
Sejak pagi Shaila dibuat pusing dengan penampilan. Hari ini, untuk pertama kalinya, dia akan live di ig sekaligus u tube. Pengikut Diego yang begitu banyak jelas membuat dia grogi. Akan banyak yang menonton live nya kali ini. Apalagi Diego sudah membuat pengumuman jika hari ini dia akan live sebagai bentuk klarifikasi atas fitnah yang menimpanya.
"Gimama Sar penampilan kakak?" Tanya Shaila sambil mutar muter gak jelas di depan cermin. Dia juga menggonta ganti model hijab pashminanya. Rasanya masih kurang perfect terus sejak tadi.
"Udah kak." Desis Sarah yang merasa bosan ditanya terus. "Kalau masih kurang percaya diri, kesalon sana. Make up disana."
"Ya kali pakai Kesalon Sar."
"Kakak pikir, itu influencer , youtuber gak pakai make up kalau mau bikin konten? Jelas mereka make up dulu. Panggil MUA, dikit dikit touch up."
"Sok tahu kamu." Sungut Shaila.
"Bukan sok tahu, emang tahu. Temen aku ada yang jadi influencer."
"Halah udahlah, makin pusing kakak kalau denger saran kamu." Shaila kembali merapikan Make up dan hijabnya.
Tak berselang lama, terdengar suara mobil. Udah bisa dipastikan jika itu Diego yang datang untuk menjemputnya. Tidak hanya Shaila, Sarah juga ikut hari ini. Dia yang bercita cita menjadi youtuber, ingin melihat langsung proses live streaming.
Shaila segera pamit dan minta doa ibunya agar acara hari ini berjalan lancar. Semoga masalahnya bisa segera claer sehingga dia dan keluarga tak perlu dapat bullian lagi.
"Kita pergi dulu ya Bu. Doain lancar." Pamit Shaila.
"Iya nak, ibu doain semuanya cepat beres. Diego, titip Shaila dan Sarah ya."
"Iya bu."
Setelah pamitan mereka segera menuju mobil Diego. Tak seperti biasanya, hari ini Diego spesial membukakan pintu untuk Shaila.
"Kamu hari ini cantik banget Sha." Lirih Diego sambil membuka pintu mobil.
"Hem Hem." Suara Deheman Sarah merusak suasana. "Cie.... yang lagi terpesona." Godanya sambil terkikik.
"Bisa diem gak?" Desis Shaila sambil memelototi Sarah.
Setelah semua masuk, Diego segera melajukan mobilnya menuju sebuah rumah sakit ibu dan anak. Dia sudah membuat janji dengan seorang obgyn.
Ferdi dan tim Diego yang lain sudah bersiap siap disana. Mereka juga sudah menjemput Niken dan Ara. Setelah semua terbukti, Niken dan Ara harus membuat vidio permintaan maaf dan diunggah di semua akun medsosnya. Kedua anak itu harus diberi efek jera agar kelak tak seenaknya lagi menyebarkan gosip.
Wajah Niken dan Ara pucat saat melihat Diego dan juga Shaila datang. Sebelum kesini tadi, Ferdi sudah sempat mengancamnya. Mereka akan dilaporkan ke polisi jika tak bisa bekerja sama dengan baik. Tentu saja Mereka ketakutan jika sudah berhubungan dengan polisi. Apalagi setelah mereka tahu jika ayah Diego mantan pejabat, mereka makin keder.
"Wajah kalian tampak pucat? takut ya?" ledek Sarah sambil tersenyum miring. "Kemana hilangnya keberanian kalian yang kemarin? Kemarin aja, kalau koar koar semangat banget. Kenapa sekarang jadi mengkeret gini?" Sarah tiba tiba saja menjadi seorang pembulli ulung.
"Udah Sar." Ucap Shaila.
"Orang kayak mereka emang harus diginiin kak. Biar mereka bisa jaga lisan dan jempol. Ingat, gara gara lisan dan jempol kalian, kakak gue dibulli banyak orang. Gak hanya itu, ibu gue juga. Dosa kalian karena udah mendzolimi orang tua." Sarah masih saja terus menceramahi mereka.
Ferdi memanggil Shaila untuk bersiap. Hari ini, bukan Diego yang akan jadi peran utama, tapi Shaila. Dia harus menjalani pemeriksaan dokter yang sebelumnya tak pernah dia bayangkan. Belum juga menikah, tapi udah harus diperiksa obgyn, astaga.
Wajah Shaila tampak tegang. Hari ini dia akan ditonton banyak orang, sudah pasti dia grogi.
"Rileks." Ujar Diego sambil tersenyum pada Shaila. "Gue dampingi lo terus. Gak usah ngomong apa apa kalau takut salah. Biar gue aja yang klarifikasi semuanya."
Shaila mengangguk pelan. Dia menarik nafas lalu membuangnya perlahan melalui mulut. Jantungnya berdegup kencang. Dia terus mengucapkan doa dalam hati. Semoga diberi kelancaran.
Live pun dimulai, mereka berdua masuk keruangan dokter Isabel. Pertama, Shaila disuruh untuk mengecek urin dengan testpack. Dan jelas, hasilnya negatif. Tapi netijen tak akan percaya begitu saja dengan bukti itu. Terlebih Shaila melakukan tes itu didalam toilet dan baru keluar untuk menunjukkan hasilnya.
Pemeriksaan yang kedua melalui USG. Bagi orang awan, mereka juga tak akan paham dengan apa yang terpampang dilayar USG. Sehingga dokter Isabel harus menjelaskannya dengan detail.
"Kalau ada dokter obgyn yang nonton, tolong komen." Pinta Diego. Ternyata ada ada juga seseorang yang mengaku dokter yang komen. Orang tersebut membenarkan apa yang dibilang dokter Isabel. Jika tidak ada janin dalam rahim Shaila. Ada juga yang ngaku mahasiswa kedokteran dan membenarkan pernyataan itu.
Dan disaat semua orang sudah percaya jika berita ini hanya hoaks. Sekarang pertanyaan baru muncul. Banyak sekali yang menanyakan tentang status hubungan antara Shaila dan Diego.
"Doain aja ya guys." Itulah jawaban yang diberikan Diego. Jawaban yang terkesan gamang tapi lebih mengarah kepada pembenaran jika ada hubungan diantara mereka.
"Langgeng ya kak."
"Potek hati adek bang."
"Kawal sampai halal."
Deigo senyum senyum sendiri membaca komen para followernya.
Shaila bernafas lega setelah semuanya selesai. Rasanya beban berat yang sejak kemarin berada dipundaknya langsung hilang.
"Minum dulu." Diego memberikan sebotol jus jeruk pada Shaila.
"Makasih." Jawab cewek itu sambil meraih botol dari tangan Diego.
"Capek banget ya?"
Shaila mengangguk sambil membuka seal penutup botol. Dia meneguk perlahan hingga minuman itu tinggal setengah.
"Kenapa senyum senyum?" Shaila salah tingkah saat melihat Diego yang senyum senyum sendiri sambil menatapnya. Dia segera membersihkan sekitaran bibirnya takut jika ada sisa jus yang belepotan.
"Lo cantik Sha."
Diego menarik botol jus dari tangan Shaila dan membuka tutupnya.
"Itu sisa gue." Shaila hendak merebutnya kembali tapi sudah keburu diminum oleh Diego.
"Lo gak rabies kan?" Tanya Diego setelah botol ditangannnya kosong.
"Bengek gue." Shaila mendengus kesal lalu pergi menemui Sarah. Diego terkekeh melihat kelakuan Shaila. Entah kenapa, Apapun yang dilakukan cewek itu, tampak menggemaskan bagi Deigo. Bahkan sekarang dia sering senyum senyum sendiri kalau mengingat Shaila. Sampai sampai Damar sering mengatainya gila.
...******...
Disebuah rumah yang lumayan besar, tiga orang dewasa tampak berdebat. Mereka adalah Abi, Arumi dan Mama Devi. Ketegangan tampak sekali diwajah ketiganya terutama Arumi dan Mama Devi.
"Aku gak akan ngasih motor aku ke mama." Ucap Arumi yakin. Mana mungkin dia rela memberikan motor hasil kerjanya sendiri pada mertuanya. Motor itu dia beli sebelum menikah dengan Abi. Dan kemarin sempat ingin dia jual saat butuh uang, tapi belum jadi, karena anaknya sudah lebih dulu dipanggil Tuhan. Lagipula jika dijualpun, uangnya masih jauh dari cukup untuk biaya operasi.
"Lihat itu istri kamu." Mama Devi terlihat murka, dia menunjuk nunjuk kearah Arumi. "Hanya motor saja dia tak mau kasih ke adik kamu. Padahal motor itu juga tak pernah dia pakai. Sedangkan Alula, dia butuh motor untuk kuliah."
"Kasih saja Rum. Lagian motor itu juga tak pernah kamu pakai." Ujar Abi enteng.
Arumi tersenyum sinis. Disaat dia butuh uang untuk operasi anaknya, tak ada keluarga Abi yang mau membantu. Dan sekarang, dengan entengnya mereka minta motor.
"Siapa bilang tak aku pakai. Aku mau cari kerja. Dan aku butuh motor." Jawab Arumi tegas.
"Jadi kamu mau cari kerja. Kerja saja ditempat spa mama." Tawar mama Devi.
Arumi tersenyum getir. Terdengar seperti tawaran bantuan, tapi kenyataannya, tawaran mematikan.
"Tega mama nyuruh aku kerja disana. Mama pikir aku gak tahu. Mama punya usaha terselubung ditempat itu. Selain spa, disana juga tempat pijat plus plus, iya kan?"
PLAKKK
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Arumi.
"Kurang ajar kamu." Bentak mama Devi. Wajahnya murka, seperti mau menelan Arumi hidup hidup.
"Kamu ngomong apa Rum?" Tanya Abi sambil berdiri dari duduknya. Dia tak menyangka jika istrinya akan berucap seperti itu.
Arumi tersenyum sambil memegang pipinya yang panas.
"Tanya saja pada mama kamu. Yang pasti, yang aku katakan benar. Itulah bisnis yang sekarang dijalankan mama kamu."
"Gak usah fitnah kamu. Dasar menantu tak tahu diri." Mama Devi mengangkat tangannya kembali hendak memukul Arumi, tapi Arumi lebih dulu berhasil menangkap tangan itu lalu menghempaskannya.
"Permisi." Arumi pergi mengambil tas dan kunci motor didalam kamar lalu pergi.
"Apa itu benar mah?" Tanya Abi.
"Itu gak bener."
"Aku tahu mama dan Arumi tak pernah akur. Tapi aku kenal Arumi dengan baik. Dia tak mungkin bicara seperti itu tanpa bukti."
"Jadi kamu lebih percaya sama istri kamu? mau jadi anak durhaka kamu?" Bentak mama Devi.
"Abi tahu mama sedang kesulitan ekonomi karena papa pensiun dini dan sakit sakitan. Sedangkan Alula dan Alana butuh uang kuliah. Selain itu , juga karena gaya hidup hedon mama yang butuh banyak uang. Abi bakal bantu sebisa mungkin mah. Tapi Abi mohon, jangan lakukan bisnis itu."
"Mama terpaksa, mama butuh uang." Mata Abi membulat sempurna mendengar pengakuan mamanya. "
"Spa mama hampir bangkrut. Dan hanya itu yang bisa mama lakukan." lanjut mama Devi.
"Jadi semua itu benar mah." Abi meneteskan air mata. Tak pernah mengira jika mamanya akan melakukan bisnis haram itu demi uang. Padahal keluarga mereka tidaklah begitu kekurangan. Uang pensiun papanya masih cukup untuk kebutuhan sehari hari. Hanya saja gaya hidup mamanya yang terlalu mewah hingga selalu merasa kurang.
Arumi yang marah melajukan motornya menuju rumah Nova. Hanya Novalah satu satunya tempat yang bisa dia kunjungi sekarang. Dia sudah terlalu lelah dengan drama keluarganya.
Baru sampai dia dirumah Nova. Dia melihat sahabatnya itu keluar dari dalam dengan pakaian rapi.
"Lo mau keluar Nov?" Tanya Arumi sambil memarkirkan motornya dan melepas helm.
"Eh lo Rum. Iya nih, gue mau keluar. Ada apa, lo kok kelihatan kusut gitu?" Nova paham jika Arumi datang, wanita itu pasti hendak berkeluh kesah.
"Gue cuma mau nanya kerjaan Nov." Jawab Arumi sambil berjalan kearah Nova yang berada diteras rumah.
"Kerja? lo mau kerja lagi?"
Arumi mengangguk.
"Ya udah, nanti gue kabarin tentang lowongan kerja. Sekarang, gue mau keluar."
"Kemana?"
"Em... rumah Nara. Dia baru lahiran. Gue mau jenguk babynya."
"Boleh gue ikut?"