Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
MEMINTA MAAF


Mayang berjalan meninggalkan Johan yang masih setia menghabiskan baksonya. Dengan hati dongkol dan mulut yang terus mengomel, dia melangkah keluar kantin. Tapi baru beberapa langkah dari pintu. Dia berbalik dan kembali menemui Johan.


Mayang yang tiba tiba duduk didepan Johan, membuat pria itu hampir tersedak.


"Busyet, ngagetin aja lo Yang. Bukannya lo tadi udah pergi ya?" Tanya Johan sambil menyeruput es tehnya.


"Eh Jo, lo tahu gak sih, ada urusan apa Asep sama Bu nara?"


"Ngapain lo kepo?" Johan malah balik bertanya.


"Pasalnya nih ya. Gue lihat lihat, Bu Nara agak gimana gitu. Pokoknya gak kayak biasanya deh. " Mayang bingung menjelaskannya. Tapi yang pasti, ada yang lain. Dosen yang biasanya tampak elegan, kaku dan jarang senyum itu. Tiba tiba berubah jadi sosok yang tak seperti biasanya.


"Beneran lo mau tahu?"


Mayang mengangguk cepat.


"Sini mendekat."


Mayang langsung memajukan wajahnya. Sedangkan Johan, dia melirik kiri kanan untuk memastikan jika tak ada yang bakal menguping pembicaraan mereka.


"Urusan rumah tangga." Lirih Johan.


"Urusan rumah tangga gimana sih, gak paham gue?"


"Bu Nara itu...." Johan sengaja menjeda ucapannya agar Mayang makin kepo.


"Itu apa?" Mayang sungguh tak sabar menunggu kelanjutannya.


"Bininya Asep."


Seketika Mayang menutup mulutnya dengan telapak tangan. Bukan karena syok, tapi karena menahan tawa.


"Hahaha...... Sumpah, lucu, lucu banget candaan lo." Mayang sampai memegangi perutnya yang sakit karena tertawa. Sampai sampai beberapa orang dikantin melihat kearahnya yang tertawa terlalu ngakak.


"Dih, malah ketawa."


"Kayak gini kualitas candaan Lo? Yang lo bilang mau ikutan ajang stand up komedi? Astaga Jo..... gue jamin lo bakalan menang. Menanggung malu karena udah didepak saat masih mau daftar. Hahaha... Candaan lo terlalu garing man." Mayang tak henti henti menertawakan Johan. Saking lepasnya, air matanya sampai keluar.


"Serah lo lah. Dikasih tahu malah gak percaya." Johan yang kesal memilih melanjutkan makan.


"Gimana mau percaya Jo. Bu Nara bininya Asep? Imposible."


"Gak ada istilah imposible dalam jodoh."


"Lo tahu Bu Nara kan? Dia lulusan S2 luar negeri. Bokapnya, rektor kampus sebelah. Kira kira mau gitu punya mantu kayak Asep. Bapaknya Nurul yang cuma guru aja ogah. Apalagi bapaknya Bu Nara. Cuma bapak gue yang mau."


"Kata siapa bapaknya Nurul ogah. Dia cuma mau Nurul dapat suami uztad, anaknya kyai."


Mayang lagi lagi ngakak mendengarnya.


"Jo, Jo, gak usah terlalu polos. Bapaknya Nurul itu cuma alibi pengen punya mantu anak kyai. Lo gak tahu sih, laki yang dijodohin sama Nurul, dia lulusan mesir. Dan orang tuanya, kaya raya. Tuh bapaknya Nurul, matre tahu gak."


Kalau ngomongin masalah Nurul, seketika bikin Mayang kesal. Dia saingan terberatnya untuk dapetin Septian. Dan disaat Nurul sudah tersingkir, dia malah dapat kabar Septian udah nikah.


"Bulan depan, gue ajak lo ke acara tujuh bulanan bininya Asep. Biar lo percaya omongan gue. Kalau gue bohong, gue bakal ngasih motor gue buat lo. Kalau yang gue omongin benar, lo harus terima lamaran gue. Gimana, deal?"


"Ogah." Tekan Mayang lalu pergi begitu saja..


...******...


Septian lebih dulu pulang kerumah karena Nara masih harus mengajar satu kelas lagi. Perasaannya tak enak, sepertinya, Nara marah padanya. Terbukti beberapa kali dia kirim chat tapi tak dibalas. Cuma diread doang terus dianggurin.


Tadi saat mengikuti Nara hingga didepan ruang dosen, wanita itu juga tak bicara apapun padanya. Dan tanpa pamit langsung masuk, meninggalkannya tanpa basa basi.


Mendengar gagang pintu ditarik, Septian yang sedang rebahan langsung bangun.


"Baru pulang Ra?" Sapanya sambil berjalan menghampiri Nara. Alih alih mendapatkan jawaban, Nara justru melewatinya begitu saja dan masuk kedalam kamar mandi.


Melihat Nara keluar dari kamar mandi. Dengan senyuman termanisnya, Septian langsung meraih tangannya dan menuntunnya hingga duduk ditepi ranjang.


"Kamu pasti capek, abang pijitin ya?" Septian hendak menaikkan kaki Nara keatas ranjang tapi wanita itu menolak.


"Kaki aku gak capek, tapi hati aku yang capek. Bisa kamu mijitin?" salak Nara.


"Maaf." Ucapnya sambil meraih tangan Nara. "Mayang yang ngedeketin abang, bukan abang."


"Tapi kenapa abang diem aja? bahkan saat dia mau minum minuman abang, abang juga diem aja. Aku gak rela bang, gak rela." Seru Nara sambil menarik tangannya lalu memukul mukul lengan Septian.


"Abang udah nyegah dia Ra. Tapi dianya maksa."


"Alah bohong." Sahut Nara dengan mulut mengerucut dan kedua tangan dilipat didepan dada. "Satu lagi, aku gak suka abang manggil dia YANG." Nara menekankan kata katanya.


"Gimana lagi Ra, namanya Mayang."


"Ya panggil lainnnya kan bisa. May, Maya, atau apalah terserah. Asal jangan yang. Istri sendiri aja gak dipanggil yang, malah orang lain dipanggil yang," sewot Nara.


Septian menahan tawa mendengarnya. Jadi itu alasan terbesarnya. "Jadi kamu pengen dipanggil yang?" Goda Septian sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Eng, eng , enggak." Nara jadi gelagapan gara gara keceplosan.


"Iya juga gak papa kok sayang. Sayangnya abang, jangan ngambek ya." Rayu Septian sambil merengkuh bahu Nara tapi wanita itu malah berontak.


"Sayang, maafin abang ya, please.... "


"Enggak, aku masih kesel sama abang."


Nara berdiri dan hendak pergi tapi tangannya ditahan oleh Septian. Pria itu menarik Nara keatas pangkuannya dan memeluk dari belakang. Mengusap perut Nara sambil membenamkan kepalanya di ceruk leher Nara.


"Baby, mama ngambek nih. Bantuin ayah minta maaf dong," ucap Septian.


"Mama.... maafin ayah ya. Baby gak mau ayah sama mama berantem." Septian menirukan gaya bicara balita. Membuat Nara diam diam tersenyum. Tapi jaim untuk langsung memaafkan begitu saja.


"Mah, maafin ayah ya mah."


Nara melepaskan belitan tangan Septian lalu berdiri.


"Jadi gak mau maafin abang nih?"


"Usaha dulu kalau mau dimaafin."


Septian menggaruk garuk tengkuknya sambil memikirkan usaha apa yang harus dia lakukan.


"Kenapa diam, gak mau usaha?" Nara tersenyum getir.


"Ya maulah." Septian memeluk Nara dari belakang. "Demi mendapatkan maaf dari istri abang yang tercinta ini, abang bakal lakukan apapun. Apapun sayang. Apapun buat kamu."


Lagi lagi Nara tersenyum, tapi berusaha agar Septian tak melihatnya. Dia hanya ingin mengetes seberapa besar usaha suaminya untuk meminta maaf.


"Candle light dinner, nanti malam." Bisik Septian ditelinga Nara.


Nara seketika terkesiap. Yakin mau Candle light dinner?


"Dandan yang cantik, pakai baju yang seksi." Ujar Septian disamping leher Nara. Membuat Nara merinding karena hembusan nafas hangat disekitar leher dan telinganya.


"Yakin?" tanya Nara.


"Of course. Ingat, bajunya harus seksi. Kayak pas kita awal ketemu dulu."


"Gak jelas banget sih. Kemarin bilang gak suka aku pakai baju seksi. Sekarang malah disuruh."


"Udah nurut aja."