
Septian menyapa dua satpam yang bertugas saat memasuki gerbang rumah Nara. Saat dia memarkirkan motornya, tak tampak mobil Nara. Ini sudah lepas maghrib, tapi sepertinya Nara belum pulang dari mall.
Septian yang melihat rumah sepi, segera masuk kedalam kamar. Mungkin para penghuni rumah sedang menjalankan kewajiban mereka.
Sesampai dikamar, dia mengambil ponsel untuk menghubungi Nara. Takutnya, istrinya itu lupa waktu saat dimall. Tersambung, tapi tak diangkat. Mungkin masih dalam perjalanan, batin Septian.
"Bang, bang." Samar samar, Septian mendengar suara lembut Nara. Dia juga meraskaan benda kenyal dan basah menempel di beberapa bagian wajahnya. Apalagi kalau bukan ulah Nara yang menghujani wajahnya dengan kecupan.
"Ra, baru pulang?" Tanyanya saat melihat wajah Nara tepat berada diatasnya.
"Hem."Jawab Nara sambil menarik wajahnya dari hadapan Septian. "Jam segini kok tidur sih?"
"Abang ketiduran." Jawab Septian sambil menguap. "Belanja apa aja kok lama banget di mall?"
"Beli gamis buat acara tahlilan dirumah ibu."
"Emang kamu gak punya, sampai harus beli baru?" Tanyanya sambil mengubah posisinya menjadi duduk.
"Ada sih, tapi udah lama banget. Udah gak up to date."
"Capek gak? mau abang pijitin kakinya?" Tawar Septian sambil beringsut kesisi Nara.
"Enggak kok. Lagian abang Kayaknya capek banget." Nara menyentuh wajah Septian dan merapikan rambutnya yang acak acakan. "Abang yang baru pulang kerja, masak aku yang dipijitin." Lanjutnya sambil memeluk Septian dari samping.
Septian membelai punggung Nara lalu mengecup puncak kepalanya. Tapi ada sedikit yang aneh. Dia mencium aroma parfum yang tak seperti biasanya. Dan dari baunya seperti parfum pria.
Septian menundukkan wajahnya lalu mencium blazer yang dipakai Nara.
"Abang apaan sih." Nara mendorong tubuh Septian pelan. "Aku belum mandi, jangan dicium cium gini, bau."
"Apa perasaanku aja ya Ra." Septian kembali mengendus blazer Nara.
"Apaan sih bang?" Nara tak mengerti.
"Kamu ganti parfum? kok kayak aroma parfum pria."
Deg
Jantung Nata terasa mau copot mendengarnya. Bodoh, kenapa dia tak perasaan sejak tadi. Ya, seharusnya, dia mandi dulu sebelum membangunkan Septian.
"A, aku kan dari mall bang. Ya...mungkin aja tadi senggolan sama orang. Maklumlah, ketemu banyak orang disana." Nara berusaha bersikap wajar, walau sejujurnya, dia sangat gugup.
"Masak sih, cuma senggolan bisa nempel gini wanginya? Kayaknya sih parfum mahal. Wanginya tahan lama. Sejak kamu di mall sampai dirumah, bahkan gak hilang baunya."
Septian mengendus bagian dada Nara. Dan aroma itu terasa sekali disana.
"Wanginya sampai dada kamu loh Ra. Kayak orang habis pelukan lama. Aroma parfumnya sampai nempel." Entah kenapa, rasanya Septian sungguh penasaran. Takkan hanya senggolan, aroma parfumnya bisa sampai nempel gini.
"Abang nuduh aku selingkuh?" Nara berdiri sambil membuang nafas kasar. Wajahnya tampak mengeras menahan marah.
"Enggak Ra, enggak. Lagian siapa yang bilang kamu selingkuh?" Septian berdiri lalu memegang bahu Nara.
"Jadi abang gak percaya kalau tadi aku ke mall sama Nova? Abang mau aku teleponin dia biar abang percaya?" Nara hendak mengambil ponselnya dalam tas tapi dicegah oleh Septian.
"Enggak Ra, enggak usah, abang percaya kok. Mungkin abang aja yang terlalu baper tadi."
"Aku capek, mau mandi." Nara menyingkirkan tangan Septian dari pundaknya lalu pergi ke kamar mandi.
Septian menghembuskan nafas kasar melihat Nara yang masuk kedalam kamar mandi. Sepertinya, dia sudah menyinggung perasaan Nara.
Dikamar mandi, Nara segera melepas blazernya . Melemparkan ke lantai yang berada dibawah shower dan mengguyurnya. Nara yang kesal langsung menginjak injak blazer sialan itu. Gara gara benda itu, dia dan Septian jadi bertengkar. Dan saat mengingat kejadian di lift tadi, dia makin meradang. Bisa bisanya si berengsek itu memeluknya begitu erat dan lumayan lama.
Nara tak menemukan Septian saat dia keluar dari kamar mandi. Perasaannya jadi tak tenang. Apakah suaminya itu marah?
Nara sedang duduk didepan meja rias sambil menyisir rambut saat terdengar gagang pintu yang ditarik. Septian masuk dengan membawa segelas susu coklat.
Pria itu berjalan menghampiri Nara lalu menyodorkan susu yang dibawanya.
"Minum susu dulu. Abang sendiri loh ini yang buat, bukan bik Surti. Spesial, buat istri tercinta."
Nara meraih susu tersebut dan langsung meminumnya hingga habis.
"Maafin abang ya." Ujar Septian sambil membelai pencak kepala Nara. "Maaf karena udah mikir yang enggak enggak. Abang tahu istri abang ini tak mungkin melakukan hal seperti itu." Lanjutnya sambil menunduk lalu mencium puncak kepala Nara.
Nara melingkarkan tangannya dipinggang Septian dan membenamkan kepalanya diperut pria itu sambil menahan tangis. Dia merasa bersalah. Kenapa suaminya itu yang minta maaf, padahal jelas dia yang salah karena berbohong. Karena tak berani berkata jujur.
"Makan malam yuk, abang lapar. Mama sama papa juga udah nunggu dimeja makan tadi."
Nara mendongak menatap Septian. "Aku baru minum susu, kenyang."
Septian langsung menggaruk garuk tengkuknya. "Maaf ya, abang salah waktu bikinin susu. Harusnya ntar malem ya sebelum tidur. Abang bingung mau minta maaf dengan cara apa. Tiba tiba aja, nemu ide bikinin susu."
Nara tak bisa menahan senyumnya. Dia bangkit lalu mengecup bibir Septian sekilas. "Jangan minta maaf terus. Ya udah, makan yuk. Eh tunggu tunggu." Nara mengendus leher Septian. "Kok wangi, udah mandi?"
"Udah, mandi dibawah. Habis nungguin kamu la banget."
"Minta bik Surti. Untung dia punya Stok sabun batangan banyak. Turun yuk, laper banget nih." Septian mengusap perutnya sambil memasang wajah memelas seperti orang yang kelaparan karena tak makan tiga hari.
Sesampainya dimeja makan, kedua orang tua Nara sudah tampak makan duluan. Mungkin terlalu lama menunggu kedatangan kedua orang itu.
"Lama ya nungguin, maaf." Ujar Nara sambil merangkul pundak papanya.
"Kemana kamu tadi, kenapa baru pulang?" Tanya Satrio.
"Ketemuan sama Nova Pa. Terus kita ngemall bentar." Jawab Nara sambil menarik kursi dan duduk disebelah Septian.
Septian seperti biasanya, selalu canggung jika berhadapan dengan orang tua Nara. Saat mengambil makananpun, ada rasa tak enak hati. Sudah numpang tinggal, makanpun gratis. Sungguh sesuatu yang bikin Septian merasa susah untuk menelan makanan.
"Bang, yang banyak makannya." Nara menambahkan lauk dipiring Septian. Karena suaminya itu tak pernah mengambil lauk banyak, hanya secukupnya bahkan tampak kurang.
"Udah Ra, ini udah banyak."
"Makan yang banyak. Ingat, tugas kamu itu jagain Nara. Dia hamil, butuh dijaga 24 jam. Jangan sampai malah kamu yang sakit, terus Nara yang jagain kamu."
glek
Septian menelan makanannya dengan susah payah. Sebenarnya, dia dianggap mantu apa bodyguardnya Nara sih.
"Papa." Tiur menatap suaminya sambil menggeleng. Dia tak ingin suasana makan malam rusak hanya karena sindiran sindiran dari suaminya.
Nara tak mengeluarkan protes seperti biasanya. Dia ingat nasihat Raka dan Kinan, jika dia harus lebih sabar menghadapi papa.
Satrio dan Tiur yang sudah selesai, lebih dulu meninggalkan meja makan. Hingga hanya tersisa Nara dan Septian.
"Abang nambah ya, aku ambilin." Nara berdiri hendak menambanhkan nasi tapi dicegah oleh Septian.
"Aku udah kenyang Ra."
"Bohong ih. Orang aku lihat, abang makannya cuma dikit." Nara tetap menambahkan nasi dan lauk dipiring Septian. Membuat Septian, mau tak mau menghabiskan makanan dipiringnya.
"Bang, aku ada hadiah buat abang. Tapi janji, gak boleh ditolak."
Septian mengernyitkan keningnya. "Apaan sih?"
"Janji dulu harus diterima."
"Ya apa dulu hadiahnya?"
"Janji dulu."
"Ya udah, abang pasti terima."
Senyum Nara langsung mengembang mendengarnya. Dia menyuruh Septian kekamar dulu. Sedang dia, keluar untuk mengambil hadiah yang masih dia simpan dimobil.
"Taraaaa.... " Nara menunjukkan sebuah kotak. Tanpa melihatpun, Septian tahu isinya apa. Laptop keluaran terbaru, meski bukan merk yang paling terkenal seperti milik Nara. Tapi termasuk mahal juga.
"Bang, kok diem? gak suka merk yang ini?"
Septian bingung mau berkomentar apa. Dia meraih laptop yang masih didalam box itu lalu mengajak Nara duduk.
"Apa ini gak berlebihan Ra? Ini terlalu mahal. A, Abang gak pantes nerima ini."
"Tadi udah janji loh, bakalan diterima." Nara mengingatkan kembali.
"Tapi Ra... "
"Udah gak usah tapi tapian. Aku mau, skripsinya abang cepet kelar. Aku mau, saat baby lahir nanti, abang udah gak mikirin skripsi lagi. Udah kelar semua. Dan laptop yang lama, kasih ke Shaila. Dia pasti butuhkan?"
Septian meletakkan laptop tersebut diatas ranjang lalu memeluk Nara.
"Makasih ya Ra. Abang janji, nanti jika abang udah lulus, udah bisa dapat kerja yang lebih baik. Abang pasti bakal ganti semuanya."
Nara melepaskan pelukan Septian sambil mengerucutkan bibir. "Aku gak mau kalau cuma diganti doang. Harus lebih pokoknya." Tekan Nara.
"Hahaha.... pasti Ra. Semuanya buat kamu. Everything for you, my wife." Ujar Septian sambil menatap Nara dan menyentuh pipinya.
"Ra."
"Iya bang."
"I love you. I love you so much."
"Me too. I love you abang."
Cup
Septian langsung mencium bibir Nara. Mengecap rasa manis yang berasal dari sana. Hingga suara adu bibir keduanya memenuhi kamar.