acara lamaran Shaila dan Diego berjalan dengan lancar. Tidak ada acara spesial, hanya digelar tertutup antara dua keluarga. Karena usia Shaila yang belum genap 19 tahun, jadi pernikahannya harus menunggu usianya genap dulu. Akhirnya, kedua keluarga sepakat menggelar acara pernikahan 2 bulan lagi.


Selama menunggu hari H, Diego dan Shaila disibukkan dengan Segala persiapan pernikahan. Mama Eva memaksa menggelar acara besar besaran. Dan mau tidak mau, Shaila akhirnya setuju.


Septian tak kalah sibuk dari mereka. Dia bekerja diperusahaan sekaligus di cafe, hingga akhir akhir ini, dia tak ada waktu untuk Nara dan Ay.


Seperti malam ini, Septian pulang larut saat Nara dan Ay sudah tidur. Hampir setiap hari seperti ini, mereka hanya bertemu saat pagi hari sebelum Septian berangkat kerja.


Nara yang sedang tidur terbangun saat merasakan kasur disebelahnya melesak. Dia hanya menatap suaminya sekilas lalu memejamkan mata kembali. Dia juga membalikkan tubuhnya membelakangi Septian.


Septian yang melihat itu segera menggeser tubuhnya kearah Nara lalu memeluk wanita itu dari belakang.


"Gak kangen abang?" Tanya Septian sambil memeluk Nara dari belakang dan menciumi pucuk kepalanya.


Nara diam saja, bukannya tak mendengar, dia hanya malas menanggapi.


"Abang kangen bangat tahu yang." Lanjut Septian. Tapi masih tak ada respon apapun.


"Yank......" Panggil Septian sambil menyingkirkan rambut disekitar leher Nara lalu menciumi leher hingga belakang telinga wanita itu.


Nara merasakan geli, bahkan nafasnya mulai memburu. Tapi dia tetap berusaha menahan diri. Tak mau memberi respon apa apa.


"Udah berapa hari yang? Udah selesaikan nifasnya?" Tanyanya lagi dengan suara berat sambil berbisik didekat telinga. Tangannya mulai menelusup kedalam piyama dan meraba perut Nara.


"Yank..... abang pengen."


Nara tak bisa lagi menahan air matanya. Dia menyingkirkan tangan Septian dari perutnya dan segera bangkit. Buru buru dia turun dari ranjang dan berjalan cepat kearah toilet.


"Yang, ada apa?" Tanya Septian yang bingung.


Tapi lagi lagi ucapannya hanya diabaikan oleh Nara. Wanita itu segera masuk kamar mandi dan menguncinya dari dalam.


Septian merasa ada sesuatu yang tidak beres segera menyusul Nara. Tapi dia tak bisa masuk karena pintu dikunci dari dalam.


"Sayang.... " Panggil Septian dari balik pintu sambil mengetuk beberapa kali.


Alih alih menyahut atau membuka pintu, Nara justru membuka kran wastafel. Menyalakan air dengan deras agar suara tangisnya tak terdengar oleh sang suami.


Kecewa, itulah yang Nara rasakan saat ini. Dulu suaminya sangat bersemangat menunggu 40 hari masa nifasnya. Bahkan sampai bilang ingin merayakan dengan honeymoon Dihotel. Tapi nyatanya apa? Septian bahkan tak ingat saking sibuknya. Bahkan sekarang sudah 50 hari lebih.


Sebenarnya Nara tak masalah kalau lupa. Tapi pria yang bergelar suaminya itu, sama sekali tak ada waktu untuknya akhir akhir ini. Bahkan saat baru selesai nifas, Nara sudah berusaha mengingatkan. Wanita itu beberapa kali chat yang menjurus pembicaraan masalah ranjang, tapi suaminya sama sekali tak peka. Hanya membalas singkat chatnya dan tak jarang, tak membalas dengan alasan sibuk.


Tak hanya itu, awal awal selesai nifas, Nara selalu memakai lingerie. Tapi apa? suaminya selalu telat pulang, hingga berujung dia ketiduran dan gagal bercinta.


Setelah puas menangis dan meredakan sesak didadanya, Nara membasuh wajah lalu keluar.


"Sayang, kenapa?" Tanya Septian yang masih berdiri didepan pintu saat Nara keluar. Dia bisa melihat mata merah istrinya. Sudah jelas jika wanita itu habis menangis didalam kamar mandi.


"Sayang... " Septian meraih tangan Nara lalu memegangi kedua pundaknya. Ditatapnya wajah sembab sang istri lekat lekat.


"Ada apa? Apa ada kata kata abang yang menyinggung perasaan kamu? Atau mungkin kamu belum siap?"


Nara mengalihkan pandangannya kearah lain. Dia tak sanggup beradu tatap dengan Septian. Hanya membuatnya kesal dan ingin menangis saja.


"Gak papa kalau kamu belum siap. Abang tungguin kok."


Nara tersenyum getir mendengar ucapan Septian. Pria itu rupanya salah mengartikannya.


"Ya udah, tidur yuk. Kamu pasti capek seharian ngurusin Ay."


"Emang abang gak capek, kerja dari pagi hingga tengah malam?" Tanya Nara sambil tersenyum miring.


"Capeklah yang. Tapi abang ngelakuin ini demi kalian. Demi kamu dan Ay."


"MAKASIH BANG. MAKASIH BANYAK." Tekan Nara. "Carikan aku dan Ay uang sebanyak banyaknya. Kalau perlu, abang gak usah pulang sekalian." Lanjutnya setengah menyendir.


"Aku ngantuk bang. Aku mau tidur. Aku capek ngurusin Ay SENDIRIAN." Sengaja dia tekankan kata sendirian agar Septian peka. Jika Ay tak hanya butuh uang darinya, tapi juga perhatian sebagai ayah.


"Maaf kalau abang akhir akhir ini sibuk sampai gak ada waktu buat kalian. Tapi abang ngelakuin ini buat kalian Ra. Abang ingin bisa mencukupi kebutuhan kalian. Abang ingin membahagiakan kalian."


"Bahagia?" Lagi lagi Nara tersenyum getir. "Kalau menurutmu seperti itu, teruskan saja. Carikan kami uang sebanyaknya agar kami bahagia." Nara melepaskan tangan Septian yang berada dipundaknya lalu berjalan keranjang dan segera tidur. Dia tak mau malam malam bertengkar hingga mengganggu tidur nyenyak baby Ay.


Septian menghela nafas lalu menyusul Nara naik keatas ranjang. Sudah terlalu malam untuk berdebat, raganya juga sudah sangat lelah. Dan akhirnya, dia memutuskan untuk tidur.


...******...


Septian duduk dikantin sambil memandangi ponselnya. Tak ada pesan dari Nara kali ini. Biasanya, istrinya itu akan cerewet mengingatkan untuk jangan lupa makan siang. Tapi beberapa hari ini pesan singkat itu sudah tak pernah muncul dilayar ponselnya.


Tak hanya itu, pagi haripun, Nara hanya menyiapkan kebutuhannya tanpa banyak bicara. Tak lagi suka nyerocos menceritakan tentang perkembangan baby Ay.


"Makan, jangan ngelamun."


Seseorang tiba tiba menegurnya dan duduk dikursi depannya.


"Pak Bima." Sapa Septian. Bima adalah atasannya diperusahaan.


"Gak suka dengan menunya?" Tanya Bima.


"Suka pak."


"Lebih enak masakan istri ya?" Goda Pak Bima dan hanya ditanggapi dengan senyuman oleh Septian.


"Denger denger, kamu udah punya anak ya Sep?"


"Iya pak, baru usia 2 bulan."


"Wah... lucu lucunya itu. Istri kamu gak keberatan kamu kerja lembur hingga jam 7 jam 8?" Tanya Pak Bima sambil menyendok nasi dan memasukkannya kedalam mulut.


Lagi lagi Septian hanya menjawab dengan senyuman.


"Istri saya dulu, selalu ngomel kalau saya lembur terus. Apalagi sampai jam 8 malam."


Septian terasa makin susah menelan makanan. Dia tak hanya pulang jam 7 atau 8, melainkan pulang tengah malam karena mampir ke cafe. Barista shift malam sering kualahan karena cafe sangat ramai.


"Tapi sekarang udah gak pernah ngomel lagi."


"Kenapa pak? Udah capek kali?" Tanya Septian.


Pak Bima menggeleng sambil tersenyum getir.


"Kami sudah bercerai."


Huk Huk huk


Septian sampai tersedak mendengarnya. Dia sama sekali tak tahu jika atasannya seorang duda.


"Sekarang saya hanya bisa menyesal. Andai saja saya tidak terlalu gila kerja, pasti rumah tangga saya masih baik baik saja. Ternyata lebih enak diomeli setiap hari dari pada hening tak ada suara. Kadang saya merasa rindu omelan istri. Tapi sudahlah, dia sudah bahagia dengan pria lain. Saya saja yang tak tahu diri. Punya istri baik dan cantik malah diabaikan tiap hari. Giliran udah disambar orang, baru menyesal." Walaupun bercerita sambil tersenyum, tapi Septian bisa melihat kepahitan dalam senyuman itu.


Seketika Septian teringat Nara dan Aydin. Jangan sampai kisah serupa terjadi dalam rumah tangganya. Dia tak sanggup berpisah dengan Nara dan Ay. Merekalah nafas Septian. Dia tak akan mampu bernafas lagi jika tanpa mereka.


Hubungannya dengan Nara sedikit renggang akhir2 ini. Dan ini tidak baik jika terjadi terus menerus. Bisa saja, kejadian seperti Pak Bima menimpa rumah tangganya.


.


.


MAAF BANGET JIKA JARANG UP. AUTHOR SIBUK BANGET DI DUNIA NYATA.


BEBERAPA PART LAGI TAMAT YA GUYS