Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
RASA YANG INDAH


Mengandung unsur yang mengharuskan dibaca di luar jam puasa.


Diluar dugaan, tamu yang datang saat resepsi pernikahan Diego dan Shaila sangat membludak. Semua itu tentu karena papa Dion dan mama Eva yang sangat antusias mengundang semua teman dan kolega. Maklum, ini hajatan pertama mereka.


Padahal yang ada dikepala orang tua Diego, hajatan pertama mereka ada acara khitan Damar. Tapi ternyata malah Diego menikah lebih dulu. Sungguh diluar dugaan, karena Diego bahkan belum lulus kuliah.


"Selamat."


"Congrats."


Diego dan Shaila sampai tak bisa menghitung berapa banyak ucapan selamat yang mereka terima. Kaki rasanya pegal karena terlalu lama berdiri. Bahkan Shaila beberapa kali tampak memijit bahunya yang terasa pegal.


"Capek ya?" Tanya Diego.


"Sedikit." Jelas saja itu bohong. Shaila sangat letih, tapi tak enak hati untuk berkata jujur.


"Duduk aja kalau capek."


"Gak papa kok." Jawab Shaila sambil berusaha menampilkan senyum termanisnya. Dia jelas sungkan jika menyalami tamu sambil duduk. Yang ada dikira tak menghormati.


Diego yang melihat wajah Shaila pucat, merasa tak tega. Dia menghampiri mamanya dan berbisik pada wanita tersebut.


"Masih banyak tamunya mah? Shaila udah capek Tuh."


"Shaila capek apa kamu yang pengen buru2 ke kamar?" Cibir mama Eva.


"Dua duanya lah mah." Jawab Diego sambil nyengir.


"Ya udah masuk dulu aja. Biar mama dan papa yang menghandle tamu."


Senyum Diego seketika melebar mendengarnya. Tahu seperti ini, sejak tadi dia minta ijin masuk lebih dulu.


Diego kembali ke tempatnya dan menyalami beberapa tamu. Mereka juga beberapa kali harus berfoto karena ajakan mereka.


"Masuk yuk." Bisik Diego ditelinga Shaila.


"Acaranya kan belum selesai."


"Udah... gak papa." Diego menggenggam tangan Shaila lalu membawa wanita itu turun dari pelaminan.


Keduanya keluar dari ballroom dan segera menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai paling atas.


Shaila merasakan jantungnya berdegup kencang saat mereka hanya berdua di dalam lift.


Sedangkan Diego, dia merasa waktu berjalan begitu lambat. Lift seakan bergerak slow motion. Terasa sangat lama untuk sampai di lantai teratas.


Kling


Akhinya suara yang ditunggu muncul juga. Lift terbuka dan mereka sudah berada di lantai paling atas.


Saat mereka berdua memasuki kamar. Auranya seketika berubah. Aroma vanila dari lilin dan semerbak bunga mawar sangat memanjakan indera penciuman mereka..


Jantung Shaila makin berdegup tak karuan. Tangannya basah karena keringat dingin.


Untuk beberapa saat, tercipta kecanggungan diantara mereka. Tak ada yang membuka suara, keduanya seperti larut dalam pikiran masing masing.


"Em... kamu mau mandi dulu?" Diego akhirnya membuka pembicaraan.


"Kamu dulu aja. Aku masih harus membuka hijab dan membersihkan riasan."


"Baiklah." Akhirnya Diego lebih dulu masuk kedalam kamar mandi.


Diluar, Shaila segera membuka hijab yang menghiasi kepalanya. Dia juga membersihkan Make up yang terasa berat. Mungkin karena dia tak terbiasa memakai Make up bold.


Selesai membersihkan Make up, dia berniat ganti baju. Dia segera membuka koper untuk mengambil piyama. Tapi benda itu seperti lenyap dari peredaran. Piyama lengan panjangnya raib dan berganti baju haram yang membuatnya terbelalak.


Shaila mengambil baju tersebut dan memperhatikannya dengan seksama. Kainnya terlalu tipis. Dan apa ini. Shaila geleng geleng sambil memperhatikan g stringg yang ada ditangannya. Apa bedanya memakai ini atau tidak. Terlalu kecil untuk menutupi bagian sensitifnya.


Mata Shaila membulat sempurna saat menyadari ada sepasang kaki yang berdiri didepannya. Tanpa mendongak untuk melihat siapa gerangan orang tersebut, dia jelas sudah tahu.


Wajah Shaila merah padam. Sejak kapan Diego berdiri dihadapannya? buru buru dia masukkan kembali g stringg tersebut kedalam koper.


"Jadi itu, pakaian yang kamu siapin untuk menyambutku malam ini?" Goda Diego dengan seringai kecil diwajahnya.


"Eng, Eng, enggak." Shaila sangat gugup. "A, aku gak tahu kenapa ada pakaian itu didalam koperku." Jawabnya jujur sambil mulai berdiri dan memberanikan diri menatap Diego.


Diego tersenyum melihat Shaila yang salah tingkah dengan wajah merona. Cantik, manis, menggemaskan, entahlah, dia sampai bingung untuk mendeskripsikan Shaila saat ini.


Diego melangkahkan kaki mendekati Shaila dengan tatapan yang tak pernah lepas dari manik mata istrinya itu.


Menyadari Diego hanya menggunakan handuk sebatas perut hingga lutut, Shaila mundur beberapa langkah ke belakang. Dia terus mundur bersamaan dengan Diego yang terus maju. Hingga akhirnya, punggungnya terhantuk dinding dan tak bisa lagi bergerak.


Diego mengunci tubuhnya dengan satu tangan bertumpu pada dinding. Dan satunya lagi, bergerak untuk memyentuh rambut hitam legam dan indah milih Shaila.


"Rambut kamu bagus." Pujinya sambil memainkan rambut Shaila. Ini untuk pertama kalinya dia melihat Shaila tanpa hijab.


Jantung Shaila berdegup kencang. Tubuhnya meremang saat tanpa sengaja, tangan Diego menyentuh kulit lehernya.


Aroma sabun yang menguar dari tubuh Diego membuat Shaila kesusahan bernafas. Wanginya seakan menghipnotis otaknya. Ditambah tubuh atletis yang sedikit basah, membuat kerja saraf otaknya melambat. Pesona tak terbantahkan yang membuatnya tak bisa untuk tidak mengakui, jika saat ini, dia amat terpesona dengan suaminya.


Bagai tersengat aliran listrik berkekuatan tinggi, Shaila langsung memejamkan mata saat jari jemari Diego menyentuh bagian wajahnya. Dan dadanya seperti mau meledak saat sesuatu yang lembut dan basah menyentuh bibirnya.


Shaila menggenggam erat gaun pengantinnya saat bibir Diego mulai berusaha masuk kedalam mulutnya. Dia hanya bisa pasrah, tapi sesaat kemudian, dia mendorong dada Diego dengan kuat. Hingga pagutan bibir mereka seketika terlepas.


"Ma, maaf." Ujar Shaila sambil mengatur nafasnya. "A, aku gak bisa nafas." Lanjutnya dengan masih terengah engah.


Diego tersenyum sambil menggaruk garuk tengkuknya. Seperti inikah menghadapi perawan? batinnya dalam hati.


"Firts time?" Diego tak tahan untuk tidak menanyakannya.


Shaila menggangguk malu malu. Membuat Diego semakin gemas tapi juga semakin bersalah. Apakah semua ini adil bagi Shaila? Disaat dia menjaga kehormatannya untuk sang suami. Bahkan berciuman saja tidak pernah, lalu bagaimana dengan dirinya? Sungguh berbanding terbalik.


"A, aku mandi dulu." Ucap Shaila dengan terbata.


"Tunggu."


Langkah kaki Shaila seketika berhenti.


"Kamu lupa membawa ini." Diego mengangsurkan lingeriee berwarna merah tadi.


Shaila yang hanya diam, membuat Diego berinisiatif meletakkan langsung ditelapak tangan wanita itu.


Seperti terhipnotis, Shaila menggenggam baju kurang bahan itu dan masuk ke dalam kamar mandi.


Hampir satu jam Shaila di kamar mandi. Tak ada tanda tanda wanita itu akan keluar. Diego yang tak sabar segera mengetuk pintu kamar mandi.


"Sha, kamu baik baik saja?" Teriaknya dari balik pintu.


"I, iya." Seru Shaila dari dalam. Sebenarnya dia sudah selesai dari tadi. Tapi dia terlalu malu untuk keluar. Baju yang dia pakai transparan. Ditambah g stringg dengan kain yang amat minim dan tanpa Bra, membuat dia tak ada bedanya dengan telanjangg.


"Sha, masih lama?"


Ceklek


Akhirnya pintu kamar mandi terbuka. Seseoang Berbalut lingeriee merah keluar dari sana. Diego menatap cengo ke arah Shaila. Mulutnya seperti tercekat, tak mampu berbicara Apapun bahkan hanya sekedar memuji. Pemandangan yang dia lihat sungguh indah, melebihi apa yang pernah dia lihat sebelum sebelumnya.


Dan saat kedua manik mata Diego terpaku pada dada yang ujungnya tercetak sempurna itu, Shaila buru buru menutupnya dengan tangannya.


"Jangan menutupi sesuatu yang indah, dari mata yang sudah halal menatapnya." Ucapan Diego terdengar seperti peringatan bagi Shaila. Dan akhirnya, dia membiarkan Diego menikmati apa yang sudah menjadi haknya.


Shaila kaget saat tiba tiba tubuhnya melayang. Diego mengangkatnya ala bridal style dan membawanya keatas ranjang yang berhiaskan kelopak bunga mawar..


Nafas Shaila mulai naik turun saat Diego berada diatasnya dan mengungkung tubuhnya.


"Kamu siap?"


Pertanyaan itu jelas bukan pilihan. Siap tak siap, dia harus siap. Reflek tubuhnya jelaslah mengangguk.


Diego menyingkirkan rambut yang menutupi wajah cantiknya dan mulai membelai setiap inci bagiannya. Sentuhan yang mampu membuat jantungnya berdegup sangat cepat dan menutup mata.


Cup


Sebuah kecupan mendarat dikeningnya, lalu mata, pipi dan bagian wajah yang lain.


***** an dibibir yang membuat darahnya berdesir hebat. Dan saat bibir Diego mulai menyusuri leher dan dadanya, nafas Shaila seketika memburu. Sentuhan yang untuk pertama kalinya dia rasakan itu berhasil membuat bulu kudunya meremang.


Dan disaat Diego mulai menurunkan tali lingerie dan bermain main didadanya, Shaila kian belingsatan. Diego benar benar memberikan sensasi rasa nikmat luar biasa hingga dia terpaksa harus menggigit bibir dalamnya.


"Jangan ditahan, lepaskan saja."


Shaila tak lagi menggigit bibir dalamnya. Dan disaat bersamaan, Diego dengan sengaja menggigit pelan puncak dadanya dan satu tanganya menarik sesuatu yang sama disebelahnya. Membuat desa han seketika lolos dari bibir Shaila.


Puas melihat Shaila bergerak tak karuan dan mende sah, Diego meningkatkan permainannya. Tangannya mulai menarik segitiga yang menutupi bagian inti Shaila. Membuangnya ke sembarang arah dan mulai mempermainkan bagian itu.


Nafas Shaila semakin memburu dan gerakan serta desa hannya kian tak karuan. Diserang dibagian dada dan inti sungguh membuat tubuhnya bereaksi tak karuan. Raganya terasa melayang ke awang awang. Sebagai mantan player, Diego jelas mempunyai kemampuan diatas rata rata dalam hal ini. Berbanding terbalik dengan Shaila yang merupakan newbi.


Dengan sekuat tenaga, Shaila mendorong kepala Diego yang berada dibagian sensitifnya. Dia merasakan sesuatu seperti mau meledak disana.


"Udah....a. ku... gak tahan.... "


"Keluarkan saja sayang." Sahut Diego yang paham jika Shaila akan mendapatkan pelepasann pertamanya.


Dan akhirnya, sesuatu itu meledak juga. Shaila merasakan tubuhnya bergetar. Untuk pertama kalinya, dia meraskan kenikmatan tiada tara. Nafasnya tersengal sengal dan tubuhnya terasa lemas.


Diego membiarkan Shaila menikmati hal baru yang pertama kali dia rasakan. Setelah dirasa cukup, Diego melepas handuk yang masih melilit ditubuhnya. Dan seketika, mata Shaila terbelalak. Sesuatu yang besar dan gagah terlihat dengan jelas. Dan yang ada dikepalanya saat ini. Apakah benda sebesar itu, bisa masuk kedalam miliknya.


Belum selesai dia syok, Diego sudah meraih tangannya dan membawanya untuk menyentuh sesuatu yang besar itu.


Tangan Shaila kian bergetar saat menyentuh langsung sesuatu besar yang ternyata juga sangat keras itu.


Dan seperti naluri jiwa, Shaila mulai menggerakkan tangannya disana. Membuat si empunya menge rang perlahan.


"Kamu siap?"


Untuk kedua kalinya, pertanyaan itu keluar dari bibir Diego.


Shaila tak ada pilihan lain selain mengangguk.


"Mungkin akan sakit, tapi tak lama."


Siap tak siap, mau tak mau, Shaila tetap mengangguk. Kerena menolak suami, hanya akan membuatnya berdosa.


Ternyata Diego yang seorang player pun, tidak mudah untuk membobol pertahanan Shaila. Ternyata tak mudah untuk memasuki pwrawan. Terbukti dengan beberapa kali dia gagal.


Dan saat percobaannya berhasil. Air mata meleleh dari sudut mata Shaila. Wanita itu mencengkeram sprei dengan kuat dan menggigit bibirny agar tak sampai berteriak kesakitan.


"Sakit?" Tanya Diego.


Shaila hanya menanggapi dengan senyuman. Tapi senyuman terpaksa itu membuatnya tak tega. Dia jelas melihat raut kesakitan disana.


"Tidak apa apa kalau kamu mau berhenti. Kita lanjutkan besok saja." Diego hendak menarik miliknya tapi Shaila justru memeluknya erat.


"Lanjutan." Lirihnya sambil menatap Diego. Dia tak mau menyiksa suaminya. Besok ataupun sekarang, akan tetap sama, akan tetap sakit. Dan jika sakitnya ini mendatangkan pahala dan membuat suaminya bahagia, dia dengan senang hati menahannya.


Diego mengecup lama kening Shaila lalu mencium bibirnya untuk mengalihkan rasa sakit. Dan disaat tubuh Shaila tak begitu tegang seperti tadi, Diego mulai menggerakkan miliknya. Dan temponya semakin meningkat seiring dengan kenikmatan yang datang bertubi tubi.


.


MAAF KARENA TERLALU SIBUK, JADI GAK BISA UP. PART INI SENGAJA DIBUAT PANJANG AGAR BISA MENGOBATI KERINDUAN READERS.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, HADIAH DAJ VOTE


SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA