Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
AKU DATANG


Nara tak ingin menunda lagi. Menurutnya, lebih cepat lebih baik. Dia berjalan kearah nakas. Diraihnya ponsel dan segera dimasukkan kedalam tas.


"Ijin sama papa dulu Ra." Ujar mama Tiur.


Nara menoleh kearah mamanya lalu mengangguk. Meski kemungkinan dia tak dijinkan, tapi dia akan tetap minta ijin.


Nara memgambil beberapa baju dan kebutuhan pribadinya. Dimasukkannya semua itu kedalam koper. Beruntung besok sabtu, dia libur, jadi tak perlu membawa laptop dan kebutuhan untuk ngampus.


"Bantuin Nara ngomong sama papa ya mah."


"Iya. Ayo kita temui papa."


Mereka berdua langsung menuju kamar papa. Dengan masih memakai kemeja Septian yang dia kenakan seperti outer, Nara berjalan sambil menarik koper kecil.


Papa Satrio yang sedang membaca buku didalam kamar dibuat terkejut dengan kedatangan Nara sambil menarik koper.


"Ada apa?" Tanya papa sambil melepaskan kaca mata dan menutup bukunya.


Mama Tiur dan Nara berjalan mendekati papa yang duduk selonjoran diatas ranjang. Nara duduk ditepi ranjang lalu meraih tangan papanya dan menggenggamnya.


"Nara mau nyusul abang Pah." Ucap Nara dengan suara lirih. Jujur dia takut. Papanya pasti tak akan menyetujui niatannya.


Wajah papa Satrio seketika mengeras mendengarnya. Dia langsung menarik tangannya dari genggaman Nara.


"Jangan aneh aneh. Untuk apa kamu menyusul dia."


"Ini semua hanya salah paham Pah. Nara yang salah. Nara udah nuduh dia macam macam padahal dia sedang ada masalah dan habis kecelakaan." Jelas Nara dengan mata berkaca kaca.


"Apapun alasannya, tindakannya memukul kamu tidak bisa dibenarkan." Sahut papa geram.


"Tapi semua itu gara gara Nara Pah. Karena pernah diselingkuhi, Nara jadi overthinking. Nara nuduh abang yang tidak tidak sampai dia emosi."


"Se emosi apapun, tak seharusnya dia main tangan. Itu sudah membuktikan jika dia bukan laki laki yang baik. Pria kasar seperti itu tak pantas buat kamu."


Mama Tiur menghela nafas. Bukan sebentar dia hidup bersama suaminya. Dia jelas tahu seperti apa watak suaminya. Pria itu sangat kaku.


"Nara mencintainya Pah. Nara mohon izinkan Nara menyusulnya."


"Papa tetap tak mengijinkan. Lebih baik kembali ke kamar kamu. Ini sudah malam, segera tidur."


Nara menggeleng cepat sambil menangis.


"Pah." Panggil mama Tiur sambil duduk disebelah suaminya. "Nara memang anak kita. Tapi yang lebih berhak atas dia saat sudah menikah, adalah suaminya."


Papa Satrio menghela nafas. Dia jelas tahu betul hal itu. Tapi rasanya tak rela jika menyerahkan Nara pada pria kasar seperti Septian. Dia sebagai ayahnya saja, tak pernah memukulnya selama 25 tahun. Tapi pria yang baru menikahinya beberapa bulan sudah berani memukulnya. Dan lebih parahnya, itu terjadi dirumahnya. Di tempat yang dia masih bisa mengawasi Nara. Lalu, bagaima jika ditempat lain. Tempat yang dia tak bisa mengawasi.


"Nara mohon, izinkan Nara menyusul suami Nara."


"Apa itu membuatmu bahagia?" Tanya papa sambil membelai kepala Nara.


"Iya pah." Jawab Nara yakin.


"Baiklah. Tapi sekali lagi dia membuatmu terluka, sakit hati dan menangis. Papa tak pernah sudi menerimanya lagi."


Nara seketika memeluk papanya. "Makasih Pah. Nara yakin, abang adalah suami terbaik untuk Nara."


"Mau papa antar?" Tawar papa sambil menyeka air matanya.


Nara menggeleng. "Biar Nara diantar supir saja."


Papa Satrio dan Mama Tiur mengantar Nara hingga teras. Rasanya berat melepas putri kesayangannya. Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah menjadi keputusan Nara. Mereka hanya bisa berdoa yang terbaik untuk putri mereka. Walaupun papa Satrio masih marah pada Septian. Tapi dia berharap, mereka berdua akan kembali tinggal dirumah.


Mobil yang dikendarai Pak Mail melaju demgan kecepatan sedang. Sudah hampir jam 10 malam tapi jalanan masih sangat ramai. Bahkan terjadi kemacetan dibeberapa titik karena besok weekend.


Perjalanan biasanya bisa ditempah 40 menit, jadi satu jam lebih. Membuat Nara benar benar tidak sabar. Dia memandangi fotonya dan Septian diponsel. Jantungnya berdegup kencang. Kenapa rasanya seperti mau bertemu dengan pria yang sudah bertahun tahun berpisah. Padahal baru 2 hari tak bertemu.


Sesampainya dirumah Septian, Pak Mail membantu Nara menurunkan koper. Rumah Septian tampak sudah gelap. Toko juga sudah tutup. Mungkin sudah pada tidur sekarang.


Nara mengetuk pintu beberapa kali sambil mengucapkan salam. Pak Mail masih setia menunggu sambil beberapa kali ikut mengetuk pintu.


"Waalaikum salam." Terdengar sahutan dari dalam serta lampu ruang tamu yang dinyalakan.


Ceklek


Bu Lastri terkejut melihat Nara yang datang malam malam.


"Bu." Nara meraih tangan ibu lalu menciumnya.


"Alhamdulillah kamu datang nak." Bu Lastri mengusap kepala Nara dengan penuh rasa syukur.


"Maafin Nara ya Bu." Ucap Nara dengan mata berkaca kaca.


"Udah, udah." Ibu menepuk pelan lengan Nara. "Ayo masuk, dingin diluar."


"Non Nara, Ibu, saya pamit dulu kalau begitu." Ujar Pak Mail.


"Sama sama Bu. Sudah jadi kewajiban saya." Pak Mail segera undur diri.


Setelah keduanya masuk, ibu kembali mengunci pintu.


"Abang udah tidur Bu?" Tanya Nara.


"Abang sakit."


"Sakit!" Nara terkejut.


"Astaga." Ibu teringat kalau dia sedang merebus air didapur. "Tunggu sebentar." Beliau segera menuju dapur dan mematikan kompor. Dia merebus air untuk mengompres Septian dengan air hangat. Setelah minum obat tadi, demamnya sempat turun. Tapi sekarang panas lagi.


Mendengar suaminya sakit, Nara segera naik ke kamar Septian. Saat dia membuka pintu, dilihatnya suaminya itu sedang meringkuk diatas ranjang dengan selimut tebal yang menutupi tubuhnya.


Nara mendekati Septian lalu menyentuh dahinya dengan punggung tangan.


"Astaga bang, panas sekali." Gumamnya.


Melihat kamar yang tidak ditutup, Bu Lastri masuk dengan membawa baskom berisi air hangat dan waslap.


"Biar aku aja Bu." Nara mengambil alih baskom tersebut dari tangan ibu. "Udah minum obat belum?"


"Udah tadi."


Nara meletakkan waslap yang sudah dia perasa didahi Septian.


"Udah berapa jam Bu? Kalau udah 4 jam, mending minum lagi aja. Atau kalau enggak, kita bawa ke rumah sakit."


"Bangunin dia saja, suruh minum obat lagi. Sambil terus dikompres. Gak usah dibawa kerumah sakit dulu."


Nara melihat obat serta air minum diatas meja. Dia kemudian membangunkan Septian.


"Bang, bangun bang. Minum obat dulu."


Septian mengerjabkan matanya. Samar samar, dia melihat Nara ada dihadapannya. Dia memejamkan mata kembali, takut kalau hanya berhalusinasi melihat Nara.


"Abang.... "Nara kembali mengguncang pelan bahu Septian.


Septian membuka matanya kembali. Dilihatnya Nara yang sedang duduk ditepi ranjang sambil menangis.


"Nara." Gumam Septian pelan.


"Iya bang, aku disini." Nara meraih tangan Septian dan menciuminya berkali kali.


Tak mau membuat mereka canggung, Bu Lastri keluar lalu menutup pintu kembali.


"Ra, ini beneran kamu sayang?" Tanya Septian sambil berusaha untuk bangun.


"Iya bang, ini aku. Maafin aku ya bang."


Septian segera memeluk Nara. Dia sangat rindu pada istrinya itu.


"Maafin aku Bang." Ujar Nara sambil terisak.


"Abang yang salah. Abang yang seharusnya minta maaf sama kamu. Maafin abang sayang."


Septian melepaskan pelukannya lalu menyeka air mata Nara. Diciumnya kening Nara lama sebagai bukti rasa syukur karena bisa bersama Nara lagi.


"Abang minum obat dulu." Nara meraih obat yang ada diatas meja dan langsung membukanya. Sesodorkannya obat tersebut pada Septian lalu dia mengambil air putih yang tinggal setengah gelas diatas meja.


Septian langsung meminumnya dan meletakkan kembali gelas kosong keatas meja.


"Abang tiduran lagi, biar aku kompres." Titah Nara.


"Gak usah, abang pasti langsung sembuh kalau ada kamu. Kamu pasti juga ngantuk. Sini, tidur disebelah abang saja." Ujarnya sambil menepuk kasur disebelahnya.


"Abang beneran gak mau dikompres?"


"Abang mau peluk kamu saja. Abang kangen."


Nara segera naik keatas ranjang lalu berbaring disisi Septian.


Septian memiringkan tubuhnya, ditatapnya wajah sang istri yang amat dia rindukan. Jantung Nara berdegup kencang. Dia jadi grogi ditatap seperti itu. Apalagi saat punggung tangan Septian yang hangat itu membelai wajahnya. Rasanya dia ikut panas.


"Abang sakit, udah buruan tidur." Titah Nara.


"Abang udah sembuh."


"Dih, orang masih panas gitu."


Septian terkekeh mendengarnya. Dia yang tadi menggigil kedinginan mendadak sembuh melihat Nara.