
Nara diam saja selama dimobil. Wanita itu tampak murung. Memijat mijat keningnya sambil menyandarkan punggungnya di jok. Pertemuan dengan Arumi hanya menguak luka lama.
"Pusing?" Tanya Septian sambil menoleh kearah Nara. Sejak masuk kedalam mobil, Nara tak bicara sepatah katapun padanya. Wanita itu tampak sedang memikirkan sesuatu.
"Iya." Jawab Nara sambil melihat kearah jendela.
Septian meraih sebelah tangan Nara lalu menciumnya. Membuat Nara yang tadinya melihat kearah jendela jadi menoleh kearah Septian.
"Ada masalah ya antara kamu dan Arumi? Kalian tampak tak akrab dan tak nyaman satu sama lain?"
"Menurut Abang, Arumi cantik gak? "
"Cantik."
Seketika Nara menghembuskan nafas kasar mendengar jawaban Septian.
"Tapi istri abang yang paling cantik." Lanjutnya sambil tersenyum dan menoleh kearah Nara.
Nara memutar kedua bola matanya sambil menyebik. "Gombal." Cicitnya.
"Kok gombal sih. Buktinya banyak banget fans kamu dikampus. Sampai sampai ada persatuan Bu Kinara lover. Budos most wanted."
Nara tersipu mendengar pujian Septian. Ya, setidaknya, moodnya lebih baik sekarang.
"Bang, mampir kerumah Kak Kinan yuk. Dia dan Kak Raka udah pulang jam segini."
"Baju abang basah Ra."
"Ntar mandi disana. Lagian rumahnya deket. Kalau nunggu sampai rumah, ntar kamu malah kedinginan."
"Kan ada kamu yang bisa ngengetin." Goda Septian sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Dih, maunya."
"Halah, kamu juga mau kan?" Goda Septian sambil terkekeh.
"Gimana nih, mau gak?"
"Ayok, aku sih ngikut mau kamu aja."
"Ya udah, kalau gitu mampir sebentar di minimarket. Aku mau beliin Cinta dan lovely jajan." Dia tempak kembali bersemangat.
"Tapi abang gak ikut turun ya. Baju abang basah."
"Iya, aku berani kok masuk sendiri. Budos gitu loh." Nara menepuk dadanya bangga.
Septian terbahak sambil geleng geleng melihat tingkah Nara.
"Oh iya, kamu belum jawab pertanyaan abang tadi. Kamu ada masalah sama Arumi? Setelah ketemu dia, kamu langsung murung."
Sebenarnya Nara malas membahas masalah Arumi. Tapi dia juga harus terbuka pada suaminya. Sepertinya, Septian juga berhak tahu tentang siapa Arumi.
"Arumi itu... " Nara menjada ucapannya.
"Kenapa Arumi?"
"Selingkuhannya Abi, mantan suamiku."
Septian terkejut mendengarnya. Pantas saja, mereka berdua tampak kaku saat bertemu. Ternyata, ada masalah yang begitu besar diantara keduanya.
"Gak nyangka banget, wajahnya polos. Gak ada tampang tampang pelakor."
Nara mendengus sebal. "Jadi abang merhatiin dia sejak tadi?" Tanyanya dengan nada jengkel.
"Sekilas doang, gak merhatiin banget."
"Tuh kan abang merhatiin." Sewot Nara sambil bersedekap dan membuang muka.
"Ya kan aku pikir teman kamu Ra. Udah gak usah jealous."
"Bukannya jealous, tapi gak mau sejarah terulang kembali."
"Maksudnya?" Septian mengernyit bingung.
"Ya gak mau aja kalau sampai Dia mengambil suamiku untuk yang kedua kalinya."
Septian langsung tergelak mendengarnya. Jadi dari tadi, itu yang ditakutkan Nara.
"Gak Ada yang bakal ngerebut aku Dari kamu, kecuali kamu yang ngelepas. Septian udah jadi hak milik Nara. Udah dapatenkan, gak bisa diganggu gugat lagi." Terang Septian sambil menyentuh kepala Nara.
"Jangan terlalu overthinking Ra. Gak baik buat debay diperut kamu."
Nara mengangguk sambil tersenyum. Mengusap perutnya seraya berdoa, semoga rumah tangganya akan baik baik saja. Saat ini, Septian adalah harapan terbesarnya. Pria yang dia harap bisa selalu bersamanya. Membina rumah tangga bersama anak dan cucu mereka nanti. Meskipun, awal hubungan mereka bisa dibilang tidak baik. Tapi semoga saja, awal yang buruk itu, bisa berakhir dengan indah.
Nara keluar dengen membawa sekantong penuh makanan ringan. Mereka segera meluncur menuju rumah Kinanti.
"Assalamualaikum." Ucap Nara dan Septian saat memasuki rumah Kinan. Rumah itu tak dikunci, jadi mereka langsung masuk.
"Tante Nala." Cinta dan lovely langsung berlari dan memeluk kaki Nara. Dua balita itu tampak sangat senang melihat kedatangan tantenya.
"Tarraaa." Nara menunjukkan sekantong kresek penuh camilan untuk kedua ponakannya itu.
"Mau..mau... " Cinta dan lovely saling berebut.
"Gak boleh rebutan." Kinan dan Raka yang muncul dari dalam segera segera melerai kedua anak mereka. Padahal semua makanannya sudah Nara beli dua dua, tapi tetap saja mereka rebutan untuk mendapatkan lebih dulu.
"Udah salim belum sama Om Septian." Raka mengingatkan kedua anaknya.
Cinta dan lovely yang merasa belum salim buru buru meraih tangan Septian dan menciumnya. Setalah itu, mereka kembali fokus pada makanan yang dibawa Nara.
"Septian kok basah bajunya?" Tanya Kinan yang memperhatikan penampilan Septian.
"Iya kak, tadi kehujanan saat dirumah sakit." Jawab Nara.
"Kamu kok enggak?" Kinan menatap Nara dari atas kebawah. Semuanya tampak baik baik saja. Tak ada yang basah. Sangat berbanding terbalik dengan Septian.
"Kan dilindungi sama guardian angel." Jawab Nara sambil bergelayut dilengan suaminya dan tersenyum.
"Wus.... kalah kita Kin sama pengantin baru." Goda Raka sambil merangkul bahu Kinan.
Septian hanya tersenyum malu malu mendengar ledekan iparnya. Dia memang masih merasa canggung. Mengingat hari ini, baru kedua kalinya dia bertemu dengan kedua iparnya itu.
"Buruan mandi Sep, entar sakit. Pakai bajunya Mas Raka dulu, biar kakak ambilin." Septian mengangguk lalu diantar Nara menuju kamar mandi.
Setelah Septian selesai mandi, Kinan dan Raka menjamu mereka makan malam. Suasana begitu riuh karena Cinta dan Lovely yang terus bercerita tentang keseharian mereka pada Nara. Kedua bocil itu seakan tak pernah lelah untuk terus nyerocos.
Setelah makan malam, Nara dan Kinan mengobrol didalam kamar. Mereka ingin lebih privat karena hendak mengobrol masalah wanita. Sedangkan Septian dan Raka, mereka mengobrol diruang tengah ditemani secangkir kopi dan sepiring pisang rebus. Raka memang mengurangi makanan yang digoreng. Dia lebih menyukai makanan yang direbus karena lebih sehat. Kebiasaan itu juga dia tularkan pada Kinan dan kedua anaknya.
"Barista pasti gak suka nih kopi jadul bikinan rumahan kayak gini." Canda Raka sambil mengangkat cangkir kopinya.
"Aku suka kopi apapun Mas. Emang dasarnya percinta kopi." Jawab Septian.
"Entah kamu sadar atau enggak. Kamu dan papa punya kecintaan yang sama. Sama sama percinta kopi."
Jujur baru sekarang Septian tahu kalau mertuanya itu percinta kopi. Selama ini memang sering melihat papa Nara ngopi, tapi dia pikir hanya sekedar suka biasa saja.
"Dirumah juga ada mesin pembuat kopi loh, tau gak?"
"Gak tahu mas. Emang ada ya? "
"Ish, Nara bagaimana sih. Dia gak ngasih tahu kamu?" Raka sampai geleng geleng.
Raka lumayan dekat dengan mertuanya itu. Dia tahu apa saja kesukaan Satrio. Juga tentang teman Satrio yang menghadiahi mesin pembuat kopi saat anniversary pernikahan Satrio dan Tiur yang ke 25.
"Tolong sabar menghadapi papa. Dia sebenarnya baik. Hanya saja, belum bisa memaafkan kamu. Belum bisa menerima dengan lapang dada apa yang sudah kamu lakukan pada Nara. Tapi mas yakin, kamu bisa mengambil hati papa. Buktinya, ngambil hati Nara aja cepet banget." Godanya sambil terbahak.
"Bisa aja Mas."
"Tapi beneran Sep. Aku lihat, Nara bahagia sama kamu. Dan yang bikin aku tak habis pikir. Cepet banget kamu ambil hatinya Nara. Kamu pakai pelet ya?"
Septian terdiam mendengarnya.
"Becanda, gak usah terlalu serius"
Septian langsung tergelak. Tak menyangka jika seorang dokter spesialis jantung yang tampangnya sangat serius bisa juga bercanda.
"Papa pernah bilang ke Mas. Kalau dia pengen modalin kamu buat buka coffee shop sendiri. Tapi jelas bukan sekarang. Kamu masih diospek sekarang. Kalau lulus, bakal di modalin buat buka coffee shop."
"Aku gak pernah kepikiran sampai sejauh itu mas. Bisa diterima dikeluarga Nara saja, aku sudah seneng." Sahutnya sambil menyeruput kopi hitam bikinan Bi Munah.
"Kamu harus tahu satu hal. Nara itu anak emas. Anak kesayangan yang jika digigit nyamuk aja, papanya langsung mencak mencak. Kalau saja dulu pembatalan pernikahan antara Nara dan Abi tak dikabulkan hakim. Mas gak tahu, jadi apa itu si Abi." Ujar Raka sampai geleng geleng.
"Mungkin kamu belum tahu. Nara dan Kinan berbeda."
"Maksudnya?"
"Kinanti bukan anak kandung mama dan papa Satrio. Dia anak yang diangkat dari panti asuhan karena mama belum juga hamil setelah 5 tahun menikah. Tapi setelah mengadopsi Kinan, setahun kemudia mama hamil Nara."
Septian tercengang. Dia baru tahu jika Kinan bukan anak kandung. Tapi hubungan Kinan dan Nara tampak sangat dekat, seperti saudara kandung. Walaupun wajah mereka memang tak mirip sama sekali. Kinan juga tampak sangat dekat dengan kedua orang tuanya. Tak akan ada yang menyangka jika dia anak adopsi.
"Kalau dilihat dari segi agama, Nara itu pewaris tunggal dari semua kekayaan mama sama papa. Mama yang kamu lihat sebagai IRT biasa itu, sebenarnya pemilik puluhan kontrakan. Dia juga banyak ikut tanam modal diusaha teman temannya. Jadi tiap bulan, uang mama mengalir dengan sendirinya. Belum lagi gaji papa. Makanya, jangan bingung jika Nara gak pernah mikir kalau mau beli sesuatu. Dia punya kartu sakti unlimited yang tak perlu dia pikirkan tagihannya."
Septian justru merasa terbebani mendengar semua itu. Dia takut tak bisa membahagiakan Nara seperti yang dilakukan kedua orang tuanya.